Kabupaten Batang | Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengintensifkan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan memperluas jangkauan layanan ke 52 lokasi. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki tingkat kerawanan penyakit yang beragam, sehingga memerlukan pemantauan kesehatan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, petugas kesehatan mendatangi masyarakat untuk memberikan pemeriksaan dasar sekaligus mengidentifikasi kondisi yang berpotensi memengaruhi kesehatan warga.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Ida Susilaksmi menyampaikan keterangan tersebut di Batang pada Selasa. Menurut dia, pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat secara lebih menyeluruh. Hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi petugas dalam memberikan edukasi, menentukan tindak lanjut, serta mendorong warga memanfaatkan layanan kesehatan apabila ditemukan gejala atau faktor risiko tertentu.
Program CKG tidak hanya ditujukan bagi warga yang sedang mengalami keluhan. Pemeriksaan juga berperan dalam mendeteksi lebih awal berbagai risiko penyakit yang mungkin belum menimbulkan gejala. Pendekatan tersebut penting, terutama di wilayah dengan karakteristik kesehatan masyarakat yang berbeda-beda dan menghadapi tantangan penyakit yang tidak sama.
Ida menjelaskan bahwa sebagian risiko kesehatan berkaitan dengan pola hidup dan pola makan yang kurang baik. Kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kandungan gula, garam, atau lemak berlebihan, kurang melakukan aktivitas fisik, serta mengabaikan pemeriksaan rutin dapat meningkatkan kemungkinan munculnya penyakit. Karena itu, layanan kesehatan gratis di 52 lokasi diharapkan membantu warga memahami kondisi tubuh sekaligus memperbaiki kebiasaan sehari-hari.
Dengan melibatkan petugas di lokasi-lokasi yang menjadi sasaran pemantauan, Pemkab Batang berupaya mendekatkan layanan preventif kepada masyarakat. Pemeriksaan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kesadaran warga terhadap pentingnya pencegahan, pemantauan kesehatan, dan penanganan penyakit sedini mungkin.
Dalam program CKG ini, masyarakat memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis. Kegiatan dirancang untuk menjangkau warga di desa-desa yang dinilai memiliki kerawanan terhadap penyakit. Dengan sasaran tersebut, pemeriksaan tidak hanya dilakukan secara umum, tetapi dilaksanakan secara intensif agar warga di wilayah yang menjadi perhatian dapat memperoleh pemeriksaan secara langsung dan teratur.
Jenis pemeriksaan yang diberikan mencakup pengukuran tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Ketiga pemeriksaan ini membantu memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan masyarakat, terutama berkaitan dengan faktor yang perlu dipantau secara berkala. Melalui pemeriksaan tersebut, warga dapat mengetahui kondisi tekanan darah, kadar gula darah, serta kadar kolesterol mereka berdasarkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan CKG.
Selain pemeriksaan tersebut, petugas juga melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Data ini menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan masyarakat karena dapat menunjukkan kondisi fisik warga secara lebih menyeluruh. Pengukuran dilakukan sebagai rangkaian yang melengkapi pemeriksaan lainnya, sehingga setiap warga mendapatkan layanan yang mencakup beberapa aspek dasar kesehatan dalam satu kegiatan.
Program ini juga menyediakan pemeriksaan menggunakan rontgen. Layanan tersebut melengkapi pemeriksaan dasar yang diberikan kepada masyarakat di desa-desa sasaran. Dengan adanya rontgen, rangkaian CKG mencakup pemeriksaan yang lebih beragam, mulai dari pengukuran kondisi tubuh hingga pemeriksaan menggunakan perangkat tersebut. Seluruh jenis layanan itu dilaksanakan secara intensif dengan fokus pada desa-desa yang dinilai memiliki kerawanan penyakit, sehingga program dapat menjangkau masyarakat yang menjadi sasaran secara lebih tepat.
Pelaksanaan pemeriksaan secara terpadu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh beberapa layanan kesehatan dalam satu program. Tekanan darah, gula darah, kolesterol, tinggi badan, berat badan, dan pemeriksaan rontgen menjadi bagian dari layanan yang diberikan tanpa menambahkan jenis pemeriksaan lain. Dengan cakupan tersebut, kegiatan CKG berupaya menghadirkan pemeriksaan yang terarah bagi warga di desa-desa yang membutuhkan perhatian kesehatan lebih intensif.
Pemeriksaan rontgen menjadi salah satu bagian penting dalam layanan cek kesehatan gratis karena dapat membantu melihat kondisi paru-paru secara lebih jelas. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan bagi warga yang telah mengalami keluhan, tetapi juga bagi masyarakat yang merasa sehat dan belum menyadari adanya gangguan pada organ pernapasan. Melalui rontgen, petugas kesehatan dapat menemukan tanda-tanda awal yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Menurut Ida Susilaksmi, pemeriksaan tersebut merupakan upaya deteksi dini terhadap potensi kerawanan tuberkulosis (TBC). Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini umumnya menyerang paru-paru dan dapat menular melalui percikan udara. Gejalanya, seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, keringat malam, atau tubuh mudah lelah, tidak selalu segera dikenali oleh masyarakat. Karena itu, pemeriksaan melalui rontgen dapat menjadi sarana penting untuk mengidentifikasi kemungkinan gangguan sejak awal, terutama pada wilayah yang memiliki faktor risiko penularan lebih tinggi.
Kegiatan layanan kesehatan gratis tersebut diharapkan mampu meminimalisasi kemunculan TBC, khususnya di Desa Ujungnegoro dan wilayah sekitarnya. Pemeriksaan yang dilakukan secara langsung di lokasi juga dapat memudahkan warga mengakses layanan kesehatan tanpa harus menunggu munculnya keluhan berat. Hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi, pemantauan, maupun rujukan sesuai kebutuhan masing-masing warga. Perhatian terhadap kerawanan penyakit paru-paru perlu terus ditingkatkan karena kondisi lingkungan, kepadatan hunian, serta keterlambatan pemeriksaan dapat memperbesar risiko penularan. Dengan kewaspadaan dan pemeriksaan berkala, potensi kasus dapat ditemukan lebih cepat, sementara masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menjaga kesehatan pernapasan.
Data yang disampaikan mengenai kasus tuberkulosis (TBC) di Batang menunjukkan adanya kecenderungan penurunan jumlah pasien. Pada 2025, tercatat 181 orang mengalami TBC, sedangkan pada 2026 jumlah tersebut menjadi 160 orang. Perubahan angka ini disampaikan sebagai bagian dari pemantauan kondisi penyakit sekaligus upaya memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah yang memiliki risiko penularan.
Kelompok usia yang rentan terhadap TBC berada pada rentang remaja hingga dewasa. Kerentanan tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan pemeriksaan dan pengendalian penyakit, terutama bagi warga yang memiliki faktor risiko atau kemungkinan pernah terpapar. Identifikasi kelompok rentan diperlukan agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh pemeriksaan, pendampingan, serta layanan kesehatan sesuai kondisi masing-masing. Upaya tersebut juga dilakukan untuk mendukung penemuan kasus secara lebih awal.
Penanganan bagi pasien TBC dilakukan melalui pengobatan sesuai kebutuhan medis. Selain itu, warga yang memiliki risiko terpapar juga mendapatkan terapi pencegahan TBC. Layanan ini ditujukan untuk mengurangi kemungkinan berkembangnya infeksi menjadi penyakit serta membantu melindungi kelompok masyarakat yang berisiko. Keterangan mengenai penurunan kasus, kelompok usia rentan, pengobatan, dan terapi pencegahan tersebut disampaikan Ida Susilaksmi saat didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dirgahayu Riyadi.
Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Kodim 0906/Kkr Hadir Untuk Masyarakat, Gelar Donor Darah Serta Pengobatan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menyambut HUT TNI | TNI Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Sambut HUT ke-81

