FinExpo 2026 Soroti Pentingnya Literasi Keuangan bagi Warga Jawa Barat

FinExpo 2026 Soroti Pentingnya Literasi Keuangan bagi Warga Jawa Barat

BANDUNG | FinExpo 2026 menyoroti bahwa kemudahan memperoleh pembiayaan perlu berjalan seiring dengan pemahaman finansial yang memadai. Akses yang lebih terbuka terhadap layanan keuangan merupakan bagian penting dari upaya memperluas kesempatan bagi warga Jawa Barat. Namun, ketersediaan pembiayaan saja belum cukup untuk memastikan bahwa layanan tersebut digunakan secara tepat. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana keputusan keuangan dibuat, apa saja ketentuan yang melekat pada pembiayaan, serta bagaimana kewajiban yang timbul dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Literasi keuangan membantu calon pengguna menilai informasi sebelum mengambil keputusan. Pemahaman tersebut mencakup kesadaran terhadap hak dan kewajiban, kemampuan membaca ketentuan layanan, serta pertimbangan mengenai kapasitas finansial. Dengan bekal ini, masyarakat dapat menempatkan pembiayaan sebagai keputusan yang perlu dipertimbangkan, bukan sekadar layanan yang mudah diperoleh. Karena itu, perluasan akses sebaiknya disertai penyampaian informasi yang jelas dan peningkatan pemahaman agar pengguna dapat mengenali syarat serta tanggung jawab yang relevan sebelum menyetujui pembiayaan.

Pokok perhatian yang diangkat dalam FinExpo 2026 adalah keseimbangan akses dan kesiapan pengguna. Ketika pemahaman tentang risiko dan kemampuan finansial belum memadai, layanan yang mudah dijangkau berisiko tidak dimanfaatkan secara tepat. Hal ini menegaskan bahwa kemudahan layanan perlu didukung oleh pengetahuan yang membantu masyarakat mempertimbangkan pilihan secara cermat. Upaya memperkuat literasi bukan berarti membatasi akses pembiayaan, melainkan melengkapi akses tersebut dengan pemahaman yang diperlukan. Dengan demikian, warga Jawa Barat dapat menilai layanan keuangan berdasarkan informasi dan kemampuan finansial mereka, serta memahami konsekuensi dari keputusan yang diambil. Perhatian terhadap kedua unsur ini menjadi penting agar perluasan layanan keuangan berjalan bersama dengan penggunaan yang lebih bertanggung jawab dan sesuai kebutuhan pengguna.FinExpo 2026 berlangsung di Trans Studio Mall Bandung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Acara ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai informasi terkait keuangan formal dalam suasana yang terbuka dan mudah dijangkau. Penyelenggaraannya di pusat kegiatan publik memungkinkan pengunjung dari beragam latar belakang mengakses informasi, bertanya, serta memperoleh penjelasan mengenai pilihan layanan keuangan yang tersedia. Agenda ini juga menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari upaya memperluas pemahaman masyarakat, tidak hanya memperkenalkan produk. Melalui interaksi langsung, pengunjung dapat memperoleh gambaran awal tentang bagaimana layanan formal bekerja dan hal-hal yang perlu dipahami sebelum menentukan pilihan sesuai kebutuhan.

FinExpo tersebut merupakan salah satu rangkaian Bulan Inklusi Keuangan 2026, sebuah momentum untuk meningkatkan akses serta pemahaman publik terhadap layanan keuangan. Dalam konteks ini, kegiatan di Bandung menghadirkan kesempatan bagi warga Jawa Barat untuk memperoleh informasi secara langsung, sekaligus mendorong percakapan tentang penggunaan layanan yang tepat dan bertanggung jawab. Literasi dan inklusi saling berkaitan: akses akan lebih bermakna apabila masyarakat memahami karakteristik, manfaat, biaya, serta risiko produk yang dipilih. Karena itu, edukasi menjadi unsur yang relevan dalam kegiatan publik semacam ini. Pengunjung dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenali istilah keuangan, memahami perbedaan layanan, dan menyiapkan pertanyaan sebelum berinteraksi dengan penyedia. Pendekatan informatif diharapkan membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan pemahaman, bukan sekadar mengikuti promosi atau tren.

PT Inovasi Terdepan Nusantara, yang dikenal sebagai KrediOne, turut berpartisipasi dalam FinExpo 2026 sebagai penyelenggara layanan pendanaan berbasis teknologi. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mendorong pemahaman masyarakat mengenai produk dan layanan keuangan formal. Informasi yang disampaikan dapat membantu pengunjung mengenali peran layanan pendanaan, memahami hal-hal yang patut dipertimbangkan, serta mengetahui pentingnya membaca ketentuan sebelum menggunakan suatu produk. Kegiatan tatap muka juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan pertanyaan dan memperoleh penjelasan secara langsung. Dengan demikian, partisipasi KrediOne dalam rangkaian Bulan Inklusi Keuangan tidak hanya memperkenalkan layanan, tetapi juga mendukung edukasi agar warga dapat menilai pilihan secara cermat. Pemahaman yang lebih baik dapat menjadi bekal ketika masyarakat mengakses layanan keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

CEO KrediOne Kuseryansyah menilai Jawa Barat memiliki potensi ekonomi yang besar dan beragam. Potensi tersebut terlihat dari kegiatan usaha masyarakat yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga bidang yang bertumpu pada sumber daya alam. Keragaman ini menjadi salah satu latar penting untuk membahas kebutuhan pembiayaan warga, sekaligus alasan mengapa layanan keuangan perlu dipahami sesuai kondisi masing-masing pelaku ekonomi.

UMKM berperan dalam menggerakkan kegiatan ekonomi di banyak wilayah, sedangkan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan menyediakan mata pencaharian serta menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat. Setiap sektor memiliki pola kegiatan, kebutuhan modal, dan siklus usaha yang berbeda. Kebutuhan petani, misalnya, dapat berkaitan dengan masa tanam dan panen, sementara pelaku usaha kecil mungkin memerlukan dukungan untuk menjaga arus kas atau mengembangkan usahanya. Karena itu, pendekatan pembiayaan tidak dapat dilepaskan dari karakter kegiatan yang dijalankan.

Menurut Kuseryansyah, potensi tersebut perlu diimbangi dengan akses pembiayaan yang memadai. Akses saja, bagaimanapun, belum cukup apabila masyarakat belum memahami karakteristik produk dan layanan keuangan yang tersedia. Pemahaman mengenai biaya, kewajiban pembayaran, jangka waktu, serta kesesuaian pembiayaan dengan kemampuan dan kebutuhan usaha dapat membantu warga mengambil keputusan secara lebih terukur. Literasi keuangan menjadi bekal agar pembiayaan digunakan secara bertanggung jawab, bukan sekadar diperoleh.

Dalam konteks Jawa Barat, dukungan terhadap pelaku UMKM maupun sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan perlu berjalan beriringan: membuka peluang pembiayaan sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat. Dengan mengetahui pilihan serta konsekuensi layanan keuangan, pelaku usaha dapat menilai apakah suatu produk sesuai dengan kondisi mereka. Pendekatan tersebut membantu menjembatani potensi ekonomi daerah dengan pemanfaatan pembiayaan yang lebih bijak, sehingga peluang untuk menjaga keberlanjutan usaha dapat diperhatikan bersama dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Kuseryansyah menyampaikan bahwa Bulan Inklusi Keuangan merupakan momentum penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai akses dan pemanfaatan layanan keuangan formal. Penekanan tersebut mengingatkan bahwa inklusi tidak hanya berkaitan dengan tersedianya layanan, tetapi juga dengan kemampuan warga untuk memahami pilihan yang ada dan menggunakannya secara tepat. Dalam konteks FinExpo 2026, pesan ini menjadi landasan bagi pembahasan tentang bagaimana masyarakat Jawa Barat dapat mengenali layanan keuangan formal serta memahami kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman terhadap akses mencakup pengetahuan mengenai cara menjangkau layanan, persyaratan yang berlaku, dan pilihan yang dapat digunakan sesuai kebutuhan. Sementara itu, pemanfaatan mengarah pada kemampuan menggunakan layanan tersebut dengan pertimbangan yang baik. Dengan demikian, peningkatan inklusi keuangan memerlukan perhatian terhadap literasi, bukan sekadar pengenalan terhadap produk atau fasilitas. Masyarakat perlu memperoleh penjelasan yang mudah dipahami agar dapat menilai informasi, membandingkan kebutuhan, dan mengambil keputusan secara lebih terarah. Gagasan ini selaras dengan fokus acara yang menempatkan literasi sebagai bagian penting dari upaya memperluas pemahaman keuangan.

FinExpo 2026 juga memberi perhatian pada potensi sektor produktif di Jawa Barat. Keterkaitan literasi keuangan dan sektor produktif dapat dibahas melalui pemahaman mengenai layanan formal yang relevan bagi kegiatan ekonomi, tanpa mengabaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing warga. Ketika masyarakat memahami akses serta cara menggunakan layanan, mereka memiliki bekal untuk mengenali pilihan yang tersedia dalam mendukung aktivitas produktif. Karena itu, pembicaraan mengenai potensi daerah dapat berjalan berdampingan dengan edukasi keuangan yang mendorong pemahaman praktis.

Pernyataan Kuseryansyah mengenai Bulan Inklusi Keuangan menempatkan momentum tersebut sebagai ruang.

Baca juga: Warga Soroti Sewa Kios Pasar Mander, Kades Tuban Dilaporkan ke Polisi | Sambut HUT ke-81 TNI, Kodim Bojonegoro Gelar Baksos Kesehatan dan Bagi Sembako untuk Warga | Panglima TNI Tinjau Bakti Sosial dan Open Tournament Off Road di Ciwidey Jawa Barat