Jakarta | Hingga Oktober 2026, lifting minyak nasional tercatat sementara sebesar 570 ribu barel per hari. Angka ini menggambarkan realisasi produksi yang dicapai sampai dengan periode pelaporan tersebut, bukan hasil akhir untuk keseluruhan tahun. Data dari SKK Migas itu mencakup gabungan pasokan minyak mentah dan kondensat yang berasal dari dalam negeri. Karena masih bersifat sementara, capaian tersebut dapat menjadi gambaran awal kinerja sektor hulu migas, sementara angka final tahunan baru dapat dipastikan setelah seluruh data produksi dihimpun dan diverifikasi.
Realisasi tersebut masih berada di bawah sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2026, yaitu 610 ribu barel per hari. Dengan demikian, selisih capaian sementara dan target anggaran mencapai sekitar 40 ribu barel per hari. Perbandingan ini menunjukkan bahwa produksi hingga Oktober belum memenuhi tingkat lifting yang direncanakan pemerintah untuk tahun berjalan. Namun, angka tersebut perlu dibaca sesuai konteks periode pengukuran: data yang tersedia baru mencakup capaian sementara hingga Oktober, sehingga belum mencerminkan hasil produksi pada bulan-bulan setelahnya ataupun realisasi setahun penuh.
Lifting merupakan volume minyak dan kondensat yang diangkat ke permukaan serta siap dipasarkan atau dibagikan sesuai ketentuan. Oleh sebab itu, angka lifting tidak selalu sama dengan kapasitas produksi terpasang maupun target yang tercantum dalam dokumen anggaran. Capaian nasional juga merupakan akumulasi kontribusi berbagai wilayah kerja migas, sehingga perubahan produksi di lapangan dapat memengaruhi angka keseluruhan. Data SKK Migas memberikan dasar untuk membandingkan realisasi dengan sasaran APBN, tetapi status sementaranya tetap penting diperhatikan. Perkembangan pada sisa periode pelaporan dan pemutakhiran data dapat mengubah hasil akhir. Untuk saat ini, posisi 570 ribu barel per hari menandakan bahwa lifting minyak domestik masih perlu mengejar target 610 ribu barel per hari yang menjadi acuan APBN 2026.
Menjelang akhir 2026, SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) berupaya menjaga dan mendorong lifting minyak melalui berbagai langkah, termasuk menyiapkan skenario komersialisasi baru. Upaya ini diarahkan untuk mengoptimalkan produksi yang tersedia sekaligus mempercepat penyaluran minyak agar dapat dihitung sebagai lifting. Dengan waktu yang tersisa hanya dua bulan, koordinasi SKK Migas dan para kontraktor menjadi penting untuk mengidentifikasi peluang yang masih dapat direalisasikan sebelum tutup tahun.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, menyampaikan optimisme bahwa realisasi lifting dapat didekatkan kepada target. Namun, optimisme tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan adanya berbagai kendala yang berpotensi menekan capaian akhir tahun. Karena itu, pendekatan komersialisasi baru menjadi salah satu instrumen untuk mencari jalan keluar atas hambatan penyerapan dan penyaluran minyak. Pelaksanaannya memerlukan pembahasan bersama para KKKS, dengan memperhatikan kesiapan operasional, kepastian transaksi, serta kebutuhan para pihak terkait.
Desti menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers Forum Ekonomi Hulu Migas 2026 di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026. Pernyataan itu muncul ketika lifting minyak Indonesia tercatat sekitar 570 ribu barel per hari hingga Oktober, sementara upaya mengejar target tahunan masih menghadapi tekanan. Skenario komersialisasi yang disusun diharapkan dapat memperkuat peluang penambahan lifting pada sisa periode, bukan menggantikan langkah teknis yang diperlukan untuk menjaga produksi. SKK Migas dan KKKS perlu menilai setiap opsi berdasarkan kemungkinan pelaksanaan dalam waktu singkat, dampaknya terhadap volume yang dapat disalurkan, dan kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku. Meski hasil akhirnya belum dapat dipastikan, langkah koordinasi dan penyesuaian skema penjualan mencerminkan upaya untuk memaksimalkan potensi yang masih tersedia. Perkembangan realisasi dalam dua bulan terakhir 2026 akan menjadi penentu seberapa jauh langkah tersebut mampu mendekatkan capaian kepada sasaran nasional.
Desti menjelaskan bahwa mayoritas wilayah kerja minyak dan gas bumi yang dikelola saat ini telah berada dalam kategori lapangan tua atau mature. Lapangan-lapangan tersebut telah berproduksi dalam waktu lama, sehingga tekanan reservoir dan kemampuan alamiahnya untuk mengalirkan hidrokarbon cenderung menurun. Kondisi ini membuat tantangan menjaga produksi berbeda dari pengelolaan lapangan yang baru dikembangkan. Pada lapangan mature, operator perlu mengoptimalkan aset yang ada sekaligus mengantisipasi penurunan produksi yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Penurunan tersebut dikenal sebagai natural decline, yakni berkurangnya produksi secara alamiah seiring perjalanan umur lapangan dan perubahan kondisi reservoir. Natural decline dapat terjadi meskipun fasilitas produksi tetap beroperasi, sehingga tanpa intervensi yang tepat, volume minyak yang dihasilkan akan terus menyusut. Karena itu, kegiatan pemboran secara masif diperlukan untuk menahan laju penurunan. Pemboran sumur baru maupun pengembangan titik-titik produksi dapat membuka akses ke cadangan yang belum terkuras dan membantu mempertahankan tingkat produksi. Namun, pelaksanaannya perlu didukung kajian teknis dan keekonomian agar investasi memberi hasil yang berkelanjutan.
Selain pemboran, Desti menekankan pentingnya strategi komersialisasi yang lebih adaptif. Pendekatan tersebut diperlukan agar potensi setiap wilayah kerja dapat dikembangkan sesuai karakteristik lapangan, kondisi pasar, serta tantangan operasionalnya. Fleksibilitas dalam menentukan skema pengembangan dan memanfaatkan teknologi dapat membantu proyek menjadi lebih menarik untuk dijalankan. Upaya menekan natural decline dan meningkatkan aktivitas pemboran, dengan demikian, merupakan bagian penting dari kegiatan hulu migas. Keduanya tidak hanya berperan dalam menjaga kesinambungan produksi, tetapi juga dapat mendorong peningkatan investasi di sektor tersebut. Bagi industri, keberhasilan menahan penurunan produksi akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan program, ketepatan pemilihan sumur, dan iklim komersial yang mendukung. Dengan langkah yang terencana, lapangan tua tetap memiliki peluang untuk memberikan kontribusi, meski membutuhkan upaya lebih besar dibandingkan lapangan yang masih berada pada tahap awal produksi.
SKK Migas memperkirakan volume lifting minyak Indonesia masih berpeluang bertambah hingga Desember 2026. Perkiraan tersebut sejalan dengan upaya mendorong skenario komersialisasi serta mengoptimalkan penyerapan produksi di lapangan. Artinya, capaian sementara hingga Oktober belum sepenuhnya mencerminkan potensi volume yang dapat direalisasikan menjelang akhir tahun. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada pelaksanaan langkah-langkah tersebut dan kemampuan mengalirkan hasil produksi secara efektif. Dengan demikian, proyeksi Desember menjadi salah satu gambaran potensi kenaikan, bukan kepastian bahwa seluruh tambahan volume telah terealisasi. Penilaian itu juga mempertimbangkan bahwa sejumlah opsi komersialisasi masih dapat dikembangkan.
Desti menyatakan bahwa target lifting untuk Desember berada di atas capaian sementara yang tercatat hingga Oktober. Ia juga menyebut proyeksi tersebut masih bersifat konservatif. Pernyataan ini menunjukkan bahwa estimasi yang disampaikan belum memasukkan seluruh kemungkinan peningkatan dari upaya komersialisasi dan optimasi penyerapan. Namun, besarnya tambahan yang dapat dicapai tetap bergantung pada realisasi operasional dan perkembangan skenario yang ditempuh. Karena itu, target akhir tahun sebaiknya dibaca sebagai proyeksi berdasarkan kondisi dan perhitungan sementara, bukan angka produksi final. Pembaruan data pada bulan-bulan berikutnya dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai jarak capaian aktual dan sasaran Desember.
Angka sementara yang disebutkan sudah mencakup kondensat, tetapi belum memasukkan skenario komersialisasi lain yang berpotensi menambah perhitungan. Komponen ini perlu dibedakan dari natural gas liquids (NGL). Sumber juga menyebut bahwa hitungan lifting minyak nasional mungkin meningkat apabila NGL dimasukkan dalam perhitungan. Dengan demikian, NGL merupakan kemungkinan komponen tambahan dalam penyajian angka, bukan bagian yang telah tercakup dalam angka sementara bersama kondensat. Perbedaan cakupan tersebut penting agar perbandingan capaian Oktober, target Desember, dan estimasi yang memasukkan NGL tidak menimbulkan salah tafsir. Setiap angka perlu dibaca berdasarkan komponen yang dihitung serta skenario komersialisasi yang digunakan.
Baca juga: Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari






