Jakarta | Peter Thiel, pendiri sekaligus bos Palantir Technologies, mengambil posisi yang berlawanan dengan banyak pemimpin perusahaan teknologi yang selama ini menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ketika sejumlah tokoh industri memperingatkan risiko keamanan, perubahan sosial, dan dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan AI, Thiel justru mengarahkan kritik kepada pihak-pihak yang menurutnya membesar-besarkan ancaman tersebut.
Dalam pernyataannya, Thiel menilai para pengkritik AI memanfaatkan ketakutan publik untuk memperoleh perhatian dan meningkatkan popularitas politik. Menurut dia, perdebatan mengenai teknologi tidak selalu didorong oleh penilaian risiko yang objektif. Kekhawatiran terhadap AI, dalam pandangannya, dapat berubah menjadi alat retoris untuk membangun citra sebagai pemimpin yang mampu melindungi masyarakat dari perubahan teknologi yang cepat.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian kuliah Peter Thiel mengenai Antikristus yang berlangsung di Roma. Laporan mengenai sikapnya tersebut terbit pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, sasaran tuduhan Thiel mencakup mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Paus Leo XIV. Ia menempatkan keduanya sebagai contoh tokoh berpengaruh yang, menurut tuduhannya, memanfaatkan kekhawatiran terhadap AI demi kepentingan politik atau pengaruh publik.
Sikap tersebut menambah warna pada perdebatan global mengenai masa depan kecerdasan buatan. Thiel dikenal sebagai investor teknologi dan salah satu pendukung penting perusahaan yang mengembangkan sistem analisis data untuk pemerintah serta sektor swasta. Karena itu, pandangannya menarik perhatian, terutama ketika ia tidak bergabung dengan kelompok pemimpin teknologi yang meminta pengawasan lebih ketat atau memperingatkan konsekuensi jangka panjang AI. Pernyataan itu juga memperlihatkan bahwa perdebatan mengenai teknologi kini bersinggungan dengan agama, politik, dan perebutan kepercayaan masyarakat.
Peter Thiel menyampaikan tuduhan yang berbeda terhadap Barack Obama dan Paus Leo XIV, meskipun keduanya ditempatkan dalam kritik yang sama mengenai pemanfaatan ketakutan publik terhadap kecerdasan buatan (AI). Thiel tidak menyajikan tuduhan tersebut sebagai analisis netral, melainkan sebagai penilaiannya mengenai cara kedua tokoh itu membentuk sikap politik dan opini publik.
Terhadap Obama, Thiel menilai bahwa mantan presiden Amerika Serikat itu mengetahui Partai Demokrat tidak memiliki gagasan yang memadai untuk ditawarkan kepada masyarakat. Menurut Thiel, keadaan tersebut tidak serta-merta menghilangkan kemampuan Obama untuk mempertahankan popularitas. Ia menuduh Obama masih dapat membangun dukungan dengan mengambil posisi yang menentang AI, atau setidaknya dengan menampilkan kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Dalam kerangka tuduhan itu, penolakan atau kritik terhadap AI dipandang Thiel sebagai strategi politik. Isu tersebut, menurut pandangannya, dapat digunakan untuk mengisi kekosongan gagasan dan menciptakan citra keberpihakan kepada masyarakat yang merasa terancam oleh perubahan teknologi. Dengan demikian, pernyataan Thiel bukan sekadar kritik terhadap kebijakan tertentu, tetapi juga tuduhan bahwa ketakutan terhadap AI dimanfaatkan untuk mempertahankan daya tarik politik.
Thiel melontarkan tuduhan lain kepada Paus Leo XIV. Ia menilai isu AI digunakan untuk mengalihkan perhatian dari skandal pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh gereja Katolik. Pernyataan tersebut menghubungkan pembahasan tentang teknologi dengan upaya menggeser fokus publik dari persoalan serius yang berkaitan dengan institusi keagamaan.
Namun, tuduhan mengenai Obama dan Paus Leo XIV tersebut merupakan pandangan Peter Thiel. Pernyataan itu tidak dapat diperlakukan sebagai kesimpulan redaksi atau fakta yang telah dipastikan. Penilaian tentang motif kedua tokoh, termasuk dugaan bahwa isu AI sengaja digunakan sebagai pengalih perhatian, tetap perlu dibedakan dari informasi faktual dan diverifikasi melalui sumber yang independen.
Pemikiran Peter Thiel mengenai Antikristus tidak dapat dipisahkan dari perhatian panjangnya terhadap hubungan agama, politik, dan perkembangan teknologi. Thiel, yang dikenal dekat dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, telah berulang kali menulis dan berbicara tentang Antikristus dalam berbagai pembahasan. Dalam kerangka yang ia gunakan, istilah tersebut tidak semata-mata menunjuk pada seorang tokoh tertentu yang hadir sebagai figur jahat. Antikristus juga dapat dipahami sebagai gambaran mengenai kekuasaan yang bekerja melalui struktur politik dan sosial.
Menurut pandangan Thiel, bentuk kekuasaan itu dapat berupa sistem pemerintahan global yang memperoleh pengaruh besar dengan memanfaatkan rasa takut masyarakat. Ketakutan tersebut, dalam uraian yang dikaitkan dengannya, dapat muncul dari berbagai perubahan besar, termasuk perkembangan teknologi dan persoalan perubahan iklim. Dengan cara ini, ancaman tidak hanya dipandang sebagai peristiwa atau individu, tetapi juga sebagai kemungkinan terbentuknya sistem yang menggunakan kecemasan publik untuk memperluas kewenangan.
Kerangka pemikiran tersebut menjadi dasar bagi pandangan Thiel mengenai kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan atau AI. Ia menilai ketakutan terhadap teknologi itu dapat dimanfaatkan secara politik, terutama ketika masyarakat menghadapi perubahan yang cepat dan sulit dipahami. Kekhawatiran mengenai dampak AI, dalam perspektif tersebut, tidak berhenti pada perdebatan teknis tentang kemampuan atau risiko teknologi, melainkan dapat menjadi bahan bagi pihak tertentu untuk membangun dukungan terhadap kebijakan dan bentuk pengaturan yang lebih luas. Karena itu, kritik Thiel diarahkan pada kemungkinan penggunaan rasa takut sebagai instrumen kekuasaan, bukan semata-mata pada teknologi AI itu sendiri. Pandangan ini menjelaskan keterkaitan yang ia buat pembicaraan tentang Antikristus, pemerintahan global, dan respons politik terhadap perkembangan teknologi.
Pandangan Barack Obama dan Paus Leo XIV mengenai kecerdasan buatan (AI) menunjukkan perhatian terhadap dampaknya, tetapi tidak secara sederhana dapat disamakan dengan pemanfaatan ketakutan publik. Obama disebut mendorong Partai Demokrat untuk menyusun rencana yang lebih komprehensif terkait teknologi tersebut. Dorongan ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami perubahan ekonomi, sosial, dan politik yang mungkin ditimbulkan AI, sekaligus menyiapkan kebijakan agar manfaatnya dapat dibagikan secara lebih luas. Dengan demikian, pembahasan Obama menempatkan teknologi sebagai persoalan tata kelola yang memerlukan perencanaan, bukan semata-mata sumber ancaman.
Sementara itu, Paus Leo XIV menjadikan AI sebagai salah satu tema dalam ensiklik pertamanya, Magnifice Humanitas. Dokumen tersebut memperingatkan bahwa perkembangan AI dapat mempercepat penyebaran informasi yang salah, memperbesar ketegangan sosial, dan berpotensi memicu konflik. Kekhawatiran lain berkaitan dengan risiko perang yang berkelanjutan apabila teknologi canggih digunakan tanpa batas etis dan pengawasan yang memadai. Peringatan tersebut menekankan perlunya tanggung jawab moral serta perhatian terhadap konsekuensi kemanusiaan dari keputusan teknologi.
Paus Leo juga menyerukan agar kepemilikan dan penguasaan data tidak hanya berada di tangan pihak swasta. Menurut arah seruan itu, pembuat kebijakan perlu membangun aturan yang melindungi hak pekerja dan anak-anak ketika AI diterapkan di lingkungan kerja, pendidikan, maupun ruang publik. Perlindungan tersebut mencakup penghormatan terhadap martabat manusia, keamanan informasi, dan kesempatan yang adil dalam menghadapi perubahan teknologi. Sikap ini memperlihatkan upaya menempatkan inovasi dalam kerangka kepentingan bersama.
Selain kebijakan, Paus Leo menyerukan persatuan para seniman untuk menjaga kreativitas dan ciri khas manusia. Kerja sama Gereja Katolik dan para seniman dipandang sebagai salah satu cara melindungi ekspresi manusia di tengah kemajuan AI. Seruan itu tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan ajakan untuk memastikan bahwa karya, imajinasi, dan penilaian manusia tetap memiliki tempat utama dalam perkembangan budaya digital.

