Mina Tenun Sukarara: Ketika Tradisi Menenun Menguatkan Ekonomi Perempuan dan Akses Air Bersih

Mina Tenun Sukarara: Ketika Tradisi Menenun Menguatkan Ekonomi Perempuan dan Akses Air Bersih

Lombok | Galeri Mina Tenun hadir di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sebagai ruang pemberdayaan yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal Bandara Internasional Lombok. Kehadirannya berangkat dari potensi lokal yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat, yaitu tradisi menenun. Namun, program ini tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan warisan budaya. Galeri tersebut dirancang dengan tiga fokus utama: memperkuat ekonomi perempuan penenun, mengembangkan produk budaya agar memiliki nilai tambah, serta memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung penyediaan air bersih bagi warga.

Latar belakang sosialnya berkaitan erat dengan kondisi sebagian purna pekerja migran Indonesia yang kembali ke Sukarara. Setelah pulang ke desa, mereka tidak selalu mudah memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang layak. Di sisi lain, aktivitas menenun yang menjadi keterampilan turun-temurun masih menghadapi berbagai tantangan. Harga jual kain kerap rendah, modal produksi terbatas, dan penenun masih bergantung pada pengepul. Situasi ini membuat nilai ekonomi karya mereka belum sepenuhnya sebanding dengan waktu, keterampilan, serta ketelitian yang diperlukan selama proses produksi.

Melalui Galeri Mina Tenun, perempuan penenun memperoleh peluang untuk mengembangkan kemampuan, memperluas akses pasar, dan memperkenalkan karya secara lebih langsung kepada pengunjung. Penguatan tersebut juga mencakup pengembangan desain serta produk turunan berbasis budaya, sehingga kain tenun tidak berhenti sebagai komoditas tradisional, tetapi dapat menjangkau kebutuhan pasar yang lebih beragam. Dengan demikian, tradisi menenun berpeluang menjadi sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga.

Vice President Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menekankan bahwa pemberdayaan perlu berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat dengan tetap mengembangkan potensi daerah. Prinsip ini tercermin dalam rancangan Galeri Mina Tenun yang menghubungkan penguatan ekonomi perempuan dengan manfaat sosial bagi lingkungan sekitar. Pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung akses air bersih menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Karena itu, galeri tidak hanya membuka jalan menuju peluang ekonomi yang lebih baik bagi penenun, tetapi juga menghadirkan dukungan yang dapat dirasakan langsung oleh warga Sukarara.

Sebelum pendampingan berlangsung, posisi tawar penenun di Desa Sukarara masih lemah. Sebagian penenun hanya menerima sekitar Rp25.000 untuk setiap lembar kain yang telah diselesaikan. Pembayaran dari pengepul juga tidak selalu pasti, sehingga penenun harus menghadapi ketidakpastian pendapatan setelah menyelesaikan pekerjaan. Kondisi tersebut membatasi kemampuan mereka untuk memutar modal, termasuk membeli benang dan bahan baku lain yang diperlukan untuk produksi berikutnya.

Galeri Mina Tenun menghadirkan perubahan melalui dukungan yang lebih teratur bagi penenun. Galeri memfasilitasi penyediaan bahan baku agar penenun tidak sepenuhnya menanggung kebutuhan modal produksi. Selain itu, penenun memperoleh pilihan variasi motif serta akses terhadap alat tenun gedogan. Dukungan tersebut membantu menjaga keberlanjutan proses menenun sekaligus memberi ruang bagi penenun untuk menghasilkan kain dengan pilihan desain yang lebih beragam.

Perubahan juga dilakukan pada sisi pemasaran dan mekanisme pembayaran. Galeri membantu memasarkan kain yang dihasilkan, sehingga penenun tidak harus mencari pembeli secara mandiri. Setelah kain selesai diproduksi, pembayaran diberikan secara langsung kepada penenun. Dengan mekanisme ini, mereka tidak perlu menunggu hingga kain terjual kepada konsumen akhir untuk memperoleh hasil kerja. Kepastian pembayaran membuat pendapatan lebih mudah diperkirakan dan modal dapat segera digunakan kembali.

Melalui skema tersebut, pendapatan bersih penenun meningkat hingga minimal sekitar Rp750.000 untuk setiap lembar kain. Peningkatan nilai hasil tenun memperkuat keuangan keluarga karena pendapatan dari pekerjaan menenun dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mendukung perputaran modal. Bagi perempuan, kepastian penghasilan turut memperkuat kemandirian finansial serta posisi mereka dalam pengelolaan ekonomi keluarga.

Dukungan Galeri Mina Tenun juga membuka alternatif usaha bagi purna PMI dan kelompok rentan di desa. Menenun menjadi pilihan kegiatan ekonomi yang dapat dijalankan dengan dukungan bahan, alat, motif, serta pemasaran yang tersedia. Dengan demikian, perubahan skema pembayaran tidak hanya menaikkan nilai kain, tetapi juga memperluas akses perempuan terhadap sumber pendapatan yang lebih pasti.

Inovasi lingkungan dalam program Mina Tenun menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) BIL tidak hanya mendukung kegiatan menenun di Sukarara, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan ketersediaan air bersih. Keterkaitan ini penting bagi masyarakat di Nusa Tenggara Barat, termasuk wilayah yang secara berkala menghadapi ancaman kekeringan. Ketika curah hujan terbatas dan sumber air menurun, akses terhadap air bersih menjadi tantangan yang memengaruhi kesehatan, kebersihan, serta aktivitas sehari-hari warga.

Untuk menjawab persoalan tersebut, alat tenun bukan mesin atau ATBM dimodifikasi menjadi bagian dari solusi energi terbarukan. Gerakan mekanis yang dihasilkan ketika peralatan digunakan untuk menenun dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Energi tersebut kemudian diarahkan untuk mengoperasikan pompa air dan sistem filtrasi, sehingga air dapat diambil, disaring, dan dimanfaatkan secara lebih layak oleh masyarakat. Dengan pendekatan ini, kegiatan menenun tidak berhenti sebagai aktivitas ekonomi dan budaya, melainkan turut berkontribusi pada pengelolaan sumber daya yang dibutuhkan warga.

Pengembangan sistem tersebut diperkuat melalui dukungan pembangkit listrik tenaga bayu dan pembangkit listrik tenaga surya yang berasal dari bantuan program tanggung jawab sosial dan lingkungan PT Pertamina Patra Niaga. Kombinasi tenaga angin, cahaya matahari, dan gerak alat tenun membantu menyediakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan untuk mendukung pompa serta filtrasi air. Model ini memperlihatkan hubungan langsung kebiasaan budaya sehari-hari, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan ketahanan lingkungan. Setiap aktivitas menenun berpotensi memberi manfaat berlapis: menjaga warisan lokal, memperkuat peran ekonomi perempuan, sekaligus membantu meningkatkan akses air bersih secara berkelanjutan.

Mina Tenun Sukarara dirancang sebagai upaya pemberdayaan berkelanjutan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Program ini tidak berhenti pada pemberian bantuan ekonomi atau penerapan teknologi, melainkan membangun kemampuan kelompok agar dapat mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkesinambungan. Dian Hapsari Firasati menegaskan bahwa inovasi sosial perlu menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menghadirkan teknologi baru. Prinsip tersebut menjadi dasar penting dalam memastikan setiap kegiatan memiliki manfaat yang relevan, dapat diterima, dan mampu menjawab tantangan sehari-hari yang dihadapi warga.

Aktivitas menenun yang telah menjadi bagian dari budaya lokal Sukarara diharapkan terus mendukung penghidupan perempuan. Keterampilan yang diwariskan lintas generasi ini memiliki nilai ekonomi sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat. Melalui penguatan kelompok penenun, perempuan memperoleh ruang untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan posisi mereka dalam pengelolaan ekonomi keluarga. Pada saat yang sama, dukungan terhadap solusi air bersih membantu menjawab kebutuhan dasar masyarakat dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Dengan demikian, kegiatan budaya tidak dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas hidup, tetapi menjadi bagian dari pendekatan pemberdayaan yang saling menguatkan.

Sinergi tersebut mempertemukan tiga tujuan utama: pelestarian budaya, peningkatan ekonomi kelompok rentan, dan pemanfaatan energi ramah lingkungan. Penggunaan sumber energi yang lebih bersih dalam mendukung kegiatan serta penyediaan air bersih menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Harapannya, Mina Tenun terus berkembang sebagai model program yang mampu memperkuat kapasitas masyarakat, menjaga keberlanjutan tradisi, dan menghadirkan manfaat yang dirasakan dalam jangka panjang. Pertamina Patra Niaga berkomitmen menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang memberi manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.