Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Subagyo Hadi Siswoyo

Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Subagyo Hadi Siswoyo

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menghadiri persemayaman Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Kehadiran kepala negara tersebut menjadi bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum sekaligus ungkapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Prabowo datang untuk memberikan penghormatan secara langsung dalam suasana duka, bersama jajaran pejabat yang turut hadir di lokasi.

Setibanya di Mabesad, Presiden disambut oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Wakil Menteri Pertahanan Marsekal TNI Yusuf Jauhari, serta Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Tandyo Budi Revita. Kehadiran para pejabat tersebut mencerminkan penghormatan dari unsur pemerintah dan TNI terhadap Subagyo, yang dikenal sebagai perwira senior. Mereka menyambut Prabowo sebelum ia memasuki area persemayaman untuk menyampaikan penghormatan kepada almarhum.

Persemayaman di markas besar Angkatan Darat memberi ruang bagi keluarga, kerabat, dan para pejabat untuk memberikan penghormatan terakhir. Dalam kesempatan tersebut, kehadiran Prabowo juga menyampaikan simpati negara kepada keluarga yang sedang berduka. Penghormatan itu menjadi bagian dari prosesi pelepasan seorang purnawirawan jenderal yang pernah mengabdi dalam lingkungan TNI. Suasana persemayaman berlangsung sebagai momen untuk mengenang almarhum dan menyampaikan dukungan moral bagi keluarga.

Kunjungan Presiden berlangsung di tengah prosesi persemayaman pada Selasa tersebut. Sejumlah pejabat yang menyambutnya turut menunjukkan perhatian institusi terhadap kabar wafatnya Subagyo Hadi Siswoyo. Dengan hadir langsung di Mabesad, Prabowo menyampaikan belasungkawa secara personal, sekaligus menegaskan penghormatan kepada almarhum atas pengabdiannya. Momen itu menjadi ungkapan duka dan penghargaan dari Presiden, pemerintah, serta jajaran TNI kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

Di ruang persemayaman, Prabowo menuju jenazah Subagyo Hadi Siswoyo untuk memberikan penghormatan terakhir. Ia berdiri di dekat jenazah, menyampaikan hormat, lalu mendekat dan memanjatkan doa bagi almarhum. Rangkaian tersebut berlangsung dalam suasana khidmat, sebagai bagian dari kunjungan Prabowo untuk menyampaikan belasungkawa. Sikapnya menunjukkan penghormatan kepada sosok yang wafat sekaligus perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan. Tanpa menyampaikan pernyataan atau kutipan di lokasi, Prabowo menjalani momen itu dengan tertib sebelum beranjak untuk menemui anggota keluarga dan para pelayat yang hadir. Urutan tindakan tersebut menjadi inti dari penghormatan yang ia berikan di persemayaman.

Setelah berdoa, Prabowo menyalami satu per satu anggota keluarga inti almarhum. Jabat tangan itu menjadi ungkapan duka dan empati kepada mereka yang kehilangan anggota keluarga. Ia menemui keluarga secara langsung sebelum menyalami pelayat lain yang berada di lokasi. Pertemuan tersebut berlangsung sebagai bagian dari penyampaian belasungkawa, tanpa perlu disertai keterangan tambahan mengenai percakapan atau reaksi pihak-pihak yang hadir. Dengan mendatangi keluarga dan memberikan salam kepada setiap anggota keluarga inti, Prabowo menyampaikan perhatian secara personal. Langkah itu melengkapi penghormatan dan doa yang lebih dahulu ia panjatkan untuk almarhum di hadapan jenazah.

Berikutnya, Prabowo menyalami para pelayat yang hadir. Mereka berasal dari kalangan keluarga, pejabat, serta tokoh yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Subagyo Hadi Siswoyo. Ia menyapa para pelayat satu per satu melalui jabat tangan, setelah sebelumnya menemui keluarga inti. Rangkaian ini memperlihatkan cara Prabowo menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan mereka yang turut hadir di ruang persemayaman. Kunjungannya mencakup tiga tindakan utama: memberikan hormat di dekat jenazah, berdoa bagi almarhum, lalu menyampaikan empati kepada keluarga dan para pelayat. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana khidmat, dengan fokus pada penghormatan kepada almarhum dan ungkapan duka kepada orang-orang yang ditinggalkan.

Subagyo Hadi Siswoyo dikenal sebagai tokoh senior Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dengan perjalanan pengabdian yang panjang. Ia merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) tahun 1970. Pendidikan tersebut menjadi awal kariernya di lingkungan militer, yang kemudian membawanya menduduki sejumlah posisi penting di TNI AD. Riwayat tugasnya mencerminkan keterlibatan dalam kepemimpinan institusi, termasuk pada satuan khusus dan pada tingkat pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Pengalaman tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur yang kiprahnya terkait dengan berbagai periode penting dalam sejarah Indonesia.

Salah satu jabatan penting yang pernah diemban Subagyo adalah Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1994–1995. Setelah itu, ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) mulai Februari 1998 hingga November 1999. Rentang kepemimpinan tersebut berlangsung ketika Indonesia mengalami perubahan politik besar dan pergantian presiden. Masa tugasnya sebagai KSAD mencakup era Presiden Soeharto, dilanjutkan pemerintahan B.J. Habibie, dan kemudian Abdurrahman Wahid. Dengan demikian, masa jabatannya berada di tengah transisi nasional yang turut memengaruhi kehidupan pemerintahan dan institusi negara. Dalam posisi KSAD, ia berada pada pucuk kepemimpinan TNI AD sepanjang periode tersebut, sementara perubahan kepemimpinan nasional berlangsung dalam waktu relatif singkat.

Pengabdian Subagyo tidak berhenti setelah masa tugasnya di militer. Ia juga tercatat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sejak Januari 2015 hingga 20 Oktober 2019. Peran itu memperlihatkan kelanjutan kiprahnya dalam ranah kenegaraan setelah berkarier di TNI AD. Perjalanan dari lulusan Akabri, komandan satuan, hingga kepala staf dan anggota Wantimpres memberi gambaran tentang pengabdian panjangnya kepada negara. Rangkaian jabatan tersebut menjadi konteks penting untuk memahami sosok Subagyo sebagai tokoh senior militer yang memiliki pengalaman dalam institusi pertahanan sekaligus pernah menjalankan tugas pertimbangan bagi presiden. Rekam jejaknya mencakup masa dinas dan penugasan publik yang berbeda, dengan tanggung jawab pada tingkat organisasi yang beragam. Informasi tentang perjalanan itu turut menjelaskan mengapa kepergiannya mendapat perhatian dari kalangan pemerintahan dan masyarakat yang mengikuti kiprah tokoh-tokoh TNI.Subagyo Hadi Siswoyo, yang dikenal pula sebagai Subagyo H.S., wafat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 16.20 WIB. Kabar tersebut menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang tokoh yang lama mengabdikan diri kepada negara. Kepergiannya juga menjadi perhatian karena kiprah dan pengabdiannya, terutama selama bertugas di lingkungan Tentara Nasional Indonesia, telah menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.

Dalam keterangan mengenai almarhum, Subagyo dikenang sebagai putra bangsa yang mendedikasikan hidupnya bagi negara. Pengabdian panjangnya di TNI menjadi salah satu hal yang melekat dalam ingatan banyak pihak. Dedikasi tersebut mencerminkan perjalanan seorang prajurit yang menjalani tanggung jawab dalam institusi militer dan turut berkontribusi melalui tugas-tugasnya. Ungkapan belasungkawa yang disampaikan Prabowo menjadi bentuk penghormatan atas jasa serta pengabdian almarhum, sekaligus ungkapan duka kepada keluarga yang ditinggalkan.

Suasana persemayaman berlangsung dalam rangkaian penghormatan terakhir bagi Subagyo H.S. Setelah berada beberapa saat di ruang persemayaman, Prabowo kemudian menuju ruang tunggu untuk mengikuti rangkaian berikutnya. Pergerakan itu menjadi bagian dari tata prosesi yang berlangsung setelah penghormatan diberikan. Sementara itu, jenazah almarhum kemudian diturunkan untuk melanjutkan prosesi penghormatan terakhir. Rangkaian tersebut mengiringi kepergian Subagyo dengan penghormatan atas pengabdian yang telah ia berikan kepada negara, khususnya melalui masa panjang tugasnya di TNI. Kabar wafat dan prosesi yang menyertainya menjadi momen duka bagi keluarga, kerabat, serta pihak-pihak yang mengenal perjalanan pengabdiannya. Penghormatan yang diberikan mencerminkan apresiasi terhadap dedikasi almarhum sepanjang hidupnya, sekaligus menyampaikan rasa kehilangan atas sosok yang pernah menjalankan tugas bagi bangsa dan negara.

Baca juga: Pimpinan Redaksi dan Seluruh Anggota Media Dua Putri Group Berduka atas Wafatnya Letjen TNI Purn. K. Koswara | Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo