Tiga Pemanjat Tebing Indonesia Masuk Tiga Besar Peringkat Dunia

Tiga Pemanjat Tebing Indonesia Masuk Tiga Besar Peringkat Dunia

Jakarta | Tiga atlet panjat tebing Indonesia berhasil menempatkan nama mereka di jajaran tiga besar peringkat dunia pada nomor masing-masing. Mereka adalah Putra Tri Ramadani, yang dikenal dengan sapaan Srondeng, Desak Made Rita Kusuma Dewi, serta Antasyafi Robby Al Hilmi. Pencapaian ini menandai kuatnya daya saing atlet Indonesia dalam persaingan internasional, sekaligus menunjukkan konsistensi mereka menghadapi rangkaian kejuaraan dengan tingkat kompetisi yang tinggi.

Peringkat dunia tersebut dihitung berdasarkan akumulasi poin yang diperoleh para atlet dalam rangkaian kejuaraan internasional World Climbing sepanjang 2026. Setiap penampilan menjadi bagian dari penilaian, sehingga hasil di berbagai kompetisi berkontribusi terhadap posisi akhir dalam klasemen. Berada di tiga besar mencerminkan kemampuan atlet mengumpulkan poin secara konsisten, bukan hanya meraih hasil baik dalam satu kejuaraan. Posisi ini juga memperlihatkan bahwa atlet Indonesia mampu bersaing dengan pemanjat dari berbagai negara di panggung dunia.

Pelatih kepala tim nasional, Galar Pandu Asmoro, menyebut pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama banyak pihak. Menurutnya, kontribusi pengurus, pelatih, manajemen, atlet, dan para pemangku kepentingan saling melengkapi dalam mendukung perjalanan tim. Dukungan itu mencakup proses pembinaan, persiapan, pendampingan, hingga partisipasi dalam kompetisi internasional. Keberhasilan Putra, Desak, dan Robby karena itu tidak hanya mencerminkan kemampuan individu, tetapi juga kerja kolektif yang terbangun di lingkungan tim nasional. Dengan capaian tersebut, Indonesia memiliki modal penting untuk menjaga konsistensi prestasi dan memperkuat persaingan pada kejuaraan berikutnya. Perjalanan mereka sepanjang musim menjadi gambaran bahwa persiapan terarah dan dukungan lintas unsur dapat membantu atlet mencapai hasil di tingkat tertinggi. Peringkat itu sekaligus memberi tolok ukur bagi evaluasi dan pengembangan program menuju agenda internasional mendatang.Srondeng menorehkan hasil menonjol pada kategori lead putra dengan menempati peringkat kedua dunia. Ia mengumpulkan 3.370 poin, sebuah capaian yang menempatkannya di atlet-atlet teratas dalam pemeringkatan tersebut. Posisi ini menunjukkan bahwa performanya berada pada tingkat kompetitif dalam disiplin lead, yang menuntut pemanjat mengatasi jalur panjang dan teknis dengan ketahanan serta ketepatan gerak.

Peringkat pertama kategori lead putra ditempati Neo Suzuki dari Jepang dengan total 4.405 poin. Selisih poin tersebut menempatkan Suzuki di puncak, sementara Srondeng menjaga posisi kedua. Di urutan ketiga, Alberto Gines Lopez dari Spanyol mencatat 3.340 poin, hanya terpaut 30 poin dari Srondeng. Kedekatan angka ini memperlihatkan persaingan ketat di jajaran teratas, terutama posisi kedua dan ketiga.

Hasil serupa juga diraih Desak Made pada kategori speed putri. Ia berada di peringkat kedua dunia dengan 3.370 poin. Dalam nomor speed, atlet berpacu menyelesaikan jalur standar dalam waktu sesingkat mungkin, sehingga kecepatan, konsistensi, dan eksekusi yang presisi menjadi unsur penting. Peringkat Desak Made menempatkannya sebagai salah satu atlet dengan hasil tertinggi dalam daftar kategori tersebut.

Emma Hunt dari Amerika Serikat memimpin klasemen speed putri dengan 3.656 poin. Sementara itu, Polina Khalkevych dari Ukraina menempati posisi ketiga dengan 3.075 poin. Dengan demikian, Desak Made berada di dua atlet tersebut dalam susunan tiga besar dunia. Capaian Srondeng dan Desak Made sama-sama berupa peringkat kedua, tetapi diraih pada kategori yang berbeda, yakni lead putra dan speed putri. Keduanya mencatat 3.370 poin menurut pemeringkatan yang disebutkan. Rincian ini menegaskan kehadiran pemanjat Indonesia di kelompok teratas dunia pada dua disiplin panjat tebing. Persaingan poin di masing-masing kategori juga menggambarkan bahwa posisi di podium pemeringkatan ditentukan oleh hasil yang berdekatan dan konsistensi para atlet.

Antasyafi Robby Al Hilmi mencatatkan 3.426 poin dan menempati posisi ketiga dunia pada kategori speed putra. Pencapaian tersebut menempatkannya di para atlet terbaik dalam klasemen global, sekaligus menunjukkan daya saing pemanjat Indonesia pada nomor yang mengandalkan kecepatan, kekuatan, dan ketepatan gerak. Dalam disiplin speed, atlet harus menuntaskan jalur standar secepat mungkin, sehingga konsistensi performa menjadi unsur penting untuk mengumpulkan hasil kompetitif. Posisi ketiga Antasyafi menjadi capaian menonjol bagi Indonesia karena ia berada di bawah dua atlet dengan perolehan poin lebih tinggi, tetapi tetap unggul atas banyak pesaing internasional. Angka 3.426 poin menggambarkan posisinya dalam persaingan dunia pada kategori tersebut.

Peringkat pertama ditempati Ryo Omasa dari Jepang dengan raihan 3.600 poin. Atlet Jepang itu berada 174 poin di atas Antasyafi, sementara Yicheng Zhao dari China menyusul di posisi kedua dengan 3.485 poin. Selisih Zhao dan Antasyafi tercatat 59 poin, sehingga jarak di keduanya relatif lebih dekat dibandingkan dengan pemuncak klasemen. Susunan tiga besar ini memperlihatkan persaingan lintas negara yang ketat dalam kategori speed putra. Omasa memimpin daftar, Zhao berada di urutan berikutnya, dan Antasyafi melengkapi posisi podium peringkat dunia berdasarkan poin yang tercantum. Perbandingan tersebut memberi gambaran jelas mengenai posisi atlet Indonesia di tengah persaingan para pemanjat elite dunia.

Capaian Indonesia tidak hanya terlihat melalui posisi Antasyafi. Raharjati Nursamsa juga masuk jajaran teratas dengan berada di peringkat keempat dunia, setelah mengumpulkan 3.005 poin. Ia terpaut 421 poin dari Antasyafi dan menambah kehadiran Indonesia di empat atlet teratas kategori speed putra. Dua nama dari Indonesia di posisi ketiga dan keempat menunjukkan bahwa atlet nasional mampu bersaing secara konsisten dalam daftar internasional. Hasil tersebut menjadi tolok ukur penting bagi perkembangan panjat tebing Indonesia, khususnya nomor speed putra, sekaligus memberikan gambaran tentang tantangan yang masih perlu dihadapi untuk mengejar peringkat lebih tinggi. Dengan perolehan poin yang berbeda, Antasyafi dan Raharjati sama-sama memperkuat representasi Indonesia di tingkat dunia.

Galar menegaskan bahwa pencapaian tiga pemanjat tebing Indonesia di jajaran tiga besar dunia tidak boleh membuat tim cepat berpuas diri. Hasil tersebut menjadi dorongan untuk bekerja lebih terarah, sekaligus pengingat bahwa persaingan internasional akan terus berkembang. Karena itu, tim telah menyiapkan strategi untuk menghadapi rangkaian kejuaraan pada tahun berikutnya, dengan menjaga konsistensi latihan dan kesiapan atlet dalam setiap kompetisi.

Menurut Galar, pekerjaan besar yang menanti pada 2027 adalah meloloskan atlet Indonesia agar dapat merebut kuota Olimpiade Los Angeles 2028. Target itu membutuhkan persiapan sejak dini dan upaya berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan hasil yang telah diraih pada musim sebelumnya. Tim perlu memanfaatkan setiap kejuaraan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi performa dan memperkuat kesiapan menghadapi tahapan kualifikasi. Dengan fokus pada proses tersebut, pencapaian saat ini diharapkan dapat menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Desak Made menyambut hasil yang diraih dengan rasa senang. Ia juga mengaku menikmati kompetisi sepanjang 2026, yang memberinya kesempatan untuk terus bertanding dan menguji kemampuan. Meski demikian, ia tidak menganggap pencapaian tersebut sebagai alasan untuk berhenti berkembang. Desak bertekad terus mengasah kemampuannya karena memperkirakan persaingan pada musim-musim mendatang akan semakin ketat.

Ke depan, Desak berharap dapat terus membela Indonesia di berbagai ajang internasional dan menjaga performa agar tetap kompetitif. Ia juga menyimpan harapan untuk lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028, kemudian berjuang meraih medali emas. Harapan itu menjadi motivasi untuk menjalani persiapan dengan serius, sembari mengikuti arahan tim dan mengambil pelajaran dari setiap kompetisi.

Fokus Galar pada agenda kualifikasi dan tekad Desak menunjukkan bahwa keberhasilan di peringkat dunia merupakan bagian dari perjalanan yang lebih panjang.

Baca juga: Lompatan Ranking FIFA Timnas Indonesia di Era Erick Thohir: Tiga Pelatih, Naik 31 Peringkat | Aduan Resmi Masuk Polresta Tuban, Dugaan Pemerasan Libatkan Tiga Instansi Disorot