Jakarta | Antrean kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Bali, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Situasi tersebut muncul ketika sebagian konsumen beralih menggunakan Pertalite, bahan bakar minyak (BBM) dengan angka oktan RON 90. Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa antrean di sejumlah titik tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Perusahaan menyebut kondisi di lapangan dipengaruhi gabungan perubahan permintaan, pergeseran pilihan BBM, serta hambatan dalam kegiatan distribusi. Keterangan itu disampaikan perusahaan pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Pertamina Patra Niaga, kenaikan permintaan terjadi di wilayah tertentu dan turut memengaruhi kebutuhan pasokan di SPBU setempat. Pada saat bersamaan, terdapat peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke Pertalite. Perubahan pilihan tersebut dapat menambah permintaan terhadap produk RON 90 di lokasi yang mengalami pergeseran konsumsi. Namun, perusahaan juga menekankan adanya hambatan operasional distribusi sebagai bagian dari rangkaian penyebab antrean. Dengan demikian, kepadatan kendaraan yang terlihat di SPBU perlu dipahami dalam konteks beberapa faktor yang berlangsung bersama, bukan semata-mata dikaitkan dengan peningkatan konsumsi atau ketersediaan BBM saja.
Keterangan perusahaan mencakup sejumlah daerah yang mengalami antrean, tetapi tidak menyebutkan bahwa seluruh SPBU di Bali, Jawa Timur, maupun Sulawesi Utara menghadapi keadaan serupa. Gambaran tersebut merujuk pada antrean yang terjadi di beberapa wilayah, dengan kondisi permintaan dan distribusi yang dapat berbeda menurut lokasi. Penjelasan ini juga menempatkan peralihan dari BBM nonsubsidi ke Pertalite sebagai salah satu unsur yang berpengaruh, bukan satu-satunya penyebab. Secara keseluruhan, antrean kendaraan di sejumlah SPBU mencerminkan pertemuan kenaikan kebutuhan setempat, perubahan pola konsumsi, dan kendala operasional dalam distribusi BBM, sebagaimana disampaikan Pertamina Patra Niaga pada tanggal tersebut.
Pertamina Patra Niaga mencatat kenaikan konsumsi Pertalite yang meluas di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur. Perubahan permintaan tersebut tidak hanya terlihat di satu titik, tetapi terjadi di Surabaya, Malang, Kediri, Blitar, Tulungagung, Banyuwangi, dan Bondowoso. Ketika kebutuhan meningkat dalam waktu berdekatan, ketersediaan stok di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dapat lebih cepat tertekan. Kondisi ini turut memicu antrean kendaraan, terutama di lokasi yang menerima lonjakan pembelian dan menjadi tujuan masyarakat dari kawasan sekitarnya. Catatan perusahaan mengenai sebaran wilayah membantu menggambarkan bahwa penyesuaian kebutuhan pasokan perlu dilakukan secara luas, bukan hanya terfokus pada satu kota.
Untuk menjaga penyaluran tetap berjalan, perusahaan menyebut sejumlah langkah operasional. Pasokan dioptimalkan dari terminal dan depot penyangga agar kebutuhan di wilayah yang mengalami peningkatan dapat ditopang dengan lebih baik. Pertamina Patra Niaga juga menambah ritase mobil tangki, sehingga frekuensi pengiriman BBM ke SPBU dapat ditingkatkan sesuai kondisi lapangan. Dalam pelaksanaan distribusi, SPBU dengan stok kritis menjadi prioritas pengiriman. Penetapan prioritas tersebut dimaksudkan untuk mengurangi risiko kekosongan dan membantu mempercepat pemulihan ketersediaan di titik yang paling membutuhkan. Pengaturan pasokan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi stok serta kebutuhan tiap wilayah, sehingga pengiriman dapat diarahkan secara lebih responsif.
Di sisi pelayanan, pengaturan antrean dilakukan bersama pengelola SPBU dan aparat setempat. Koordinasi ini diperlukan agar arus kendaraan dapat ditata dan aktivitas pengisian berlangsung lebih tertib selama permintaan masih tinggi. Pengelola SPBU dapat menyampaikan perkembangan stok dan kepadatan kepada pihak terkait, sementara aparat membantu menjaga kelancaran situasi di sekitar lokasi. Langkah tersebut berjalan berdampingan dengan penambahan pasokan, sebab distribusi yang lebih cepat saja belum cukup jika antrean tidak dikelola dengan baik. Masyarakat diimbau mengikuti arahan petugas dan menggunakan BBM sesuai kebutuhan. Dengan pemantauan konsumsi, optimalisasi suplai, penambahan ritase, serta prioritas bagi SPBU yang stoknya kritis, Pertamina Patra Niaga berupaya merespons kenaikan permintaan Pertalite di berbagai wilayah Jawa Timur secara terkoordinasi.
Di Bali, Pertamina menerapkan langkah tambahan untuk membantu memperlancar pelayanan di SPBU yang mengalami kepadatan tinggi. Salah satu upaya tersebut adalah mengoperasikan Pertamina Delivery Service (PDS), layanan pengiriman BBM yang dapat mendukung distribusi di lokasi tertentu. Kehadiran PDS ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan BBM di tengah meningkatnya permintaan dan mengurangi tekanan pada pengisian langsung di SPBU. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan di masing-masing wilayah, sehingga penyaluran dapat diarahkan secara lebih terukur. Upaya ini menjadi bagian dari penanganan distribusi, bukan pengganti layanan reguler di SPBU.
Selain menambah dukungan penyaluran, Pertamina berkoordinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah setempat untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar area pengisian. Pengaturan tersebut penting agar kendaraan yang mengantre tidak menghambat akses jalan maupun aktivitas masyarakat di sekitar SPBU. Koordinasi lapangan juga membantu petugas mengelola pergerakan kendaraan dan menjaga ketertiban selama pelayanan berlangsung. Kondisi lalu lintas dapat berbeda satu lokasi dan lokasi lainnya, sehingga penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kepadatan serta situasi setempat. Masyarakat yang hendak mengisi BBM diharapkan mengikuti arahan petugas dan menggunakan jalur yang telah diatur.
Pertamina turut mengimbau masyarakat agar membeli BBM sesuai kebutuhan normal dan tidak melakukan panic buying ataupun penimbunan. Pembelian berlebihan dapat menambah tekanan pada pelayanan dan distribusi, sementara pengambilan secukupnya membantu menjaga ketersediaan bagi pengguna lain. Perusahaan menyatakan pemantauan stok dan penyaluran BBM terus dilakukan secara intensif, termasuk untuk menyesuaikan distribusi dengan perkembangan kebutuhan di berbagai wilayah Bali. Masyarakat dapat mengikuti informasi resmi dan menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi. Langkah layanan PDS, koordinasi lalu lintas, serta pemantauan pasokan menjadi bagian dari upaya mengelola situasi di lapangan. Pelaksanaannya berlangsung sesuai kondisi operasional, tanpa memastikan waktu tertentu kapan antrean di seluruh wilayah akan sepenuhnya berakhir.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa ketahanan stok Pertalite saat ini berada pada kisaran 16–18 hari. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kondisi yang biasanya berada di rentang 18–20 hari. Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa persediaan yang tersedia masih memenuhi standar nasional dan berada dalam kondisi aman.
Menurut Bahlil, penurunan ketahanan stok Pertalite berkaitan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax disebut beralih ke Pertalite karena perbedaan harga kedua jenis bahan bakar tersebut dinilai cukup ekonomis. Pergeseran permintaan itu meningkatkan konsumsi Pertalite dan berpengaruh terhadap jumlah hari ketahanan stoknya.
Bahlil menjelaskan bahwa tekanan persediaan tersebut hanya terjadi pada bahan bakar dengan RON 90, yaitu Pertalite. Ia menyatakan stok solar serta bensin dengan RON 92, RON 95, dan RON 98 tidak mengalami masalah. Dengan demikian, kondisi yang disampaikan pemerintah berfokus pada perubahan permintaan terhadap Pertalite, bukan gangguan pasokan yang merata pada seluruh jenis bahan bakar.
Meski angka ketahanan Pertalite turun dari kebiasaan, Bahlil menilai rentang 16–18 hari masih berada dalam batas aman. Penilaian itu didasarkan pada standar nasional yang, menurutnya, masih dapat dipenuhi oleh cadangan saat ini. Keterangan tersebut menjadi penting di tengah antrean BBM di sejumlah wilayah, karena pemerintah membedakan meningkatnya konsumsi pada satu jenis bahan bakar dan keadaan stok yang dinilai membahayakan pasokan secara keseluruhan.
Bahlil juga menyampaikan target agar ketahanan stok Pertalite kembali ke tingkat ideal, yakni sekitar 20 hari. Pemerintah menargetkan pemulihan itu dapat dicapai dalam waktu kurang lebih satu minggu.
Baca juga: Tim Alpha TNI Siaga Tangani Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia | Empat Terduga Pelaku Diciduk, Polresta Tuban Bongkar Peredaran Sabu di Sejumlah Wilayah | TNI Kerahkan 14.167 Personel Tangani Karhutla di Sejumlah Wilayah







