Bandung | Keterbatasan lahan kerap dianggap sebagai hambatan bagi kegiatan pertanian di kota. Namun, ruang yang terbatas tidak serta-merta menutup peluang masyarakat untuk menanam dan memanen pangan. Sudut halaman, lahan kosong di rumah, atap bangunan, hingga area bersama di permukiman dapat dimanfaatkan secara terencana. Melalui urban farming, warga mengubah ruang yang sebelumnya kurang produktif menjadi tempat untuk menanam sayuran, tanaman obat, atau komoditas pangan lain sesuai kondisi setempat. Praktik ini menunjukkan bahwa kegiatan bertani tidak harus berlangsung di lahan luas dan jauh dari pusat kota.
Pemanfaatan ruang sempit dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menanam dalam pot dan wadah daur ulang, membuat kebun vertikal, atau menyusun tanaman pada rak bertingkat. Pemilihan metode disesuaikan dengan ketersediaan cahaya, air, dan ruang gerak. Hasil panen dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, sementara kegiatan merawat tanaman memberi kesempatan bagi warga untuk bekerja sama dan berbagi pengetahuan. Kehadiran tanaman juga membuat lingkungan permukiman terasa lebih hijau dan tertata. Dengan perencanaan sederhana serta pemeliharaan yang konsisten, area terbatas dapat memberikan manfaat yang nyata bagi keluarga dan komunitas.
Gagasan tersebut menjadi salah satu landasan Brinita, singkatan dari BRI Bertani di Kota. Program BRI melalui BRI Peduli ini mendorong masyarakat memanfaatkan lahan produktif di tengah kawasan perkotaan, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kemandirian warga. Brinita tidak hanya berfokus pada kegiatan menanam, tetapi juga mengajak masyarakat melihat potensi di lingkungan mereka sendiri. Lahan yang semula terbengkalai dapat diolah menjadi kebun bersama yang memberi hasil dan memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Dengan keterlibatan warga, pertanian perkotaan dapat berkembang sebagai upaya praktis untuk menghadapi keterbatasan ruang, memperluas akses terhadap pangan, dan menciptakan permukiman yang lebih hijau serta produktif.
Rangkaian inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026 tidak hanya berlangsung melalui agenda formal. Para jurnalis terpilih dari berbagai wilayah di Indonesia juga diajak mengenal kegiatan pertanian perkotaan melalui Fellowship Journalism Menanam. Pada Jumat (30/10/2026), mereka berkegiatan bersama warga di Brinita Buruan Sae Pajajaran Hegar, RW 03, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.
Di lokasi tersebut, para peserta berbaur dengan masyarakat dan mengikuti tahapan berkebun secara langsung. Mereka menyemai benih, menyiapkan bibit untuk ditanam, lalu menanamnya di area yang tersedia. Setelah itu, peserta turut menyiram tanaman dan memahami bahwa perawatan rutin menjadi bagian penting agar tanaman dapat tumbuh. Kegiatan juga mencakup memanen tanaman yang telah siap, sehingga jurnalis dapat melihat proses budidaya dari tahap awal hingga hasilnya.
Pengalaman tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk menyaksikan bagaimana ruang terbatas dapat dimanfaatkan secara produktif. Di lingkungan perkotaan, pengelolaan lahan tidak selalu bergantung pada area yang luas. Penataan, pemilihan tanaman, serta perawatan yang teratur dapat membantu warga mengoptimalkan ruang yang ada. Namun, kegiatan di Brinita juga menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan memerlukan keterlibatan bersama, bukan hanya ketersediaan tempat.
Kolaborasi jurnalis dan masyarakat menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Warga berbagi pengalaman mengenai aktivitas berkebun di lingkungan mereka, sementara para peserta ikut membantu pekerjaan yang dilakukan. Dengan terlibat langsung, jurnalis memperoleh gambaran lebih dekat mengenai praktik pengelolaan kebun komunitas dan kerja bersama yang mendukung keberlangsungannya.
Fellowship Journalism Menanam menghadirkan pengalaman lapangan dalam rangkaian inaugurasi, sekaligus memperlihatkan beragam fungsi kebun di tengah permukiman. Lahan yang terbatas dapat dikelola melalui kegiatan kolektif, mulai dari menyemai hingga memanen. Bagi peserta, rangkaian aktivitas tersebut menjadi cara untuk memahami upaya warga menjaga ruang hijau dan mengusahakan hasil dari lingkungan sekitar secara bersama-sama.
Lahan Brinita Buruan Sae Pajajaran Hegar memiliki bentuk memanjang, dengan panjang sekitar 60 meter dan lebar kurang lebih 5 meter. Ukuran yang relatif terbatas itu tidak menghalangi warga untuk mengelolanya sebagai ruang budidaya yang produktif. Setiap bagian kawasan dimanfaatkan agar dapat menampung beragam tanaman, sekaligus memberi kesempatan bagi warga untuk merawat dan memanen hasilnya. Susunan lahan yang memanjang juga membuat kegiatan berkebun dapat dilakukan di sepanjang area, tanpa harus bergantung pada hamparan luas.
Komoditas yang ditanam mencakup tanaman pangan dan sayuran yang dapat dipetik untuk kebutuhan sehari-hari. Di jenis yang tumbuh di kawasan ini terdapat terong, pakcoy, kangkung, bayam, tomat, dan brokoli. Ragam tersebut menghadirkan pilihan hasil kebun dengan bentuk, warna, dan kegunaan berbeda. Sayuran daun seperti pakcoy, kangkung, dan bayam dapat menjadi bahan masakan, sementara terong, tomat, serta brokoli melengkapi variasi pangan yang tersedia. Keberadaan berbagai jenis tanaman dalam satu kawasan menunjukkan bahwa lahan sempit pun bisa dikelola secara beragam.
Selain sayuran, area Brinita juga dimanfaatkan untuk menanam buah-buahan, tanaman herbal, dan rempah. Jambu, lengkeng, dan pisang menjadi bagian dari tanaman buah yang disebutkan di kawasan tersebut. Sementara itu, lidah buaya dan pandan menambah pilihan tanaman bermanfaat dengan kegunaan yang berbeda. Serai, kunyit, serta jahe melengkapi koleksi rempah yang dapat digunakan sebagai bahan masakan maupun kebutuhan rumah tangga. Kombinasi tanaman pangan, buah, herbal, dan rempah membuat setiap bagian lahan memiliki fungsi. Dengan memanfaatkan ruang secara cermat, Brinita Buruan Sae Pajajaran Hegar menghadirkan kebun beraneka hasil di tengah keterbatasan ukuran, serta memperlihatkan cara ruang kecil dapat mendukung kegiatan bercocok tanam.Pengelolaan kawasan Brinita Bandung tidak hanya dilakukan sebagai kegiatan berkebun, tetapi juga melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Warga menjadi bagian dari pengelolaan kebun bersama, termasuk melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Buruan Sae Pajajaran Hegar. Keterlibatan kelompok dan warga setempat menempatkan kebun sebagai ruang yang dikelola bersama, dengan perhatian pada tanaman yang dikembangkan serta tujuan program di kawasan tersebut.
Ragam tanaman yang ditanam mencakup 14 jenis sayuran dan umbi. Selain itu, terdapat delapan jenis buah-buahan, serta delapan jenis tanaman herbal dan rempah. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebun memuat beberapa kelompok tanaman, bukan hanya satu jenis komoditas. Sayuran dan umbi, buah, serta tanaman herbal dan rempah menjadi bagian dari komposisi kebun yang dirawat dalam kegiatan pengelolaan kawasan.
Keikutsertaan masyarakat sekitar, termasuk KWT Buruan Sae Pajajaran Hegar, berkaitan dengan cara program dijalankan: warga ikut mengelola kebun dan berhadapan langsung dengan keragaman tanaman yang ada. Penyebutan kelompok dan jumlah jenis tanaman memberi gambaran tentang unsur sosial sekaligus unsur budidaya dalam kegiatan ini. Namun, keberadaan berbagai jenis tanaman tidak dengan sendirinya menjelaskan jumlah panen, tingkat produktivitas, atau dampak tertentu; informasi tersebut perlu dinyatakan tersendiri apabila tersedia.
Program ini diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan serta kelestarian lingkungan. Karena itu, pengelolaan bersama dan ragam tanaman dapat dipahami dalam kerangka tujuan tersebut, tanpa mengasumsikan hasil yang belum disebutkan. Keterlibatan warga menjelaskan siapa yang ikut merawat kawasan, sementara daftar tanaman menunjukkan keluasan jenis yang dikembangkan. Kedua unsur ini hadir dalam program yang menghubungkan kegiatan berkebun di lahan terbatas dengan perhatian terhadap pangan dan lingkungan. Dengan demikian, kebun Brinita Bandung menggambarkan upaya pengelolaan kawasan yang melibatkan masyarakat setempat sekaligus memelihara beragam kelompok tanaman, sesuai dengan arah program yang telah dinyatakan.
Baca juga: TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi | TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda






