Oki Rengga Minta Maaf atas Keributan di Tribun, Jelaskan Persoalan Spanduk Karhutla

Cekcok Oki Rengga dan Suporter PSMS di Tribun: Pemicu Spanduk hingga Respons Viral

Medan | Oki Rengga menyampaikan permintaan maaf setelah video perselisihannya dengan seorang suporter PSMS Medan ramai beredar di media sosial. Rekaman tersebut memicu perhatian publik karena memperlihatkan ketegangan di tribun ketika pertandingan PSMS Medan melawan Persija Jakarta berlangsung. Oki kemudian menjelaskan bahwa persoalan yang menjadi latar kejadian berkaitan dengan spanduk kritik mengenai kebakaran hutan dan lahan, atau karhutla. Permintaan maaf itu disampaikan di tengah beragam tanggapan warganet terhadap potongan video yang beredar luas.

Insiden terjadi saat PSMS Medan menjamu Persija Jakarta di Stadion Utama Sumatera Utara, yang juga dikenal sebagai Stadion Deli, di Kabupaten Deli Serdang. Dalam video, Oki terlihat bertelanjang dada di area tribun dan terlibat adu argumen dengan seorang suporter. Suporter tersebut hendak membentangkan spanduk yang memuat kritik tentang karhutla. Situasi di sekitar mereka tampak tegang, sementara orang-orang di tribun menyaksikan kejadian itu. Rekaman yang beredar memperlihatkan bagian dari perselisihan tersebut, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh urutan peristiwa maupun hal-hal yang terjadi sebelum kamera merekam.

Pada salah satu bagian video, Oki terlihat memegang kepala suporter itu ketika keduanya berada dalam jarak dekat. Keterangan ini merujuk pada tindakan yang tampak dalam rekaman, tanpa menyimpulkan tindakan lain atau maksud di baliknya. Persoalan spanduk menjadi bagian penting dari penjelasan Oki mengenai keributan tersebut, sebab materi kritik yang hendak ditampilkan berkaitan dengan isu kebakaran hutan dan lahan. Namun, potongan video yang beredar belum tentu menggambarkan keseluruhan konteks di tribun. Karena itu, permintaan maaf dan penjelasan Oki menjadi sorotan bersamaan dengan rekaman perselisihan yang telah dibagikan banyak pengguna media sosial.

Oki Rengga menjelaskan bahwa suasana pertandingan yang memanas membuat dirinya kesulitan mengendalikan emosi. Ketegangan di tribun, menurut penjelasannya, turut memengaruhi responsnya ketika persoalan spanduk mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perbincangan. Ia mengakui bahwa situasi saat itu berlangsung tidak kondusif dan dirinya tidak mampu menjaga sikap setenang yang seharusnya. Penjelasan tersebut disampaikan sebagai konteks atas keributan yang terjadi, bukan sebagai pembenaran terhadap tindakan atau ucapan yang muncul dalam keadaan tersebut.

Dalam insiden itu, Oki juga sempat melontarkan pernyataan bahwa dirinya hampir dibunuh pemerintah karena menyuarakan persoalan karhutla. Ucapan tersebut perlu dipahami sebagai pernyataan yang ia sampaikan di tengah keributan, sebagaimana disebutkan dalam sumber pemberitaan. Tidak ada dasar untuk menyajikannya sebagai fakta bahwa pemerintah benar-benar melakukan upaya pembunuhan, ataupun sebagai tuduhan yang telah terbukti. Pernyataan itu berkaitan dengan kegelisahan yang ia ungkapkan saat menyampaikan isu lingkungan, tetapi kebenaran dan konteks lengkapnya tidak dapat ditarik lebih jauh hanya dari ucapan tersebut.

Oki kemudian menyampaikan permintaan maaf atas keributan di tribun. Ia mengakui bahwa keadaan pertandingan yang tegang bukan alasan untuk kehilangan kendali, meskipun hal itu menjadi bagian dari penjelasannya mengenai reaksi saat kejadian. Persoalan spanduk karhutla dan penyampaian pendapat tentang isu tersebut tetap dapat dibahas secara terpisah dari cara keributan berlangsung. Dengan demikian, keterangannya memuat dua hal: pengakuan bahwa emosi sulit dikendalikan dalam suasana panas, serta ucapan tentang ancaman yang ia rasakan atau sampaikan pada saat itu. Keduanya sebaiknya dilaporkan secara cermat, dengan membedakan pernyataan pribadi dari informasi yang telah terverifikasi. Permintaan maaf itu juga menempatkan perhatian pada dampak keributan bagi penonton dan jalannya pertandingan, tanpa menghapus pentingnya pembahasan karhutla secara bertanggung jawab.Setelah videonya menuai beragam reaksi dari masyarakat, Oki Rengga menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, ia menanggapi perhatian publik yang muncul setelah rekaman dan narasi terkait persoalan spanduk karhutla di tribun beredar. Permintaan maaf itu disampaikan sebagai respons atas situasi yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.

Oki menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas video yang telah dibuat dan dibagikan. Ia juga meminta maaf atas narasi yang menyertai video tersebut, serta keributan yang timbul setelahnya. Dengan pernyataan itu, ia mengakui bahwa unggahannya telah memancing beragam tanggapan dan menimbulkan kegaduhan yang menjadi perhatian banyak pihak.

Permintaan maaf tersebut ditujukan kepada masyarakat yang merasa terganggu atau terdampak oleh polemik itu. Oki menyampaikan penyesalan atas situasi yang terjadi, terutama karena persoalan yang semula berkaitan dengan spanduk karhutla di tribun kemudian berkembang menjadi perdebatan. Pernyataannya menjadi penjelasan langsung dari dirinya setelah video tersebut dibicarakan dan mendapat reaksi yang beragam.

Ia tidak hanya menyinggung isi rekaman, tetapi juga dampak dari cara persoalan itu disampaikan kepada publik. Permintaan maaf atas narasi dan keributan yang muncul menunjukkan bahwa ia menyadari unggahan tersebut memiliki konsekuensi di luar video itu sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, respons publik terhadap persoalan tersebut terus menjadi sorotan, sehingga pernyataan Oki memberikan tanggapan atas perkembangan itu.

Keterangan waktu yang menyertai peristiwa ini mencantumkan Sabtu, 7 November 2026. Melalui video di Instagram pribadinya, Oki menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui timbulnya kegaduhan. Pernyataan tersebut berfokus pada permohonan maaf atas video, narasi, serta keributan yang terjadi, tanpa mengubah pokok persoalan mengenai spanduk karhutla yang sebelumnya menjadi perhatian.

Oki Rengga membantah narasi bahwa dirinya melarang suporter menyampaikan kritik melalui spanduk terkait karhutla. Dalam penjelasannya, ia menyebut persoalan tersebut bukan penolakan terhadap isi pesan ataupun hak suporter untuk menyuarakan pendapat. Ia mengatakan bahwa kedatangannya ke area tribun bertujuan membicarakan waktu pembentangan spanduk, bukan menghentikan aksi secara permanen. Karena itu, menurut Oki, peristiwa tersebut perlu dipahami sebagai perbedaan pandangan mengenai momentum penyampaian pesan di tengah pertandingan.

Oki menjelaskan bahwa ia menghampiri sejumlah suporter setelah mendengar mereka membicarakan rencana membentangkan spanduk. Ia kemudian mengusulkan agar spanduk itu ditampilkan setelah pertandingan selesai. Alasannya, menurut dia, perhatian penonton saat pertandingan berlangsung sudah terpecah oleh berbagai hal di lapangan dan di tribun. Oki menilai pesan mengenai karhutla dapat disampaikan pada waktu lain, sehingga pembentangannya tidak berlangsung ketika penonton sedang mengikuti jalannya pertandingan. Ia menggambarkan usul itu sebagai ajakan untuk mengatur waktu, bukan sebagai larangan menyampaikan kritik.

Dalam keterangannya, Oki juga mengklaim menawarkan diri untuk ikut memegang spanduk apabila aksi tersebut dilakukan setelah pertandingan. Ia menyebut para suporter yang diajak berbicara menerima atau menyetujui usulan tersebut. Menurut versinya, penonton lain yang berada di sekitar mereka juga menyepakati saran itu. Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari bantahannya terhadap anggapan bahwa ia berupaya membungkam suara suporter. Namun, klaim mengenai respons orang-orang di tribun itu tetap merupakan penuturan Oki, dan tidak dengan sendirinya membuktikan bagaimana setiap orang memahami percakapan tersebut.

Dengan demikian, penjelasan Oki menekankan bahwa keberatan yang ia sampaikan berkaitan dengan waktu aksi, bukan substansi kritik tentang karhutla. Ia menyatakan bahwa dirinya justru bersedia membantu membentangkan spanduk setelah pertandingan. Uraian ini perlu ditempatkan sebagai versi Oki mengenai kejadian di tribun, bukan sebagai kesimpulan independen tentang seluruh rangkaian peristiwa. Penilaian yang lebih menyeluruh memerlukan keterangan dari pihak lain yang terlibat serta konteks kejadian yang lengkap. Sampai keterangan tersebut tersedia, bantahan Oki memberi gambaran tentang alasan yang ia kemukakan, tetapi tidak sendirian memastikan bagaimana percakapan itu berlangsung.

Baca juga: Sopir Truk Jelaskan Kepanikan Setelah Tabrak Pasutri di Tol Jogja-Solo | Relawan Karhutla Palangka Raya Tetap Bertahan di Tengah Kepulan Asap dan Honor Tertunda | Kabut Asap Karhutla Menyelimuti Palembang, Jarak Pandang Menurun dan Penerbangan Terganggu

6 kunjungan