Semarang | Delegasi Program Doktor Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) membawa riset pengelolaan air ke Kongres Internasional Irigasi dan Drainase (ICID) ke-26 di Parc Chanot, Marseille, Prancis. Dalam kongres yang berlangsung pada 12–17 Oktober 2026 tersebut, delegasi menampilkan dua inovasi berbasis kecerdasan buatan. Kehadiran riset ini memperkenalkan kontribusi akademik Unissula dalam pembahasan internasional mengenai irigasi dan drainase, sekaligus menempatkan pemanfaatan teknologi AI sebagai bagian dari upaya mengembangkan pendekatan pengelolaan air.
Delegasi terdiri atas dua mahasiswa doktor, Ari Sentani dan Yulia Indriani, serta asisten peneliti Rahmatia Sarah Wahyudi. Ketiganya mewakili Program Doktor Teknik Sipil Unissula dalam membawa hasil riset ke forum internasional. Dua inovasi yang dipresentasikan sama-sama mengandalkan kecerdasan buatan, sesuai fokus pengembangan teknologi untuk mendukung pengelolaan air. Dengan menampilkan riset tersebut, delegasi memberi gambaran mengenai pekerjaan akademik yang dilakukan di lingkungan program doktor dan memperkenalkannya kepada peserta kongres dari berbagai negara.
Kongres ICID ke-26 diikuti lebih dari 700 peserta yang berasal dari sekitar 50 negara. Skala partisipasi tersebut menjadikan forum di Marseille sebagai ruang pertemuan internasional bagi para peserta yang berkaitan dengan bidang irigasi dan drainase. Di tengah kehadiran perwakilan dari beragam negara, dua inovasi AI dari Unissula menjadi bagian dari materi riset yang ditampilkan. Partisipasi ini menegaskan keterlibatan mahasiswa doktor dan asisten peneliti dalam membawa penelitian tentang pengelolaan air ke tingkat internasional, serta membuka kesempatan bagi karya akademik tersebut untuk dikenal di peserta kongres. Melalui presentasi itu, delegasi Unissula menghubungkan penelitian berbasis kecerdasan buatan dengan tema besar irigasi, drainase, dan pengelolaan sumber daya air yang menjadi perhatian forum ICID.
Dalam presentasinya di Kongres ICID di Prancis, Ari Sentani memaparkan RIVANA sebagai kerangka pemodelan untuk membantu memahami dinamika sungai dan mendukung pengelolaan air. Studi kasus yang digunakan adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang. Melalui kerangka ini, proses fisik yang berlangsung di sungai dipertimbangkan bersama pendekatan machine learning, sehingga kondisi aliran dan perubahan material dapat dianalisis dalam satu rangkaian pemodelan. Paparan tersebut menempatkan karakteristik sungai sebagai dasar analisis, sekaligus memanfaatkan kemampuan pembelajaran mesin untuk mengolah informasi yang relevan bagi pengelolaan. Dengan demikian, RIVANA dirancang untuk menghubungkan pemahaman proses hidrologi dan sedimen dengan kebutuhan praktis dalam pengambilan keputusan.
Penggabungan proses fisik sungai dan machine learning ditujukan untuk memprediksi erosi, pergerakan sedimen, serta risiko pendangkalan. Erosi dapat membawa material dari bagian hulu atau tebing menuju alur sungai, sementara perubahan aliran memengaruhi bagaimana sedimen berpindah dan mengendap. Jika endapan menumpuk, kapasitas alur dapat berkurang dan pendangkalan berpotensi meningkatkan risiko banjir. RIVANA mengaitkan rangkaian proses tersebut agar perubahan yang terjadi di DAS Tuntang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membaca kondisi sungai. Pendekatan ini juga menegaskan bahwa pengelolaan tidak hanya berfokus pada satu gejala, tetapi memperhatikan hubungan proses erosi, transportasi sedimen, dan kemungkinan terbentuknya endapan.
Ari menyebut tujuan pengembangan kerangka tersebut adalah mendukung pengambilan keputusan pengelolaan sungai secara cepat dan akurat. Informasi mengenai potensi erosi, perpindahan sedimen, dan ancaman pendangkalan dapat membantu pihak terkait menilai persoalan yang perlu diperhatikan ketika merencanakan langkah pengelolaan. Dalam konteks DAS Tuntang, pemodelan diharapkan menyediakan cara untuk menelaah proses sungai secara lebih terpadu, bukan menggantikan pertimbangan para pengelola. Paparan di kongres memperkenalkan rancangan pendekatan tersebut dan arah pemanfaatannya. Tidak ada angka hasil pengujian atau ukuran akurasi yang disampaikan dalam informasi mengenai presentasi, sehingga manfaatnya perlu dipahami sebagai tujuan kerangka pemodelan, bukan sebagai capaian terukur yang telah dibuktikan.
Riset Yulia Indriani membahas optimasi pengelolaan tampungan air di Heritage Solo Valley dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Karangnongko. Fokus kajian ini adalah menentukan pengaturan penyimpanan dan pelepasan air yang dapat membantu mengelola ketersediaan air. Untuk mendukung proses tersebut, model menggunakan algoritma pembelajaran penguatan atau reinforcement learning. Pendekatan ini dipakai untuk menyimulasikan pengelolaan tampungan, sehingga pilihan waktu untuk menyimpan maupun melepaskan air dapat dipertimbangkan dalam berbagai keadaan yang disimulasikan. Dengan demikian, keputusan pengelolaan tidak hanya berpusat pada satu tindakan, tetapi juga memperhitungkan kapan tindakan tersebut diperlukan.
Dalam simulasi, model membantu menentukan waktu yang tepat untuk menahan air di tampungan atau mengalirkannya keluar. Penyimpanan dan pelepasan merupakan dua pilihan penting dalam mengatur air, karena keputusan pada satu waktu dapat berkaitan dengan kebutuhan pasokan pada waktu lain. Algoritma reinforcement learning digunakan untuk menilai pilihan tersebut melalui simulasi dan mencari pengaturan yang sesuai dengan tujuan pengelolaan. Riset ini menempatkan pengaturan waktu sebagai bagian utama dari upaya mengelola tampungan air di kawasan yang dikaji. Penjelasan tersebut menggambarkan fungsi model tanpa mengandaikan rincian teknis lain di luar informasi yang disampaikan.
Manfaat yang disampaikan dari pendekatan ini berkaitan dengan keseimbangan kebutuhan air dan pengendalian risiko. Pengaturan tampungan diharapkan membantu menjaga pasokan air bagi irigasi pertanian, sehingga ketersediaan air dapat dikelola dengan mempertimbangkan kebutuhan sektor tersebut. Pada saat yang sama, penentuan waktu pelepasan air juga diarahkan untuk meminimalkan risiko banjir di wilayah hilir. Kedua tujuan itu menunjukkan pentingnya keputusan penyimpanan dan pelepasan yang dipertimbangkan secara seimbang. Model simulasi menjadi sarana untuk menelaah pilihan pengelolaan tersebut pada Heritage Solo Valley dan DAS Karangnongko. Riset Yulia Indriani dengan demikian menghubungkan pemanfaatan algoritma pembelajaran penguatan dengan kebutuhan praktis pengelolaan air, tanpa memisahkan kepentingan irigasi dari perhatian terhadap risiko banjir di kawasan hilir.
Pengembangan kecerdasan buatan untuk mendukung pengelolaan air yang dipresentasikan Unissula memperoleh konteks penting dalam Kongres Internasional Komisi Irigasi dan Drainase (ICID) di Prancis. Tema kongres, “Water and Agricultural Resilience in the Face of Climate Change”, menempatkan keterkaitan air, pertanian, dan perubahan iklim sebagai perhatian utama. Ketahanan pangan bergantung pada ketersediaan dan pengelolaan air yang andal, sementara krisis iklim global meningkatkan tekanan terhadap sumber daya tersebut. Karena itu, pemanfaatan teknologi dan riset untuk membantu pengelolaan air menjadi bagian dari pembahasan yang relevan bagi banyak negara.
Forum internasional itu mempertemukan pakar dari berbagai kawasan, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Inggris, Jepang, serta negara-negara Uni Eropa. Kehadiran peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda memberi ruang bagi pertukaran gagasan mengenai tantangan air dan pertanian. Kongres tersebut turut dihadiri oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan World Water Council. Keterlibatan lembaga serta pakar internasional ini mencerminkan luasnya perhatian terhadap upaya membangun ketahanan air dan pangan, terutama ketika perubahan iklim memengaruhi pola ketersediaan air, kebutuhan irigasi, dan keberlanjutan produksi pertanian.
Rektor Unissula, Prof. Gunarto, menyatakan bahwa partisipasi dalam kongres menunjukkan relevansi riset kampus terhadap persoalan dunia. Menurutnya, keikutsertaan tersebut juga mencerminkan komitmen untuk memperluas jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi riset lintas negara. Pertemuan dengan komunitas ilmiah internasional dapat membantu mempertemukan gagasan, keahlian, serta pengalaman yang dibutuhkan untuk merespons persoalan pengelolaan air. Dalam konteks perubahan iklim, kerja sama semacam ini penting agar penelitian dapat dibahas dalam perspektif yang lebih luas dan berhubungan dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah. Presentasi di forum tersebut juga memberi kesempatan bagi inovasi dari perguruan tinggi Indonesia untuk dikenal dan dipertukarkan dengan pemikiran dari negara lain.
Baca juga: TNI-Kementerian PU Perkuat Sinergi Pengelolaan Sumber Daya Air






