Peran Program MBG dalam Menahan Gejolak Harga Telur di Tingkat Peternak

Peran Program MBG dalam Menahan Gejolak Harga Telur di Tingkat Peternak

Jakarta | Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan satu-satunya pintu yang dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga telur ayam. Pernyataan tersebut secara khusus menyoroti harga di tingkat peternak, yakni titik ketika perubahan permintaan dan penyerapan hasil produksi dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha ternak. Ghimoyo menyampaikan pandangan itu dalam Agrifood Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 19 Oktober.

Penekanan pada harga peternak penting karena harga yang dibicarakan di tingkat konsumen tidak selalu menggambarkan keadaan yang dihadapi produsen. Bagi peternak, tersedianya saluran penyerapan telur menjadi salah satu pertimbangan dalam menjaga kegiatan produksi dan merencanakan pasokan. Dalam konteks tersebut, MBG dipandang sebagai jalur yang dapat membantu menjaga kesinambungan penyerapan, sehingga pasokan dan harga telur ayam lebih stabil. Pernyataan Ghimoyo menempatkan program tersebut sebagai instrumen yang relevan bagi hubungan kebutuhan pangan dan keberlangsungan usaha di sisi produksi.

Namun, pernyataan itu tidak menyebutkan besaran penyerapan telur, mekanisme pengadaan, maupun ukuran dampak MBG terhadap harga. Karena itu, klaim mengenai peran program perlu dipahami sesuai batas informasi yang disampaikan: Ghimoyo menilai MBG sebagai satu-satunya pintu untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga telur, dengan perhatian pada tingkat peternak. Perspektif ini menggarisbawahi pentingnya memastikan bahwa pembahasan stabilitas harga tidak hanya berfokus pada nilai jual bagi pembeli, tetapi juga mempertimbangkan kondisi produsen. Bagi peternak, harga yang terjaga dapat menjadi bagian dari kepastian usaha, sementara ketersediaan pasokan tetap menjadi perhatian dalam pemenuhan kebutuhan program. Seberapa jauh peran tersebut terwujud bergantung pada pelaksanaan dan penyerapan di lapangan, aspek yang tidak dirinci dalam pernyataan tersebut. Dengan demikian, MBG hadir dalam pandangan ID Food sebagai saluran penopang yang perlu dicermati terutama dari dampaknya terhadap harga telur di tingkat peternak.

Ghimoyo menyebut pasokan telur ayam untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperbesar sebagai salah satu langkah untuk membantu menahan gejolak harga di tingkat peternak. Penambahan pasokan tersebut menempatkan kebutuhan program sebagai saluran penyerapan telur yang lebih besar. Dengan demikian, telur yang dihasilkan peternak diharapkan memiliki peluang terserap melalui kebutuhan MBG, bukan hanya mengandalkan permintaan dari jalur penjualan lainnya.

Hubungan penyerapan dan stabilitas harga berkaitan dengan keseimbangan pasokan serta permintaan. Ketika program menyerap lebih banyak telur, sebagian hasil produksi dapat memperoleh permintaan tambahan. Hal itu berpotensi mengurangi tekanan yang muncul apabila pasokan di pasar lebih besar daripada permintaan, kondisi yang dapat mendorong harga turun dan memengaruhi pendapatan peternak. Dalam penjelasan Ghimoyo, peningkatan pasokan untuk MBG diarahkan agar penyerapan tersebut ikut menopang kestabilan harga.

Langkah ini perlu dipahami sebagai upaya mendukung kestabilan, bukan jaminan bahwa harga akan selalu tetap atau tidak berfluktuasi. Harga telur dapat dipengaruhi berbagai keadaan, termasuk perubahan produksi dan permintaan. Karena itu, besarnya pasokan untuk program dan jumlah telur yang benar-benar terserap menjadi unsur penting dalam melihat dampak kebijakan. Pernyataan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan cakupan wilayah tertentu ataupun hasil yang sama di setiap pasar. Inti pendekatan yang disampaikan adalah memperbesar kebutuhan program sebagai jalur penyerapan, sehingga permintaan tambahan dapat membantu menjaga keseimbangan dan meredam tekanan harga di tingkat peternak.

Ghimoyo menjelaskan bahwa penghentian sementara pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah dapat segera terasa pada harga telur di tingkat peternak. Dalam contoh yang disampaikannya, libur sekolah berlangsung empat hari. Pada masa tersebut, kegiatan program yang biasanya menyerap hasil panen telur tidak berjalan seperti biasa, sehingga permintaan terhadap telur berkurang. Perubahan permintaan itu kemudian diikuti penurunan harga di tingkat peternak.

Situasi ini berkaitan dengan kondisi produksi yang telah meningkat tajam. Peternak tetap menghasilkan telur, sementara hasil panen terus tersedia dan harus diserap oleh pasar. Ketika program MBG beroperasi, permintaan dari program menjadi salah satu saluran penyerapan hasil produksi. Karena itu, kelangsungan pelaksanaan program dinilai berpengaruh terhadap keseimbangan jumlah telur yang tersedia dan kebutuhan pembeli.

Menurut penjelasan Ghimoyo, saat program berhenti sementara, penyerapan yang biasanya berlangsung ikut menurun. Produksi tidak serta-merta berhenti pada saat yang sama, sehingga pasokan tetap ada ketika permintaan melemah. Ketidakseimbangan tersebut memunculkan gejolak di pasar dan harga telur di tingkat peternak langsung turun. Contoh itu menunjukkan bahwa perubahan pada saluran permintaan dapat berdampak cepat pada harga yang diterima produsen, terutama ketika produksi sedang tinggi.

Peristiwa selama libur sekolah tersebut menggambarkan keterkaitan kegiatan MBG, penyerapan hasil panen, dan pergerakan harga telur. Program yang berjalan dapat membantu menjaga adanya permintaan, sedangkan jeda pelaksanaan membuat sebagian penyerapan yang biasa diandalkan tidak berlangsung. Dalam konteks yang dipaparkan, penurunan harga bukan dijelaskan sebagai akibat perubahan produksi, melainkan muncul ketika produksi tetap berjalan dan permintaan dari program berkurang. Keterangan mengenai jeda empat hari ini menjadi contoh terbatas tentang bagaimana berhentinya penyerapan sementara dapat memicu gejolak harga di tingkat peternak.

Ghimoyo menyebut pemerintah hadir untuk membantu menstabilkan kondisi ketika kegiatan produksi telur tetap berjalan selama masa libur, sementara penyerapan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) berkurang. Situasi tersebut dapat menimbulkan tekanan di tingkat peternak karena telur yang dihasilkan terus tersedia, tetapi saluran penyerapan yang biasanya membantu menyerap pasokan tidak berjalan dengan tingkat yang sama. Dalam konteks ini, kehadiran pemerintah dipandang penting sebagai upaya meredam gejolak, bukan sebagai tanda bahwa produksi berhenti atau kebutuhan pasar hilang selama libur.

Penjelasan itu berkaitan dengan pandangan Ghimoyo mengenai fungsi MBG sebagai penyangga pasokan dan harga. Ketika program menyerap telur, sebagian pasokan memperoleh jalur pemanfaatan yang membantu menjaga keseimbangan produksi dan penyerapan. Namun, saat serapan MBG menurun pada masa libur, jumlah telur yang terus diproduksi perlu menghadapi perubahan permintaan tersebut. Perbedaan produksi yang berlanjut dan penyerapan yang berkurang dapat memengaruhi kondisi pasar serta harga yang diterima peternak. Karena itu, fungsi penyangga menjadi relevan untuk memahami bagaimana program tersebut dapat membantu mengurangi ketimpangan sementara.

Ghimoyo menempatkan keterlibatan pemerintah dalam kerangka stabilisasi tersebut, terutama ketika perubahan penyerapan berpotensi menimbulkan gejolak. Pandangan ini menegaskan bahwa MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memiliki peran dalam mendukung keseimbangan rantai pasok telur. Peran sebagai penyangga pasokan dapat membantu memberi kepastian penyerapan, sedangkan kaitannya dengan harga muncul dari upaya menjaga agar pasokan yang terus diproduksi tidak menghadapi tekanan berlebihan ketika permintaan melalui program menurun. Dengan demikian, penjelasan tentang kehadiran pemerintah dan fungsi MBG saling terkait: kondisi produksi selama libur menjadi latar, berkurangnya serapan menjadi tantangan, dan stabilisasi pasokan serta harga menjadi perhatian bagi peternak. Keterkaitan ini juga menjelaskan mengapa keberlanjutan penyerapan dianggap penting saat pola kegiatan berubah. Dalam keterangannya, Ghimoyo juga mengaitkan pembahasan dengan tema “Swasembada Protein”.

Baca juga: Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129 | Program Jembatan Garuda, Kodim 1710/Mimika Bangun Akses dan Konektivitas di Kampung Kaugapu