Kabupaten Kotawaringin Barat | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru ditemukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dengan luas area terdampak mencapai 513,89 hektare. Temuan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam penanganan karhutla karena mencakup wilayah konservasi yang memiliki nilai ekologis tinggi serta berada di area administrasi dua kabupaten, yakni Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan.
Informasi mengenai kebakaran itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dalam rapat terbatas penanganan karhutla yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto pada Senin malam, 12 Oktober. Dalam laporan tersebut, luas kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting tercatat sebagai bagian dari akumulasi kejadian karhutla yang sedang dipantau pemerintah di Kalimantan Tengah.
Suharyanto menjelaskan bahwa area yang terbakar merupakan lahan mineral, bukan lahan gambut. Keterangan ini penting karena karakteristik lahan memengaruhi pola penyebaran api, tingkat kesulitan pemadaman, serta strategi yang diperlukan oleh tim gabungan di lapangan. Meski demikian, kebakaran di dalam atau sekitar kawasan taman nasional tetap berpotensi mengganggu habitat satwa, merusak vegetasi, dan menurunkan kualitas udara bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Berdasarkan laporan dalam rapat tersebut, Kalimantan Tengah disebut sebagai wilayah dengan kebakaran terbesar. Luas area terdampak di Tanjung Puting menjadi salah satu faktor yang memperkuat perhatian pemerintah terhadap provinsi itu. Penanganan kemudian perlu dilakukan secara terkoordinasi, baik melalui pemantauan titik api, pengerahan personel darat, maupun dukungan operasi udara apabila kondisi memungkinkan. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pengawasan kawasan hutan dan lahan harus terus ditingkatkan untuk mencegah api meluas ke area lain di sekitar Kotawaringin Barat dan Seruyan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan perkembangan penanganan, terdapat 639,23 hektare lahan yang terbakar dan masih dalam proses pemadaman di enam provinsi. Luasan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla belum dapat dilakukan secara serentak dengan intensitas yang sama di setiap daerah. Pemerintah dan satuan tugas memprioritaskan operasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, dua wilayah yang memerlukan pengerahan sumber daya secara lebih besar karena kondisi kebakaran dan tantangan akses di lapangan.
Operasi udara menghadapi hambatan serius berupa jarak pandang atau visibility yang sangat rendah dan tebal. Kondisi tersebut membuat upaya satuan tugas udara dari Palangka Raya, Bandara Tjilik Riwut, dan Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin belum dapat menembus lokasi kebakaran secara optimal. Pesawat tidak bisa leluasa menjalankan misi pemadaman apabila pandangan pilot dan kondisi atmosfer tidak mendukung. Hambatan serupa juga dialami dalam pelaksanaan water bombing serta operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah. Asap pekat dan jarak pandang terbatas mengurangi efektivitas penerbangan sekaligus menuntut kehati-hatian lebih tinggi demi keselamatan awak dan peralatan.
Karena operasi udara belum sepenuhnya dapat dilakukan, pemadaman di Kalimantan Tengah saat ini lebih menitikberatkan operasi darat. Tim di lapangan berupaya menjangkau titik api, melakukan pendinginan, serta mencegah meluasnya kebakaran ke area lain. Suharyanto menyebutkan, empat pesawat disiapkan untuk mendukung penanganan di Kalimantan Tengah, sementara dua pesawat dari Pangkalpinang dialokasikan ke Sumatra Selatan. Pada hari laporan, dua pesawat tersebut mulai dapat melakukan penerbangan dan akan dipadukan dengan operasi modifikasi cuaca. Penyesuaian strategi ini diharapkan memperkuat pemadaman ketika kondisi visibility membaik, sekaligus menjaga penanganan darat tetap berjalan di wilayah yang belum dapat dijangkau dari udara.
Kota Palembang, Sumatra Selatan, kembali diselimuti kabut asap tebal pada Selasa pagi, 13 Oktober. Kabut mulai terlihat sejak pagi dan belum menunjukkan tanda-tanda menipis hingga siang hari. Kondisi ini menambah kekhawatiran warga karena paparan asap telah berlangsung lebih dari dua bulan dan belakangan terasa semakin memburuk. Udara yang biasanya tampak cerah berubah menjadi kelabu, terutama di kawasan perkotaan dan wilayah yang berdekatan dengan jalur lalu lintas padat.
Jarak pandang turut terganggu akibat pekatnya kabut. Jembatan Ampera, salah satu ikon Palembang, nyaris tidak terlihat dari kejauhan. Di sejumlah ruas jalan utama, visibilitas berada pada tingkat rendah sehingga pengendara kesulitan mengenali kendaraan lain, rambu lalu lintas, maupun objek di depan mereka. Situasi tersebut menjadi lebih berisiko pada pagi dan siang hari ketika aktivitas masyarakat sedang berlangsung cukup ramai.
Pengguna jalan perlu meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu kendaraan agar lebih mudah terlihat. Pengendara sepeda motor juga disarankan menggunakan perlengkapan pelindung dan menghindari perjalanan yang tidak mendesak apabila jarak pandang semakin terbatas. Langkah tersebut penting untuk mengurangi kemungkinan tabrakan, terutama di persimpangan, jalan yang padat, dan ruas dengan arus kendaraan berlawanan.
Selain mengganggu mobilitas, kabut asap mulai dirasakan sebagai persoalan kesehatan oleh warga. Sejumlah masyarakat mengeluhkan iritasi atau mata perih setelah beraktivitas di luar ruangan. Keluhan lain yang muncul meliputi sesak napas dan tenggorokan kering akibat paparan udara tercemar. Warga, khususnya anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki gangguan pernapasan, perlu membatasi kegiatan di luar rumah, menggunakan masker yang sesuai, dan segera mencari pertolongan medis apabila gejala semakin berat.
Di tengah siklus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung, upaya penyelamatan satwa liar di Kalimantan Barat terus dilakukan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu orang utan Kalimantan sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026. Puluhan satwa tersebut ditemukan di habitat yang terdampak kebakaran dan berada dalam kondisi yang memerlukan penanganan segera.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan pada Minggu, 11 Oktober, bahwa seluruh orang utan yang diselamatkan dievakuasi dari habitat yang terbakar. Evakuasi dilakukan untuk mencegah satwa terpapar asap, kekurangan sumber pakan, serta menghadapi risiko lanjutan akibat meluasnya area terbakar. Namun, ia menegaskan bahwa penyediaan habitat aman masih menjadi tantangan berikutnya dalam konservasi satwa yang dilindungi tersebut.
Penanganan terhadap orang utan dilakukan melalui beberapa tahapan. Setelah dievakuasi dari habitat terdampak, setiap satwa menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi untuk mengetahui kondisi fisik, tingkat stres, serta kebutuhan perawatannya. Hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan langkah rehabilitasi dan lokasi pemindahan yang sesuai. Satwa kemudian dipindahkan ke kawasan yang lebih aman setelah dinilai cukup sehat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Pada 9 Oktober, sebanyak delapan orang utan yang telah dinyatakan sehat mulai ditranslokasikan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Pemindahan ini diharapkan memberikan ruang hidup yang lebih terlindungi sekaligus mendukung pemulihan populasi orang utan di habitat alaminya. Proses tersebut tetap membutuhkan pemantauan berkelanjutan, terutama untuk memastikan satwa dapat menemukan pakan, beradaptasi, dan tidak kembali terancam oleh kebakaran. Penyelamatan puluhan orang utan ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla juga berkaitan erat dengan perlindungan ekosistem dan keberlangsungan satwa endemik Kalimantan.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla

