Jakarta | Presiden Prabowo Subianto melantik Marsekal Yusuf Jauhari dan Jenderal Richard Taruli Horja Tampubolon sebagai wakil menteri pertahanan dalam upacara di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Pelantikan tersebut menandai penambahan dua pejabat pada jajaran pimpinan Kementerian Pertahanan, dengan pembagian tanggung jawab yang dirancang untuk mencakup sejumlah kebutuhan strategis pertahanan nasional. Dalam keputusan presiden yang dibacakan saat pelantikan, tugas keduanya ditetapkan secara khusus, sehingga masing-masing memiliki bidang kerja yang berbeda dan saling melengkapi.
Yusuf Jauhari mendapat mandat menangani logistik, industri pertahanan, dan teknologi. Ketiga bidang ini berhubungan dengan kesiapan dukungan operasional, penguatan kapasitas produksi dalam negeri, serta pemanfaatan teknologi bagi pertahanan. Peran pada aspek logistik mencakup perhatian terhadap ketersediaan dan pengelolaan kebutuhan pertahanan, sementara urusan industri dan teknologi berkaitan dengan kemampuan membangun serta mengembangkan perangkat dan sistem pendukung. Penugasan tersebut menempatkan Yusuf pada bidang yang membutuhkan koordinasi kebutuhan kementerian, pengembangan industri, dan kapasitas teknologi.
Sementara itu, Richard Taruli Horja Tampubolon bertanggung jawab atas strategi, doktrin, dan pembangunan kekuatan. Mandat tersebut mencakup perumusan arah pertahanan, kerangka pemikiran yang menjadi pedoman pelaksanaan tugas, serta pengembangan kemampuan dan struktur kekuatan. Pembagian ini memisahkan fokus kerja Richard dari tanggung jawab Yusuf, tetapi keduanya tetap berada dalam lingkup penguatan pertahanan. Strategi dan doktrin dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan kekuatan, sedangkan logistik, industri, dan teknologi mendukung pemenuhan kebutuhan itu.
Susunan tugas yang dibacakan dalam pelantikan memberi gambaran mengenai peran masing-masing wakil menteri di bawah Kementerian Pertahanan. Yusuf diarahkan pada dukungan material dan pengembangan kapasitas teknologi serta industri, sedangkan Richard mengemban tanggung jawab yang berorientasi pada perencanaan dan pembangunan kekuatan. Pembagian mandat ini menempatkan dua ranah penting dalam tata kelola pertahanan pada pejabat yang berbeda, sekaligus memungkinkan koordinasi lintas bidang. Pelaksanaan tugas mereka selanjutnya akan berkaitan dengan agenda kementerian dalam menjaga kesiapan dan memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia.
Rekam jejak Yusuf Jauhari, S.Sos., M.Eng., memperlihatkan perjalanan karier yang menghubungkan lingkungan TNI Angkatan Udara dengan Kementerian Pertahanan. Dalam lingkup kementerian, ia pernah menjabat Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kemhan. Jabatan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesionalnya sebelum memperoleh amanah baru di bidang sarana pertahanan. Informasi mengenai perjalanan ini menunjukkan perpindahan tanggung jawab di dalam institusi pertahanan, dari posisi pada Sekretariat Jenderal menuju badan yang menangani sarana pertahanan. Dengan demikian, riwayat yang tercatat menggambarkan tahapan karier yang berlangsung di lingkungan pemerintahan bidang pertahanan, tanpa perlu menambahkan keterangan di luar jabatan dan perubahan pangkat yang diketahui. Latar keterkaitannya dengan TNI AU turut menjadi bagian dari identitas kariernya, sementara jabatan-jabatan yang disebutkan menandai kiprah di Kemhan. Peralihan tersebut menjadi titik penting dalam lintasan tugasnya di kementerian.
Pada September 2020, Yusuf dipromosikan dari jabatan Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kemhan menjadi Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan. Perubahan jabatan ini menandai peningkatan tanggung jawab dalam struktur organisasi kementerian. Bersamaan dengan promosi tersebut, pangkatnya naik menjadi Marsekal Muda. Kedua perubahan itu berlangsung dalam momentum yang sama, sehingga September 2020 menjadi penanda jelas dalam catatan kariernya. Perjalanan dari biro umum menuju badan sarana pertahanan memperlihatkan perkembangan posisi yang dipercayakan kepadanya di lingkungan Kemhan. Catatan ini berfokus pada jabatan yang pernah diemban dan promosi yang diterima, tanpa menyisipkan uraian mengenai penugasan lain. Dengan penyebutan waktu, jabatan sebelumnya, jabatan baru, dan kenaikan pangkat, urutan perjalanan karier tersebut dapat dipahami secara ringkas dan faktual. Informasi tersebut juga membedakan perannya sebelum dan sesudah promosi, sekaligus menegaskan bahwa perpindahan jabatan disertai perubahan pangkat.
Secara berurutan, jejak Yusuf Jauhari mencakup karier dalam lingkungan TNI Angkatan Udara dan pengabdian di Kementerian Pertahanan, termasuk masa sebagai Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal. Setelah itu, promosi pada September 2020 membawanya ke jabatan Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan, dengan kenaikan pangkat menjadi Marsekal Muda. Rangkaian tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan tanggung jawabnya di institusi pertahanan. Uraian ini terbatas pada fakta jabatan dan perubahan pangkat yang tercatat, sehingga tidak menarik kesimpulan tentang bidang tugas, capaian, atau pengalaman lain yang tidak disebutkan. Dengan susunan kronologis tersebut, pembaca dapat melihat tahapan utama karier Yusuf tanpa mencampurkan informasi yang tidak berkaitan. Jabatan di Sekretariat Jenderal menjadi posisi sebelum promosi, sedangkan jabatan di Badan Sarana Pertahanan merupakan peran berikutnya dalam rekam jejaknya di Kemhan.
Perubahan jabatan Yusuf berlangsung seiring penataan kelembagaan di Kementerian Pertahanan. Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2025 tentang Kementerian Pertahanan mentransformasi Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) menjadi Badan Logistik Pertahanan (Baloghan). Perubahan ini menandai pergeseran cakupan kerja dari pengelolaan sarana pertahanan menuju mandat logistik yang lebih luas. Dalam susunan baru tersebut, kebutuhan untuk merencanakan dan mengoordinasikan dukungan logistik pertahanan memperoleh tempat kelembagaan tersendiri. Transformasi itu menjadi konteks penting untuk memahami penugasan Yusuf, karena jabatan yang sebelumnya ia emban berada di lembaga yang kemudian mengalami perubahan nama dan fungsi. Dengan demikian, perubahan organisasi bukan sekadar pergantian nomenklatur, tetapi juga pembaruan kerangka kerja di lingkungan Kemhan.
Sebelum perubahan tersebut, Yusuf menjabat sebagai Kepala Badan Sarana Pertahanan atau Kabaranahan. Berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1033/VIII/2025 tertanggal 6 Agustus 2025, ia ditunjuk menjadi Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemhan. Urutan ini memperlihatkan kesinambungan pengalaman Yusuf dalam mengelola urusan sarana pertahanan dan penugasannya memimpin badan yang berfokus pada logistik. Perubahan struktur kemudian memberi landasan bagi peran baru tersebut, sementara keputusan panglima mencatat penunjukannya secara resmi. Karena itu, posisi Kepala Baloghan dapat dipahami sebagai tahap peralihan yang menghubungkan tanggung jawab Yusuf sebelumnya dengan mandat yang lebih luas dalam mendukung kesiapan pertahanan melalui tata kelola logistik.
Perjalanan kelembagaan dan penugasan itu juga berkaitan dengan pelantikan Yusuf sebagai wakil menteri pertahanan. Dalam jabatan tersebut, ia mengampu bidang logistik, industri pertahanan, dan teknologi. Tanggung jawab ini beririsan dengan agenda Baloghan, terutama dalam memastikan dukungan kebutuhan pertahanan direncanakan dan dikelola secara terpadu. Pada saat yang sama, cakupan tugasnya sebagai wamenhan melampaui urusan logistik, karena turut mencakup penguatan industri pertahanan serta pemanfaatan teknologi. Rangkaian perubahan dari Baranahan ke Baloghan, penunjukan sebagai kepala badan, lalu pelantikan sebagai wamenhan menunjukkan bagaimana pembaruan organisasi berjalan beriringan dengan penataan mandat pejabat. Susunan tersebut menempatkan pengalaman Yusuf dalam urusan sarana dan logistik sebagai bekal yang relevan bagi portofolio barunya di Kemhan.
Richard Taruli Horja Tampubolon, S.H., M.M., merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang memiliki pengalaman panjang dalam lingkungan militer. Sebelum dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Pertahanan, ia menjabat Kepala Staf Umum TNI dengan pangkat letnan jenderal. Posisi tersebut menempatkannya dalam jajaran pimpinan Markas Besar TNI dan berkaitan dengan koordinasi berbagai unsur organisasi di tingkat pusat. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari latar belakangnya saat memasuki tanggung jawab baru di bidang pertahanan.
Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Staf Umum TNI, Tampubolon menjalankan tugas di lingkungan Mabes TNI, yang mencakup koordinasi serta dukungan terhadap pelaksanaan tugas organisasi. Salah satu kegiatan yang mencerminkan perannya dalam masa jabatan tersebut berlangsung pada September 2024.
Baca juga: DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber | Latihan Cyber Super Garuda Shield 2026 Perkuat kemampuan Pertahanan Siber Gabungan | Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045: Kodim Bojonegoro Perkuat Karakter Kebangsaan Komponen Masyarakat

