Jakarta | Sejauh Mata Memandang menghadirkan koleksi spesial yang merujuk pada film Laut Bercerita, produksi Pal 8 Pictures. Film tersebut diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, sehingga koleksi ini terhubung dengan narasi yang telah dikenal melalui karya sastra dan kemudian diterjemahkan ke layar lebar. Kolaborasi tersebut mempertemukan dunia fashion dengan kisah yang memiliki latar dan perjalanan emosional tersendiri. Alih-alih berdiri sebagai rangkaian produk terpisah, koleksi dirancang sebagai cara lain untuk membawa cerita itu ke dalam kehidupan sehari-hari. Keterangan mengenai koleksi ini tercatat pada Jumat, 23 Oktober 2026, tanpa menyebutkan lokasi peluncurannya.
Gagasan utamanya adalah memindahkan elemen cerita ke dalam busana dan aksesori. Dengan pendekatan itu, hubungan koleksi dengan film dan novel tidak hanya disampaikan melalui nama, tetapi juga menjadi titik berangkat bagi pilihan produk yang dapat dikenakan atau digunakan. Koleksi spesial ini terdiri atas kaus, tote bag berbahan kanvas, dan bandana. Ketiganya menawarkan bentuk pemakaian yang berbeda: kaus sebagai pakaian, tote bag sebagai perlengkapan untuk membawa barang, serta bandana sebagai aksesori. Ragam tersebut membuat narasi kolaborasi hadir melalui benda-benda yang akrab, tanpa mengubahnya menjadi penjelasan ulang atas keseluruhan cerita film maupun novel.
Kehadiran karya sastra dalam inspirasi koleksi memberi konteks pada setiap produk, sekaligus memperluas cara audiens berinteraksi dengan kisah Laut Bercerita. Pembaca novel dapat mengenali sumber narasinya, sementara penonton film dapat melihat kaitan adaptasi layar dan interpretasinya dalam fashion. Namun, produk-produk ini tetap dapat dipahami sebagai bagian dari koleksi pakaian dan aksesori, dengan rujukan cerita sebagai benang penghubungnya. Kaus, tote bag kanvas, dan bandana menjadi medium yang membawa identitas kolaborasi ke berbagai aktivitas. Melalui koleksi spesial ini, Sejauh Mata Memandang menawarkan pertemuan cerita, film, dan benda pakai, berangkat dari novel Leila S. Chudori serta adaptasi Pal 8 Pictures.
Koleksi yang merujuk film Laut Bercerita menghadirkan pilihan busana dengan desain yang mengambil inspirasi dari judul dan kutipan dalam novel. Dua kausnya menawarkan pendekatan visual berbeda, tetapi sama-sama menghubungkan pakaian sehari-hari dengan karya yang menjadi acuannya. Keduanya dibuat dari 100 persen katun, sehingga pilihan bahan tetap menjadi bagian utama dari produk. Setiap desain tersedia dalam warna putih dan hitam, memberi opsi bagi pembeli untuk memilih tampilan yang sesuai dengan preferensi masing-masing.
Kaus Laut Bercerita D1 menampilkan tulisan “laut bercerita” sebagai elemen utama. Aksen sulam benang merah memberi detail pada desain tersebut dan menjadi kontras dengan pilihan warna dasar kaus. Sementara itu, kaus D2 memuat kutipan puisi dari novel: “matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali.” Teks tersebut menjadi pusat perhatian pada desain D2, dengan hubungan langsung pada narasi yang menginspirasi koleksi. Kedua kaus dijual dengan harga Rp 310 ribu per desain. Harga tersebut berlaku untuk masing-masing pilihan, baik D1 maupun D2.
Selain kaus, koleksi ini mencakup tote bag berbahan kanvas yang tersedia dalam warna putih dan navy. Tas ini ditawarkan seharga Rp 410 ribu. Pilihan warna yang berbeda dari kaus memberi alternatif bagi mereka yang ingin membawa elemen koleksi dalam bentuk aksesori. Tote bag kanvas tersebut melengkapi rangkaian produk tanpa mengubah fokus utama koleksi, yakni rujukan pada Laut Bercerita.
Produk lainnya adalah bandana berukuran 70 × 70 cm yang dibuat dari Tencel Lyocell. Desainnya menggunakan teknik cetak digital, sementara pewarnanya memiliki sertifikasi STANDARD 100 by OEKO-TEX. Bandana tersedia dalam warna putih dan hitam dengan harga Rp 410 ribu. Informasi bahan, proses cetak, dan sertifikasi pewarna ini memberikan gambaran lebih lengkap mengenai spesifikasi produk. Secara keseluruhan, pilihan dalam koleksi mencakup kaus, tote bag, dan bandana, dengan rentang harga Rp 310 ribu hingga Rp 410 ribu. Perbedaan bentuk dan detail desain memungkinkan setiap produk membawa rujukan film melalui cara yang berbeda.Sebagian hasil penjualan koleksi Sejauh Mata Memandang yang merujuk pada film Laut Bercerita akan disalurkan kepada Ikatan Kemanusiaan untuk Korban Penghilangan Paksa Indonesia (IKOHI). Keterangan ini memberi dimensi sosial pada koleksi tersebut: busana tidak hanya menjadi medium untuk mengolah kisah dan ingatan, tetapi juga terhubung dengan dukungan bagi keluarga korban. Penyaluran ini mengaitkan karya kreatif dengan upaya kemanusiaan, tanpa mengaburkan fokus koleksi pada cerita yang menjadi rujukannya. Informasi mengenai jumlah maupun persentase hasil penjualan yang disalurkan tidak dicantumkan, sehingga tidak tepat untuk memperkirakan atau menyebut angka tertentu.
IKOHI mendampingi keluarga korban penghilangan paksa. Pendampingan kepada keluarga menjadi bagian penting dari perhatian terhadap mereka yang terdampak, sebab pengalaman kehilangan dan ketidakpastian dapat berlangsung jauh setelah suatu peristiwa terjadi. Dengan mendukung organisasi tersebut melalui sebagian hasil penjualan, koleksi ini turut mengarahkan perhatian publik kepada keluarga yang membutuhkan pendampingan. Peran IKOHI dalam konteks ini perlu dipahami sesuai keterangan yang tersedia: organisasi tersebut mendampingi keluarga korban, bukan sekadar menjadi nama yang dikaitkan dengan peluncuran koleksi.
Keterhubungan koleksi, film, dan dukungan bagi IKOHI juga mengajak pembaca melihat bahwa karya yang terinspirasi oleh kisah tertentu dapat membuka ruang perhatian yang lebih luas. Pilihan untuk menyalurkan sebagian hasil penjualan menghadirkan bentuk dukungan yang nyata, sementara pendampingan keluarga korban tetap menjadi kerja yang dilakukan organisasi. Bagi masyarakat yang tertarik pada koleksi, informasi tersebut memberi konteks mengenai tujuan sosial yang menyertainya. Memahami batas informasi yang diumumkan sama pentingnya: kontribusi disebut berasal dari sebagian hasil penjualan, tetapi besarannya tidak tersedia. Karena itu, dukungan ini dapat disampaikan secara jelas tanpa menambahkan klaim tentang nominal, proporsi, atau dampak yang belum dinyatakan.
Film Laut Bercerita membawa kisah novel Leila S. Chudori ke layar lebar dengan latar Yogyakarta pada akhir 1990-an, masa ketika kebebasan berekspresi menjadi perjuangan yang berisiko. Cerita mengikuti Biru Laut, mahasiswa yang diperankan Reza Rahadian, bersama rekan-rekannya yang berupaya menyuarakan gagasan dan memperjuangkan ruang kebebasan. Kehidupan mereka berubah ketika Laut dan sejumlah kawannya menghilang. Peristiwa itu menjadi titik awal pencarian panjang, sekaligus menggambarkan bagaimana represi politik berdampak pada orang-orang terdekat mereka.
Sesudah kehilangan tersebut, keluarga dan sahabat para mahasiswa berusaha mencari kabar serta mengetahui nasib orang-orang yang mereka cintai. Pencarian itu menjadi bagian penting dari kisah, sebab pengalaman mereka memperlihatkan duka, ketidakpastian, dan tekad untuk terus mengingat. Film ini tidak hanya bertumpu pada perjalanan Laut, tetapi juga memberi ruang kepada mereka yang menanti jawaban. Dengan demikian, kisah personal dan pengalaman kolektif bertemu dalam narasi yang mengangkat ingatan, kehilangan, dan hak untuk menyampaikan pendapat.
Adaptasi novel ini memiliki perjalanan layar sebelumnya. Sebuah film pendek pernah dibuat untuk mendukung peluncuran novelnya, dan Dian Sastrowardoyo kembali terlibat dalam adaptasi terbaru dengan memerankan Kasih Kinanti, atau Kinan. Film panjangnya digarap oleh sutradara Yosep Anggi Noen bersama Leila. Karya tersebut menjalani pemutaran perdana dunia dalam kategori Main Competition di Busan International Film Festival pada 11 Oktober 2026, lalu dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Secara terpisah, pada tahun sebelumnya Sejauh Mata Memandang berkolaborasi dengan Tulus, termasuk mengembangkan sketsa menjadi motif busana. Kolaborasi itu merupakan konteks tersendiri dan bukan bagian dari koleksi yang merujuk pada Laut Bercerita.






