Tarik Tombur Toba Hadirkan Lomba Memancing dan Sajian Budaya di Parapat

Tarik Tombur Toba Hadirkan Lomba Memancing dan Sajian Budaya di Parapat

Kabupaten Simalungun. Disebutkan | Anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manalu menyebut penyelenggaraan Tarik Tombur Toba berangkat dari keinginan masyarakat agar pariwisata Sumatera Utara kembali bergeliat. Aspirasi tersebut, menurut Bane, ia dengar ketika berkeliling di kawasan Danau Toba dan berinteraksi dengan warga. Harapan agar kegiatan wisata kembali ramai menjadi salah satu hal yang disampaikan masyarakat dalam perjalanannya. Karena itu, acara ini dihadirkan sebagai respons terhadap aspirasi tersebut sekaligus bentuk perhatian pada upaya menggerakkan pariwisata daerah.

Bane berpandangan bahwa kegiatan atau acara dapat membantu menghidupkan pariwisata. Sebuah agenda yang menghadirkan aktivitas bagi masyarakat dan pengunjung dapat menjadi pemantik perhatian terhadap suatu destinasi. Dalam konteks Danau Toba, kegiatan seperti Tarik Tombur Toba juga menempatkan kawasan wisata sebagai ruang untuk berkumpul dan menikmati pengalaman setempat. Pandangan itu sejalan dengan harapan warga yang menginginkan pariwisata Sumatera Utara kembali bergeliat. Penyelenggaraan acara menjadi salah satu cara untuk merespons harapan tersebut, dengan menghadirkan kegiatan di kawasan yang telah dikenal sebagai tujuan wisata.

Tarik Tombur Toba berlangsung pada Sabtu di Pantai Atsari, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pemilihan lokasi ini menempatkan acara di kawasan tepi Danau Toba, sehingga masyarakat dan pengunjung dapat mengikuti kegiatan di lingkungan wisata Parapat. Bagi Bane, penyelenggaraan acara tersebut tidak terlepas dari aspirasi yang ia dengar selama berkeliling danau. Dorongan untuk menghidupkan kembali pariwisata menjadi latar penting bagi hadirnya kegiatan ini. Dengan demikian, Tarik Tombur Toba bukan sekadar agenda di satu lokasi, tetapi juga tanggapan atas keinginan masyarakat agar aktivitas pariwisata di Sumatera Utara kembali bergerak dan mendapat perhatian.

Rangkaian kegiatan Tarik Tombur Toba di Parapat dimulai sejak pagi dengan pentas tari Tor-tor. Pertunjukan budaya ini menjadi pembuka acara sebelum kegiatan berlanjut ke perlombaan memancing di Danau Toba. Dengan susunan tersebut, acara menghadirkan dua kegiatan berbeda dalam satu rangkaian: sajian budaya pada awal kegiatan dan perlombaan yang melibatkan para pemancing setelahnya.

Setelah pentas Tor-tor, lomba memancing dilaksanakan di Danau Toba. Peralihan dari pertunjukan tari menuju perlombaan menandai urutan acara yang berlangsung pada hari itu. Para peserta mengikuti lomba di kawasan danau, sementara kegiatan tersebut menjadi bagian utama dari agenda Tarik Tombur Toba di Parapat. Informasi mengenai pelaksanaan acara ini menempatkan pertunjukan tari sebagai pembuka, kemudian lomba memancing sebagai kegiatan berikutnya.

Perlombaan itu diikuti ratusan pemancing dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Kehadiran peserta dari beragam wilayah menunjukkan bahwa kegiatan di Parapat tersebut menjangkau peminat memancing di tingkat provinsi. Ratusan peserta mengikuti perlombaan yang berlangsung di Danau Toba setelah rangkaian acara dibuka dengan tari Tor-tor pada pagi hari. Susunan ini mempertemukan unsur budaya lokal dan aktivitas memancing dalam satu acara, tanpa mengubah urutan kegiatan yang telah ditetapkan.

Secara berurutan, agenda dimulai dengan pentas tari Tor-tor sejak pagi, lalu dilanjutkan dengan lomba memancing di Danau Toba. Dengan demikian, peserta dan pengunjung dapat menyaksikan sajian budaya terlebih dahulu sebelum perhatian beralih ke perlombaan. Kegiatan tersebut berlangsung di Parapat dan diikuti ratusan pemancing yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Rangkaian acara ini menggambarkan perpaduan pertunjukan budaya dan kompetisi memancing sebagai bagian dari Tarik Tombur Toba, sekaligus menegaskan bahwa kedua kegiatan itu tersusun dalam satu agenda yang berkesinambungan.Setelah perlombaan memancing selesai, hasil tangkapan peserta tidak hanya menjadi catatan kemenangan, tetapi juga diolah bersama dalam lomba membuat sambal tombur. Ikan yang berhasil diperoleh dimanfaatkan sebagai bahan sajian khas Batak tersebut, sehingga rangkaian kegiatan menghubungkan aktivitas di perairan Danau Toba dengan tradisi kuliner setempat. Lomba memasak ini memberi kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan cara mengolah sambal tombur, sekaligus memperkenalkan cita rasa dan kekayaan bahan pangan daerah kepada masyarakat yang hadir di Parapat.

Sebanyak 30 kelompok dari berbagai kecamatan di Kabupaten Simalungun mengikuti lomba membuat sambal tombur. Mereka mengolah hasil tangkapan menjadi hidangan yang kemudian dapat dinikmati bersama oleh peserta dan pengunjung. Suasana kebersamaan menjadi bagian penting dalam acara, karena sajian tidak hanya dinilai sebagai hasil perlombaan, tetapi juga dibagikan untuk dinikmati ramai-ramai. Melalui kegiatan tersebut, pengunjung dapat mengenal sambal tombur secara lebih dekat, mulai dari bahan yang digunakan hingga penyajiannya sebagai kuliner yang lekat dengan budaya masyarakat Batak.

Pengalaman menikmati makanan khas itu semakin terasa dengan iringan jazz gondang di tepi Danau Toba. Perpaduan kuliner, musik, dan panorama danau menghadirkan suasana yang mempertemukan unsur tradisional dan pertunjukan bagi masyarakat maupun wisatawan. Bane berharap sambal tombur dapat semakin dikenal luas hingga tingkat nasional. Harapan tersebut sejalan dengan upaya memperkenalkan kekayaan kuliner Simalungun kepada khalayak yang lebih besar, tanpa melepaskannya dari akar budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Lomba ini pun menjadi ruang untuk merayakan hasil tangkapan, keterampilan memasak, serta kebersamaan dalam satu rangkaian acara. Dengan menyajikan sambal tombur untuk dinikmati bersama, kegiatan di Parapat turut memberi pengalaman langsung kepada pengunjung mengenai salah satu sajian khas yang dapat menjadi daya tarik budaya dan kuliner di kawasan Danau Toba.

Bane mengajak seluruh peserta lomba dan masyarakat yang hadir untuk menjadikan kegiatan di Parapat sebagai pengingat akan tanggung jawab bersama dalam menjaga Danau Toba. Menurutnya, keindahan danau, kawasan sekitarnya, serta kekayaan budaya Sumatera Utara bukan hanya daya tarik wisata, melainkan warisan yang perlu dirawat secara nyata. Upaya pelestarian dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga kebersihan, tidak membuang sampah ke perairan, menghormati lingkungan, dan mendukung tradisi lokal. Ajakan tersebut disampaikan agar kegiatan wisata dan hiburan tetap berjalan seiring dengan kepedulian terhadap alam dan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Ia menyebut Danau Toba sebagai warisan sejarah masa lalu yang sekaligus menjadi masa depan bagi generasi berikutnya. Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam perlu dilakukan secara bijaksana, dengan mengambil secukupnya dan tidak mengabaikan kemampuan lingkungan untuk pulih. Danau yang dijaga hari ini dapat terus memberi manfaat bagi warga, pelaku pariwisata, nelayan, serta generasi yang akan datang. Sebaliknya, kerusakan yang dibiarkan berisiko mengurangi kualitas lingkungan dan menghilangkan nilai budaya yang telah tumbuh di kawasan tersebut. Bane menekankan bahwa menjaga danau untuk jangka panjang merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu. Kesadaran itu juga perlu diterapkan dalam penyelenggaraan acara, agar kegiatan yang menarik pengunjung tetap memperhatikan kebersihan dan kelestarian alam.

Pelaksanaan acara ini didukung oleh Kementerian Pariwisata, InJourney, Kementerian Ekonomi Kreatif, Marcopolo, Anker Pilsener, PTPN IV, Cari Kawan, BK Polos, dan Marabit. Kehadiran para pendukung tersebut turut membantu terselenggaranya kegiatan yang menggabungkan rekreasi, promosi kawasan, dan pengenalan budaya setempat. Acara juga dihadiri pegiat pariwisata, pelaku ekonomi kreatif, serta kelompok seni budaya. Di mereka terdapat Satahi, Happy Tambunan, Pondok Kreatif Parapat, Siou, dan Guido Punxgoaran. Keterlibatan berbagai pihak ini memperlihatkan ruang kolaborasi komunitas, pelaku usaha, dan unsur pendukung untuk merawat potensi Danau Toba. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, nilai alam dan budaya Sumatera Utara diharapkan tetap terjaga sekaligus dapat dikenali lebih luas oleh pengunjung, tanpa mengurangi hak masyarakat lokal untuk menikmati lingkungan yang sehat dan lestari.

Baca juga: Kodim 1710/Mimika Gelar Bazar HUT TNI, Hadirkan Sembako Murah | TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi