Kabupaten Gowa | Nur Ramadhan, pemuda berusia 21 tahun, menjadi korban pembusuran oleh kawanan geng motor di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ia diserang ketika sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang ke rumah. Serangan mendadak itu membuat dua anak panah menancap di tubuhnya, masing-masing pada bagian pipi dan lengan.
Peristiwa tersebut menimpa Nur Ramadhan saat perjalanan pulang yang semula berlangsung seperti biasa. Di wilayah Kabupaten Gowa, ia tiba-tiba menjadi sasaran pembusuran oleh sekelompok pengendara yang disebut sebagai kawanan geng motor. Anak panah yang dilepaskan dalam serangan itu mengenai wajah dan salah satu bagian tubuhnya.
Dua anak panah tersebut dilaporkan menancap di pipi serta lengan Nur Ramadhan. Kondisi itu menunjukkan bahwa serangan terjadi secara langsung saat korban masih berada di atas sepeda motor dan tengah menuju rumah. Identitas korban diketahui sebagai Nur Ramadhan, seorang pemuda berusia 21 tahun yang tinggal atau beraktivitas di wilayah Gowa.
Kasus pembusuran ini menjadi perhatian karena korban diserang ketika sedang melakukan perjalanan pulang di wilayah Kabupaten Gowa. Serangan oleh kawanan geng motor tersebut menyebabkan anak panah menancap pada dua bagian tubuh korban, yakni pipi dan lengan. Peristiwa itu menempatkan Nur Ramadhan sebagai korban dalam kejadian kekerasan yang berlangsung secara mendadak di tengah perjalanan.
Hingga bagian awal laporan ini, inti kejadian yang diketahui adalah serangan terhadap Nur Ramadhan saat mengendarai sepeda motor untuk pulang ke rumah. Dua anak panah mengenai tubuhnya dan menancap di bagian pipi serta lengan. Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dengan pelaku disebut berasal dari kawanan geng motor.
Pembusuran terhadap seorang pemuda terjadi pada 4 Oktober 2026 sekitar pukul 05.00 WITA. Peristiwa itu berlangsung di Jalan Mustafa Daeng Bunga, Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Saat kejadian, korban disebut sedang dalam perjalanan pulang dengan mengendarai sepeda motor. Ia melintas di ruas jalan tersebut sebelum berpapasan dengan sekelompok pengendara yang diduga merupakan kawanan geng motor.
Dalam kronologi yang dihimpun, kelompok itu diduga sedang berkonvoi sambil mencari lawan ketika melintas di kawasan Jalan Mustafa Daeng Bunga. Pada saat berpapasan, sejumlah anggota kelompok tersebut melontarkan busur panah ke arah korban. Serangan itu berlangsung ketika korban masih berada di atas sepeda motornya dan sedang melanjutkan perjalanan pulang. Tidak terdapat keterangan bahwa korban sebelumnya terlibat perselisihan dengan kelompok tersebut, sehingga motif penyerangan belum dapat disimpulkan berdasarkan informasi yang tersedia.
Akibat serangan tersebut, dua anak panah dilaporkan menancap pada bagian tubuh korban, yakni di wajah dan lengan. Peristiwa ini membuat perjalanan pulang korban berubah menjadi insiden kekerasan di jalan umum pada waktu pagi. Lokasi kejadian berada di wilayah Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, yang termasuk dalam Kabupaten Gowa. Rangkaian kejadian bermula ketika korban melintas menggunakan sepeda motor, kemudian berpapasan dengan kawanan yang diduga berkonvoi dan mencari lawan, sebelum akhirnya busur panah dilontarkan ke arahnya. Keterangan mengenai pelaku, jumlah anggota kelompok, serta alasan mereka menyerang masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang. Dengan demikian, fakta yang dapat dipastikan dari kronologi awal adalah waktu kejadian, lokasi pembusuran, perjalanan korban menuju pulang, serta adanya lontaran anak panah saat korban berpapasan dengan kelompok tersebut.
Aksi puluhan anggota geng motor yang diduga berkaitan dengan penyerangan terhadap seorang pemuda di Gowa terekam kamera CCTV. Rekaman tersebut memperlihatkan iring-iringan kendaraan melintas di jalanan secara berkelompok sebelum peristiwa penyerangan terjadi. Keberadaan rekaman visual ini menjadi bagian penting dalam menggambarkan situasi di sekitar lokasi kejadian, termasuk pergerakan kelompok yang melintas menggunakan sepeda motor.
Dalam rekaman CCTV, konvoi tampak bergerak menyusuri jalan dengan jumlah anggota yang cukup banyak. Dokumentasi itu memberikan gambaran mengenai waktu dan arah pergerakan kelompok di area yang terpantau kamera. Meski tidak seluruh rangkaian kejadian dapat dipastikan hanya melalui rekaman tersebut, video CCTV menjadi petunjuk awal yang membantu menyusun kronologi berdasarkan kondisi jalan dan aktivitas kelompok pada saat itu.
Polisi menggunakan rekaman konvoi tersebut sebagai salah satu petunjuk untuk mengungkap identitas para pelaku. Gambar yang terekam dapat ditelaah dengan mencermati kendaraan, pakaian, serta pola pergerakan anggota kelompok, sepanjang informasi itu terlihat dalam dokumentasi. Petunjuk visual dari CCTV kemudian dapat dibandingkan dengan keterangan dan informasi lain yang berkaitan dengan kejadian. Dengan demikian, rekaman konvoi berperan dalam mendukung upaya kepolisian menelusuri pihak-pihak yang diduga terlibat, tanpa menjadi satu-satunya dasar dalam mengungkap perkara tersebut.
Serangan tersebut menimbulkan dampak langsung yang serius bagi Nur Ramadhan. Dua anak panah dilaporkan masih menancap pada tubuhnya, masing-masing di bagian pipi dan lengan. Kondisi itu menunjukkan bahwa pembusuran tidak hanya menyebabkan luka ringan, tetapi juga meninggalkan cedera pada dua bagian tubuh yang berbeda.
Anak panah yang menancap di pipi menjadi salah satu dampak paling mencolok dari peristiwa tersebut. Luka pada area wajah dapat memengaruhi kondisi fisik korban secara langsung, sekaligus memperlihatkan betapa dekatnya proyektil itu mengenai bagian vital. Sementara itu, anak panah yang menancap di lengan menambah cedera yang dialami Nur Ramadhan setelah diserang saat perjalanan pulang.
Keberadaan dua anak panah yang masih tertancap mempertegas tingkat keseriusan luka yang dialami korban. Cedera tersebut menjadi akibat langsung dari pembusuran dan membedakan peristiwa ini dari insiden yang hanya menimbulkan goresan atau luka permukaan. Dampak serangan terhadap Nur Ramadhan terutama terlihat dari luka pada pipi dan lengan yang disebabkan oleh anak panah.
Peristiwa itu meninggalkan konsekuensi fisik yang nyata bagi korban. Dua anak panah yang menancap menunjukkan bahwa serangan tersebut menghasilkan luka serius, dengan bagian wajah dan lengan sama-sama terdampak. Keterangan mengenai posisi luka itu menjadi gambaran utama atas akibat yang dialami Nur Ramadhan setelah kejadian tersebut.
Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Trauma Healing Korem 161/WS Bangkitkan Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Flores

