Warga Medalkrisna Bertahan di Tengah Kekeringan dan Sulitnya Air Bersih

Warga Medalkrisna Bertahan di Tengah Kekeringan dan Sulitnya Air Bersih

Bekasi | Warga Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, menghadapi kesulitan memperoleh air bersih setelah sejumlah sumber air setempat mengering. Dalam kondisi tersebut, sebuah sumur pompa tua yang berada di tengah persawahan masih menjadi tempat warga mengambil air tanpa biaya. Keberadaan sumur ini penting bagi masyarakat yang membutuhkan pasokan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kekeringan.

Pada Senin, 19 Oktober 2026, Arifin Ilham, 25 tahun, terlihat mengambil air dari sumur tersebut di Jalan Lurah Parman. Sumur yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu tetap digunakan ketika sumber air lain tidak lagi dapat diandalkan. Letaknya di kawasan persawahan membuatnya menjadi salah satu titik yang dituju warga untuk memperoleh air, meskipun kondisi kemarau menyulitkan pemenuhan kebutuhan air bersih di desa itu.

Air dari sumur pompa tersebut dapat diambil secara gratis. Bagi warga, akses tanpa biaya ini menjadi penopang penting ketika ketersediaan air menurun dan pilihan untuk mendapatkan air bersih terbatas. Sumur tua itu pun bukan sekadar fasilitas lama, melainkan sumber yang masih berfungsi dan dimanfaatkan masyarakat dalam keadaan mendesak.

Kebergantungan warga pada sumur tersebut menunjukkan besarnya peran sumber air lokal saat kekeringan melanda. Setelah sumber-sumber lain mengering, sumur di tengah sawah menjadi tumpuan yang tersisa bagi sebagian warga Medalkrisna. Usianya yang telah mencapai puluhan tahun tidak mengurangi arti keberadaannya bagi masyarakat yang perlu mencari air untuk kebutuhan rumah tangga.

Situasi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi warga desa dalam memperoleh air bersih ketika musim kering berdampak pada sumber air setempat. Selama sumur pompa tua masih dapat digunakan, warga terus memanfaatkannya sebagai sumber air gratis. Namun, kondisi tersebut juga memperlihatkan betapa pentingnya ketersediaan sumber air yang dapat diandalkan, terutama ketika kekeringan membuat akses air bersih semakin sulit.

Hampir tujuh bulan tanpa hujan membuat persediaan air di Medalkrisna terus berkurang hingga sumber-sumber yang biasa diandalkan warga tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan. Kondisi ini bukan terjadi hanya dalam beberapa hari. Lamanya hujan tidak turun memberi waktu bagi air di Situ Bedeng dan sumur-sumur galian untuk menyusut, sampai akhirnya keduanya mengering. Bagi warga, hilangnya sumber air tersebut berarti pilihan untuk memperoleh air bersih di lingkungan sekitar menjadi semakin terbatas.

Situ Bedeng selama ini menjadi salah satu andalan warga. Namun, situ itu telah kering total sejak tiga bulan lalu. Dengan dasar situ yang tidak lagi menyimpan air, warga tidak dapat mengandalkannya seperti sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan air. Situasi tersebut berlangsung di tengah kemarau panjang, saat hujan belum turun selama hampir tujuh bulan. Jadi, salah satu sumber yang selama ini berperan penting sudah tidak tersedia jauh sebelum hujan kembali datang.

Sumur-sumur galian milik warga juga mengering. Ketika sumur tidak lagi menyimpan air dan Situ Bedeng telah kering total, akses warga terhadap air bersih menjadi persoalan yang semakin nyata. Dampaknya terasa langsung pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang memerlukan air, sebab sumber yang biasanya dapat digunakan sudah tidak menghasilkan air. Warga pun harus bertahan menghadapi keterbatasan tersebut selama hujan belum turun. Krisis ini berpusat pada kondisi yang jelas: hampir tujuh bulan tanpa hujan, Situ Bedeng kering sejak tiga bulan lalu, dan sumur-sumur galian warga turut mengering. Tanpa air dari sumber-sumber itu, warga Medalkrisna menghadapi kesulitan untuk memperoleh air bersih di tengah kekeringan yang terus berlangsung.

Di tengah kekeringan yang membatasi ketersediaan air bersih, warga Medalkrisna harus menempuh perjalanan hingga satu kilometer pulang-pergi untuk mengambil air dari sumur pompa. Jarak tersebut menjadi bagian dari rutinitas ketika persediaan air di rumah tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Warga tidak hanya perlu mencapai sumber air, tetapi juga mengangkutnya kembali agar dapat digunakan di rumah. Perjalanan yang berulang membuat pemenuhan kebutuhan dasar bergantung pada tenaga, waktu, serta sarana angkut yang tersedia.

Air yang diambil biasanya dibawa dalam belasan hingga puluhan jeriken. Sebagian warga menggunakan sepeda motor, sementara lainnya mengandalkan gerobak untuk membawa muatan dari sumur pompa. Cara pengangkutan itu memungkinkan air dipindahkan sekaligus dalam jumlah tertentu, tetapi perjalanan tetap harus dilakukan ketika persediaan kembali diperlukan. Kondisi ini menggambarkan upaya warga dalam memenuhi kebutuhan harian di tengah keterbatasan akses air bersih. Jarak yang harus ditempuh juga menambah pekerjaan rumah tangga, terutama karena air perlu tersedia untuk berbagai keperluan dasar.

Arifin menyampaikan bahwa bantuan pasokan air dari Pemerintah Kabupaten Bekasi sudah diberikan kepada warga. Namun, bantuan tersebut belum mencukupi kebutuhan yang ada. Pasokan bantuan disebut datang sekitar dua kali dalam seminggu, sehingga warga tetap perlu mencari sumber air lain, termasuk sumur pompa, untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Keterangan itu menunjukkan bahwa bantuan pemerintah menjadi salah satu dukungan, tetapi belum menghilangkan kesulitan warga dalam memperoleh air. Selama pasokan belum mencukupi, perjalanan mengangkut jeriken masih menjadi bagian dari keseharian sebagian warga Medalkrisna. Upaya mereka mencerminkan tantangan akses air bersih yang dihadapi ketika kekeringan berlangsung dan pasokan terbatas.

Di Kampung Sukasirna, Desa Medalkrisna RT 06/RW 03, sebagian warga memenuhi kebutuhan air bersih dengan cara membeli. Air tersebut disimpan dalam tangki atau drum berukuran sedang, dengan harga yang disebut warga sebesar Rp80 ribu untuk setiap 500 liter. Jumlah itu digunakan untuk kebutuhan sekitar satu minggu. Bagi warga yang mengandalkan pembelian, air perlu digunakan dengan cermat agar persediaan dapat mencukupi hingga waktu berikutnya. Keterangan mengenai harga dan banyaknya air yang dibeli menggambarkan salah satu cara warga menghadapi kesulitan memperoleh air bersih di tengah kekeringan.

Air yang dibeli untuk kebutuhan bersih dibedakan dari air untuk mandi, mencuci, dan kakus atau MCK. Menurut keterangan warga, air untuk keperluan MCK ditimbun dari bantuan pemerintah, termasuk bantuan PMI atau BNPB setempat. Dengan demikian, persediaan air warga berasal dari sumber yang berbeda sesuai penggunaannya: air yang dibeli dipakai untuk kebutuhan bersih, sedangkan air bantuan disimpan untuk keperluan MCK. Keterangan ini menunjukkan bagaimana warga mengatur ketersediaan air yang terbatas, tanpa menyamakan penggunaan air yang dibeli dengan air bantuan yang ditimbun.

Meski ada pembelian air dan bantuan untuk MCK, warga masih mengandalkan sumur pompa yang berada di tengah sawah. Sumur tersebut menjadi salah satu tumpuan warga ketika menghadapi kondisi kekurangan air. Namun, ketergantungan pada pembelian, air bantuan, dan sumur pompa menggambarkan bahwa kebutuhan air di kampung itu belum sepenuhnya tertangani melalui sumber yang mudah diakses. Warga masih menanti solusi yang lebih permanen dari pemerintah daerah. Sampai solusi tersebut tersedia, mereka tetap mengatur persediaan dari berbagai sumber yang disebutkan, termasuk membeli air bersih dan menggunakan sumur pompa di tengah sawah.

Baca juga: TNI Hadir di Tengah Kekeringan, Kodim Bojonegoro Salurkan Ribuan Liter Air Bersih untuk Warga | Peduli Kekeringan, Kodim Bojonegoro Salurkan 133 Ribu Liter Air Bersih ke 6 Kecamatan | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Salurkan 77.000 Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan