Jakarta | Danantara Indonesia tengah mengkaji dua jalur investasi untuk mengembangkan industri tekstil nasional: mengambil alih perusahaan yang sudah beroperasi atau membangun pabrik baru dari awal. Kedua opsi tersebut memberi pendekatan berbeda untuk memperkuat kapasitas produksi. Akuisisi dapat memanfaatkan fasilitas dan tenaga kerja yang telah tersedia, sedangkan pembangunan pabrik memungkinkan investasi dirancang sesuai kebutuhan industri dan strategi jangka panjang.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan pilihan itu setelah memberikan paparan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta pada Senin. Ia menyampaikan bahwa keputusan investasi masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk kondisi perusahaan yang berpotensi diambil alih dan kebutuhan kapasitas produksi tekstil di dalam negeri.
Opsi akuisisi dapat mencakup perusahaan yang sedang mengalami kesulitan usaha. Dalam situasi tertentu, penghentian produksi berisiko membuat perusahaan mengurangi jumlah pekerja. Pengambilalihan, karena itu, bukan hanya persoalan memperoleh aset atau melanjutkan kegiatan produksi. Langkah tersebut juga dapat menjadi upaya menjaga keberlangsungan operasi dan pekerjaan, selama perusahaan memiliki prospek untuk dipulihkan.
Namun, pembelian perusahaan yang sedang bermasalah tidak otomatis membuat operasinya sehat. Danantara perlu menilai penyebab kesulitan, kebutuhan modal, kondisi fasilitas, serta peluang pasar sebelum mengambil keputusan. Jika akuisisi dilakukan, pembenahan model bisnis perlu menjadi bagian dari rencana. Perusahaan harus memiliki arah usaha yang lebih jelas, proses produksi yang efektif, dan dasar keuangan yang mendukung keberlanjutan kegiatan. Tanpa perbaikan menyeluruh, pengambilalihan berisiko hanya menunda persoalan yang sudah ada.
Pembangunan pabrik dari awal tetap menjadi alternatif yang dipertimbangkan. Pilihan ini dapat memberi ruang untuk menyiapkan fasilitas, teknologi, dan kapasitas sesuai sasaran investasi, meskipun membutuhkan perencanaan serta waktu sebelum produksi berjalan. Kedua jalur tersebut pada akhirnya dapat mendukung penguatan kapasitas produksi tekstil nasional dengan cara berbeda. Penilaian atas kelayakan, dampak terhadap pekerja, dan keberlanjutan usaha akan menentukan pendekatan yang paling sesuai bagi Danantara.
Kemungkinan Danantara mengakuisisi PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex masih berada dalam tahap evaluasi. Dony menyatakan bahwa proses penelaahan belum menghasilkan keputusan final mengenai apakah perusahaan tekstil tersebut akan diambil alih. Karena itu, pembahasan tentang Sritex perlu ditempatkan sebagai bagian dari pertimbangan investasi yang sedang berjalan, bukan sebagai tanda bahwa transaksi telah disepakati atau akan segera dilakukan. Sampai ada pengumuman resmi, belum dapat dipastikan bentuk maupun hasil akhir langkah yang mungkin ditempuh.
Dony juga menegaskan bahwa hasil proses tersebut nantinya akan terbuka untuk diketahui. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perkembangan evaluasi akan disampaikan ketika prosesnya telah memberikan kejelasan, tanpa mendahului keputusan yang belum diumumkan. Bagi publik, pendekatan itu penting agar informasi mengenai rencana terhadap Sritex tidak disimpulkan secara berlebihan. Evaluasi sebuah perusahaan dapat mencakup berbagai pertimbangan, tetapi rincian maupun kesimpulannya tidak sepatutnya dianggap sebagai keputusan sebelum disampaikan secara resmi oleh pihak terkait.
Pertimbangan terhadap Sritex juga berkaitan dengan arah investasi Danantara di sektor padat karya. Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu hal utama dalam menilai pilihan investasi, termasuk ketika membandingkan kemungkinan mengambil alih perusahaan yang sudah beroperasi dengan membangun fasilitas baru. Industri tekstil memiliki hubungan langsung dengan kegiatan produksi dan kebutuhan pekerja, sehingga dampak terhadap lapangan kerja menjadi aspek yang relevan dalam penilaian. Namun, pentingnya aspek tersebut tidak dengan sendirinya memastikan bahwa akuisisi Sritex akan dipilih. Danantara tetap perlu menimbang kelayakan investasi dan berbagai faktor lain sebelum menentukan langkah.
Dengan demikian, posisi saat ini adalah evaluasi masih berlangsung dan hasilnya belum ditetapkan. Publik dapat menunggu penjelasan lebih lanjut mengenai keputusan yang akan diambil, sembari membedakan kemungkinan yang sedang dikaji dan keputusan yang benar-benar telah diumumkan. Keterbukaan hasil evaluasi nantinya diharapkan memberi kejelasan mengenai pertimbangan Danantara, termasuk bagaimana penciptaan atau perlindungan lapangan kerja ditempatkan dalam strategi pengembangan industri tekstil. Hingga saat itu, belum ada dasar untuk menyatakan Sritex pasti akan diakuisisi.
Rencana pengembangan industri tekstil yang dipertimbangkan Danantara diarahkan pada rantai produksi secara menyeluruh, bukan hanya pada pembuatan produk jadi. Pendekatan ini mencakup kegiatan hulu, menengah, hingga hilir, sehingga setiap tahapan dapat diperhatikan sebagai bagian dari satu ekosistem industri. Dengan cakupan tersebut, pengembangan tidak berhenti pada proses menjahit atau menghasilkan pakaian, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan bahan baku, pengolahan, serta tahap produksi dan distribusi berikutnya.
Penataan rantai dari hulu hingga hilir ditujukan untuk memperkuat kemampuan produksi di dalam negeri. Ketersediaan kegiatan pada berbagai tahapan dapat membantu industri mengurangi ketergantungan pada pasokan luar, sekaligus mendorong keterhubungan pelaku usaha dan fasilitas produksi domestik. Penguatan tersebut juga membuka peluang agar nilai tambah dari proses industri dapat lebih banyak tercipta di Indonesia. Namun, bentuk pengembangan dan tahapan pelaksanaannya masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan saat pembangunan industri dimulai.
Pasar domestik menjadi salah satu pertimbangan dalam pendekatan tersebut. Dony menyebut Indonesia memiliki penduduk hampir 300 juta orang, sehingga kebutuhan dalam negeri dinilai dapat menjadi pasar yang besar bagi produk tekstil. Pemanfaatan pasar ini berjalan seiring dengan upaya memperkuat kapasitas produksi nasional. Dengan demikian, rencana industri tidak hanya mempertimbangkan peluang penjualan, tetapi juga kemampuan untuk memenuhi permintaan melalui produksi di dalam negeri.
Selain tekstil, Danantara juga menyasar industri alas kaki dan elektronik. Kedua sektor itu dinilai memiliki potensi untuk menciptakan banyak lapangan kerja serta memberikan manfaat bagi perekonomian nasional. Pilihan sektor tersebut mencerminkan perhatian pada industri yang dapat mendukung kegiatan produksi dan penyerapan tenaga kerja dalam skala luas. Meski demikian, besaran investasi untuk pengembangan industri tekstil belum ditetapkan. Nilainya akan bergantung pada kebutuhan yang muncul ketika pembangunan industri mulai dilakukan, termasuk cakupan kegiatan dan fasilitas yang akan dikembangkan. Karena itu, keputusan investasi belum dapat dipastikan sebelum kebutuhan operasional dan rencana pembangunan lebih terperinci.Pada 24 Oktober 2026, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan bahwa pemerintah masih berkoordinasi dengan Danantara mengenai rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil. Pembahasan tersebut mencakup pilihan untuk mengambil alih perusahaan yang sudah tidak berproduksi, sebagai salah satu cara mengembangkan kembali kapasitas industri. Opsi akuisisi itu masih menjadi bagian dari koordinasi, sehingga belum dipaparkan sebagai keputusan akhir. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kebutuhan investasi dan kondisi perusahaan sebelum menentukan langkah yang akan ditempuh. Dengan demikian, arah pengembangan BUMN tekstil akan bergantung pada pembahasan lebih lanjut kementerian dan Danantara.
Sarmuji menekankan bahwa penguatan industri tidak cukup hanya dilakukan melalui pembentukan perusahaan atau pengambilalihan aset. Modernisasi mesin dan penerapan teknologi produksi terbaru dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki kemampuan operasional, serta membantu perusahaan bersaing di pasar global. Pembaruan peralatan dapat menjadi perhatian baik jika pemerintah memilih mengambil alih perusahaan yang berhenti beroperasi maupun jika pengembangan dilakukan melalui fasilitas baru. Upaya tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan membangun industri yang mampu menghasilkan produk secara efisien dan merespons persaingan internasional. Koordinasi pemerintah dan Danantara karena itu mencakup pilihan kelembagaan sekaligus kebutuhan pembaruan teknologi.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan target tenaga kerja industri tekstil dan produk tekstil meningkat dari 3,95 juta orang pada 2026 menjadi 4,07 juta orang pada 2029. Kenaikan sekitar 120 ribu orang itu menggambarkan sasaran perluasan penyerapan tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang.






