Dari Analisis hingga Eksekusi: Peluang dan Tantangan AI bagi Bisnis

Dari Analisis hingga Eksekusi: Peluang dan Tantangan AI bagi Bisnis

Jakarta | Syifa Fadiyah, VP of Communications HashMicro, mengamati bahwa adopsi artificial intelligence (AI) di dunia bisnis meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pengamatan ini menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap penggunaan teknologi tersebut dalam aktivitas perusahaan. AI tidak hanya dibicarakan sebagai konsep, tetapi juga dipertimbangkan berdasarkan kemampuan praktisnya untuk membantu pekerjaan bisnis. Meski demikian, pernyataan tentang peningkatan adopsi ini perlu dipahami sesuai konteks yang disampaikan, tanpa menganggap bahwa seluruh perusahaan telah menerapkan AI atau bahwa penerapannya berlangsung dengan cara yang sama.

Menurut Syifa, salah satu nilai AI bagi bisnis terletak pada kemampuannya menganalisis data dan membantu menghasilkan insight. Informasi yang dihimpun dalam kegiatan operasional dapat menjadi bahan untuk memahami situasi serta melihat pola yang relevan. Dengan dukungan analisis tersebut, organisasi berpeluang memperoleh perspektif yang lebih terstruktur ketika menilai informasi yang tersedia. AI juga dapat digunakan untuk mendukung layanan pelanggan, sehingga teknologi ini memiliki peran yang berkaitan langsung dengan interaksi dan kebutuhan layanan. Kemampuan-kemampuan tersebut menjelaskan mengapa bisnis semakin memperhatikan kemungkinan pemanfaatan AI.

Selain analisis, insight, dan layanan pelanggan, Syifa menyebut dukungan terhadap proses pengambilan keputusan sebagai salah satu kegunaan AI. Teknologi ini dapat membantu menyediakan bahan pertimbangan bagi pihak yang bertanggung jawab menentukan langkah bisnis. Namun, dukungan tersebut tidak berarti AI menggantikan seluruh penilaian manusia; fokusnya adalah membantu proses dengan informasi dan analisis yang relevan. Pengamatan Syifa disampaikan dalam konteks Road to Awards 2026 “Best AI Ecosystem” pada Jumat, 30 Oktober 2026. Dalam konteks tersebut, pembahasan menyoroti kemampuan AI yang membuat adopsinya kian mendapat perhatian di dunia bisnis, sekaligus menempatkan teknologi sebagai alat pendukung, bukan jawaban otomatis untuk setiap kebutuhan organisasi.

Perkembangan kecerdasan buatan membawa perubahan pada cara bisnis memanfaatkan teknologi. Sebagaimana dijelaskan Syifa, AI pada tahap awal banyak digunakan untuk menghasilkan informasi: menjawab pertanyaan, merangkum dokumen, atau menyusun rekomendasi berdasarkan masukan pengguna. Peran ini tetap bernilai, terutama ketika perusahaan perlu mengolah pengetahuan dengan cepat. Namun, kemampuan AI kini bergerak lebih jauh dari sekadar menyajikan keluaran. Sistem dapat dirancang untuk menjalankan rangkaian tindakan yang mendukung sasaran kerja tertentu, sehingga hubungan pengguna dan teknologi menjadi lebih berorientasi pada penyelesaian tugas.

Perkembangan tersebut kerap disebut agentic AI atau AI agent. Dengan arahan dan batasan yang ditetapkan, sebuah agent dapat menerima target, menyusun langkah yang diperlukan, lalu melakukan sebagian pekerjaan secara berurutan. Dalam konteks perusahaan, langkah itu dapat mencakup pencarian informasi pada sumber data internal, penggabungan temuan, penyusunan hasil, atau pemrosesan tugas rutin. Interaksi dengan data perusahaan membuat agent berpotensi menghubungkan informasi yang sebelumnya tersebar dengan kebutuhan operasional. Dengan demikian, teknologi tidak hanya membantu karyawan memahami suatu persoalan, tetapi juga dapat mendukung pelaksanaan pekerjaan yang terkait dengannya.

Meski demikian, istilah “agent” tidak berarti sistem sepenuhnya mandiri atau mampu menangani semua jenis pekerjaan. Tingkat otonominya dapat berbeda-beda, bergantung pada desain, akses yang diberikan, kompleksitas tugas, serta kebijakan organisasi. Untuk tugas tertentu, AI mungkin hanya menyiapkan rekomendasi atau rancangan tindakan yang perlu ditinjau manusia. Pada tugas lain yang lebih terstruktur, sistem dapat melanjutkan beberapa langkah setelah menerima tujuan dan parameter yang jelas. Pengawasan tetap penting, terutama ketika pekerjaan melibatkan data sensitif, keputusan berdampak besar, atau tindakan yang sulit dibatalkan. Perusahaan perlu menentukan batas akses, mekanisme persetujuan, dan cara memeriksa hasil sebelum proses berjalan lebih luas. Pergeseran dari pemberi informasi menjadi pelaksana tugas karena itu bukan penggantian kendali manusia, melainkan perluasan fungsi AI dalam alur kerja. Bisnis dapat menilai tugas mana yang sesuai untuk dibantu agent, menetapkan ukuran keberhasilan, dan memastikan tanggung jawab tetap jelas. Pendekatan bertahap memungkinkan organisasi menguji manfaat sekaligus mengenali kekurangan, sehingga tingkat otonomi dapat disesuaikan dengan risiko dan kebutuhan nyata.Bayangkan pelanggan mengirim pesan melalui kanal percakapan untuk memesan produk. Mereka mungkin menyebutkan barang yang diinginkan, jumlah, pilihan ukuran, dan alamat pengiriman dalam beberapa kalimat, tanpa mengikuti formulir baku. AI yang berfungsi sebagai asisten percakapan dapat membantu meringkas isi obrolan atau menyusun jawaban yang sopan dan relevan. Namun, kemampuan menyampaikan informasi belum tentu berarti sistem itu juga dapat menjalankan tahapan operasional setelah percakapan berlangsung. Perbedaan tersebut menjadi penting ketika bisnis ingin menilai apakah AI hanya membantu komunikasi atau benar-benar mendukung alur kerja pemesanan.

Menurut penjelasan Syifa, AI agent dapat melangkah lebih jauh dalam contoh pemrosesan pesanan. Agent dapat menafsirkan isi obrolan untuk mengenali produk dan jumlah yang diminta, lalu mengambil informasi pelanggan serta detail produk yang diperlukan. Selanjutnya, jika terhubung dengan sumber data dan sistem yang sesuai, agent dapat memeriksa ketersediaan stok. Bila barang tersedia dan informasi pesanan memadai, agent dapat meneruskan proses hingga membuat pesanan penjualan. Dengan demikian, percakapan pelanggan berpotensi menjadi awal dari rangkaian tindakan, bukan sekadar bahan untuk diringkas atau dijawab.

Contoh ini menggambarkan kemungkinan penggunaan, bukan gambaran bahwa semua bisnis atau sistem AI saat ini telah mengotomatisasi seluruh proses tersebut. Kemampuan agent bergantung pada akses ke data yang akurat, integrasi dengan aplikasi bisnis, aturan operasional, serta batas kewenangan yang ditetapkan perusahaan. Sistem juga perlu menangani informasi yang tidak lengkap, permintaan yang ambigu, atau stok yang berubah, misalnya dengan meminta konfirmasi pelanggan atau mengalihkan kasus kepada staf. Karena itu, penerapan yang bertanggung jawab memerlukan pengujian dan pemantauan. Bisnis dapat memulai dari tugas yang terukur, seperti mengekstrak detail pesanan, lalu menilai ketepatan hasil sebelum memberikan akses untuk memproses transaksi. Pendekatan bertahap membantu menjaga pengalaman pelanggan sekaligus mengurangi risiko kesalahan dalam pencatatan dan pemenuhan pesanan.

Dalam penerapan AI di lingkungan bisnis, perusahaan perlu menetapkan batas wewenang agent secara jelas sebelum memberinya tugas operasional. Penetapan ini mencakup tindakan yang boleh dilakukan secara mandiri, tindakan yang hanya boleh disiapkan sebagai rekomendasi, serta keputusan yang harus tetap berada di tangan karyawan. Tanpa cakupan yang spesifik, sulit bagi organisasi untuk memastikan bahwa agent bertindak sesuai dengan kebijakan dan proses kerja yang berlaku. Karena itu, aturan mengenai kewenangan tidak cukup disampaikan secara umum; perusahaan perlu menjelaskan batas keputusan dalam konteks pekerjaan sehari-hari.

Syifa mencontohkan bahwa AI agent dapat diberi kemampuan untuk membuat purchase order. Namun, kewenangan tersebut perlu disertai pemahaman tentang kapan proses harus dihentikan dan persetujuan manajer diminta. Misalnya, ketika agent menangani pengadaan atau menemukan komitmen dengan nilai tertentu, keputusan untuk melanjutkan tidak selalu tepat diserahkan sepenuhnya kepada sistem. Agent perlu mengenali bahwa situasi tersebut berada di luar ruang gerak mandirinya, lalu meminta persetujuan pihak yang berwenang. Dengan demikian, tugas rutin tetap dapat dibantu AI, sementara keputusan yang memerlukan penilaian atau otorisasi manajer tidak terlewatkan.

Pembagian seperti ini menegaskan bahwa penerapan agent bukan sekadar soal memberi sistem lebih banyak akses atau kemampuan. Perusahaan perlu menentukan secara terperinci bagaimana kewenangan diberikan dan kapan campur tangan manusia diperlukan. Tantangan yang disoroti Syifa adalah bahwa akses terhadap platform AI saja tidak menjamin agent mampu bekerja dengan data bisnis secara tepat. Kehadiran teknologi tidak otomatis membuat hasilnya sesuai dengan informasi dan konteks yang dibutuhkan perusahaan.

Baca juga: Latihan Kader Bela Negara di Tomohon Soroti Tantangan Era Digital dan Perang Kognitif | DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber