Jakarta | Persija Jakarta harus meninggalkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) selama renovasi berlangsung pada bagian field of play (FOP), yakni area lapangan yang menjadi permukaan utama pertandingan. Pekerjaan tersebut membuat stadion kebanggaan di Jakarta itu belum dapat digunakan klub untuk sementara waktu. Karena SUGBK selama ini menjadi salah satu pilihan kandang Persija, perubahan ini menuntut tim menyesuaikan rencana pertandingan dan kegiatan mereka.
Pelatih Shin Tae Yong menyatakan bahwa Persija menerima keputusan renovasi tersebut. Menurutnya, tim tidak memiliki pilihan selain menunggu hingga pekerjaan di lapangan selesai. Sikap itu mencerminkan bahwa kondisi fasilitas dan jadwal perbaikan berada di luar kendali klub. Persija perlu menghormati proses pengerjaan agar kualitas lapangan dapat dipulihkan sebelum stadion kembali dipakai untuk menggelar pertandingan.
Periode penyelesaian menjadi perhatian penting bagi klub dan suporter. Mengacu pada periodisasi yang disampaikan pengelola Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (PPKGBK), renovasi FOP dijadwalkan rampung pada periode April 2027. Dengan perkiraan tersebut, Persija diperkirakan belum dapat menggunakan SUGBK setidaknya hingga pekerjaan mencapai tahap akhir dan stadion dinyatakan siap kembali. Jadwal itu menjadi acuan sementara, meskipun penggunaan stadion nantinya tetap bergantung pada penyelesaian pekerjaan dan kesiapan fasilitas.
Selama masa renovasi, Persija harus mengatur kebutuhan kandang dengan mempertimbangkan lokasi alternatif, jadwal kompetisi, serta kenyamanan pemain dan penonton. Kepastian venue penting agar persiapan tim tidak terganggu dan pendukung dapat memperoleh informasi yang jelas sebelum pertandingan. Perpindahan kandang juga dapat membawa perubahan dalam suasana laga, sebab SUGBK memiliki kapasitas dan karakter tersendiri yang telah lekat dengan perjalanan klub.
Untuk saat ini, perhatian Persija tertuju pada penyesuaian sementara sembari menunggu pembenahan lapangan selesai. Setelah renovasi tuntas, stadion diharapkan dapat kembali digunakan dengan kondisi FOP yang lebih siap untuk pertandingan. Hingga saat itu, keputusan menerima masa tunggu menjadi bagian dari proses yang harus dijalani klub sebelum kembali bermain di SUGBK.
Perhatian Shin terhadap kondisi rumput Jakarta International Stadium (JIS) berkaitan langsung dengan cara Persija menjalankan skema permainan. Ia mengkhawatirkan kualitas permukaan lapangan di stadion tersebut berpotensi memengaruhi alur dan pelaksanaan strategi tim. Bagi sebuah tim yang ingin bermain sesuai rencana, keadaan rumput bukan sekadar latar pertandingan. Permukaan lapangan dapat menjadi faktor yang perlu diperhitungkan saat pemain mengolah bola dan membangun serangan. Karena itu, pembenahan JIS menjadi hal yang dinantikan, terutama selama Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjalani renovasi dan Persija harus menanti kepastian kondisi lapangan alternatifnya.
Kekhawatiran tersebut tidak berarti kehadiran The Jakmania di JIS kehilangan arti. Suporter tetap dapat datang dan memberikan dukungan kepada Persija di stadion itu. Namun, bagi Shin, hasil akhir bukan satu-satunya ukuran pengalaman pertandingan. Ia ingin tim bukan hanya meraih kemenangan, melainkan juga menyuguhkan permainan yang atraktif. Permainan yang menarik dapat menjadi hiburan bagi para pendukung yang hadir, sekaligus memperlihatkan upaya tim untuk tampil sesuai harapan mereka. Dengan demikian, kondisi lapangan menjadi perhatian karena berpotensi berkaitan dengan kemampuan Persija menampilkan permainan yang ingin disaksikan suporter.
Harapan Shin terhadap JIS terlihat berbeda ketika dibandingkan dengan penilaiannya atas rumput SUGBK. Kualitas rumput di SUGBK disebutnya sangat memuaskan. Perbandingan ini terbatas pada kondisi permukaan lapangan: Shin menyatakan kepuasan terhadap rumput SUGBK, sementara kualitas rumput JIS menjadi hal yang ia khawatirkan. Tidak ada penilaian lain yang perlu ditambahkan untuk menjelaskan perbedaan tersebut. Pernyataan itu menunjukkan mengapa kondisi rumput JIS mendapat perhatian, tanpa mengurangi arti dukungan suporter di stadion tersebut.
Menanti pembenahan JIS, Persija menghadapi harapan untuk tetap berusaha meraih hasil sekaligus menyajikan tontonan yang menarik. Bagi Shin, dukungan The Jakmania dan kualitas permainan sama-sama penting dalam pengalaman pertandingan. Namun, apabila kondisi rumput berpotensi mengganggu skema tim, persoalan lapangan patut diperhatikan. Perbandingan dengan SUGBK memberikan gambaran mengenai standar kualitas rumput yang dinilai memuaskan oleh Shin, bukan alasan untuk menyimpulkan hal lain di luar keterangannya. Selama SUGBK direnovasi, perhatian pada JIS menjadi bagian dari upaya memastikan stadion tersebut dapat mendukung permainan Persija dan memberikan hiburan yang diharapkan suporter.
Selama Persija menggunakan Jakarta International Stadium (JIS) sebagai markas sementara, Shin berharap tim memperoleh dukungan yang baik dari pengelola stadion. Dukungan tersebut, menurut harapannya, mencakup perhatian terhadap kondisi lapangan agar para pemain dapat menjalani pertandingan dengan nyaman dan menunjukkan kemampuan secara maksimal. Ia menyoroti permukaan lapangan, terutama kualitas rumput, sebagai aspek yang perlu dibenahi. Kondisi area bermain merupakan bagian penting dari kesiapan pertandingan, bukan sekadar urusan tampilan stadion. Karena itu, ia menginginkan adanya upaya perbaikan yang nyata selama Persija berkandang di JIS, sehingga kebutuhan tim dan mutu pertandingan dapat sama-sama diperhatikan. Harapan tersebut disampaikan di tengah situasi SUGBK yang sedang direnovasi, yang membuat Persija harus menyesuaikan diri dengan lokasi kandang alternatif.
Shin menyampaikan kekecewaannya mengenai keadaan permukaan JIS dalam konferensi pers menjelang pertandingan Persija melawan Dewa United, Jumat, 30 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menekankan perlunya peningkatan kualitas lapangan, termasuk rumput, agar kondisi bermain lebih mendukung. Pernyataannya mencerminkan perhatian terhadap dampak lapangan bagi performa tim, sekaligus keinginan agar penonton dapat menikmati permainan yang lebih baik. Permukaan yang kurang ideal dapat menyulitkan pemain mengembangkan permainan dan menjaga alur pertandingan, sehingga pembenahan dinilai penting bagi kepentingan semua pihak. Harapan itu tidak mengubah fokus Persija untuk tetap mempersiapkan diri menghadapi laga, tetapi menunjukkan bahwa fasilitas pertandingan turut menjadi faktor yang patut diperhatikan.
Bagi Shin, perbaikan lapangan di JIS diharapkan membantu Persija tampil lebih baik dan menghadirkan pertandingan yang menghibur. Kualitas rumput dan kondisi permukaan yang layak dapat mendukung pergerakan pemain serta jalannya permainan, sehingga tim memiliki kesempatan lebih besar untuk menerapkan rencana pertandingan. Ia berharap pengelola stadion memberi dukungan yang memadai selama Persija menempati JIS, dengan menindaklanjuti persoalan yang disampaikan tersebut. Perhatian terhadap kondisi lapangan juga penting untuk menjaga pengalaman penonton, sebab permainan yang berlangsung lancar memberi nilai lebih bagi mereka yang hadir. Selama SUGBK belum dapat digunakan karena renovasi, komunikasi dan koordinasi klub dengan pengelola JIS menjadi penting. Dengan pembenahan yang sesuai kebutuhan, JIS dapat menjadi tempat yang lebih mendukung bagi Persija menjalani pertandingan kandang sementara.
Selama SUGBK menjalani renovasi, Persija perlu menyiapkan alternatif kandang agar agenda kompetisi tetap berjalan dengan tertib. Dua stadion yang menjadi pilihan adalah Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara dan Stadion Patriot Candrabhaga di Bekasi. Keduanya dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan pertandingan, jadwal, kesiapan fasilitas, serta koordinasi dengan pengelola stadion dan pihak terkait. JIS menawarkan lokasi di wilayah Jakarta, sedangkan Patriot memberi pilihan di kota penyangga yang selama ini juga menjadi tempat pertandingan klub. Penetapan stadion untuk setiap laga tidak hanya bergantung pada ketersediaan lapangan. Persija perlu memperhitungkan kapasitas, akses penonton, keamanan, kondisi rumput, kebutuhan siaran, dan kemungkinan benturan dengan agenda lain. Karena itu, penyebutan kedua venue sebagai opsi tidak serta-merta berarti seluruh pertandingan akan dipindahkan ke satu tempat tertentu.
JIS menjadi salah satu kandidat yang dapat digunakan Persija, tetapi pembenahan dan kesiapan stadion tetap menjadi hal penting sebelum dijadikan kandang secara rutin.






