BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 63 korban meninggal dalam kecelakaan kapal Virgo Transport 8 telah berhasil diidentifikasi. Data tersebut menjadi perkembangan penting dalam proses penanganan pascakecelakaan, terutama bagi keluarga yang masih menunggu kepastian mengenai anggota keluarganya. Dari seluruh korban yang telah teridentifikasi, sebagian besar diketahui berasal dari Jawa Timur.
Korban asal Jawa Timur tercatat sebanyak 28 orang. Jumlah ini menempatkan provinsi tersebut sebagai daerah dengan kontribusi korban teridentifikasi paling banyak dibandingkan wilayah lainnya. Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr Much Sofwan menyampaikan informasi tersebut di Banjarmasin pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Setelah Jawa Timur, korban teridentifikasi terbanyak berikutnya berasal dari Jawa Tengah dengan jumlah 16 orang. Selanjutnya, terdapat delapan korban dari Kalimantan Selatan dan enam korban dari Jawa Barat. Rincian itu menunjukkan bahwa korban berasal dari sejumlah wilayah di Pulau Jawa serta Kalimantan, sehingga proses identifikasi dan penyampaian informasi harus melibatkan koordinasi lintas daerah.
Jika dihitung berdasarkan empat daerah yang telah dirinci, jumlahnya mencapai 58 orang. Sementara itu, total korban meninggal yang telah teridentifikasi oleh Tim DVI Polda Kalimantan Selatan tercatat 63 orang. Perbedaan total keseluruhan dan rincian asal daerah tersebut menunjukkan masih terdapat lima korban yang daerah asalnya belum dipaparkan dalam keterangan tersebut. Pembaruan data berikutnya diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap, termasuk identitas dan asal seluruh korban.
Tim DVI tetap melakukan pencocokan data antemortem dan postmortem untuk memastikan setiap identifikasi berlangsung secara akurat. Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar bagi pihak berwenang dalam memberitahukan keluarga serta mendukung proses pemulangan korban ke daerah asal masing-masing.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) mencatat bahwa proses identifikasi korban Virgo Transport 8 di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin telah mencapai hasil yang signifikan. Dari keseluruhan 80 jenazah yang telah diterima oleh rumah sakit tersebut, sebanyak 63 jenazah berhasil diidentifikasi. Data ini menjadi capaian sementara dalam rangkaian proses pemeriksaan dan pencocokan identitas para korban.
Sementara itu, 17 jenazah lainnya masih menjalani proses pemeriksaan oleh tim DVI. Dengan demikian, jumlah jenazah yang sudah teridentifikasi mencapai 63 dari total 80 jenazah yang telah diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Adapun jenazah yang belum selesai diproses masih berada dalam tahapan pemeriksaan sesuai prosedur identifikasi yang sedang dilakukan.
Proses yang belum selesai tersebut mencakup pengiriman sampel DNA ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta. Pengiriman sampel menjadi bagian dari rangkaian pemeriksaan terhadap 17 jenazah yang identitasnya belum ditetapkan. Sampel DNA yang dikirimkan akan diproses sebagai bagian dari upaya melengkapi tahapan identifikasi.
Secara keseluruhan, Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin telah menerima 80 jenazah dalam penanganan kasus ini. Dari jumlah tersebut, 63 jenazah telah berhasil diidentifikasi, sedangkan 17 jenazah masih menjalani pemeriksaan. Rangkaian proses identifikasi tetap mencakup penanganan terhadap sampel DNA yang dikirimkan kepada Pusdokkes Polri di Jakarta, sesuai kebutuhan pemeriksaan terhadap jenazah yang belum teridentifikasi.
Rangkaian identifikasi korban kecelakaan Virgo Transport 8 dimulai setelah para korban meninggal ditemukan dan dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Di rumah sakit tersebut, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan melakukan penanganan secara terpadu. Setiap jenazah ditempatkan untuk menjalani pemeriksaan sesuai prosedur, sehingga data yang diperoleh dapat dibandingkan dengan informasi dari keluarga maupun catatan resmi kependudukan.
Proses awal mencakup pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pemeriksaan langsung terhadap jenazah, termasuk ciri fisik, rekam medis, serta sidik jari apabila kondisinya memungkinkan. Sementara itu, data sekunder dihimpun dari keluarga korban, dokumen identitas, dan informasi lain yang dapat mendukung pencocokan. Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa penetapan identitas dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Korban pertama yang berhasil dikenali dalam rangkaian tersebut adalah Reyner Fausta Yosilianto. Pria berusia 22 tahun itu diketahui berasal dari Malang, Jawa Timur. Identifikasi Reyner dilakukan dengan menggunakan catatan sidik jari pada Senin, 14 September 2026. Pencocokan data biometrik menjadi dasar penting dalam memastikan kesesuaian informasi korban dan data yang tersimpan pada catatan resmi.
Teridentifikasinya Reyner menjadi titik awal bagi proses berikutnya. Setelah hasil pemeriksaan terhadap korban pertama diperoleh, tim DVI melanjutkan analisis terhadap jenazah lain yang telah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap dengan menggabungkan berbagai metode identifikasi, bergantung pada kondisi masing-masing korban dan ketersediaan data pembanding. Setiap hasil kemudian diverifikasi sebelum disampaikan kepada pihak terkait.
Langkah berurutan tersebut memungkinkan tim menyusun daftar korban secara lebih sistematis. Selain membantu keluarga memperoleh kepastian, proses identifikasi juga mendukung penanganan administratif dan pemulangan jenazah kepada daerah asal masing-masing. Dengan demikian, penemuan identitas Reyner tidak hanya menjadi hasil pertama, tetapi juga menandai dimulainya kerja berkelanjutan untuk mengenali seluruh korban peristiwa tersebut.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan terus bekerja selama proses identifikasi korban Virgo Transport 8 berlangsung. Much Sofwan meminta keluarga korban bersabar menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim. Proses tersebut dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan pemeriksaan terhadap jenazah serta pencocokan data yang diterima dari keluarga.
Much Sofwan menyatakan bahwa tim tetap menjalankan tugas tanpa libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Kesiapan tersebut dilakukan untuk memastikan setiap jenazah yang diterima dapat segera diperiksa. Tim melanjutkan tahapan identifikasi berdasarkan data dan bahan pemeriksaan yang tersedia, sehingga proses dapat berjalan setiap kali jenazah tiba.
Setiap jenazah yang diterima langsung menjalani pemeriksaan oleh tim DVI. Pada saat yang sama, petugas juga melakukan pencocokan dengan data ante mortem yang disampaikan oleh keluarga korban. Data tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan untuk mengidentifikasi korban. Much Sofwan kembali meminta keluarga menunggu hasil pemeriksaan dengan sabar selama seluruh tahapan identifikasi dijalankan. Tim tetap bekerja, termasuk pada hari Sabtu dan Minggu, serta langsung menangani pemeriksaan dan pencocokan data ante mortem dari keluarga setiap kali menerima jenazah.







