Jakarta | Setelah Indonesian Women’s League (IWL) 2026/2027 resmi dimulai, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengajak masyarakat untuk hadir langsung menyaksikan pertandingan sepak bola putri di stadion. Ajakan tersebut ditujukan terutama kepada publik yang sebelumnya menyuarakan tuntutan agar liga putri kembali digelar. Menurut Erick, dukungan terhadap kompetisi tidak cukup disampaikan melalui perkataan atau percakapan di ruang publik, tetapi juga perlu diwujudkan dengan kehadiran penonton.
Ia berharap pertandingan IWL mendapat perhatian nyata dari masyarakat. Penonton yang datang dapat memberi semangat kepada para pemain sekaligus menunjukkan bahwa kompetisi sepak bola putri memiliki tempat di tengah penggemar olahraga Indonesia. Kehadiran suporter juga membantu membangun suasana pertandingan yang lebih hidup dan memperlihatkan bahwa liga ini dinantikan, bukan hanya oleh para pemain dan klub, melainkan juga oleh publik.
Pesan tersebut menyoroti hubungan dukungan masyarakat dan perkembangan sepak bola putri. Kompetisi yang berlangsung secara rutin memerlukan perhatian dari berbagai pihak, termasuk penonton yang bersedia mengikuti pertandingan secara langsung. Semakin besar minat publik, semakin terbuka pula kesempatan bagi liga untuk memperoleh sorotan dan memperkuat keberadaannya dalam ekosistem sepak bola nasional. Kehadiran penonton dapat menjadi salah satu bentuk dukungan yang terlihat dan dirasakan langsung oleh pemain.
Karena itu, Erick mengajak masyarakat yang selama ini mendorong penyelenggaraan liga untuk mengambil bagian dengan datang ke stadion. Ajakan ini juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan kompetisi tidak hanya berkaitan dengan penyelenggara, klub, atau federasi. Antusiasme penonton turut menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang mendukung para atlet perempuan. Dengan menyaksikan pertandingan, masyarakat dapat ikut memberi ruang bagi sepak bola putri untuk berkembang dan mendapat perhatian yang lebih luas. IWL 2026/2027 pun menjadi kesempatan bagi publik untuk menunjukkan dukungan secara langsung, sekaligus mengikuti perjalanan kompetisi dan para pemain yang tampil sepanjang musim.Erick Thohir mengajak masyarakat untuk hadir dan memberikan dukungan kepada Liga Sepak Bola Putri Indonesia saat membuka Indonesia Women’s League (IWL) musim 2026/2027. Ajakan tersebut disampaikan di Stadion Madya, Jakarta, pada Minggu, 18 Oktober 2026. Pesan itu menandai dimulainya kembali kompetisi reguler yang memberi ruang bagi sepak bola putri untuk kembali menjadi bagian dari agenda olahraga nasional. Kehadiran liga secara teratur penting agar perhatian terhadap permainan perempuan tidak hanya muncul sesaat, melainkan juga mengikuti perjalanan kompetisi dari satu musim ke musim berikutnya. Dalam konteks tersebut, dukungan publik dipandang sebagai unsur yang dapat memperkuat keberlangsungan ekosistem sepak bola putri.
Pembukaan IWL berlangsung setelah sepak bola putri Indonesia cukup lama tidak memiliki liga reguler. Jeda tersebut membuat hadirnya kompetisi baru menjadi momen penting bagi upaya menghidupkan kembali kalender pertandingan dan perhatian terhadap liga putri. IWL 2026/2027 bukan sekadar nama kompetisi baru, tetapi juga kelanjutan dari tradisi liga sepak bola putri yang pernah berjalan di Indonesia. Kompetisi reguler menyediakan wadah bagi tim untuk bertanding dalam format musim, sekaligus menghadirkan titik temu bagi pemain, pengelola, pendukung, dan masyarakat yang ingin mengikuti perkembangan sepak bola perempuan. Karena itu, ajakan Erick untuk hadir berkaitan dengan pentingnya membangun kembali keterlibatan publik.
IWL juga meneruskan jejak Liga 1 Putri, kompetisi yang terakhir kali digelar pada 2019. Dengan demikian, penyelenggaraan musim 2026/2027 menghubungkan kembali upaya saat ini dengan pengalaman liga sebelumnya, setelah beberapa tahun tanpa kompetisi reguler. Pernyataan Erick pada pembukaan di Stadion Madya menempatkan dukungan masyarakat sebagai bagian dari dorongan agar sepak bola putri kembali memperoleh tempat yang konsisten dalam perhatian nasional. Ajakan untuk hadir sekaligus membuka kesempatan bagi publik untuk mengenal dan mengikuti kompetisi tersebut. Kembalinya liga menjadi langkah penting, meskipun keberlanjutannya akan bergantung pada penyelenggaraan yang konsisten dan dukungan yang dapat terjaga dari berbagai pihak dalam jangka panjang.
Erick Thohir menilai sambutan terhadap pekan pertama Indonesia Women’s League (IWL) telah memperlihatkan sinyal yang positif. Bagi kompetisi yang baru memulai tahun pertamanya, perhatian dan antusiasme tersebut dapat menjadi modal awal yang penting. Ia memandang respons publik sebagai tanda bahwa sepak bola putri memiliki ruang untuk tumbuh dan memperoleh perhatian lebih luas. Meski demikian, penilaian atas pekan pembuka ini bukan berarti perjalanan liga telah selesai atau tantangan pengembangan sudah teratasi. Kompetisi masih membutuhkan waktu, konsistensi penyelenggaraan, serta keterlibatan berbagai pihak agar minat yang muncul tidak berhenti pada momen awal. Antusiasme pada pekan pertama menjadi pijakan, sekaligus dorongan untuk menjaga kualitas pertandingan dan pengalaman penonton pada pekan-pekan berikutnya.
Ajakan Erick kepada masyarakat untuk hadir di stadion memiliki tujuan yang langsung: membuat pertandingan sepak bola putri terasa hidup dan memberi dukungan kepada para pemain. Kehadiran penonton dapat menciptakan suasana pertandingan yang lebih meriah, memperlihatkan bahwa kompetisi ini layak mendapat perhatian, serta membantu memperluas pengenalan IWL kepada khalayak. Publik juga dapat menyaksikan kemampuan dan persaingan para pemain secara langsung, bukan hanya mengikuti kabar liga melalui pemberitaan. Karena itu, ajakan tersebut ditujukan kepada masyarakat sebagai calon penonton dan pendukung kompetisi. Dukungan dari tribun menjadi bagian dari ekosistem liga, tetapi tidak dengan sendirinya menggantikan pekerjaan klub dalam membangun hubungan jangka panjang dengan penggemarnya.
Harapan bagi klub peserta berada pada ranah yang berbeda. Setiap klub diharapkan mulai membangun basis suporter sendiri, sehingga dukungan terhadap tim tidak hanya bergantung pada ajakan umum atau perhatian sesaat. Upaya itu dapat dilakukan dengan mengenalkan identitas klub, melibatkan komunitas setempat, dan menjaga komunikasi dengan penggemar sepanjang musim. Jika masing-masing peserta memiliki pendukung yang tumbuh secara bertahap, IWL berpeluang memperoleh dukungan yang lebih berkelanjutan di berbagai kota. Basis suporter juga dapat memberi klub alasan untuk terus berinvestasi dalam pengalaman pertandingan dan kedekatan dengan masyarakat. Dengan demikian, optimisme atas sambutan awal perlu diikuti kerja berkesinambungan: publik membantu menghidupkan laga melalui kehadiran, sementara klub bertanggung jawab menumbuhkan loyalitas terhadap timnya.
PSSI dan klub-klub peserta berkomitmen menjalankan kompetisi sepak bola putri Indonesia selama lima tahun. Komitmen jangka panjang ini menjadi dasar untuk memberi ruang bagi kompetisi berkembang secara berkelanjutan, bukan sekadar digelar sebagai kegiatan sesaat. Erick Thohir menekankan bahwa penyelenggaraan liga perlu dijalani bersama oleh federasi dan klub yang mengambil bagian. Dengan adanya kesepakatan untuk menjalankan kompetisi dalam rentang waktu tersebut, seluruh pihak memiliki kesempatan untuk membangun pengalaman dan menilai pelaksanaan liga secara bertahap.
Setelah periode lima tahun itu, penyelenggaraan kompetisi akan dievaluasi. Evaluasi diperlukan untuk melihat bagaimana liga berjalan dan menentukan langkah selanjutnya. Dengan demikian, keputusan mengenai arah kompetisi berikutnya dapat didasarkan pada pengalaman selama penyelenggaraan, bukan hanya pada rencana awal. PSSI dan klub peserta dapat meninjau pelaksanaan yang telah berlangsung sebelum menyepakati tindak lanjut. Pendekatan ini memberi kerangka waktu yang jelas: kompetisi dijalankan terlebih dahulu, kemudian pelaksanaannya dikaji untuk membantu menentukan kebijakan berikutnya.
Selain soal durasi dan evaluasi, Erick juga memberi perhatian pada kemampuan klub untuk terus beroperasi selama kompetisi berlangsung. PSSI tidak ingin ada peserta yang menghadapi persoalan hingga terpaksa berhenti di tengah musim. Perhatian ini menunjukkan bahwa keberlangsungan liga berkaitan erat dengan kesiapan klub menjalani seluruh rangkaian kompetisi.
Baca juga: Lompatan Ranking FIFA Timnas Indonesia di Era Erick Thohir: Tiga Pelatih, Naik 31 Peringkat






