Jakarta | Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David E. Sumual, menilai konsumsi masyarakat Indonesia memperlihatkan gejala perlambatan. Penilaian tersebut merujuk pada perkembangan belanja yang tercatat dalam data sekitar 34 juta nasabah bank. Berdasarkan indikator itu, pertumbuhan belanja tahunan pada September 2026 mencapai 1,4 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 1,8 persen pada Agustus 2026. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa laju kenaikan belanja dalam pengamatan terbaru lebih kecil daripada sebulan sebelumnya.
David juga menyebut kecenderungan belanja selama kuartal III-2026 melambat. Dengan demikian, angka September tidak berdiri sendiri dalam penjelasannya, melainkan sejalan dengan pola belanja yang diamati sepanjang kuartal tersebut. Meski begitu, indikator yang disampaikan menggambarkan perkembangan pada kelompok nasabah yang tercakup dalam data, bukan ukuran yang dengan sendirinya mewakili seluruh rumah tangga. Perbandingan antarbulan dan kecenderungan kuartalan menjadi dasar untuk membaca arah perubahan aktivitas belanja dalam cakupan data itu.
Selain data transaksi belanja, David menyoroti tren pendapatan masyarakat yang diukur melalui BCA Income Index. Menurutnya, indeks tersebut juga cenderung menurun. Pergerakan indeks pendapatan ini memberi konteks tambahan terhadap perubahan belanja, tetapi tidak mengubah batas cakupan indikator yang digunakan. Data yang dipaparkan mencakup pertumbuhan belanja tahunan dan arah indeks pendapatan; karena itu, keduanya perlu dibaca sesuai periode dan ukuran masing-masing. Angka pertumbuhan September sebesar 1,4 persen, misalnya, merupakan perubahan tahunan, sedangkan pembanding Agustus sebesar 1,8 persen juga merujuk pada pertumbuhan tahunan. Pernyataan mengenai perlambatan kuartal III-2026 menggambarkan kecenderungan yang disampaikan ekonom berdasarkan pengamatan tersebut. Data ini menunjukkan gejala perlambatan dalam indikator belanja yang dipaparkan, sementara tren BCA Income Index mengarah turun. Informasi itu menjadi gambaran terbatas mengenai dinamika belanja dan pendapatan menurut indikator yang tersedia, tanpa menjadi dasar untuk menarik kesimpulan lebih luas tentang keadaan seluruh perekonomian atau seluruh masyarakat Indonesia.
Efek lipstik menggambarkan pola konsumsi ketika orang tetap menginginkan barang yang terasa mewah atau memberi kepuasan, tetapi menyesuaikan pilihan dengan kemampuan belanja. Alih-alih membeli produk berukuran besar atau berharga tinggi, konsumen dapat memilih versi kecil yang lebih terjangkau. Dengan demikian, keinginan untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan tidak sepenuhnya hilang, tetapi diwujudkan melalui pengeluaran yang lebih terbatas. Istilah ini bukan berarti pembelian selalu berupa kosmetik atau lipstik; ia merujuk pada kecenderungan membeli barang tertentu yang memberi rasa senang, meski kondisi keuangan mendorong konsumen untuk lebih berhati-hati. Ukuran dan harga menjadi pertimbangan utama dalam keputusan tersebut.
David menjelaskan bahwa fenomena seperti ini dapat muncul ketika perekonomian sedang menurun. Dalam situasi tersebut, masyarakat mungkin menunda pembelian besar, mengurangi belanja untuk barang mahal, atau lebih cermat mengatur anggaran. Namun, sebagian produk yang relatif murah dan menawarkan kepuasan tetap bisa diminati. Pilihan tersebut dapat menjadi cara konsumen mempertahankan pengalaman konsumsi tertentu tanpa menanggung biaya sebesar pembelian premium. Pola ini menunjukkan perubahan pada jenis, ukuran, atau nilai belanja, bukan hilangnya seluruh permintaan. Karena itu, minat terhadap produk tertentu masih mungkin bertahan meskipun konsumen secara umum menghadapi tekanan ekonomi dan lebih selektif dalam membelanjakan uang.
Pandangan itu disampaikan David dalam Business Outlook 2027 yang disiarkan secara virtual. Ia mengaitkan efek lipstik dengan kemungkinan bahwa beberapa sektor tetap mendapat dukungan dari permintaan konsumen, walaupun indikator daya beli menunjukkan sinyal negatif. Kedua hal tersebut tidak harus saling bertentangan: konsumen dapat mengurangi belanja secara keseluruhan sambil tetap membeli produk tertentu dalam ukuran kecil atau dengan harga yang lebih ramah anggaran. Fenomena ini sebaiknya dipahami secara terbatas, sebagai gambaran mengenai respons dan prioritas belanja pada kategori tertentu. Efek lipstik bukan bukti bahwa daya beli seluruh masyarakat kuat, maupun kesimpulan bahwa semuanya lemah. Kondisi rumah tangga dan pilihan produk dapat berbeda-beda.
Di tengah belanja rumah tangga yang melambat, David menilai sejumlah sektor masih memiliki prospek karena berkaitan dengan kebutuhan yang tetap dicari konsumen atau memberikan nilai emosional. Kecantikan dan perawatan diri menjadi salah satu contoh yang paling dekat dengan fenomena efek lipstik: konsumen dapat menahan pembelian besar, tetapi tetap memilih pengeluaran yang lebih terjangkau untuk menjaga penampilan dan kenyamanan. Di luar itu, teknologi serta industri kreatif dan media digital juga termasuk bidang yang dinilai menarik. Aktivitas digital membuka ruang bagi beragam layanan dan produk, sementara konten kreatif dapat menjangkau konsumen melalui kanal daring.
Prospek juga terlihat pada barang konsumsi nonesensial, termasuk mebel dan dekorasi rumah. Meski pembelian barang berharga relatif tinggi bisa ditunda, kebutuhan untuk memperbaiki suasana hunian tetap menjadi pertimbangan sebagian konsumen. David turut menyebut subsektor keterampilan dan pendidikan nonformal, yang menawarkan kesempatan belajar di luar jalur pendidikan formal. Kebugaran, kesehatan mental, dan kesejahteraan juga masuk dalam daftar, seiring perhatian masyarakat terhadap kondisi fisik dan psikologis. Sementara itu, industri hewan peliharaan menjadi sektor lain yang dapat bertahan karena pengeluaran untuk hewan kerap dipandang sebagai bagian dari keseharian pemiliknya.
Selain sektor-sektor tersebut, arsitektur, desain interior, dan renovasi dinilai memiliki ruang untuk berkembang, terutama ketika konsumen ingin menata atau memperbarui hunian. Pariwisata dan rekreasi swasta juga masuk dalam daftar bidang yang masih berprospek, bersama layanan logistik khusus dan nonpangan. Ragam sektor ini menunjukkan bahwa peluang tidak hanya berada pada produk kecantikan, tetapi juga pada layanan, pengalaman, dan kebutuhan khusus yang tetap dipertahankan konsumen. David menyampaikan bahwa kinerja sektor-sektor tersebut terlihat cukup baik berdasarkan big data. Penilaian itu menggambarkan sinyal dari data yang diamati, bukan jaminan bahwa seluruh pelaku usaha di setiap sektor akan mencatat kinerja serupa. Prospek masing-masing bidang tetap dapat berbeda, bergantung pada karakter konsumen dan kondisi usaha.Berbeda dari pandangan ekonom David yang menilai perlambatan belanja mencerminkan tekanan pada sebagian konsumsi, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo membantah bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Pernyataan itu disampaikannya setelah bertemu Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di kantor pusat BPS, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Bantahan tersebut merupakan pandangan Dradjad dan tidak dapat disamakan dengan kesimpulan David mengenai perubahan pola belanja.
Dradjad mengatakan penilaiannya didasarkan pada sejumlah data BPS yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Namun, ia tidak merinci angka atau indikator tertentu yang menjadi landasan kesimpulan itu. Ia juga menyebut tidak semua data dapat dipublikasikan, sehingga publik belum memperoleh rincian lengkap untuk menilai dasar pernyataannya secara mandiri. Karena itu, keterangannya perlu dipahami sebagai penjelasan pemerintah tentang kondisi konsumsi, bukan sebagai uraian statistik terperinci yang menggantikan data resmi yang tersedia untuk umum.
Sebagai contoh aktivitas yang menurutnya masih berlangsung, Dradjad menyebut konsumsi untuk perjalanan, restoran, hotel, dan pariwisata. Ia juga menyoroti peningkatan transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Menurut Dradjad, perkembangan transaksi tersebut berkaitan dengan kegiatan konsumsi sekaligus peralihan pembayaran ke ruang digital. Dengan demikian, penggunaan QRIS dapat menunjukkan perubahan cara masyarakat bertransaksi, meski angka transaksi saja tidak serta-merta menjelaskan keseluruhan kondisi daya beli atau besaran belanja rumah tangga.
Perbedaan penilaian ini menunjukkan bahwa indikator konsumsi dapat dibaca dari sudut yang berlainan.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Kerahkan Sejumlah Alutsista Dukung Operasi SAR KM Virgo Transport 8 | Tim Alpha TNI Siaga Tangani Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia






