Jakarta | Karies pada anak bukan sekadar persoalan gigi, sebab rasa sakit yang ditimbulkannya dapat membuat anak sulit makan. Ketika mengunyah terasa nyeri, anak mungkin menolak makanan atau tidak menghabiskan porsi yang disediakan. Kondisi ini penting diperhatikan orang tua karena dapat memengaruhi kenyamanan anak dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Gigi berlubang yang tampak kecil pun tidak sepatutnya diabaikan, terutama jika keluhan sakit muncul atau mulai mengganggu aktivitas. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan gigi dapat membantu orang tua memahami kondisi gigi anak dan menentukan langkah yang sesuai. Perhatian terhadap kesehatan mulut sejak usia dini juga penting karena karies dapat muncul jauh sebelum anak memasuki usia sekolah.
Menurut Ketua Umum PB PDGI, dokter gigi Usman Sumantri, data Survei Kesehatan Nasional menunjukkan sekitar 82,2 persen masyarakat mengalami karies. Sementara itu, sekitar 17–18 persen terbebas dari gigi berlubang. Usman menyampaikan angka tersebut dalam acara peluncuran Indonesia Dental Exhibition and Conference (IDEC) 2027 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Ia juga mengatakan bahwa karies telah ditemukan pada anak sejak usia 3 tahun. Keterangan tersebut menegaskan bahwa masalah gigi berlubang dapat dialami sejak usia yang sangat dini, sehingga kesehatan gigi anak perlu menjadi perhatian keluarga.
Temuan karies pada anak berusia 3 tahun menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan gigi permanen atau anak yang lebih besar. Orang tua dapat mencermati keluhan, perubahan kebiasaan makan, maupun tanda gigi berlubang, lalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan gigi. Langkah tersebut relevan terutama ketika rasa sakit membuat anak kesulitan makan. Data yang disampaikan Usman memberi konteks mengenai luasnya masalah karies di Indonesia, sementara temuan pada usia dini mengingatkan bahwa anak pun dapat mengalaminya. Menanggapi keluhan sejak awal membantu keluarga memperoleh penilaian profesional, tanpa menunggu rasa sakit atau gangguan makan semakin terasa. Dengan perhatian yang tepat, kebutuhan kesehatan gigi anak dapat ditangani secara lebih terarah.
Gigi berlubang bukan hanya menimbulkan masalah pada gigi dan mulut. Ketika karies berkembang, rasa sakit atau ngilu dapat muncul saat anak menggigit dan mengunyah makanan. Akibatnya, kegiatan makan yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi dapat terasa tidak nyaman. Sebagian anak mungkin memilih makanan yang lebih lunak, menghindari jenis makanan tertentu, makan lebih sedikit, atau berhenti sebelum porsi yang disediakan habis. Perubahan ini dapat luput dari perhatian apabila orang tua hanya melihat bahwa anak masih makan, tanpa memperhatikan jumlah dan ragam makanan yang dikonsumsinya.
Menurut Usman, anak usia 3–12 tahun rentan enggan makan ketika mengalami sakit atau ngilu akibat karies. Rasa tidak nyaman tersebut dapat membuat anak menolak makanan, terutama makanan yang perlu dikunyah lebih kuat. Jika kondisi berlangsung berulang, asupan harian berisiko tidak mencukupi kebutuhan anak yang sedang tumbuh. Dampaknya tidak selalu terlihat seketika, tetapi pola makan yang terganggu dalam waktu lama dapat menyulitkan anak memperoleh nutrisi secara optimal. Karena itu, keluhan sakit gigi perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor yang mungkin memengaruhi kebiasaan makan, bukan dianggap sekadar gangguan sementara yang akan hilang dengan sendirinya.
Apabila kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara optimal dalam jangka panjang, risiko kekurangan gizi dapat meningkat dan pertumbuhan anak berpotensi terhambat. Usman juga menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko stunting dalam kaitannya dengan kurangnya asupan gizi. Hal ini tidak berarti karies pasti menyebabkan stunting; pertumbuhan dipengaruhi oleh beragam faktor, dan hubungan tersebut perlu dipahami secara cermat. Namun, nyeri yang mengurangi asupan makanan merupakan alasan penting untuk menangani gigi berlubang sedini mungkin. Orang tua dapat memperhatikan tanda seperti anak mengunyah pada satu sisi, menghindari makanan tertentu, makan lebih lambat, atau mengeluhkan ngilu. Pemeriksaan dan perawatan gigi, disertai upaya menjaga pola makan seimbang, membantu mengurangi gangguan saat makan serta mendukung pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Masa pergantian gigi merupakan tahap penting yang perlu diperhatikan orang tua, karena kondisi gigi anak pada periode ini dapat memengaruhi susunan gigi permanen. Menurut Usman, gigi susu umumnya mulai tumbuh ketika anak berusia sekitar enam bulan. Selanjutnya, gigi permanen pertama biasanya muncul pada usia kurang lebih enam tahun. Perubahan ini berlangsung bertahap, sehingga pemeriksaan dan perawatan gigi tetap diperlukan meskipun sebagian gigi anak masih berupa gigi susu.
Salah satu gigi permanen yang perlu mendapat perhatian khusus adalah geraham permanen pertama. Gigi ini biasanya tumbuh di bagian belakang, tanpa menggantikan gigi susu yang telah tanggal. Jumlahnya ada empat, masing-masing berada di sisi kanan dan kiri pada rahang atas dan bawah. Geraham permanen pertama kerap disebut gigi kunci karena menjadi acuan bagi susunan gigi permanen lainnya. Letak dan fungsinya membantu membentuk hubungan gigitan yang baik ketika gigi-gigi lain tumbuh.
Karena perannya tersebut, kerusakan pada geraham permanen pertama tidak hanya berdampak pada gigi itu sendiri. Jika kerusakan cukup parah atau gigi harus dicabut, ruang yang ditinggalkan dapat membuat gigi lain bergeser. Pergeseran tersebut berpotensi mengganggu susunan gigi dan membuatnya tumbuh tidak teratur. Dampaknya dapat muncul seiring proses pergantian gigi, yang umumnya berlangsung hingga anak berusia sekitar 12–13 tahun. Oleh sebab itu, keluhan pada geraham, seperti lubang, nyeri, atau kesulitan mengunyah, sebaiknya tidak diabaikan. Orang tua dapat membawa anak untuk diperiksa agar kondisi gigi diketahui dan pilihan perawatan dibahas sebelum kerusakan bertambah berat. Menjaga kebersihan gigi, membiasakan anak menyikat gigi dengan benar, serta melakukan pemeriksaan secara berkala merupakan langkah yang membantu melindungi gigi permanen sejak awal pertumbuhannya. Perhatian pada masa ini penting agar pergantian gigi berjalan lebih baik dan risiko perubahan susunan gigi dapat dikurangi.Karies pada anak tidak muncul tanpa sebab. Kebersihan gigi yang belum terjaga, kebiasaan malas menyikat gigi, dan kurangnya perhatian terhadap perawatan mulut dapat membuat gigi lebih rentan mengalami kerusakan. Karena anak belum selalu mampu memahami pentingnya menjaga gigi atau melakukannya dengan benar, peran orang tua dibutuhkan dalam membentuk kebiasaan sehari-hari. Rutinitas menyikat gigi yang tidak teratur, misalnya, dapat menyisakan kotoran pada permukaan gigi dan memperbesar risiko terbentuknya lubang.
Usman mengingatkan bahwa sebagian orang tua masih menganggap gigi berlubang pada anak sebagai hal biasa. Anggapan tersebut dapat membuat masalah terlambat dikenali dan ditangani. Padahal, kerusakan gigi pada masa kanak-kanak bukan sekadar persoalan penampilan atau rasa tidak nyaman. Kondisi itu dapat memengaruhi kesehatan anak dan berpotensi mengganggu tumbuh kembangnya. Oleh sebab itu, keluhan maupun tanda kerusakan sebaiknya tidak dibiarkan sampai bertambah parah. Perhatian sejak awal membantu orang tua mengetahui kondisi gigi anak dan mengambil langkah yang sesuai.
Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Orang tua sebaiknya mendampingi anak menyikat gigi secara rutin, memastikan kegiatan tersebut dilakukan dengan teliti, sekaligus memberi contoh perilaku menjaga kebersihan mulut. Konsumsi makanan manis juga perlu dibatasi sebagai bagian dari upaya merawat kesehatan gigi. Selain itu, jadwalkan pemeriksaan gigi secara berkala, bukan hanya ketika anak mengeluhkan sakit. Pemeriksaan rutin memungkinkan masalah diketahui lebih dini, termasuk ketika anak belum menyadari adanya perubahan pada giginya. Dengan keterlibatan orang tua yang konsisten, perawatan gigi dapat menjadi bagian dari rutinitas anak, bukan tindakan yang baru dilakukan setelah muncul rasa sakit.
Baca juga: Gambut Jadi Medan Tempur, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Pantang Pulang Sebelum Bara Terkendali | Warga juga mengejar Pimpinan Proyek bernama Heri sebelum diamankan polisi






