Bekasi | Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, meminta wartawan tidak hanya memberitakan capaian pemerintah. Pers juga perlu menyampaikan kritik secara terbuka apabila pemerintah melakukan kekeliruan. Menurutnya, tugas jurnalistik tidak berhenti pada penyebaran informasi tentang program dan hasil kerja, tetapi turut memastikan tindakan pemerintah dapat diperiksa oleh masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam acara Anugerah Jurnalistik Sekolah Rakyat 2026 yang berlangsung di Sekolah Rakyat Terpadu, Bekasi, Jawa Barat, pada Sabtu (17/10/2026). Di hadapan para peserta dan insan pers, Gus Ipul menekankan pentingnya menjaga ruang bagi pemberitaan yang berimbang. Apresiasi terhadap kebijakan yang dinilai berhasil, katanya, dapat berjalan beriringan dengan pengungkapan masalah yang perlu diperbaiki.
Ia mengharapkan pers tetap merdeka, kritis, dan bertanggung jawab. Kemerdekaan pers memungkinkan wartawan menjalankan peliputan tanpa tekanan yang menghalangi penyampaian fakta. Sikap kritis membantu publik memahami dampak kebijakan, termasuk ketika pelaksanaan di lapangan tidak sesuai harapan. Sementara itu, tanggung jawab menuntut setiap berita disusun dengan verifikasi, konteks yang memadai, serta kehati-hatian agar informasi tidak menyesatkan.
Dalam pandangan tersebut, kritik bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap pemerintah. Kritik yang berdasarkan fakta dapat menjadi masukan untuk mengenali kekurangan, memperbaiki pelaksanaan program, dan mendorong kebijakan yang lebih tepat. Karena itu, wartawan perlu memberi perhatian pada pengalaman masyarakat, selain mengutip keterangan resmi. Pelaporan yang memberi ruang bagi berbagai pihak dapat membantu pembaca menilai persoalan secara lebih utuh.
Harapan itu juga menempatkan pers sebagai bagian dari pengawasan terhadap upaya pemerintah. Pemberitaan yang independen memungkinkan masyarakat mengetahui perkembangan maupun hambatan suatu program, sekaligus meminta pertanggungjawaban atas keputusan publik. Dalam konteks Sekolah Rakyat, perhatian media dapat membantu menyampaikan informasi mengenai pelaksanaan program pendidikan dan persoalan yang muncul, tanpa mengabaikan ketepatan fakta. Pesan Gus Ipul menegaskan bahwa hubungan pemerintah dan pers tidak seharusnya terbatas pada pemberitaan keberhasilan. Pers yang menjalankan fungsi kontrol secara profesional dapat ikut mendorong perbaikan, sementara pemerintah memperoleh kesempatan untuk menanggapi kritik dan membenahi kekeliruan. Dengan demikian, pemberitaan yang jujur dan berimbang menjadi bagian penting dari kepentingan publik.
Gus Ipul memandang pers memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan kabar kepada publik. Wartawan, menurutnya, turut membantu masyarakat melihat orang-orang yang kerap terabaikan, mendengar mereka yang suaranya jarang sampai ke ruang publik, serta menyuarakan pihak-pihak yang selama ini tidak memiliki kesempatan untuk berbicara. Peran tersebut menjadikan kerja jurnalistik penting dalam menjaga perhatian bersama terhadap persoalan sosial.
Pandangan itu berkaitan erat dengan pekerjaan di Kementerian Sosial. Gus Ipul menjelaskan bahwa urusan kementerian tersebut memiliki risiko tinggi karena menyangkut manusia secara langsung. Kebijakan, layanan, dan bantuan sosial bukan semata-mata soal angka, anggaran, atau daftar kegiatan. Pelaksanaannya berpengaruh terhadap kehidupan orang yang sedang menghadapi kerentanan, sehingga kekeliruan perlu dikenali dan dikritisi agar tidak luput dari perhatian maupun perbaikan.
Ia juga menyinggung 12 kelompok pemerlu atensi sosial yang membutuhkan perhatian. Di contoh yang disebut ialah anak-anak rentan, penyandang disabilitas, lansia telantar, korban bencana, dan fakir miskin. Penyebutan kelompok-kelompok ini mengingatkan bahwa kebutuhan sosial tidak seragam: sebagian orang memerlukan perlindungan, sebagian membutuhkan akses terhadap layanan, sementara yang lain perlu dukungan untuk memulihkan kehidupan setelah mengalami krisis. Karena itu, pemberitaan yang cermat dapat membantu menghadirkan konteks, bukan hanya mencatat jumlah penerima atau besaran bantuan.
Bagi Gus Ipul, perhatian terhadap mereka harus bertolak dari kenyataan bahwa di balik setiap angka terdapat manusia dengan pengalaman dan kebutuhan nyata. Ada cerita yang mungkin belum terdengar, kesulitan yang tidak tercatat dalam laporan, serta harapan yang bergantung pada hadirnya dukungan. Pers dapat membantu membuka ruang bagi pengalaman tersebut sekaligus mengawasi agar kebijakan berjalan sebagaimana mestinya. Dengan demikian, wartawan tidak hanya mengabarkan apa yang terjadi, tetapi juga membantu publik memahami siapa yang terdampak dan mengapa kepedulian perlu dijaga. Ketika suara kelompok rentan mendapat tempat, pemerintah dan masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenali persoalan, menilai respons, dan mendorong langkah yang lebih tepat. Menjaga perhatian itu berarti memperlakukan kehidupan manusia sebagai inti dari setiap kebijakan sosial.
Gus Ipul menegaskan bahwa perlindungan sosial memiliki landasan konstitusional yang jelas, yaitu Pasal 34 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945. Ketentuan tersebut menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Bagi Gus Ipul, amanat ini bukan sekadar prinsip yang tercantum dalam konstitusi, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui kebijakan dan pelayanan nyata. Negara, terutama Kementerian Sosial, perlu hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Karena itu, pemerintah tidak boleh terlambat merespons kesulitan warga, khususnya mereka yang paling rentan dan memerlukan dukungan segera.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Sosial terus memperbaiki fondasi perlindungan sosial. Salah satu perhatian utamanya adalah memastikan data yang digunakan akurat dan bantuan diberikan kepada pihak yang tepat. Menurut Gus Ipul, ketepatan data berperan penting agar program pemerintah dapat menjangkau masyarakat sesuai kebutuhan. Kesalahan data bukan semata-mata persoalan administrasi atau kekeliruan dalam pencatatan. Dampaknya dapat langsung dirasakan oleh warga: orang miskin berisiko kehilangan hak atas bantuan, sementara keluarga yang membutuhkan bisa belum terjangkau oleh negara. Oleh sebab itu, pembenahan data perlu menjadi bagian berkelanjutan dari upaya memperkuat layanan sosial.
Gus Ipul juga menyebut Sekolah Rakyat sebagai jalan yang dibuka Presiden Prabowo untuk membantu memutus rantai kemiskinan. Program ini dipandang sebagai upaya memperluas kesempatan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan melalui akses pendidikan. Dengan pendidikan, mereka diharapkan memiliki peluang lebih baik untuk membangun masa depan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Saat ini, terdapat 182 titik Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran titik-titik tersebut menunjukkan bahwa upaya memperluas akses pendidikan telah berjalan di sejumlah daerah. Dalam pandangan Gus Ipul, penguatan perlindungan sosial dan pembukaan jalan melalui pendidikan saling melengkapi: negara perlu memenuhi kebutuhan warga hari ini sekaligus mendukung kesempatan generasi berikutnya untuk keluar dari kemiskinan.
Gus Ipul menilai kritik yang jujur terhadap kekeliruan pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga arah kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan. Kritik bukan sekadar penolakan atau serangan, melainkan masukan yang dapat membantu pemerintah melihat persoalan dengan lebih terang dan memperbaiki langkahnya. Ketika disampaikan berdasarkan fakta, kritik dapat menjadi pengingat agar pemerintah tetap bekerja sesuai tujuan dan kepentingan masyarakat. Pada saat yang sama, pujian yang diberikan secara wajar juga memiliki arti. Apresiasi dapat menjadi sumber semangat bagi pemerintah untuk mempertahankan hal-hal yang telah berjalan baik dan terus meningkatkan pelayanan. Karena itu, pers yang menjalankan fungsi kritik maupun menyampaikan capaian secara berimbang turut mendukung kehidupan publik yang sehat.
Dalam pandangan Gus Ipul, anugerah jurnalistik tidak semata-mata menjadi ajang untuk memberikan penghargaan kepada karya terbaik. Anugerah tersebut juga merupakan bentuk penghormatan kepada insan pers yang teguh mengungkap fakta, menulis dengan nurani, dan menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dari kerja jurnalistik. Keteguhan itu diperlukan karena jurnalis kerap berhadapan dengan tantangan ketika mencari informasi, memeriksa kebenaran, serta menyampaikan cerita yang berdampak bagi masyarakat. Gus Ipul menyampaikan apresiasi kepada para pemenang atas karya dan dedikasi mereka.
Baca juga: TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla






