Karhutla Picu 283.270 Kasus ISPA di Tujuh Provinsi

Karhutla Picu 283.270 Kasus ISPA di Tujuh Provinsi

Kabupaten Katingan | Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka tersebut merupakan akumulasi laporan sejak Agustus hingga 13 Oktober 2026, dengan cakupan tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Data itu disampaikan Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, dalam konferensi pers mengenai perkembangan penanganan karhutla pada 14 Oktober 2026. Konferensi pers tersebut digelar oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Rincian kelompok usia menunjukkan 63.711 kasus ISPA terjadi pada anak berusia 0–5 tahun. Sementara itu, sebanyak 219.559 kasus tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun. Jika dijumlahkan, kedua kelompok tersebut mencakup keseluruhan 283.270 kasus yang dilaporkan. Pembagian ini memberikan gambaran jumlah kasus menurut kelompok umur dalam data yang disampaikan Kemenkes, tanpa mengubah cakupan wilayah maupun periode pencatatannya.

Dalam pemaparan yang sama, disebutkan pula angka situasi harian ISPA sebanyak 3.897 hingga 13 Oktober 2026. Keterangan tersebut disampaikan bersama data akumulasi kasus sejak Agustus, sehingga keduanya merujuk pada penyajian angka yang berbeda: satu merupakan jumlah kumulatif dalam periode laporan, sedangkan satu lagi disebut sebagai angka situasi harian hingga tanggal tersebut. Seluruh informasi itu disampaikan dalam konteks pembaruan penanganan karhutla di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak.

Kementerian Kesehatan turut memaparkan kondisi kualitas udara di sejumlah kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tersebut berlaku per 13 Oktober 2026 pukul 13.30 WIB. Angka yang disampaikan menunjukkan tingkat pencemaran udara sangat tinggi di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan, dengan sejumlah lokasi berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencatat angka ISPU tertinggi, yakni 4.055. Nilai tinggi juga tercatat di sejumlah kabupaten lain di provinsi tersebut. Kabupaten Katingan memiliki ISPU 868, Kabupaten Gunung Mas 766, dan Kabupaten Barito Selatan 652. Di Sumatera Selatan, Kabupaten PALI mencatat angka 523, sedangkan Palembang berada pada angka 492. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa kondisi udara tidak hanya menjadi perhatian di satu kawasan, tetapi meluas ke berbagai daerah terdampak.

Kemenkes juga menyebut kualitas udara berbahaya tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Siak. Untuk wilayah-wilayah tersebut, angka ISPU tidak dicantumkan dalam data yang disampaikan. Karena itu, tingkat pencemaran di lokasi tersebut dapat disebut berbahaya sesuai keterangan, tanpa merinci nilai yang tidak tersedia.

Klasifikasi ISPU yang dipaparkan membagi nilai di atas 300 ke dalam kategori berbahaya, sementara rentang 200 hingga 299 tergolong sangat tidak sehat. Dengan batas tersebut, data beberapa lokasi yang disebutkan menunjukkan pencemaran udara telah melampaui ambang kategori berbahaya. ISPU digunakan untuk menggambarkan tingkat pencemar udara dan membantu masyarakat memahami kondisi lingkungan di sekitarnya. Angka yang sangat tinggi di sejumlah wilayah menjadi penanda penting bagi warga, terutama mereka yang tinggal atau beraktivitas dekat kawasan terdampak karhutla. Pemantauan kualitas udara tetap diperlukan seiring kondisi asap yang dapat berubah menurut lokasi dan waktu.Suyanti menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar gangguan jarak pandang, tetapi campuran pencemar yang dapat membahayakan kesehatan. Kandungannya mencakup partikulat halus PM2,5, karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), serta senyawa organik beracun. Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil, sementara gas dan senyawa lain turut menjadi bagian dari paparan kabut asap. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu memahami bahwa asap membawa beberapa jenis zat pencemar, bukan hanya debu atau bau terbakar. Paparan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pernapasan, iritasi, dan risiko kesehatan lain yang disebutkan Suyanti.

Dampak yang dapat muncul meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan memburuknya gejala asma. Bagi penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kabut asap juga dapat menimbulkan gangguan. Selain saluran pernapasan, paparan dapat mengiritasi mata dan kulit. Keluhan pada mata dapat berupa mata merah, gatal, dan perih. Risiko yang dijelaskan tidak hanya terbatas pada keluhan yang terasa langsung. Paparan asap juga disebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok lanjut usia. Uraian ini menegaskan bahwa dampak kabut asap dapat menyentuh beberapa aspek kesehatan, dengan tingkat kerentanan yang berbeda pada setiap orang.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengidentifikasi sejumlah kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan akibat kabut asap. Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang menderita asma atau PPOK. Pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian karena mereka lebih sering berada di lingkungan terbuka saat asap menyelimuti wilayah. Penjelasan mengenai kelompok rentan ini penting agar masyarakat dapat mengenali siapa yang lebih berisiko ketika kualitas udara terganggu oleh karhutla. Dengan memahami kandungan asap, kemungkinan dampaknya, dan kelompok yang perlu diwaspadai, paparan kabut asap dapat dipandang sebagai persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus, terutama bagi warga yang kondisi atau aktivitasnya membuat mereka lebih rentan.

Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat kabut asap karhutla, Kementerian Kesehatan menyiapkan langkah promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan penguatan layanan. Upaya ini diarahkan agar masyarakat memahami dampak paparan asap serta mengetahui tindakan yang dapat dilakukan untuk melindungi diri. Edukasi akan disampaikan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang berpotensi terdampak, sehingga warga dapat mengenali risiko dan mencari pertolongan ketika mengalami keluhan kesehatan.

Kemenkes juga mendorong pemantauan penyakit yang berkaitan dengan paparan asap, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan asma, serta iritasi pada mata dan kulit. Pemantauan diperlukan untuk mengetahui perkembangan gangguan kesehatan dan mendukung respons yang tepat. Di samping itu, surveilans kualitas udara perlu dilakukan, khususnya di permukiman berisiko terdampak kabut asap. Informasi kualitas udara dapat menjadi dasar bagi petugas dan masyarakat dalam menentukan langkah perlindungan sehari-hari.

Dukungan layanan disiapkan melalui pos pelayanan kesehatan di puskesmas dan penguatan kapasitas fasilitas kesehatan. Kemenkes menyiapkan mobilisasi oksigen konsentrator, tabung oksigen, serta masker sesuai kebutuhan di lapangan. Dukungan laboratorium kesehatan juga disiapkan untuk menunjang pemeriksaan, sementara layanan rujukan akan diperkuat agar pasien yang memerlukan penanganan lanjutan dapat memperoleh layanan. Selain itu, layanan kesehatan bergerak dapat menjangkau masyarakat di lokasi yang sulit mengakses fasilitas kesehatan tetap.

Suyanti mengimbau masyarakat untuk memantau informasi kualitas udara dan mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Warga disarankan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar, menjaga kecukupan asupan air, serta memberi perlindungan lebih kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta. Upayakan pula mengurangi asap yang masuk ke rumah dengan menutup pintu dan jendela saat paparan tinggi. Masyarakat perlu mengenali tanda gangguan kesehatan, seperti sesak napas, batuk yang memburuk, iritasi mata atau kulit, lalu segera mencari pertolongan medis bila keluhan muncul atau bertambah berat.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla