Bentrok di Pidie Saat Penertiban Bendera, Satu Warga Meninggal dan 19 Orang Terluka

Bentrok di Pidie Saat Penertiban Bendera, Satu Warga Meninggal dan 19 Orang Terluka

Kabupaten Pidie | Bentrokan terjadi di meunasah Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Rabu (4/11/2026), saat berlangsung penertiban bendera. Peristiwa tersebut menimbulkan korban dari kalangan warga dan personel TNI. Seorang warga meninggal dunia, sementara 13 warga lainnya mengalami luka-luka. Enam personel TNI juga dilaporkan terluka. Dengan demikian, jumlah warga yang menjadi korban mencapai 14 orang, terdiri atas satu orang meninggal dan 13 orang yang mengalami cedera. Angka tersebut perlu dibedakan dari jumlah seluruh korban dalam peristiwa, yang mencakup pula enam personel TNI.

Keterangan mengenai korban disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono melalui keterangan tertulis pada Kamis (5/11/2026). Informasi itu memuat jumlah warga yang meninggal dan terluka, serta personel TNI yang mengalami luka-luka. Penyampaian data tersebut memberikan gambaran awal mengenai dampak bentrokan di Pidie setelah kejadian berlangsung sehari sebelumnya. Berdasarkan keterangan yang tersedia, total warga terdampak berjumlah 14 orang, sedangkan enam personel TNI turut menjadi korban luka. Rincian itu menjadi dasar untuk memahami skala korban tanpa mencampur jumlah warga dengan jumlah personel.

Donny menyatakan para personel TNI yang terluka telah menerima penanganan medis sesuai kondisi masing-masing. Keterangan tersebut menjelaskan bahwa pertolongan diberikan dengan mempertimbangkan keadaan setiap personel, tetapi tidak merinci jenis luka, lokasi perawatan, maupun perkembangan kondisi mereka. Informasi yang disampaikan juga tidak menjelaskan lebih lanjut penanganan medis terhadap warga yang terluka. Karena itu, jumlah korban dan keterangan tentang penanganan personel TNI merupakan informasi utama yang dapat dipastikan dari pernyataan tertulis tersebut. Perkembangan mengenai kondisi korban atau langkah lanjutan perlu merujuk pada keterangan resmi berikutnya, apabila tersedia, agar tidak menambahkan detail yang belum dikonfirmasi.

Warga yang meninggal dalam bentrokan saat penertiban bendera di Pidie bernama Abzalul Riza. Ia berasal dari Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Identitas tersebut menjadi bagian dari informasi mengenai korban dalam peristiwa yang juga menyebabkan 19 orang terluka. Keterangan yang tersedia menyebut nama dan asal desa korban, tanpa memberikan rincian lain mengenai dirinya.

Jenazah Abzalul Riza dimakamkan pada Kamis (5/11/2026) pukul 01.00 WIB. Prosesi pemakaman berlangsung di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Lokasi pemakaman itu berada di kecamatan yang sama dengan desa asal korban. Informasi mengenai waktu dan tempat pemakaman tersebut disampaikan sebagai bagian dari laporan setelah peristiwa di Pidie.

TNI AD menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Abzalul Riza. Pernyataan itu disampaikan sehubungan dengan jatuhnya korban jiwa dalam bentrokan saat penertiban bendera. TNI AD juga menyatakan harapan agar para korban yang terluka dapat segera pulih. Pernyataan tersebut mencakup simpati atas warga yang meninggal serta perhatian terhadap korban luka, tanpa menjelaskan kondisi masing-masing korban.

Dalam menyampaikan informasi mengenai insiden ini, identitas korban meninggal, asal desa, waktu pemakaman, dan pernyataan belasungkawa menjadi keterangan yang telah tersedia. Belum ada keterangan tambahan dalam informasi tersebut mengenai keadaan para korban luka, sehingga kondisi mereka tidak dapat dirinci. Jumlah korban terluka yang disebutkan adalah 19 orang, sementara harapan TNI AD agar mereka segera pulih menjadi bagian dari tanggapan institusi itu atas peristiwa tersebut.

Abzalul Riza dimakamkan di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, sementara ia tercatat berasal dari Desa Dayah Gampong Baro. Kedua nama desa tersebut merujuk pada keterangan asal dan lokasi pemakaman yang disampaikan dalam laporan. TNI AD menyatakan belasungkawa mendalam atas kematian warga itu dan berharap para korban luka segera pulih. Informasi yang tersedia tidak memuat keterangan lebih jauh tentang kondisi mereka.

Bentrokan di Desa Pulo Keunari, Kabupaten Pidie, bermula dalam rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di meunasah setempat. Di tengah kegiatan tersebut, bendera bulan bintang dikibarkan. Keberadaan bendera itu kemudian menjadi persoalan yang dibicarakan aparat dan panitia penyelenggara. Upaya untuk menertibkannya berlangsung sebelum situasi berujung pada bentrokan. Peristiwa ini menjadi konteks awal dalam memahami rangkaian kejadian di lokasi, tanpa perlu menarik kesimpulan mengenai motif lain di luar informasi yang tersedia. Kegiatan keagamaan dan persoalan pengibaran bendera berlangsung pada waktu yang sama, sehingga penanganan bendera menjadi bagian penting dari kronologi peristiwa tersebut.

Sebelum terjadi bentrokan, aparat TNI dan Polri disebut telah mengedepankan komunikasi serta mediasi dengan panitia penyelenggara. Dalam pembicaraan itu, aparat meminta agar bendera bulan bintang tidak dikibarkan. Pendekatan tersebut ditempuh untuk membahas persoalan secara langsung bersama pihak yang mengatur kegiatan, sebelum dilakukan tindakan penertiban. Namun, komunikasi itu belum menghasilkan kesepakatan. Panitia tetap ingin mempertahankan bendera yang telah dikibarkan dalam rangkaian peringatan Maulid. Dengan demikian, perbedaan sikap mengenai keberadaan bendera masih berlangsung ketika aparat berupaya menanganinya. Upaya dialog tersebut merupakan bagian dari urutan kejadian yang mendahului tindakan di lapangan, bukan kesepakatan yang kemudian membatalkan rencana penertiban.

Setelah kesepakatan tidak tercapai, prajurit TNI berupaya menertibkan dan menurunkan bendera tersebut. Upaya penurunan inilah yang berlangsung dalam situasi ketika posisi aparat dan keinginan panitia masih berbeda. Bentrokan kemudian terjadi di lokasi. Urutan ini menjelaskan konteks langsung yang dilaporkan: bendera dikibarkan dalam peringatan Maulid di meunasah, aparat lebih dahulu melakukan komunikasi dan mediasi, panitia tetap ingin mempertahankannya, lalu prajurit berupaya menurunkannya. Penjelasan mengenai pemicu tersebut perlu dibatasi pada rangkaian kejadian itu. Tidak ada dasar dalam uraian ini untuk menyatakan alasan lain sebagai penyebab bentrokan. Peristiwa tersebut selanjutnya mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka, sebagaimana dilaporkan dalam pemberitaan mengenai insiden di Pidie.

Menurut keterangan TNI AD, situasi di lokasi penertiban bendera meningkat setelah terjadi pelemparan batu dan kayu ke arah personel. TNI AD juga menyebut sejumlah orang terlihat membawa senjata tajam. Dalam kondisi tersebut, personel berupaya menenangkan keadaan dan membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Langkah awal itu, menurut penjelasan institusi tersebut, ditempuh untuk mengendalikan situasi tanpa langsung meningkatkan penggunaan kekuatan.

TNI AD menyatakan aksi massa tetap berlanjut dan keselamatan personel dinilai terancam. Pengamanan kemudian dilakukan secara bertahap, dimulai dengan tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, lalu dilanjutkan dengan munisi karet. Setelah massa membubarkan diri, personel menurunkan bendera di lokasi. Urutan tindakan tersebut merupakan kronologi sebagaimana disampaikan TNI AD; keterangan ini tidak dengan sendirinya menjelaskan secara lengkap pengalaman atau pandangan pihak lain yang berada di tempat kejadian.

TNI AD menjelaskan bahwa penertiban dilakukan untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban serta mencegah kegiatan yang dinilai berpotensi menimbulkan gangguan. Sebagai konteks terpisah, personel Kodim 0102/Pidie bersama personel BKO juga melaksanakan patroli dan komunikasi sosial untuk mengantisipasi rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan itu semula direncanakan berlangsung di Desa Udeung Poroh, kemudian dipindahkan ke Makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo, Kecamatan Bandar Baru. TNI AD menyebut patroli dan komunikasi sosial tersebut sebagai bagian dari upaya mengantisipasi perkembangan situasi. Rangkaian patroli itu merupakan kegiatan berbeda dari penertiban bendera yang menjadi pokok kronologi di lokasi bentrokan.

Baca juga: Balita Meninggal Setelah Dianiaya Ayahnya, Polisi Dalami Motif Kecemburuan | Peserta Audax Asal Sleman Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Kulon Progo | Dua Penumpang Becak Motor Meninggal Setelah Tabrak Pembatas di Daan Mogot

43 kunjungan