Kabupaten Lumajang | Gunung Semeru mengalami erupsi pada Senin pagi, menghasilkan kolom abu yang teramati menjulang sekitar 900 meter di atas puncak. Gunung api tersebut berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Aktivitas erupsi itu tercatat pada pukul 06.19 WIB berdasarkan laporan pengamatan dari Pos Pengamatan Gunung Semeru.
Kolom letusan yang muncul dari kawah gunung tampak mencapai ketinggian sekitar 900 meter di atas puncak. Jika diukur dari permukaan laut, ketinggian kolom abu tersebut mencapai sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut. Keterangan mengenai ketinggian erupsi itu disampaikan untuk menggambarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas Gunung Semeru pada Senin pagi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menyampaikan informasi tersebut melalui laporan tertulis yang diterima di Lumajang pada Senin. Laporan itu mencatat waktu teramatinya erupsi serta perkiraan ketinggian kolom letusan yang terlihat di atas puncak gunung. Peristiwa tersebut menjadi catatan terbaru mengenai aktivitas Gunung Semeru yang terletak di wilayah perbatasan Lumajang dan Malang, Jawa Timur.
Berdasarkan pengamatan petugas, aktivitas erupsi Gunung Semeru ditandai dengan munculnya kolom abu vulkanik yang teramati dari area pemantauan. Kolom tersebut terlihat berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Arah pergerakannya terpantau menuju barat daya, sebagaimana dijelaskan oleh Sigit Rian Alfian. Keterangan mengenai warna, ketebalan, dan arah abu itu merupakan hasil pengamatan terhadap kondisi erupsi pada saat kejadian.
Sigit Rian Alfian menjelaskan bahwa kolom abu yang muncul tidak hanya diamati secara visual, tetapi juga dicatat melalui pemantauan kegempaan. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter. Rekaman itu menjadi bagian dari data pemantauan yang digunakan untuk menggambarkan karakter letusan, termasuk kekuatan getaran yang menyertai keluarnya material vulkanik.
Menurut penjelasan Sigit Rian Alfian, aktivitas erupsi berlangsung selama 110 detik. Durasi tersebut tercatat dalam hasil pemantauan seismograf dan menjadi acuan dalam mendeskripsikan peristiwa letusan. Dengan demikian, karakter erupsi yang teramati mencakup kolom abu berwarna kelabu, intensitas tebal, serta pergerakan menuju barat daya, sementara aspek kegempaannya tercatat memiliki amplitudo maksimum 22 milimeter dan berlangsung selama 110 detik.
Seluruh informasi itu disampaikan berdasarkan pengamatan petugas dan penjelasan Sigit Rian Alfian. Data visual mengenai kolom abu dan data instrumental dari seismograf digunakan secara bersamaan untuk memberikan gambaran mengenai erupsi yang terjadi. Pengamatan tersebut tidak mengubah satuan, durasi, arah pergerakan, maupun tingkat ketebalan abu yang tercatat selama pemantauan.
Catatan petugas menunjukkan bahwa aktivitas erupsi Gunung Semeru pada Senin berlangsung lebih dari satu kali. Rangkaian tersebut dimulai dengan letusan pertama yang tercatat pada pukul 01.45 WIB. Berdasarkan catatan yang tersedia, letusan pada waktu tersebut tidak teramati secara visual. Karena itu, informasi mengenai peristiwa pertama disampaikan berdasarkan waktu pencatatan petugas, tanpa keterangan tambahan mengenai tampilan erupsinya.
Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 04.39 WIB. Letusan kedua ini teramati secara visual, dengan kolom abu mencapai ketinggian sekitar 900 meter di atas puncak. Waktu tersebut menandai peristiwa kedua dalam rangkaian erupsi Semeru pada Senin, setelah letusan pertama yang terjadi beberapa jam sebelumnya.
Selanjutnya, petugas kembali mencatat erupsi pada pukul 06.19 WIB. Letusan ketiga yang teramati tersebut juga menghasilkan kolom abu dengan tinggi sekitar 900 meter di atas puncak. Urutan waktunya memperlihatkan bahwa Semeru mengalami tiga kali erupsi dalam satu hari, yakni pada pukul 01.45 WIB, 04.39 WIB, dan 06.19 WIB. Dari ketiga catatan itu, letusan pada pukul 04.39 WIB dan 06.19 WIB merupakan dua peristiwa yang teramati, sedangkan letusan pertama tidak teramati secara visual.
Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan keterangan petugas, masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Ketentuan ini diberlakukan karena kawasan tersebut berpotensi terdampak material erupsi, termasuk awan panas dan aliran lahar yang dapat bergerak mengikuti lembah sungai.
Di luar batas 13 kilometer tersebut, warga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Petugas menyebutkan adanya potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Sigit juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru karena kawasan itu masih rawan terhadap lontaran batu pijar.
Kewaspadaan perlu dilakukan terhadap kemungkinan terjadinya awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Area yang perlu mendapat perhatian terutama meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan. Pergerakan material vulkanik dapat mengikuti alur sungai dan lembah, sehingga aktivitas di sekitar jalur tersebut tetap dibatasi sesuai rekomendasi petugas.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel | TNI Kembali Kerahkan 248 Personel Penyuluh untuk Perkuat Penanganan Karhutla

