Eufrat-Tigris Terancam Menyusut, Puluhan Juta Orang Bergantung pada Alirannya

Eufrat-Tigris Terancam Menyusut, Puluhan Juta Orang Bergantung pada Alirannya

Jakarta | Sistem sungai Eufrat-Tigris di Asia Barat menghadapi penyusutan serius, menurut peringatan yang dimuat dalam laporan pemerintah. Kedua sungai tersebut merupakan sumber air penting bagi masyarakat dan wilayah yang dilaluinya. Laporan Kementerian Sumber Daya Air pada 2021 menyebut bahwa aliran sungai tertekan oleh turunnya permukaan air serta kekeringan yang berkaitan dengan perubahan iklim. Dalam laporan itu, muncul perkiraan bahwa sistem sungai tersebut berisiko mengering pada 2040 apabila tekanan yang ada terus berlanjut.

Angka 2040 perlu dipahami sebagai peringatan atau perkiraan dalam laporan, bukan kepastian bahwa sungai akan benar-benar kering pada tahun tersebut. Kondisi aliran sungai dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk perubahan curah hujan, suhu, tata kelola air, serta kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian. Karena itu, proyeksi tersebut menunjukkan besarnya risiko yang perlu diperhatikan, bukan hasil yang sudah dipastikan. Pemantauan kondisi air dan penjelasan mengenai asumsi di balik perkiraan menjadi penting agar masyarakat memahami tingkat ketidakpastian yang masih ada.

Penyusutan Eufrat dan Tigris menjadi perhatian karena jutaan orang di kawasan sekitarnya bergantung pada aliran kedua sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mendukung kegiatan ekonomi. Ketika permukaan air menurun dan kekeringan berlangsung, pasokan air dapat semakin terbatas, sehingga menambah tekanan bagi masyarakat serta lingkungan. Peringatan dalam laporan 2021 menyoroti perlunya perhatian terhadap perubahan kondisi sungai dan faktor yang memengaruhinya. Isu ini merujuk pada kawasan Asia Barat dan tidak menggambarkan kejadian di Indonesia. Dengan membedakan proyeksi dan kepastian, risiko penyusutan dapat dibahas secara proporsional, sekaligus mendorong perhatian pada pengelolaan sumber daya air dan dampak perubahan iklim di wilayah tersebut.

Perubahan aliran di sistem Eufrat-Tigris tercatat dalam skala yang besar. Dalam beberapa dekade, aliran sungai-sungai tersebut disebut berkurang hampir setengah. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah air yang mengalir melalui sistem sungai penting di kawasan tersebut telah berubah secara nyata dibandingkan kondisi sebelumnya. Pengurangan itu bukan sekadar variasi kecil dari tahun ke tahun, melainkan perubahan yang berlangsung dalam rentang beberapa dekade. Meski demikian, keterangan mengenai penurunan hampir setengah ini menggambarkan skala perubahan aliran secara keseluruhan, bukan ukuran yang sama untuk setiap sungai, lokasi, atau tahun pengamatan.

Gambaran lain berasal dari pengamatan citra satelit. Data untuk periode 2003–2013 menunjukkan kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar di kawasan yang terkait dengan sistem Eufrat-Tigris. Besaran tersebut memberi ukuran konkret tentang perubahan persediaan air tawar dalam satu dasawarsa. Angka kehilangan dari citra satelit dan perkiraan penurunan aliran sungai merupakan dua cara berbeda untuk menggambarkan perubahan: yang satu merujuk pada air tawar yang hilang pada periode tertentu, sedangkan yang lain menyebut pengurangan aliran selama beberapa dekade. Keduanya menegaskan skala perubahan tanpa berarti bahwa angka tersebut dapat dipertukarkan atau mewakili ukuran yang persis sama.

Sekitar 60 juta orang bergantung pada air dari sistem sungai Eufrat-Tigris. Ketergantungan itu terutama mencakup penduduk di Turki dan Irak, dua negara yang berada dalam kawasan aliran sungai tersebut. Dengan jumlah pengguna sebesar itu, perubahan pada aliran dan persediaan air menjadi relevan bagi banyak orang yang mengandalkan sistem ini sebagai sumber air. Angka 60 juta menggambarkan skala penduduk yang memiliki hubungan dengan air dari sungai-sungai tersebut; angka itu tidak dengan sendirinya menjelaskan kondisi setiap komunitas atau tingkat ketergantungannya. Jika dibaca bersama catatan penurunan aliran dan hasil pengamatan satelit, besarnya populasi tersebut menunjukkan mengapa perubahan pada sistem Eufrat-Tigris perlu dipantau dengan cermat.

Eufrat dan Tigris merupakan dua sungai utama di Asia Barat Daya yang membentuk bentang alam dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Keduanya berhulu di kawasan Pegunungan Anatolia, Turki, lalu mengalir ke arah tenggara. Eufrat melintasi Turki, Suriah, dan Irak, sedangkan Tigris mengalir melalui Turki dan Irak. Kedua sungai akhirnya bertemu di dekat Al-Qurnah, Irak, membentuk Sungai Shatt al-Arab yang bermuara di Teluk Persia. Jalur lintas negara ini menjadikan aliran sungai penting bagi sejumlah komunitas dan wilayah pertanian.

Eufrat memiliki panjang sekitar 2.800 kilometer, sementara Tigris membentang sekitar 1.900 kilometer. Meski lebih pendek, Tigris umumnya memiliki arus yang lebih deras. Perbedaan karakter tersebut turut memengaruhi cara masyarakat memanfaatkan air, mengelola lahan, dan menghadapi perubahan debit musiman. Kedua sungai menerima air dari hujan dan salju di wilayah hulu, kemudian membawa aliran melintasi dataran kering. Karena itu, keberadaan sungai menyediakan sumber air penting bagi permukiman, pertanian, dan kegiatan sehari-hari di kawasan yang curah hujannya terbatas.

Wilayah di Eufrat dan Tigris dikenal sebagai Mesopotamia, nama yang berasal dari istilah Yunani yang berarti “di sungai”. Kawasan ini juga merupakan bagian dari Fertile Crescent, hamparan tanah subur yang membentang di Asia Barat. Sekitar 10.000 tahun lalu, masyarakat di kawasan tersebut mulai mengembangkan pertanian dan permukiman tetap. Pengelolaan air melalui saluran irigasi membantu mereka menanam tanaman pangan dan mendukung kehidupan menetap. Seiring waktu, masyarakat Mesopotamia membangun organisasi sosial dan pusat-pusat perkotaan yang berkembang menjadi bagian penting dari sejarah manusia.

Sungai-sungai itu menjadi latar bagi kebangkitan peradaban Sumeria, Babilonia, dan Asyur. Kota Uruk tumbuh sebagai salah satu pusat awal Sumeria, sementara Babilon menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan Babilonia. Lebih ke utara, Niniwe dikenal sebagai salah satu kota utama Asyur. Kemakmuran kota-kota tersebut berkaitan dengan kemampuan penduduk mengolah lahan dan mengatur air, meskipun perkembangan tiap peradaban juga dipengaruhi perdagangan, pemerintahan, dan konflik. Warisan panjang ini menunjukkan bahwa Eufrat dan Tigris bukan sekadar jalur air, melainkan bagian mendasar dari pembentukan masyarakat dan sejarah Mesopotamia.

Dalam tradisi Islam, Sungai Eufrat juga disebut dalam sebuah hadis yang kerap dibicarakan ketika kondisi sungai menjadi perhatian. Hadis riwayat Muslim nomor 2894 menyatakan bahwa kiamat tidak terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas. Setelah itu, manusia akan saling berperang dan membunuh untuk memperebutkan harta tersebut. Riwayat ini memiliki konteks keagamaan tersendiri dan menyampaikan gambaran tentang peristiwa menjelang kiamat sebagaimana termuat dalam teks hadis.

Penyebutan hadis tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa kabar tentang Eufrat menarik perhatian sebagian umat Muslim. Namun, makna dan kedudukan riwayat itu perlu dibedakan dari pemberitaan mengenai keadaan sungai saat ini. Laporan tentang berkurangnya debit air, kekeringan, atau perubahan aliran merupakan uraian kondisi lingkungan yang perlu dinilai berdasarkan pengamatan dan data hidrologis. Hadis tersebut bukan laporan ilmiah mengenai penyebab penyusutan air, dan laporan terkini tidak dengan sendirinya menjelaskan tafsir atas riwayat itu.

Karena itu, pembahasan yang cermat sebaiknya menyajikan keduanya secara terpisah: hadis sebagai bagian dari keyakinan dan tradisi keagamaan, sementara kondisi Eufrat dibahas melalui informasi faktual yang dapat diperiksa. Penyusutan yang dilaporkan tidak membuktikan bahwa sungai telah mengering dalam pengertian hadis, tidak menunjukkan bahwa gunung emas telah tersingkap, dan tidak memastikan bahwa rangkaian peristiwa tersebut sedang terjadi. Menghubungkan perkembangan lingkungan secara langsung dengan tanda akhir zaman tanpa dasar yang memadai dapat menimbulkan kesimpulan yang melampaui bukti. Sikap hati-hati memungkinkan pembaca menghormati teks keagamaan sekaligus memahami persoalan air, iklim, dan dampaknya bagi masyarakat berdasarkan konteks serta sumber yang sesuai.

Baca juga: Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Terus Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan