Yogyakarta | Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyampaikan laporan pemantauan Gunung Merapi untuk periode Kamis, 29 Oktober 2026. Berdasarkan pengamatan selama 24 jam, gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga. Status ini menjadi keterangan utama dalam laporan terbaru, yang juga mencatat aktivitas kegempaan berupa puluhan gempa guguran. Data tersebut menggambarkan kondisi yang terpantau pada periode pengamatan, tanpa mengubah keterangan status yang berlaku.
Catatan puluhan gempa guguran menunjukkan bahwa pemantauan aktivitas Merapi tetap menjadi perhatian dalam laporan harian BPPTKG. Pengamatan selama satu hari tersebut dihimpun sebagai dasar untuk menilai aktivitas gunung api pada periode yang dilaporkan. Selain mencatat kejadian kegempaan, BPPTKG menyatakan suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih berlangsung. Keterangan ini merupakan bagian dari informasi aktivitas yang disampaikan bersama status Level III atau Siaga.
Dengan demikian, informasi pokok dalam laporan 29 Oktober adalah status Merapi yang tetap Siaga, catatan puluhan gempa guguran, serta suplai magma yang masih berlangsung. Ketiga keterangan tersebut merujuk pada hasil pemantauan dalam rentang 24 jam, bukan gambaran di luar periode itu. Pembacaan laporan perlu mempertahankan konteks waktu dan sumbernya, yakni pengamatan BPPTKG, agar informasi yang disampaikan tidak bercampur dengan dugaan atau penafsiran yang tidak tercantum.
Laporan ini menyajikan kondisi berdasarkan data yang dihimpun BPPTKG dan menegaskan bahwa Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas gempa guguran yang tercatat mencapai puluhan kejadian, sementara suplai magma disebut masih berlangsung. Tidak ada keterangan tambahan dalam informasi yang dirangkum ini mengenai perubahan status maupun dampak. Karena itu, uraian kondisi Merapi untuk periode Kamis, 29 Oktober 2026, terbatas pada hasil pemantauan dan pernyataan resmi tersebut. Pembaruan laporan berikutnya dapat dibaca dengan memperhatikan tanggal serta rentang pengamatan yang dicantumkan.Kondisi cuaca di sekitar Merapi selama hari pengamatan berubah dari cerah menjadi berawan dan mendung. Pergantian ini menunjukkan bahwa keadaan atmosfer di kawasan gunung tidak berlangsung seragam sepanjang periode pemantauan. Meski tutupan awan muncul pada beberapa waktu, puncak Merapi tetap terlihat jelas. Kejelasan puncak menjadi bagian penting dalam pengamatan visual karena memungkinkan petugas mencatat keadaan kawah dan kemunculan asap secara langsung. Informasi cuaca tersebut melengkapi data pemantauan, tetapi tidak dengan sendirinya mengubah status aktivitas gunung yang ditetapkan berdasarkan penilaian menyeluruh.
Angin terpantau lemah dan bertiup ke arah barat. Suhu udara berada pada kisaran 17,5 hingga 24,9 derajat Celsius, sementara kelembapan mencapai 99 persen. Tekanan udara tercatat 875,5 dan 918,9 mmHg. Rentang suhu dan tekanan itu menggambarkan kondisi lingkungan yang terukur selama pengamatan, sedangkan kelembapan yang tinggi sejalan dengan cuaca yang berganti berawan dan mendung. Data meteorologi seperti arah angin, suhu, kelembapan, dan tekanan dicatat bersama pengamatan visual agar perubahan keadaan di sekitar Merapi dapat dipahami dalam konteks yang lebih lengkap.
Dari puncak kawah tampak asap berwarna putih. Asap tersebut dilaporkan bertekanan lemah, tetapi memiliki intensitas tebal, dengan ketinggian membumbung hingga 30 meter di atas puncak kawah. Warna, tekanan, intensitas, dan tinggi asap merupakan rincian visual yang dicatat dalam laporan harian, bukan ukuran tunggal untuk menyimpulkan tingkat bahaya. Angin yang lemah ke barat menjadi keterangan tambahan mengenai kondisi saat asap teramati. Secara keseluruhan, puncak yang terlihat jelas memungkinkan karakteristik asap kawah didokumentasikan, sementara variasi cuaca dan angka meteorologi memberi gambaran tentang lingkungan pengamatan. Data ini perlu dibaca bersama hasil pemantauan kegempaan dan informasi resmi lainnya untuk memperoleh pemahaman yang utuh mengenai aktivitas Merapi.
Data pemantauan menunjukkan aktivitas Gunung Merapi masih tinggi, baik pada bagian internal maupun eksternal tubuh gunung. Kondisi ini tercermin dari banyaknya gempa guguran serta gempa fase banyak atau hybrid yang tercatat selama pengamatan. Gempa guguran berkaitan dengan pergerakan material di lereng, sedangkan gempa hybrid dapat menandakan proses yang berlangsung di dalam tubuh gunung. Kedua jenis kejadian tersebut menjadi bagian dari gambaran aktivitas yang perlu dicermati secara berkelanjutan. Meski demikian, data yang tersedia tidak mencantumkan jumlah rinci untuk setiap jenis gempa, sehingga penilaian sebaiknya berpegang pada keterangan umum bahwa aktivitas kegempaan tetap tinggi.
Pemantauan kegempaan membantu menggambarkan dinamika yang berlangsung di dalam gunung sekaligus perubahan pada material di permukaan. Catatan gempa guguran dan gempa hybrid yang tinggi menunjukkan bahwa proses internal dan eksternal masih aktif, bukan bahwa kondisi telah kembali tenang. Informasi tersebut menjadi bahan penting bagi petugas untuk mengikuti perkembangan aktivitas dan menilai potensi bahaya. Namun, catatan kegempaan perlu dipahami bersama informasi pemantauan lainnya dan arahan resmi, bukan ditafsirkan sebagai kepastian bahwa suatu kejadian tertentu akan segera berlangsung. Karena itu, masyarakat di sekitar Merapi perlu memperhatikan pembaruan dari lembaga berwenang serta mematuhi rekomendasi yang berlaku.
BPPTKG mengingatkan bahwa suplai magma yang berlanjut dapat memicu awan panas guguran. Potensi tersebut perlu diperhatikan terutama di dalam daerah yang telah ditetapkan sebagai kawasan potensi bahaya. Awan panas guguran dapat bergerak mengikuti jalur tertentu, sehingga batas aman dan rekomendasi resmi menjadi pedoman penting bagi warga, pengunjung, serta pihak yang beraktivitas di sekitar gunung. Peringatan ini tidak menyatakan bahwa awan panas pasti terjadi pada waktu tertentu, melainkan menegaskan risiko yang dapat muncul apabila pasokan magma terus berlangsung. Dengan aktivitas kegempaan yang masih tinggi, pemantauan tetap diperlukan, sementara masyarakat diminta tidak memasuki zona berbahaya dan segera mengikuti informasi serta instruksi BPPTKG maupun otoritas setempat.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, baik di Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Jawa Tengah, perlu memperhatikan batas kawasan yang berpotensi terdampak guguran lava dan awan panas. Informasi tersebut menjadi acuan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga, pengunjung, dan siapa pun yang beraktivitas di sekitar alur sungai pada sektor selatan hingga barat daya. Batas jarak yang disebutkan berlaku pada kawasan aliran sungai terkait, sehingga penting untuk mengenali nama sungai dan tidak menyamakan jangkauan antarwilayah.
Di sektor selatan–barat daya, potensi bahaya mencakup kawasan Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer. Sementara itu, pada Sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng, jangkauan yang disebutkan mencapai maksimal 7 kilometer. Dengan demikian, masyarakat perlu membedakan batas untuk Sungai Boyong dari batas bagi tiga aliran sungai lainnya. Angka tersebut menunjukkan jarak maksimum yang dicantumkan untuk masing-masing kawasan sungai, bukan keterangan bahwa seluruh wilayah di sekitarnya memiliki kondisi yang sama.
Warga dan pengunjung sebaiknya tidak melakukan aktivitas di dalam batas kawasan yang berpotensi bahaya tersebut, termasuk mendekati alur sungai yang disebutkan, khususnya saat kondisi Merapi memerlukan kewaspadaan. Aktivitas seperti berjalan, berkemah, mengambil pasir, atau melakukan kegiatan lain di kawasan aliran sungai dapat menempatkan seseorang dekat dengan jalur yang berpotensi dilalui material. Perhatikan pula informasi resmi terbaru dari pihak berwenang, karena rekomendasi dapat berubah mengikuti perkembangan pemantauan dan kondisi gunung.
Untuk menghindari salah tafsir, rekomendasi ini terbatas pada kawasan Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga maksimal 7 kilometer di sektor selatan–barat daya. Informasi tersebut tidak dengan sendirinya menetapkan larangan atau batas tambahan di luar area yang disebutkan.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla






