Modernisasi AirNav dan Penguatan Layanan Navigasi Penerbangan

Modernisasi AirNav dan Penguatan Layanan Navigasi Penerbangan

Tangerang | Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) berkomitmen memperkuat layanan navigasi penerbangan melalui modernisasi yang dilakukan secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup pembaruan sistem dan teknologi, peningkatan fasilitas operasional, penyempurnaan prosedur kerja, serta pengembangan kompetensi personel. Setiap unsur saling berkaitan dalam menjaga agar pelayanan navigasi dapat berlangsung aman, andal, dan efisien di tengah kebutuhan penerbangan yang terus berkembang. Modernisasi tidak hanya berarti menghadirkan perangkat baru, tetapi juga memastikan sistem, proses, dan kemampuan petugas dapat bekerja secara selaras dalam situasi operasional sehari-hari.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, menyampaikan bahwa penguatan tersebut ditujukan untuk mendukung keselamatan, keandalan, dan efisiensi layanan navigasi penerbangan. Perangkat dan informasi yang memadai membantu pemandu lalu lintas udara memantau kondisi ruang udara, memahami perkembangan lalu lintas, serta mengambil keputusan secara tepat. Dukungan tersebut penting karena pengaturan lalu lintas udara menuntut ketelitian, koordinasi, dan respons yang terukur. Dengan sistem dan fasilitas yang terus diperbarui, personel diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan dukungan operasional yang sesuai, sementara prosedur yang jelas membantu menjaga konsistensi pelayanan.

Pernyataan itu disampaikan dalam konteks peringatan Hari Pemandu Lalu Lintas Udara Sedunia, yang menjadi kesempatan untuk mengapresiasi peran para pemandu dalam menjaga kelancaran pergerakan pesawat. Peringatan tersebut juga mengingatkan bahwa mutu layanan navigasi bergantung pada kesiapan personel dan dukungan organisasi secara berkelanjutan. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dari modernisasi, sejalan dengan pembaruan teknologi dan fasilitas. Pelatihan, pemahaman terhadap prosedur, serta kemampuan menggunakan informasi operasional dapat memperkuat kesiapan petugas menghadapi beragam kondisi. Melalui langkah-langkah tersebut, AirNav Indonesia berupaya membangun layanan navigasi yang mampu mendukung operasi penerbangan secara aman dan teratur. Penguatan yang dilakukan secara berkesinambungan diharapkan turut menjaga kepercayaan terhadap layanan navigasi nasional, sekaligus memastikan para pemandu memiliki bekal yang memadai untuk menjalankan tanggung jawabnya dalam berbagai dinamika lalu lintas udara.

AirNav Indonesia mengoperasikan Air Traffic Management Automation System (ATMAS), sistem otomasi pengelolaan lalu lintas udara generasi terbaru, di empat pusat pelayanan, yakni Jakarta, Medan, Pontianak, dan Balikpapan. Penerapan sistem ini dilakukan secara bertahap sejak November 2025, dengan penyesuaian pelaksanaan pada masing-masing pusat. Tahapan tersebut memungkinkan proses peralihan berlangsung terencana, sementara layanan navigasi penerbangan tetap berjalan. Di New Jakarta Air Traffic Services Center (JATSC), ATMAS diterapkan secara penuh pada 16 Juni 2026. Langkah ini menjadi bagian dari modernisasi infrastruktur yang mendukung pengelolaan penerbangan secara lebih terpadu dan konsisten.

Cakupan ATMAS meliputi dukungan bagi pengendalian penerbangan pada fase jelajah maupun ketika pesawat mendekati bandara. Sistem ini mengintegrasikan sejumlah fungsi yang sebelumnya mendukung berbagai kebutuhan operasional, termasuk pengaturan urutan kedatangan dan keberangkatan pesawat, serta pengelolaan arus lalu lintas udara. Integrasi tersebut membantu petugas memperoleh gambaran operasional yang lebih menyeluruh ketika mengatur pergerakan pesawat. ATMAS juga mencakup pengelolaan informasi aeronautika, pertukaran pesan penerbangan, dan komunikasi suara. Ketersediaan fungsi-fungsi tersebut dalam satu sistem membantu mendukung koordinasi unsur pelayanan navigasi serta penyampaian informasi yang diperlukan dalam operasi penerbangan.

Penggunaan otomasi dapat memperkuat dukungan terhadap tugas pengendali lalu lintas udara, tetapi efektivitasnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perangkat. Penerapan di empat pusat pelayanan perlu diiringi kesiapan personel yang mengoperasikan sistem, termasuk pemahaman terhadap fungsi dan alur kerja baru. Prosedur operasional juga perlu disesuaikan dan diterapkan secara konsisten agar penggunaan teknologi sejalan dengan kebutuhan keselamatan serta kelancaran layanan. Karena itu, pelatihan, sosialisasi, dan evaluasi selama masa penerapan menjadi unsur penting dalam proses modernisasi. Dengan dukungan sistem, personel, dan prosedur yang selaras, ATMAS dapat menunjang pengelolaan lalu lintas udara secara terintegrasi di pusat-pusat pelayanan tersebut, baik untuk penerbangan yang sedang melintasi wilayah udara maupun pesawat yang berada dalam fase pendekatan dan keberangkatan.

Free Route Operation (FRTO) memberi maskapai keleluasaan untuk merencanakan jalur penerbangan yang lebih efisien, dengan tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan kebutuhan operasional. Berbeda dari pola rute yang sepenuhnya mengikuti jalur tetap, pendekatan ini memungkinkan pesawat memilih lintasan yang lebih sesuai selama penerbangan dan pengelolaan ruang udara tetap aman. Perencanaan yang lebih fleksibel dapat membantu mengurangi jarak tempuh atau waktu perjalanan, bergantung pada situasi yang dihadapi. Karena itu, FRTO menjadi salah satu upaya modernisasi layanan navigasi penerbangan yang dapat mendukung efisiensi operasional sekaligus penggunaan sumber daya secara lebih optimal.

AirNav mencatat, sepanjang 2025 terdapat 5.030 penerbangan yang memanfaatkan FRTO di wilayah pelayanan Jakarta dan Ujung Pandang. Jumlah tersebut meningkat 82 persen dibandingkan dengan 2.770 penerbangan pada 2024. Kenaikan pemanfaatan ini menunjukkan semakin luasnya penggunaan layanan rute fleksibel oleh penerbangan yang beroperasi di kedua wilayah tersebut. Berdasarkan hasil yang disampaikan AirNav, penerapan FRTO menghasilkan penghematan biaya bahan bakar bagi maskapai hingga 8,04 juta dolar AS. Selain manfaat ekonomi, penggunaan rute yang lebih efisien juga dikaitkan dengan pengurangan emisi karbon dioksida sebanyak 5.426 ton. Angka-angka ini menggambarkan potensi FRTO dalam mendukung efisiensi penerbangan dan sasaran pengurangan dampak lingkungan.

Pengalaman penerapan FRTO di wilayah kepulauan Indonesia juga mendapat tempat dalam pembahasan internasional. Direktur Operasi AirNav, Setio Anggoro, memaparkan pengalaman tersebut pada forum ICAO Air Navigation World–Air Traffic Flow Management yang diselenggarakan di kantor pusat Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), di Montreal, Kanada, pada 5–9 Oktober 2026. Paparan itu membawa konteks operasional Indonesia ke forum yang membahas navigasi udara dan pengelolaan arus lalu lintas penerbangan. Karakter wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi latar penting dalam memahami penerapan jalur fleksibel, termasuk kebutuhan untuk menyesuaikan rencana penerbangan dengan cuaca dan kondisi operasional. Data pemanfaatan serta hasil yang dilaporkan AirNav menunjukkan bagaimana layanan ini dapat berkontribusi pada kinerja penerbangan. Pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan navigasi penerbangan yang lebih adaptif.

Kerja sama strategis AirNav Indonesia dengan Airservices Australia melalui Indonesia Transport Safety Assistance Package (ITSAP) menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kompetensi personel sekaligus kapasitas organisasi. Program ini mendorong pertukaran pengetahuan dan pengembangan praktik kerja yang mendukung layanan navigasi penerbangan yang aman serta efisien. Lokakarya ITSAP yang diselesaikan pada 3 Juli 2026 mencakup sejumlah bidang penting bagi pengelolaan layanan. Materinya meliputi perencanaan tenaga kerja, penerapan standar manajemen lalu lintas udara, serta pengelolaan dan pengolahan data pengawasan penerbangan. Peserta juga membahas manajemen program, termasuk pendekatan untuk merencanakan, menjalankan, dan meninjau kegiatan secara terstruktur. Ragam materi tersebut memberi ruang bagi personel untuk memperdalam pemahaman teknis dan organisasi, sekaligus meninjau cara penerapan pengetahuan dalam konteks operasional AirNav.

Rangkaian kolaborasi juga mencakup ITSAP Senior Engagement, yang mempertemukan pimpinan AirNav dan Airservices Australia. Dalam forum tersebut, kedua pihak mendiskusikan transformasi digital, keselamatan penerbangan, serta peluang memperluas pertukaran pengetahuan. Pertemuan tingkat pimpinan ini membantu menghubungkan agenda pengembangan kompetensi dengan arah strategis masing-masing lembaga. Sebagai bagian dari pembelajaran, delegasi berkunjung ke fasilitas operasional Airservices Australia untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai lingkungan kerja dan penyelenggaraan layanan navigasi. Kunjungan tersebut melengkapi diskusi formal dengan kesempatan melihat proses dan praktik operasional, sehingga pengalaman yang dibagikan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penguatan organisasi dan layanan AirNav.

Di tingkat regional AirNav.

Baca juga: Bank Syariah Tak Lagi Ribet, Aladin Bawa Semua Layanan ke Genggaman | FFPM 2026 Konsolidasikan Strategi Penguatan Fasilitas Produksi Migas | Gelar Latihan Live Fire Dan Penerbangan Malam Dalam SGS 2026