Jakarta | Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) mengungkapkan bahwa sekitar 2,95 juta dari 23,35 juta peserta Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025–2026 ditemukan mengalami gangguan mata. Angka tersebut setara dengan hampir 10 persen dari seluruh peserta yang menjalani pemeriksaan. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah penglihatan merupakan persoalan kesehatan yang cukup luas dan perlu mendapat perhatian lebih serius.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perdami, Dr. Budu, menyampaikan keterangan tersebut di Jakarta pada Selasa. Menurutnya, tingginya jumlah peserta dengan gangguan mata perlu dipandang bukan sekadar sebagai temuan medis, melainkan juga sebagai peringatan mengenai potensi dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Penglihatan yang terganggu dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, bekerja, mengemudi, serta menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman dan produktif.
Persoalan lain yang turut disoroti adalah masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan penglihatan. Sebagian baru memeriksakan mata ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas, padahal sejumlah kondisi dapat berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Ketidaksadaran tersebut membuat pemeriksaan dan tindak lanjut sering tertunda.
Penundaan penanganan dapat menyebabkan kondisi mata menjadi lebih sulit ditangani. Dalam kasus tertentu, keterlambatan juga berisiko menimbulkan kerusakan penglihatan yang menetap, bahkan kebutaan permanen. Karena itu, hasil pemeriksaan melalui program CKG perlu diikuti dengan konsultasi, pemeriksaan lanjutan, atau pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Temuan jutaan peserta dengan masalah mata sekaligus menegaskan pentingnya memperluas kesadaran masyarakat mengenai kesehatan penglihatan. Pemeriksaan rutin, terutama bagi kelompok berisiko, dapat membantu mendeteksi kelainan lebih dini. Upaya tersebut diharapkan mampu mencegah penurunan fungsi penglihatan sekaligus menjaga produktivitas masyarakat Indonesia dalam jangka panjang.
Data yang disampaikan Budu menunjukkan bahwa kebutaan masih menjadi persoalan kesehatan yang besar, terutama pada penduduk berusia di atas 50 tahun. Sekitar 3,0 persen kelompok usia tersebut mengalami kebutaan. Angka ini memperlihatkan bahwa gangguan penglihatan bukan hanya persoalan individual, melainkan juga tantangan sosial yang dapat memengaruhi kemandirian, kualitas hidup, serta kemampuan seseorang untuk tetap beraktivitas secara produktif. Pada kelompok lanjut usia, kehilangan penglihatan dapat meningkatkan risiko jatuh, membatasi mobilitas, dan menambah beban keluarga maupun layanan kesehatan.
Katarak tercatat sebagai penyebab dominan, yakni mencapai 81,2 persen dari seluruh kasus kebutaan pada kelompok tersebut. Temuan ini sejalan dengan survei Kementerian Kesehatan yang memperkirakan terdapat sekitar 600–650 ribu kasus kebutaan akibat katarak. Besarnya jumlah tersebut perlu mendapat perhatian karena katarak pada umumnya berkembang secara bertahap dan dapat dikenali melalui pemeriksaan mata. Apabila ditangani pada waktu yang tepat, gangguan akibat kekeruhan lensa dapat dipulihkan melalui tindakan operasi, sehingga seseorang berpeluang kembali menjalankan kegiatan sehari-hari secara lebih mandiri.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat skrining kesehatan mata secara nasional. Pemeriksaan yang dilakukan secara berkala dapat membantu menemukan gangguan penglihatan sejak dini, termasuk katarak, kelainan refraksi, glaukoma, dan sejumlah penyakit lain yang berisiko menyebabkan kehilangan penglihatan. Banyak penyebab utama gangguan penglihatan pada tahap awal sebenarnya mudah ditangani dan bahkan dapat dicegah melalui deteksi dini, pengobatan, penggunaan alat bantu, serta pengendalian penyakit penyerta. Karena itu, fasilitasi operasi katarak bagi lansia perlu terus diperluas, terutama bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan biaya atau akses layanan. Penguatan skrining dan rujukan di tingkat nasional diharapkan mencegah kebutaan yang seharusnya dapat dihindari, sekaligus mempertahankan kesehatan, kemandirian, dan produktivitas penduduk lanjut usia.
Masalah kesehatan mata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melihat dengan jelas. Gangguan penglihatan juga dapat memengaruhi produktivitas, keselamatan, kesempatan memperoleh pendidikan, serta kehidupan sosial. Ketika kemampuan melihat terganggu, aktivitas sehari-hari dan pekerjaan dapat berlangsung lebih lambat, sementara interaksi sosial pun berpotensi ikut terdampak.
Menurut perkiraan International Agency for Prevention of Blindness, gangguan penglihatan menyebabkan hilangnya produktivitas senilai 411 juta dolar AS. Dalam keterangannya, Budu juga menyebutkan angka kehilangan produktivitas harian yang mencapai 1,1 miliar dolar AS. Besarnya nilai tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mata memiliki hubungan erat dengan kondisi ekonomi, baik pada tingkat individu maupun masyarakat.
Risiko keselamatan turut menjadi perhatian. Orang dengan gangguan kesehatan mata disebut memiliki risiko mengalami kecelakaan 2,6 kali lebih tinggi. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mengenali lingkungan, memperkirakan jarak, serta merespons situasi secara tepat. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penderita, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap orang lain di sekitarnya.
Pada anak-anak, gangguan penglihatan dapat mengurangi peluang untuk menempuh pendidikan. Peluang tersebut disebut lima kali lebih kecil dibandingkan anak dengan penglihatan baik. Hambatan melihat dapat menyulitkan anak mengikuti kegiatan belajar dan mengakses materi pendidikan, sehingga kesehatan mata menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan.
Data global yang disebutkan mencakup 510 juta orang dengan gangguan refraksi dekat yang tidak terkoreksi dan 161 juta orang dengan gangguan refraksi jauh yang tidak terkoreksi. Selain itu, terdapat 100 juta orang dengan katarak yang belum menjalani operasi. Degenerasi makula tercatat pada 8,1 juta orang, glaukoma pada 7,8 juta orang, dan retinopati diabetik pada 4,4 juta orang. Angka-angka tersebut memperlihatkan luasnya persoalan gangguan mata yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan.
Temuan gangguan penglihatan pada peserta Cek Kesehatan Gratis (CKG) perlu diikuti langkah penanganan yang jelas dan berkesinambungan. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) bersama Kementerian Kesehatan mendorong agar hasil skrining tidak berhenti sebagai data, melainkan menjadi pintu masuk menuju pemeriksaan lanjutan, terapi, rehabilitasi, atau tindakan operasi sesuai kebutuhan setiap pasien. Pendekatan tersebut penting untuk mencegah gangguan penglihatan berkembang menjadi hambatan permanen bagi aktivitas, pendidikan, dan pekerjaan.
Pemberantasan kebutaan juga sejalan dengan keinginan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia. Usia hidup yang lebih panjang perlu disertai kualitas hidup yang baik, termasuk kemampuan lansia untuk tetap mandiri dan produktif. Karena itu, akses terhadap operasi katarak dan layanan mata lain bagi kelompok lanjut usia menjadi bagian penting dari pembangunan kesehatan, bukan sekadar layanan tambahan.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan mata tidak boleh berhenti pada skrining. Sistem layanan harus terintegrasi sehingga pasien memperoleh tindak lanjut sesuai kompetensi fasilitas kesehatan, mulai dari pemeriksaan di tingkat dasar hingga rujukan kepada dokter spesialis dan rumah sakit apabila diperlukan. Koordinasi ini membantu mengurangi keterlambatan penanganan serta memastikan temuan gangguan tidak terabaikan.
Investasi pada kesehatan mata pada akhirnya merupakan investasi terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Masyarakat tidak perlu menunggu penglihatan memburuk sebelum mencari pertolongan. Tanda seperti pandangan kabur, sulit melihat pada malam hari, silau berlebihan, nyeri, mata merah berulang, atau munculnya bayangan dan kilatan perlu diperhatikan. Skrining dan pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan secara berkala, lalu setiap temuan segera ditindaklanjuti melalui layanan kesehatan yang sesuai.
Baca juga: Culture Day Peserta Staffex SGS 2026 Ulik Budaya Indonesia Di Saung Angklung Udjo | Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi | Peserta Super Garuda Shield 2026 Simulasikan Respons Terpadu Hadapi Bencana
