Edi Rama Bertahan di Tengah Enam Hari Unjuk Rasa di Tirana

Edi Rama Bertahan di Tengah Enam Hari Unjuk Rasa di Tirana

Jakarta | Perdana Menteri Albania Edi Rama menolak mundur ketika demonstrasi anti-pemerintah memasuki hari keenam di Tirana, ibu kota negara itu. Sikap tersebut disampaikan saat aksi dan bentrokan dengan polisi terus mengguncang kota sejak Selasa. Ketegangan yang berlarut-larut menempatkan pemerintah di bawah tekanan publik, tetapi Rama menegaskan bahwa demonstrasi tidak akan membuatnya meninggalkan jabatan. Pernyataannya muncul ketika para pengunjuk rasa tetap turun ke jalan dan perhatian tertuju pada respons pemerintah terhadap tuntutan mereka.

Dalam sebuah video berdurasi lebih dari satu jam, Rama menuding aksi tersebut merupakan ulah pihak luar. Ia menggambarkan demonstrasi sebagai sesuatu yang tidak semata-mata digerakkan oleh warga yang menyuarakan ketidakpuasan di dalam negeri. Tuduhan itu menjadi bagian penting dari tanggapannya terhadap gelombang protes, sekaligus menunjukkan bagaimana pemerintah memandang sumber kerusuhan. Namun, penolakan Rama untuk mundur juga memperjelas bahwa ia tidak menganggap aksi jalanan sebagai alasan untuk mengakhiri masa jabatannya.

Demonstrasi yang berlangsung selama enam hari itu disertai bentrokan pengunjuk rasa dan polisi, membuat situasi di Tirana tetap tegang. Aksi tersebut berpusat di ibu kota Albania dan tidak berkaitan dengan peristiwa di Indonesia. Perkembangan di jalanan memperlihatkan bahwa ketegangan politik belum mereda, sementara pernyataan Rama menandai sikap pemerintah yang bertahan di tengah tekanan. Dengan menuding keterlibatan pihak luar dan menolak mundur, perdana menteri mengambil posisi tegas ketika aksi anti-pemerintah terus berlangsung. Hari-hari protes dan bentrokan sejak Selasa menjadi latar bagi pertarungan tuntutan demonstran dan penegasan Rama bahwa ia tetap akan memimpin pemerintahan Albania.

Gelombang unjuk rasa di Tirana dipicu oleh kekecewaan mahasiswa terhadap kondisi universitas yang dinilai buruk, tingginya biaya kuliah, serta persoalan korupsi. Para demonstran menuntut pemerintah mengambil langkah nyata untuk memperbaiki fasilitas pendidikan dan membuat akses kuliah lebih terjangkau. Isu-isu tersebut kemudian berkembang menjadi kritik yang lebih luas terhadap pemerintah dan kepemimpinan Perdana Menteri Edi Rama.

Pada Minggu siang, ratusan orang berkumpul di depan Kementerian Pendidikan. Mereka meneriakkan tuntutan agar Rama mundur, menandakan bahwa aksi itu tidak lagi terbatas pada persoalan kampus. Suasana memanas ketika polisi berupaya membubarkan massa. Para demonstran berpencar menuju sejumlah titik di pusat kota, dan bentrokan berlangsung selama berjam-jam.

Di tengah ketegangan, tempat sampah dibakar dan sejumlah kaca dipecahkan. Kerusakan dilaporkan terjadi, termasuk di kantor pusat Partai Sosialis yang berkuasa. Aksi juga mencakup pembakaran kantor polisi serta pintu masuk Kementerian Dalam Negeri. Para demonstran melempar batu, bom molotov, dan perangkat piroteknik, sementara aparat berusaha mendorong massa menjauh dari lokasi-lokasi tersebut.

Polisi menggunakan peluru karet, gas air mata, dan meriam air untuk membubarkan para demonstran. Bentrokan yang menyebar di beberapa bagian pusat kota memperlihatkan eskalasi dari tuntutan awal mengenai pendidikan menjadi konfrontasi langsung massa dan aparat. Peristiwa itu berlangsung di tengah tekanan publik yang meminta pemerintah menanggapi persoalan universitas, biaya kuliah, dan korupsi. Meski aksi berpusat di Tirana, tuntutan yang disuarakan menyasar kebijakan pemerintah secara lebih luas, sementara seruan agar Rama mundur menambah dimensi politik pada unjuk rasa tersebut. Ketegangan di jalanan pun meningkat seiring upaya polisi mengendalikan kerumunan dan demonstran mempertahankan aksi mereka.

Kementerian Kesehatan Albania melaporkan bahwa kerusuhan pada Minggu mengakibatkan 28 orang terluka. Dari jumlah tersebut, 19 orang merupakan polisi, empat adalah demonstran, empat lainnya berada di sekitar lokasi kejadian, dan seorang korban merupakan jurnalis. Rincian ini menunjukkan bahwa dampak bentrokan tidak hanya dirasakan oleh aparat dan peserta unjuk rasa, tetapi juga oleh orang-orang yang berada di dekat area aksi. Ambulans berulang kali datang ke lokasi untuk mengevakuasi para korban luka dan membawa mereka mendapatkan penanganan medis. Kehadiran kendaraan darurat yang silih berganti menjadi salah satu gambaran situasi saat kekerasan berlangsung, sementara petugas berupaya menangani korban di tengah kondisi yang tidak menentu.

Dalam rangkaian kerusuhan tersebut, 16 polisi dilaporkan terluka. Sebanyak 14 di antaranya mengalami cedera ketika demonstran menyerang kantor polisi. Albert Nushi, pejabat Departemen Keamanan Publik kepolisian Albania, mengatakan serangan itu melibatkan bom molotov dan perangkat piroteknik. Menurutnya, penggunaan benda-benda tersebut menimbulkan bahaya bagi petugas yang berada di lokasi maupun orang-orang yang ditahan di dalam gedung. Pernyataan itu menyoroti risiko yang muncul ketika serangan diarahkan ke institusi kepolisian, terutama bagi siapa pun yang berada di dalam bangunan dan tidak memiliki kesempatan untuk menjauh dari kekerasan. Jumlah korban dari kalangan aparat serta keadaan di kantor polisi menjadi bagian penting dari laporan mengenai dampak kerusuhan pada hari tersebut.

Nushi mengecam kekerasan dan serangan terhadap institusi, seraya menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat dibenarkan. Ia juga mengimbau para demonstran untuk menjaga jarak dari individu bertopeng yang terlibat dalam aksi kekerasan. Imbauan tersebut disampaikan agar peserta unjuk rasa tidak terseret dalam tindakan yang membahayakan orang lain atau memperburuk keadaan. Menurut Nushi, aspirasi sebaiknya disampaikan secara damai, tanpa serangan terhadap aparat maupun fasilitas publik. Seruan itu muncul ketika petugas masih menangani dampak bentrokan dan ambulans terus mengevakuasi korban. Laporan mengenai korban luka, penggunaan bom molotov dan perangkat piroteknik, serta serangan ke kantor polisi memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi berbagai pihak selama kerusuhan. Kepolisian meminta demonstran mempertahankan penyampaian pendapat secara tertib dan menjauhi pelaku kekerasan agar keselamatan masyarakat tetap terlindungi.

Menjelang demonstrasi di Tirana, sejumlah toko dan kantor di pusat kota mengambil langkah perlindungan dengan memasang penutup logam pada pintu dan jendela. Persiapan tersebut tampak di area yang menjadi perhatian selama aksi berlangsung, ketika pemilik usaha dan pengelola kantor berupaya mengamankan bagian depan bangunan. Penutup logam dipasang untuk melindungi akses masuk serta kaca dari kemungkinan kerusakan. Langkah antisipasi itu menjadi salah satu perubahan yang terlihat di kawasan pusat kota menjelang dan selama unjuk rasa, di tengah situasi yang menuntut kewaspadaan dari para pelaku usaha, pekerja, dan warga yang beraktivitas di sekitarnya. Tindakan ini tidak mengubah tuntutan utama para demonstran, tetapi menunjukkan bagaimana kegiatan sehari-hari turut menyesuaikan diri dengan kondisi keamanan.

Selain perlindungan pada bangunan, pekerja kota memindahkan batu-batu trotoar dari sejumlah lokasi. Upaya tersebut ditujukan untuk mengurangi kemungkinan batu digunakan sebagai benda lempar dalam demonstrasi. Pemindahan material itu merupakan bagian dari langkah pengamanan fisik di ruang publik, terutama karena batu trotoar dapat dengan mudah dijangkau ketika berada di tepi jalan. Bersama pemasangan penutup pada toko dan kantor, tindakan pekerja kota memperlihatkan persiapan praktis yang dilakukan untuk membatasi risiko kerusakan dan menjaga kawasan tetap lebih aman. Langkah-langkah ini berlangsung saat unjuk rasa di Tirana telah memasuki hari keenam. Meski berbagai antisipasi terlihat di pusat kota, Perdana Menteri Edi Rama tetap menolak tuntutan agar dirinya mengundurkan diri.

Di tengah demonstrasi yang berlanjut, agenda diplomatik Rama ke Austria pada Senin juga mengalami perubahan. Kunjungan resmi yang semula dijadwalkan mencakup pertemuan dengan Kanselir Federal Austria Christian Stocker dibatalkan oleh pihak Albania. Informasi mengenai pembatalan tersebut disampaikan melalui layanan pers federal Austria. Tidak ada rincian tambahan yang perlu ditarik dari pemberitahuan itu: yang terkonfirmasi adalah bahwa kunjungan dan pertemuan yang direncanakan tidak berlangsung sesuai agenda.