Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih meluas di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin malam, 12 Oktober 2026. Luas area yang terbakar di dua provinsi tersebut mencapai 343,55 hektare. Angka itu menunjukkan bahwa penanganan kebakaran masih berlangsung dan sejumlah titik api belum sepenuhnya terkendali.
Di Kalimantan Tengah, karhutla berdampak pada 11 kabupaten/kota. Sementara itu, di Sumatera Selatan, kebakaran tercatat memengaruhi delapan kabupaten/kota. Sebaran tersebut membuat dampak bencana tidak hanya terlihat dari kerusakan lahan, tetapi juga dirasakan dalam aktivitas masyarakat, terutama akibat memburuknya kualitas udara di sekitar wilayah terdampak.
Kualitas udara di kedua provinsi masuk kategori berbahaya seiring meningkatnya asap dari kebakaran. Kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan. Masyarakat di wilayah terdampak perlu membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung pernapasan ketika harus beraktivitas di area yang terpapar asap.
Dampak asap juga terlihat pada menurunnya jarak pandang di sejumlah bandara. Di Kalimantan Tengah, jarak pandang tercatat hanya sekitar 0,2 kilometer. Adapun di Sumatera Selatan, jarak pandang berada pada kisaran 0,3 hingga 7 kilometer. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran penerbangan, sehingga pemantauan cuaca serta informasi operasional bandara menjadi penting bagi calon penumpang dan pengguna jasa penerbangan.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah pada 11 Oktober 2026 terus dilakukan oleh petugas gabungan. Berdasarkan dashboard informasi penanganan karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), area yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 64,8 hektare. Luasan tersebut tersebar di 49 lokasi kebakaran atau fire spot di sejumlah wilayah provinsi tersebut.
Petugas telah berhasil memadamkan api di area seluas 54 hektare yang berada pada 38 lokasi. Namun, masih terdapat 10,8 hektare di 11 lokasi yang menjadi sasaran operasi lanjutan. Upaya pemadaman dilakukan melalui operasi darat dengan mengerahkan personel dan peralatan untuk menjangkau titik-titik api serta mencegah penyebaran kebakaran ke area sekitarnya.
Operasi udara belum dapat dijalankan karena jarak pandang di wilayah terdampak masih rendah. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi pengerahan helikopter untuk pemadaman maupun dukungan pemantauan dari udara. Karena itu, petugas di lapangan masih mengandalkan strategi pemadaman langsung dari darat sembari memantau perubahan kondisi cuaca dan arah angin.
Data BNPB juga mencatat 3.908 titik panas di Kalimantan Tengah, dengan 74 titik panas berkategori tinggi. Temuan ini menjadi indikator yang perlu terus ditindaklanjuti karena dapat menunjukkan potensi munculnya api baru, terutama di kawasan dengan vegetasi dan lahan gambut yang kering.
Selain pemadaman langsung, pemerintah melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan peluang hujan. Upaya tersebut memicu hujan lokal di Katingan, Kotawaringin Barat, dan Murung Raya. Hujan di sejumlah wilayah itu diharapkan membantu membasahi lahan, menurunkan risiko perluasan api, serta mendukung pekerjaan petugas dalam menangani lokasi yang masih terbakar.
Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih memerlukan penanganan intensif. Berdasarkan pemantauan terbaru, total area yang terbakar mencapai 278,75 hektare. Dari luasan tersebut, petugas gabungan telah berhasil memadamkan 271,85 hektare, sementara 6,90 hektare lainnya masih dalam proses penanganan. Sisa lahan yang terbakar terus dipantau karena berpotensi kembali menyala, terutama ketika kondisi cuaca panas, kering, dan berangin.
Aktivitas titik panas juga menjadi perhatian dalam pemetaan risiko karhutla. Tercatat sebanyak 1.991 titik panas di wilayah Sumatera Selatan, dengan 121 titik di antaranya berada pada tingkat kepercayaan tinggi. Dampak kebakaran telah dirasakan di delapan kabupaten/kota, sehingga koordinasi antarpemerintah daerah, aparat, petugas pemadam, dan masyarakat perlu terus diperkuat. Penanganan dilakukan melalui pemadaman di darat, pemantauan area terdampak, serta upaya mencegah api meluas ke lahan gambut dan kawasan permukiman.
Operasi pemadaman melalui water bombing belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang rendah. Kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan penerbangan dan menghambat ketepatan manuver pesawat saat menjangkau lokasi kebakaran. Sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi hujan, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan pada 12 Oktober 2026 sebanyak satu sorti dengan membawa 800 kilogram natrium klorida. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan di wilayah yang membutuhkan.
Sebelumnya, pada 9 hingga 11 Oktober 2026, operasi modifikasi cuaca telah dilaksanakan sebanyak empat sorti dengan total penggunaan 3.600 kilogram natrium klorida. Pemerintah dan unsur terkait selanjutnya menyiapkan patroli udara serta pemadaman lanjutan di titik-titik yang masih menunjukkan aktivitas api. Seluruh penerbangan dan operasi lapangan tetap akan mempertimbangkan perkembangan cuaca, jarak pandang, kondisi angin, serta aspek keselamatan penerbangan agar penanganan berlangsung efektif dan aman.
BNPB merekomendasikan agar penanganan lanjutan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan dipusatkan pada lokasi yang masih menunjukkan titik api atau belum sepenuhnya padam. Operasi perlu dilakukan secara terarah melalui penyekatan untuk membatasi pergerakan api, pemadaman pada sumber kebakaran, serta pendinginan guna mencegah bara kembali menyala. Setiap wilayah prioritas harus didukung pengerahan personel, peralatan, dan sumber air yang memadai sesuai karakteristik lapangan.
Armada pemadaman perlu dioptimalkan di lokasi yang memiliki ancaman paling besar, terutama ketika kondisi cuaca, akses, dan keselamatan memungkinkan. Penentuan sasaran harus didukung patroli udara secara berkala untuk menemukan titik api yang belum terjangkau oleh tim darat. Informasi dari pemantauan udara dapat membantu mempercepat perpindahan armada dan menghindari penggunaan sumber daya pada area yang telah terkendali. Petugas juga perlu memantau jarak pandang serta kondisi atmosfer secara berkala karena asap dapat berubah mengikuti arah angin dan memengaruhi keselamatan penerbangan maupun aktivitas pemadaman.
Di Sumatera Selatan, kesiapsiagaan armada water bombing perlu ditingkatkan pada wilayah rawan, khususnya Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Penempatan armada secara lebih dekat dengan zona berisiko akan memperpendek waktu respons ketika muncul laporan kebakaran baru atau terjadi perluasan api. Koordinasi pemerintah daerah, unsur penanggulangan bencana, dan operator penerbangan juga diperlukan agar pengisian air, penentuan sasaran, serta pelaksanaan penerbangan berlangsung efektif.
Penguatan kesiapsiagaan satuan tugas darat di sekitar permukiman harus berjalan bersamaan dengan operasi di lahan terbakar. Tim perlu melakukan patroli, menyiapkan jalur evakuasi, melindungi fasilitas penting, dan memastikan ketersediaan sumber air bagi pemadaman awal. Pendekatan ini penting untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, melindungi masyarakat dari paparan asap, serta memastikan setiap perubahan situasi dapat segera ditangani melalui komando dan pelaporan yang terkoordinasi.
Baca juga: Cegah Karhutla Meluas, Danrem 091/ASN Tinjau Posko Karhutla di Sanga-Sanga | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel
