Kabupaten Sumbawa | Museum Negeri Nusa Tenggara Barat bersama Museum Bala Datu Ranga mendapat undangan resmi untuk menjadi pembicara dalam konferensi internasional ICOM CECA 2026. Undangan ini memberi ruang bagi kedua museum untuk memperkenalkan pengalaman dan gagasan pengembangan museum berbasis komunitas kepada peserta dari berbagai negara. Kehadiran mereka juga menempatkan inisiatif museum desa dari NTB dalam percakapan yang lebih luas mengenai peran museum di tengah perubahan sosial. Melalui forum tersebut, para pembicara dapat berbagi pendekatan yang berangkat dari kehidupan warga, sekaligus mendengarkan praktik dan pandangan dari komunitas museum internasional. Partisipasi ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa pengelolaan museum tidak hanya berlangsung di lembaga besar, tetapi juga dapat tumbuh dekat dengan keseharian masyarakat. Gagasan yang dibawa berfokus pada keterlibatan warga sebagai bagian penting dari proses mengenali, merawat, dan menceritakan warisan setempat.
Dalam konferensi itu, kedua museum akan mengangkat program “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”, sebuah gagasan untuk mengembangkan museum desa. Program ini mendorong lingkungan tempat warga hidup agar dipahami sebagai ruang yang menyimpan sejarah, pengetahuan, kebudayaan, dan ingatan bersama. Museum desa tidak semata-mata dimaknai sebagai bangunan atau tempat untuk memajang koleksi. Konsepnya mencakup hubungan masyarakat, ruang hidup, serta beragam cerita lokal yang diwariskan dan terus berkembang. Dengan cara pandang tersebut, warga dapat berperan dalam menentukan apa yang perlu dirawat dan bagaimana kisah kampung disampaikan kepada generasi berikutnya maupun pengunjung. Gagasan ini juga membuka peluang agar museum menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan institusi yang terasa jauh dari masyarakat. Membawa pendekatan tersebut ke forum internasional memungkinkan pengalaman NTB diperkenalkan sekaligus dibahas bersama peserta konferensi.
Konferensi ICOM CECA 2026 mengusung tema “Museums in Divided Times: How to Foster Dialogue, Care and a Sense of Belonging”. Tema ini menyoroti peran museum dalam mendorong dialog, kepedulian, dan rasa memiliki ketika masyarakat menghadapi perbedaan maupun keterbelahan. Pengembangan museum desa dinilai selaras dengan pembahasan tersebut karena berangkat dari keterlibatan komunitas dan penghargaan terhadap cerita lokal. Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menyampaikan bahwa program “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” menarik perhatian penyelenggara. Perhatian itu menjadi salah satu latar hadirnya undangan resmi kepada Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dan Museum Bala Datu Ranga sebagai pembicara. Menurut Nuralam, kesempatan ini penting untuk menyampaikan gagasan yang tumbuh dari konteks lokal kepada audiens internasional. Melalui pemaparan program, kedua museum diharapkan dapat berbagi perspektif mengenai kemungkinan museum desa dalam memperkuat hubungan warga dengan sejarah, budaya, dan lingkungan mereka. Undangan tersebut sekaligus menjadi pengakuan atas relevansi gagasan itu dalam diskusi tentang peran museum masa kini.
Kesempatan Museum NTB untuk tampil di forum internasional komite museum dunia dipandang sebagai pengakuan atas gagasan yang telah dikembangkan selama empat tahun terakhir. Pengakuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hadirnya museum dalam ruang pertemuan lintas negara, tetapi juga memberi perhatian pada pendekatan yang menjadi dasar program. Dalam kerangka itu, pengalaman Museum NTB menunjukkan bahwa pengembangan museum dapat dibicarakan melalui hubungan lembaga, warisan budaya, dan kehidupan warga. Gagasan yang dibawa berangkat dari upaya memperluas jangkauan museum, sehingga keberadaannya tidak dipahami sebatas ruang koleksi yang dikunjungi sesekali. Kesempatan berbagi di forum tersebut sekaligus menempatkan proses empat tahun itu sebagai bagian penting dari pembicaraan mengenai cara museum hadir di tengah masyarakat.
Tujuan pendekatan tersebut adalah mendekatkan museum dengan masyarakat melalui pembentukan museum desa. Dengan cara ini, gagasan tentang museum diarahkan agar hadir lebih dekat dengan kehidupan warga, bukan hanya berada sebagai lembaga yang terpisah dari lingkungan tempat masyarakat tinggal. Museum desa menjadi bentuk yang menghubungkan kerja permuseuman dengan komunitas di tingkat desa. Penekanan pada kedekatan ini menjadi inti dari program yang dikembangkan Museum NTB selama empat tahun. Program tersebut memandang warga sebagai bagian penting dalam upaya menghadirkan museum, sementara museum menjadi ruang yang dapat berhubungan dengan masyarakat di sekitarnya. Melalui pembentukan museum desa, pendekatan itu berupaya memperluas kehadiran museum di tengah warga. Arah tersebut menjadi gagasan yang dibawa untuk diperkenalkan dalam forum internasional.
Pengembangan program ini berlangsung dalam konteks NTB yang memiliki jumlah museum relatif terbatas. Keterangan mengenai kondisi tersebut memberi latar bagi upaya Museum NTB untuk mengembangkan pendekatan yang berorientasi pada pembentukan museum desa. Dengan jumlah museum yang relatif sedikit, gagasan mendekatkan museum kepada masyarakat menjadi bagian dari pembicaraan mengenai pengembangan permuseuman di wilayah tersebut. Namun, program ini tidak sekadar membahas jumlah lembaga. Fokusnya juga terletak pada cara museum dapat hadir lebih dekat dengan warga melalui bentuk yang sesuai dengan tujuan pendekatan itu. Karena itu, kesempatan untuk menyampaikan gagasan tersebut di forum internasional dipandang sebagai pengakuan atas kerja pengembangan selama empat tahun, sekaligus ruang untuk memperkenalkan tujuan pembentukan museum desa sebagai cara mendekatkan museum dengan masyarakat NTB.
Peta permuseuman di Nusa Tenggara Barat memperlihatkan perbedaan museum yang berada di tingkat kabupaten atau kota dan inisiatif museum desa. NTB tercatat memiliki lima museum dalam kategori yang disebutkan untuk tingkat daerah. Di luar itu, terdapat sembilan museum desa yang berpusat di Pulau Lombok. Angka-angka tersebut menggambarkan dua perkembangan yang berjalan berdampingan: keberadaan museum daerah yang masih terbatas dan tumbuhnya ruang pelestarian berbasis komunitas. Museum desa memberi tempat bagi warga untuk merawat serta memperkenalkan sejarah, tradisi, dan identitas lokal dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Persebaran museum desa di Lombok menjadi penting karena pulau ini belum memiliki museum tingkat kabupaten maupun kota. Dengan demikian, inisiatif di tingkat desa mengisi ruang yang belum terjangkau lembaga permuseuman daerah, sekaligus menghadirkan pendekatan yang berangkat dari kebutuhan masyarakat setempat. Nuralam menilai gagasan museum desa di Indonesia menarik perhatian karena memiliki orisinalitas dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Model tersebut menunjukkan bahwa museum tidak harus selalu hadir sebagai institusi besar di pusat perkotaan; warga dapat mengelola ruang yang merekam pengetahuan, benda, dan cerita dari lingkungan mereka sendiri. Karakter inilah yang membuat praktik museum desa memiliki daya tarik lebih luas.
Berbeda dengan Lombok, Pulau Sumbawa memiliki empat museum: dua berada di Kabupaten Sumbawa dan dua lainnya di Kota Bima. Data ini memperlihatkan bahwa lembaga museum di Sumbawa tersebar pada dua wilayah administratif, sedangkan di Lombok perhatian terhadap permuseuman dalam konteks ini berpusat pada inisiatif desa. Pengembangan museum desa juga memperoleh dukungan melalui program nasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan program tersebut pada 7 Januari 2025, sehari setelah menghadiri peresmian Museum Desa Genggelang di Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Urutan kegiatan itu menghubungkan praktik lokal di Genggelang dengan agenda yang lebih luas, serta menempatkan Lombok sebagai salah satu titik penting dalam pengembangan museum berbasis masyarakat di Indonesia.
Nuralam berharap keikutsertaan dalam ICOM CECA dapat memperluas pengenalan Museum NTB di tingkat internasional. Melalui forum tersebut, museum daerah berkesempatan menunjukkan pendekatan, program, dan pengalaman yang tumbuh dari konteks lokal kepada komunitas museum lintas negara. Pengenalan ini penting agar kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat tidak hanya hadir sebagai koleksi atau informasi bagi pengunjung setempat, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan global mengenai peran museum dalam masyarakat.
Selain memperkuat visibilitas partisipasi itu.






