Kabupaten Aceh Tenggara | Sungai Kali Bulan meluap dan merendam sebagian rumah warga di Desa Pulonas Baru, Kecamatan Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara, pada Sabtu dini hari (10/10). Luapan tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Jumat malam (9/10). Air sungai yang meningkat kemudian masuk ke kawasan permukiman warga.
Banjir menggenangi sejumlah rumah di Desa Pulonas Baru dengan ketinggian air sekitar 50 sentimeter. Genangan tersebut kurang lebih setinggi lutut orang dewasa sehingga mengganggu kondisi permukiman sejak dini hari. Peristiwa ini menjadi dampak awal dari meluapnya Sungai Kali Bulan setelah hujan deras berlangsung di wilayah Kecamatan Lawe Bulan.
Hujan yang turun sejak malam sebelumnya menyebabkan debit Sungai Kali Bulan meningkat. Pada Sabtu dini hari, peningkatan aliran sungai membuat air meluber hingga ke permukiman di Desa Pulonas Baru. Sebagian rumah warga pun terdampak genangan dengan kedalaman sekitar setengah meter atau setinggi lutut orang dewasa.
Lokasi genangan berada di Desa Pulonas Baru, Kecamatan Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara. Waktu kejadian berlangsung pada Sabtu dini hari (10/10), setelah hujan deras mengguyur sejak Jumat malam (9/10). Luapan sungai tersebut menyebabkan air memasuki sebagian rumah warga dan merendam lingkungan permukiman.
Dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter, air yang menggenangi rumah warga menunjukkan bahwa luapan Sungai Kali Bulan telah mencapai kawasan tempat tinggal penduduk. Banjir berlangsung setelah curah hujan deras meningkatkan aliran sungai, sehingga air meluber dari alurnya dan masuk ke permukiman Pulonas Baru.
Luapan Sungai Kali Bulan membuat warga di kawasan permukiman panik setelah air mulai masuk dan menggenangi sejumlah rumah. Situasi tersebut mendorong warga berhamburan keluar untuk memantau kondisi sekaligus mencari tempat yang lebih aman. Mereka khawatir debit air terus bertambah sehingga genangan meluas dan mengganggu keselamatan penghuni serta lingkungan sekitar.
Sejumlah warga terlihat berupaya menyelamatkan barang-barang penting dari dalam rumah. Perabotan, dokumen, dan barang berharga lainnya dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi agar tidak terendam. Aktivitas itu dilakukan secara terburu-buru karena warga belum mengetahui seberapa besar luapan sungai akan berdampak terhadap permukiman.
Supardi, bersama sejumlah warga, mengaku cemas melihat air sungai meluap ke kawasan tempat tinggal mereka. Menurut dia, warga memilih berjaga-jaga karena kondisi banjir dapat berubah sewaktu-waktu. Mereka khawatir luapan tersebut membawa mudarat apabila ketinggian air terus meningkat dan arus menjadi lebih kuat.
Rasa cemas juga terlihat dari warga yang terus mengamati pergerakan air di sekitar rumah. Sebagian warga tidak langsung kembali ke dalam rumah karena ingin memastikan kondisi tetap terkendali. Mereka saling berkoordinasi untuk memantau genangan dan membantu memindahkan barang milik keluarga yang terdampak.
Kepanikan tersebut muncul karena luapan sungai terjadi di dekat area permukiman, sementara warga harus bertindak cepat untuk mengurangi potensi kerugian. Selain menjaga barang, mereka juga memperhatikan keselamatan anggota keluarga, terutama apabila air kembali meninggi. Warga berharap kondisi segera membaik sehingga mereka dapat kembali beraktivitas dengan aman. Untuk sementara, kewaspadaan tetap dipertahankan sembari menunggu perkembangan tinggi air dan dampak luapan terhadap rumah-rumah di sekitar aliran sungai.
Hujan masih mengguyur wilayah Aceh Tenggara, menurut keterangan Riko. Kondisi tersebut membuat debit air di Sungai Kali Bulan meningkat hingga melampaui batas alirannya. Air sungai kemudian meluap dan tidak lagi hanya berada di sekitar bantaran. Genangan telah mencapai badan jalan serta masuk ke sebagian rumah warga di area yang terdampak.
Meluasnya genangan menunjukkan bahwa dampak luapan sungai mulai dirasakan di ruang yang menjadi jalur pergerakan masyarakat dan lingkungan tempat tinggal. Badan jalan yang tergenang dapat menghambat aktivitas warga, sementara air yang merendam sebagian rumah membuat penghuni harus menghadapi kondisi berbeda di sekitar tempat tinggal mereka. Situasi ini berlangsung ketika hujan masih turun sehingga aliran air tetap menjadi perhatian.
Air yang keluar dari alur sungai juga memperlihatkan bahwa genangan tidak terbatas pada wilayah yang berdekatan langsung dengan sungai. Permukaan jalan dan bagian rumah warga turut terdampak, menjadikan luapan tersebut sebagai persoalan yang berkaitan dengan akses serta permukiman. Perkembangan ini perlu dipantau karena perubahan kondisi hujan dan aliran sungai dapat memengaruhi keadaan genangan di lapangan.
Keterangan mengenai hujan yang masih mengguyur dan air yang telah mencapai jalan serta rumah warga menggambarkan situasi banjir yang terus berkembang di Aceh Tenggara. Untuk sementara, perhatian tertuju pada jalur yang tergenang dan bagian rumah yang kemasukan air. Warga di sekitar lokasi perlu mengikuti informasi terbaru mengenai kondisi sungai dan akses jalan, terutama selama hujan masih berlangsung.
Warga berupaya mencegah luapan Sungai Kali Bulan meluas ke kawasan permukiman dengan bergotong royong menyingkirkan material kayu yang tersangkut di bawah jembatan. Kegiatan tersebut dilakukan di sejumlah titik, lain Jembatan Pajak Pagi, Desa Lawe Rutung, dan Jembatan Pulo Latong, Aceh Tenggara. Kayu-kayu yang terbawa arus dikhawatirkan menghambat aliran air sehingga genangan semakin tinggi dan meluas ke rumah warga.
Dengan menggunakan alat seadanya, warga turun langsung membersihkan bagian bawah jembatan. Sebagian warga menarik potongan kayu dari sisi jembatan, sementara lainnya membantu mengangkat dan memindahkan material tersebut ke tempat yang lebih aman. Upaya itu dilakukan secara bersama-sama karena kondisi arus dan tumpukan kayu menyulitkan proses pembersihan apabila hanya ditangani oleh beberapa orang.
Air sungai dilaporkan sudah naik hingga berada di atas badan jembatan. Situasi tersebut membuat warga meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kemungkinan tersumbatnya aliran oleh kayu dan material lain yang terbawa arus. Warga mengangkut kayu yang tersangkut agar luapan tidak menjadi lebih besar dan tidak bergerak semakin jauh ke arah permukiman.
Gotong royong itu juga menjadi bentuk respons cepat warga ketika debit air meningkat. Mereka terus memantau kondisi jembatan dan aliran sungai sambil berusaha membuka jalur air yang tertutup material. Warga berharap banjir segera surut sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan dengan lebih aman. Mereka juga berharap kondisi tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda.

