Jakarta | Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Ketua Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, memandang hilirisasi sebagai mesin transformasi ekonomi Indonesia. Dalam pandangan tersebut, hilirisasi bukan sekadar kegiatan mengolah bahan mentah sebelum dipasarkan. Arah utamanya adalah membangun rantai industri yang utuh di dalam negeri, sehingga berbagai tahapan produksi dapat berlangsung dalam ekosistem industri nasional. Gagasan ini menempatkan penguatan kegiatan ekonomi di Indonesia sebagai inti dari perubahan yang ingin dicapai.
Rantai industri yang utuh berarti proses yang berkaitan dengan pengolahan dan produksi tidak berhenti pada satu tahap saja. Kegiatan industri disusun agar nilai tambah dapat tercipta dan tinggal lebih banyak di dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi tempat asal bahan mineral, tetapi juga mengembangkan aktivitas industri yang terhubung dengan bahan tersebut. Bagi Rosan, susunan rantai seperti ini merupakan bagian penting dari upaya mengubah struktur ekonomi, dari kegiatan yang terbatas pada bahan mentah menuju keterlibatan yang lebih luas dalam proses industri.
Hilirisasi juga berkaitan dengan arah investasi. Ketika rantai industri dibangun di Indonesia, investasi diharapkan mendukung terbentuknya kegiatan produksi yang saling terhubung di dalam negeri. Dalam kerangka yang disampaikan Rosan, investasi, aktivitas ekonomi, dan nilai tambah berada dalam satu tujuan: agar manfaat dari pengembangan industri lebih banyak dinikmati Indonesia. Penekanannya bukan pada satu tahap pengolahan yang berdiri sendiri, melainkan pada keterpaduan proses dalam rantai industri nasional.
Karena itu, pandangan Rosan menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk membangun dasar industri yang lebih lengkap di tanah air. Arah tersebut menghubungkan sumber daya mineral dengan proses pengolahan, produksi, investasi, dan kegiatan ekonomi domestik. Ukuran pentingnya terletak pada seberapa jauh rantai itu tumbuh di dalam negeri dan seberapa besar nilai tambah yang dapat dinikmati Indonesia. Dengan membangun keterhubungan antarproses industri, hilirisasi diposisikan sebagai penggerak perubahan struktur ekonomi sekaligus penguatan peran Indonesia dalam kegiatan industrinya sendiri.
Rosan menyampaikan bahwa investasi kini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peran tersebut semakin terlihat dalam komposisi pertumbuhan nasional: kontribusi investasi meningkat hingga mendekati 38–39 persen, dibandingkan kisaran 28–32 persen pada periode sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa pembentukan modal dan penanaman dana memiliki bobot yang kian besar dalam mendorong aktivitas ekonomi, berdampingan dengan sumber pertumbuhan lainnya.
Penguatan kontribusi itu berlangsung seiring realisasi investasi sekitar Rp9.100 triliun dalam satu dekade terakhir. Angka tersebut menggambarkan besarnya arus penanaman modal yang telah masuk dan direalisasikan di Indonesia selama kurun waktu tersebut. Rentang tahun yang lebih spesifik tidak disebutkan dalam keterangan yang tersedia, sehingga capaian ini merujuk pada satu dekade terakhir sebagaimana disampaikan, tanpa menetapkan tahun awal maupun tahun akhirnya.
Pernyataan Rosan menempatkan investasi bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan salah satu penggerak kegiatan ekonomi. Ketika investasi bertambah, kegiatan usaha dan kapasitas produksi dapat berkembang, sementara kebutuhan terhadap barang, jasa, tenaga kerja, serta dukungan rantai pasok ikut meningkat. Besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan nasional juga menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan realisasi investasi, bukan hanya mengumumkan komitmen penanaman modal.
Dalam konteks agenda hilirisasi mineral, peran investasi menjadi relevan karena pengembangan industri membutuhkan pembiayaan dan pembangunan kapasitas. Namun, angka kontribusi dan realisasi tersebut menunjukkan gambaran umum investasi dalam perekonomian, bukan rincian khusus mengenai investasi hilirisasi. Pembedaan ini penting agar capaian nasional tidak ditafsirkan sebagai ukuran tunggal keberhasilan suatu sektor. Secara keseluruhan, kenaikan porsi investasi dari kisaran sebelumnya ke tingkat mendekati 38–39 persen menandai semakin kuatnya posisi investasi sebagai motor pertumbuhan. Realisasi sekitar Rp9.100 triliun dalam satu dekade terakhir memberi konteks skala, sementara perubahan kontribusi memperlihatkan pergeseran perannya dalam mendorong ekonomi Indonesia.
Investasi MIND ID diarahkan untuk membangun rantai industri mineral yang terhubung dari pengolahan bahan mentah hingga produk bernilai tambah. Sebagai holding industri pertambangan sekaligus perpanjangan tangan negara, perusahaan berperan mendorong pemanfaatan sumber daya mineral di dalam negeri. Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menyampaikan bahwa berbagai proyek yang dikembangkan mencerminkan upaya memperkuat ekosistem industri nasional, bukan hanya meningkatkan kegiatan pertambangan. Pendekatan tersebut menempatkan hilirisasi sebagai bagian penting dari agenda investasi jangka panjang.
Salah satu proyek utamanya adalah pembangunan ekosistem bauksit, alumina, dan aluminium yang terintegrasi di Kalimantan Barat. Keterhubungan antartahap ini memungkinkan bauksit diolah lebih lanjut menjadi alumina, kemudian menjadi aluminium, sehingga proses penciptaan nilai berlangsung di dalam negeri. Rencana tersebut juga mendukung terbentuknya basis industri yang lebih lengkap di sekitar sumber bahan baku. Dengan mengembangkan keterkaitan dari hulu ke hilir, MIND ID berupaya memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengolah mineral dan menyediakan bahan bagi kebutuhan industri.
Di Gresik, investasi mencakup pemurnian dan pengolahan logam mulia. Proyek ini menjadi bagian dari upaya memperluas kapasitas pengolahan mineral serta menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Sementara itu, untuk mendukung industri kendaraan listrik, MIND ID turut mengembangkan ekosistem baterai berbasis nikel di Maluku dan Jawa Barat. Kedua wilayah tersebut menjadi bagian dari pengembangan rantai industri yang menghubungkan bahan mineral dengan kebutuhan produksi baterai. Rangkaian proyek di sejumlah daerah ini memperlihatkan bahwa investasi perusahaan menjangkau beragam komoditas dan tahapan pengolahan.
Secara keseluruhan, proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan ekosistem industri mineral terintegrasi. Arah investasi ini menyediakan landasan bagi hilirisasi mineral strategis dengan mendorong keterkaitan sumber daya, fasilitas pengolahan, dan industri pengguna. Peran MIND ID sebagai holding memberi kerangka untuk mengoordinasikan pengembangan proyek lintas komoditas dan wilayah. Dengan demikian, agenda yang disampaikan Dany Amrul Ichdan berfokus pada penguatan industri berbasis mineral di dalam negeri serta peningkatan nilai ekonomi dari sumber daya nasional.
MIND ID menerima penghargaan Excellence in Strategic Mining Investment dalam ajang Investor Daily Summit 2026. Pengakuan ini menjadi apresiasi atas konsistensi perusahaan dalam mendorong investasi strategis di sektor pertambangan. Di tengah kebutuhan memperkuat industri nasional, penghargaan tersebut menegaskan pentingnya investasi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga memberi dampak berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia.
Menurut Dany, investasi strategis diarahkan agar kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti sebagai komoditas tambang yang dijual dalam bentuk mentah atau bernilai tambah terbatas. Sumber daya tersebut perlu diolah dan dikembangkan melalui rantai industri yang terintegrasi, sehingga menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas. Dengan pendekatan ini, mineral dapat menjadi sumber penerimaan negara, penggerak industrialisasi, sekaligus fondasi bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Pengembangan investasi di sektor pertambangan juga berkaitan dengan pembangunan fasilitas pengolahan, peningkatan kemampuan teknologi, dan penguatan keterhubungan antarpelaku industri. Langkah tersebut membuka peluang bagi sumber daya mineral untuk mendukung produksi barang maupun produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pada saat yang sama, kesinambungan investasi dapat membantu membangun ekosistem industri yang lebih tangguh, mulai dari kegiatan hulu hingga pengolahan dan pemanfaatan hasilnya di dalam negeri.
Menurut keterangan tersebut, investasi strategis turut memperkuat kinerja korporasi melalui pengembangan usaha dan pengelolaan aset yang lebih produktif. Dampaknya diharapkan melampaui capaian perusahaan, dengan menciptakan nilai tambah, memperluas basis industri nasional, serta meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.
Baca juga: Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129 | Cegah Karhutla Sejak Dini, TNI Intensifkan Patroli Udara di Taman Nasional Way Kambas | Harmoni dari Desa Leran Kalitidu Bojonegoro: Dusun Sido Kumpul Menuju Panggung Nasional KASAD Award 2026






