Jakarta | Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten batu bara yang dikendalikan oleh Low Tuck Kwong, mencatat transaksi jumbo di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Transaksi tersebut merupakan transaksi tutup sendiri atau crossing, yakni perpindahan saham dalam jumlah besar yang dilakukan melalui mekanisme negosiasi di bursa. Nilai transaksi BYAN mencapai Rp1,12 triliun, sehingga menjadi salah satu aktivitas perdagangan paling menonjol pada periode tersebut.
Transaksi berlangsung pada harga Rp11.200 per saham dan melibatkan sekitar 100 juta saham. Jumlah tersebut setara dengan 1 juta lot, dengan asumsi satu lot terdiri atas 100 saham. Besarnya volume dan nilai transaksi membuat crossing saham BYAN tercatat sebagai transaksi terbesar di pasar negosiasi hingga berakhirnya sesi I. Aktivitas ini berbeda dari perdagangan reguler karena transaksi negosiasi dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan pihak pembeli dan penjual, termasuk dari sisi harga serta jumlah saham.
Dominasi transaksi BYAN terlihat dari perbandingannya dengan keseluruhan pasar negosiasi. Hingga penutupan sesi I, total nilai transaksi di segmen tersebut mencapai Rp1,43 triliun. Dengan nilai sebesar Rp1,12 triliun, transaksi saham BYAN menyumbang sekitar 78% dari total nilai perdagangan pasar negosiasi pada periode yang sama. Porsi tersebut menunjukkan bahwa satu transaksi dalam jumlah besar dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap aktivitas dan nilai transaksi harian di segmen negosiasi BEI. Meski demikian, data crossing terutama mencerminkan perpindahan kepemilikan yang telah disepakati para pihak, sehingga tidak secara langsung menggambarkan arah pergerakan harga BYAN di pasar reguler.
Transaksi crossing saham BYAN pada Rabu, 14 Oktober 2026, dengan nilai mencapai sekitar Rp1,12 triliun, bukan merupakan transaksi pertama yang berlangsung pada harga Rp11.200 per saham. Sehari sebelumnya, BYAN juga mencatat transaksi di pasar negosiasi dengan nilai Rp5,6 miliar. Transaksi tersebut melibatkan volume 5.000 lot, setara dengan 500.000 saham, sehingga menunjukkan bahwa harga Rp11.200 telah muncul dalam aktivitas perdagangan sebelum crossing bernilai besar pada sesi I.
Transaksi pada Selasa, 13 Oktober 2026, itu difasilitasi oleh PT Maybank Sekuritas Indonesia dengan kode broker ZP. Dalam transaksi tersebut, broker yang sama tercatat berada di sisi beli sekaligus sisi jual. Kondisi ini menunjukkan bahwa Maybank Sekuritas Indonesia menjalankan peran pada kedua sisi transaksi di pasar negosiasi, meskipun data tersebut tidak serta-merta menjelaskan identitas investor akhir yang melakukan perpindahan saham.
Harga crossing BYAN terbaru di Rp11.200 per saham berada 0,44% lebih rendah dibandingkan harga penutupan saham tersebut pada perdagangan sehari sebelumnya, yakni Rp11.250 per saham. Selisihnya setara Rp50 untuk setiap saham. Jika dibandingkan dengan harga BYAN di pasar reguler, harga crossing itu juga tercatat sekitar 1,75% lebih rendah. Dengan demikian, transaksi negosiasi pada harga Rp11.200 berlangsung di bawah acuan penutupan maupun kisaran harga pasar reguler. Perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam membaca transaksi crossing, karena harga yang disepakati di pasar negosiasi dapat berbeda dari harga terakhir atau harga yang terbentuk melalui mekanisme perdagangan reguler. Riwayat transaksi sehari sebelumnya juga memperlihatkan bahwa level Rp11.200 telah digunakan dalam transaksi berukuran lebih kecil sebelum munculnya transaksi crossing dengan nilai jauh lebih besar pada 14 Oktober.
Saham BYAN tetap mencatat penguatan di pasar reguler hingga akhir sesi I perdagangan. Harga saham emiten tersebut naik 150 poin atau 1,33% ke level Rp11.400 per saham, dibandingkan harga pembukaan sebesar Rp11.325. Pergerakan intraday menunjukkan BYAN sempat mencapai level tertinggi Rp11.500 dan menyentuh level terendah Rp11.075. Adapun harga rata-rata transaksi berada di posisi Rp11.338 per saham.
Kenaikan harga tersebut berlangsung ketika aktivitas perdagangan reguler relatif terbatas. Hingga penutupan sesi I, volume transaksi BYAN di pasar reguler tercatat hanya 3.270 lot dengan nilai sekitar Rp3,7 miliar. Angka itu sangat kecil dibandingkan nilai transaksi crossing saham BYAN yang mencapai Rp1,12 triliun. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penguatan harga pada pasar reguler tidak disertai lonjakan aktivitas transaksi harian yang sebanding dengan nilai perpindahan saham melalui mekanisme crossing.
Dari sisi antrean perdagangan, jumlah penawaran jual atau offer pada 10 level harga teratas tercatat sebanyak 6.144 lot. Posisi ini lebih besar daripada antrean beli atau bid yang mencapai 3.935 lot. Selisih tersebut menggambarkan tekanan penawaran yang relatif lebih tebal di sekitar level harga berjalan, meskipun saham masih mampu bergerak positif pada sesi pertama. Investor dapat mencermati perubahan komposisi bid dan offer pada sesi berikutnya untuk melihat apakah penguatan BYAN berlanjut atau menghadapi tekanan jual. Dengan demikian, kinerja harga yang menguat perlu dibaca bersama data volume, nilai transaksi reguler, serta struktur antrean pasar agar gambaran perdagangan saham ini tetap proporsional.
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada akhir sesi I ditutup dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG naik 48,31 poin atau 0,82% ke level 5.974,29. Sepanjang sesi, indeks bergerak pada rentang 5.906,74 hingga 6.009,96. Nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp6,10 triliun, termasuk transaksi di pasar negosiasi senilai Rp1,43 triliun.
Pergerakan saham menunjukkan 391 saham menguat pada sesi I. Sebanyak 227 saham tercatat melemah, sedangkan 170 saham lainnya bergerak stagnan. Data tersebut mencerminkan sebaran perubahan harga saham hingga penutupan perdagangan sesi pertama, dengan jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan saham yang mengalami penurunan maupun tidak berubah.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks utama. Indeks LQ45 meningkat 1,24% ke level 596,52. Indeks IDX80 menguat 1,22% dan berakhir pada posisi 88,56. Indeks IDX30 naik 1,19% ke level 332,11. Sementara itu, indeks IDXHIDIV20 bertambah 1,07% menjadi 426,26.
Dengan demikian, pada akhir sesi I, IHSG berada di level 5.974,29 setelah mencatat kenaikan 0,82%. Aktivitas transaksi mencapai Rp6,10 triliun, dengan kontribusi transaksi pasar negosiasi sebesar Rp1,43 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 391 saham menguat, 227 saham melemah, dan 170 saham stagnan. Pada periode yang sama, LQ45, IDX80, IDX30, serta IDXHIDIV20 masing-masing ditutup pada level 596,52, 88,56, 332,11, dan 426,26.
