Surabaya | Dalam perjuangan Syarikat Islam, dakwah ekonomi ditempatkan sebagai agenda utama, bukan sekadar pelengkap bagi kegiatan keagamaan atau politik. Penempatan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak dipahami hanya sebagai perubahan kekuasaan formal. Kemerdekaan sejati juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk berdiri secara mandiri dalam kehidupan ekonomi. Karena itu, pembicaraan mengenai dakwah ekonomi terhubung langsung dengan cita-cita membebaskan umat dari ketergantungan dan membangun daya hidup yang lebih kuat. Arah perjuangan tersebut menempatkan urusan ekonomi sebagai bagian dari ikhtiar sosial dan kebangsaan yang menyeluruh.
Hubungan dakwah ekonomi dan kemandirian ekonomi terletak pada tujuan membentuk kemampuan untuk mengelola kehidupan sendiri. Dalam kerangka ini, dakwah tidak terbatas pada penyampaian ajaran, tetapi juga mendorong kesadaran bahwa penguasaan atas urusan ekonomi berperan dalam menentukan kebebasan masyarakat. Kemandirian menjadi unsur penting karena kemerdekaan politik saja dinilai belum cukup apabila kehidupan ekonomi tetap bergantung pada pihak lain. Dengan demikian, dakwah ekonomi membantu menjelaskan mengapa perjuangan menuju kemerdekaan perlu menyentuh struktur dan sikap ekonomi, sekaligus membangun kesadaran akan tanggung jawab bersama.
Agenda tersebut juga memperluas makna perjuangan Syarikat Islam: kebebasan harus mempunyai dasar yang memungkinkan masyarakat mempertahankan kehidupannya tanpa kehilangan kendali atas kepentingannya. Kemandirian ekonomi bukan tujuan yang terpisah dari kemerdekaan, melainkan salah satu landasan agar kemerdekaan dapat dirasakan secara nyata dan berkelanjutan. Pemahaman ini menegaskan bahwa dakwah ekonomi mengarahkan perhatian pada hubungan kebebasan, kemampuan berdiri sendiri, dan martabat masyarakat. Oleh sebab itu, agenda ekonomi ditempatkan sejalan dengan cita-cita kemerdekaan sejati, tanpa harus disamakan dengan rincian program atau capaian tertentu. Penekanan utamanya adalah kesadaran bahwa perjuangan kebangsaan mencakup dimensi ekonomi, dan bahwa kemerdekaan akan lebih bermakna ketika masyarakat memiliki daya untuk mengatur urusan ekonominya secara mandiri.
Arah perjuangan Syarikat Islam (SI) perlu diperkuat melalui transformasi organisasi yang menjawab perubahan kebutuhan masyarakat tanpa melepaskan tujuan dasarnya. Pembaruan tidak cukup dipahami sebagai perubahan susunan kepengurusan atau cara kerja administratif. Transformasi juga menyangkut budaya organisasi, mutu pengambilan keputusan, serta kemampuan menyatukan dakwah ekonomi dengan ikhtiar membangun kehidupan yang lebih adil. Dengan demikian, SI dapat menjaga relevansi gerakannya sekaligus memperjelas kontribusinya bagi kemerdekaan sejati. Organisasi yang mampu meninjau kembali prioritas dan cara bertindak akan lebih siap menghadapi tantangan, membangun kepercayaan, dan mengubah cita-cita menjadi kerja bersama yang terarah. Pembaruan arah tersebut menuntut kesediaan untuk mengevaluasi kebiasaan lama secara terbuka, bukan sekadar mengulang slogan perjuangan.
Landasan penting dalam proses ini ialah etika dan ketulusan. Etika memberi pedoman agar tindakan organisasi konsisten dengan nilai yang diperjuangkan, termasuk ketika mengambil keputusan, mengelola amanah, dan berhubungan dengan masyarakat. Ketulusan, pada sisi lain, menegaskan bahwa kerja dakwah dan pemberdayaan ekonomi seharusnya dijalankan demi kepentingan bersama, bukan semata-mata untuk reputasi atau keuntungan pribadi. Keduanya saling melengkapi: etika mengarahkan cara bertindak, sedangkan ketulusan menjaga niat dan orientasi pelayanan. Nilai-nilai ini bukan tambahan yang terpisah dari strategi, melainkan bagian dari pembaruan arah organisasi sebagaimana disampaikan dalam sumber. Tanpa pijakan tersebut, perubahan struktur atau program berisiko hanya menghasilkan penampilan baru, tanpa memperkuat kepercayaan dan manfaat nyata.
Transformasi yang berlandaskan nilai perlu diterjemahkan ke dalam praktik yang dapat dinilai. SI dapat memperjelas tanggung jawab, membuka ruang musyawarah, mengembangkan kader, dan memastikan program ekonomi menjawab kebutuhan anggota serta masyarakat. Langkah-langkah itu membutuhkan komunikasi yang jujur dan evaluasi berkala, sehingga kekurangan dapat diperbaiki tanpa mengaburkan tujuan. Ketika etika dan ketulusan hadir dalam tata kelola maupun pelaksanaan program, organisasi memiliki dasar yang lebih kokoh untuk menggalang partisipasi. Perubahan pun tidak hanya menjadi agenda pengurus, tetapi proses kolektif yang melibatkan komunitas. Dengan cara tersebut, pembaruan organisasi dapat memperkuat arah perjuangan SI, menjaga kesesuaian ucapan dan tindakan, serta mendukung cita-cita kemerdekaan yang mencakup kemandirian ekonomi, martabat, dan tanggung jawab sosial.
Dalam perjuangan Syarikat Islam, persatuan umat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat dipahami sebagai dua unsur yang saling menguatkan. Persatuan memberi landasan bagi umat untuk menyusun kepentingan bersama, sedangkan kemandirian ekonomi membuka ruang agar masyarakat memiliki kemampuan lebih besar dalam menghadapi perubahan. Keduanya tidak perlu dipisahkan dari agenda dakwah ekonomi: dakwah dapat mengarahkan perhatian pada tanggung jawab sosial, keadilan, dan ikhtiar membangun kehidupan yang lebih bermartabat.
Persatuan bukan sekadar kesamaan identitas, melainkan kesediaan untuk bekerja bersama di tengah perbedaan kepentingan dan keadaan. Dalam konteks perjuangan, semangat ini membantu membangun kesadaran bahwa persoalan ekonomi tidak selalu dapat dihadapi secara individual. Kepedulian terhadap kondisi sesama dan kemauan memperjuangkan kepentingan umat merupakan nilai yang relevan bagi organisasi yang hendak memperkuat kehidupan masyarakat. Namun, hubungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai orientasi dan prinsip, bukan sebagai klaim mengenai bentuk kegiatan tertentu yang tidak didukung keterangan sejarah.
Pemberdayaan ekonomi pun dapat ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat daya masyarakat. Perhatian terhadap kecakapan, kesempatan, dan akses yang lebih adil selaras dengan gagasan bahwa umat perlu berperan aktif dalam menentukan arah kehidupannya. Dakwah ekonomi, dalam pengertian luas, menghubungkan ajaran moral dengan kesadaran atas praktik ekonomi: bagaimana mencari nafkah secara bertanggung jawab, menjaga kejujuran, dan memperhatikan kemaslahatan bersama. Penekanan ini tidak berarti bahwa dakwah hanya berurusan dengan urusan materi, tetapi bahwa kesejahteraan dan martabat hidup juga menjadi bagian dari perhatian sosial.
Dengan demikian, persatuan dan pemberdayaan dapat dibaca sebagai landasan penting bagi perjuangan yang lebih luas. Keduanya menyumbang cara pandang bahwa kemerdekaan sejati memerlukan masyarakat yang mampu berdiri bersama dan mengembangkan kapasitasnya sendiri. Dalam membaca perjalanan Syarikat Islam, hubungan dakwah, solidaritas, dan kemandirian ekonomi perlu disampaikan secara proporsional, dengan membedakan nilai perjuangan yang dapat ditafsirkan dari rincian praktik historis yang memerlukan bukti tersendiri.
Menjelang Kongres Nasional dan Majelis Tahkim Syarikat Islam (SI) ke-42, Hamdan Zoelva selaku Presiden Lajnah Tanfidziyah SI menyampaikan pesan yang memberi konteks bagi pertemuan organisasi tersebut. Kongres dijadwalkan berlangsung di Surabaya pada 18–20 Oktober 2026. Tema yang diusung, “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”, menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai pokok perhatian dalam pembicaraan mengenai arah perjuangan SI.
Penyampaian pesan menjelang perhelatan ini menjadi kesempatan untuk mengingatkan anggota dan masyarakat tentang gagasan yang menaungi kegiatan organisasi. Istilah dakwah ekonomi menghubungkan ajakan keagamaan dan kerja sosial dengan perhatian pada kemandirian ekonomi. Sementara itu, kemerdekaan sejati dalam tema tersebut menjadi tujuan yang hendak diperjuangkan melalui pendekatan yang menekankan kapasitas dan daya berdiri sendiri. Pesan Hamdan berada dalam konteks itu, yakni menjelang forum nasional yang membawa tema tersebut sebagai landasan pembahasan.
Kongres Nasional dan Majelis Tahkim merupakan bagian penting dalam kehidupan Syarikat Islam sebagai organisasi. Namun, tanpa keterangan resmi yang lebih rinci, isi pesan Hamdan maupun susunan kegiatan kongres tidak perlu diasumsikan. Informasi yang telah disampaikan menegaskan waktu, lokasi, dan tema acara, sekaligus menunjukkan bahwa pesan tersebut hadir menjelang pertemuan nasional SI. Dengan menjaga batas informasi, perhatian dapat diarahkan pada tujuan yang dinyatakan secara terbuka, bukan pada agenda atau keputusan yang belum diumumkan.
Surabaya akan menjadi tempat berlangsungnya pertemuan pada 18–20 Oktober 2026, ketika para peserta berkumpul dalam rangka Kongres Nasional dan Majelis Tahkim SI ke-42.





