Jakarta | Usaha ayam petelur di Jawa Barat sedang berada dalam tekanan, sementara jumlah anggota Koperasi Produsen Peternak Sumedang Raya yang masih bertahan diperkirakan tinggal sekitar separuh dari jumlah semula. Koperasi tersebut sebelumnya memiliki kurang lebih 100 anggota yang tersebar di 10 kabupaten di Jawa Barat. Penyusutan itu mencerminkan beratnya kondisi yang dihadapi para peternak, terutama mereka yang tidak lagi mampu mempertahankan kegiatan produksi setelah mengalami kerugian dalam waktu lama.
Sekretaris Koperasi Produsen Peternak Sumedang Raya, Ikhwan, mengatakan banyak peternak telah menutup kandang. Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah kerugian berlangsung selama berbulan-bulan. Keterangan itu disampaikan Ikhwan ketika ditemui di kantor Kementerian Pertanian di Jakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ia menggambarkan bahwa para anggota yang tersisa hanya sekitar setengah dari jumlah awal, meski angka tersebut masih berupa perkiraan. Tidak ada rincian lebih jauh mengenai anggota yang keluar ataupun lokasi peternak yang menutup kandang.
Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan usaha bukan hanya berpengaruh pada kegiatan peternakan, tetapi juga pada keberlangsungan keanggotaan koperasi. Ketika peternak menghentikan operasional kandang, kemampuan mereka untuk melanjutkan usaha dan tetap menjadi bagian dari organisasi turut berubah. Dengan jumlah awal sekitar 100 anggota dan sebaran di 10 kabupaten, penyusutan ke sekitar separuh menandai perubahan berarti bagi koperasi. Namun, informasi yang disampaikan Ikhwan tidak merinci jumlah pasti anggota yang masih aktif maupun kapan penurunan itu terjadi.
Penutupan kandang setelah kerugian berbulan-bulan menjadi gambaran langsung mengenai beratnya keadaan yang dihadapi peternak ayam petelur di wilayah tersebut. Bagi koperasi, berkurangnya anggota juga berarti semakin sedikit peternak yang masih bertahan dalam jaringan organisasi. Data mengenai penyebab kerugian, besaran kerugian, serta langkah yang akan ditempuh koperasi belum disampaikan dalam keterangan tersebut. Untuk saat ini, informasi utama yang tersedia adalah bahwa jumlah anggota yang bertahan diperkirakan tinggal separuh, sementara banyak peternak memilih menutup kandang setelah usaha mereka terus merugi selama berbulan-bulan.
Menurut Ikhwan, tekanan terhadap peternak telur di Jawa Barat tercermin dari harga jual yang belum mampu menutup ongkos produksi. Ia menyebut para peternak yang dimaksud telah mengalami kerugian selama tujuh bulan terakhir. Dalam periode tersebut, harga telur di tingkat peternak berada di bawah biaya yang diperlukan untuk menghasilkan setiap kilogram telur. Kondisi ini membuat penerimaan dari penjualan tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus ditanggung. Keterangan mengenai lamanya kerugian dan besarnya selisih harga tersebut disampaikan oleh Ikhwan, sehingga menggambarkan penilaian narasumber atas keadaan yang ia amati, bukan angka yang otomatis berlaku bagi seluruh peternak.
Ikhwan menyebut harga pokok produksi telur berada di kisaran Rp24.000 per kilogram. Sementara itu, harga jual di tingkat peternak di Jawa Barat, menurut keterangannya, berada sekitar Rp20.000 per kilogram. Perbedaan kedua angka tersebut menunjukkan adanya jarak yang cukup besar biaya menghasilkan telur dan pendapatan penjualan. Dengan harga jual itu, setiap kilogram telur belum menghasilkan penerimaan yang setara dengan biaya produksinya. Selisih tersebut menjadi salah satu gambaran tekanan ekonomi yang disebut dialami peternak dalam beberapa bulan terakhir. Nilai harga pokok produksi dan harga jual ini merupakan angka yang dikemukakan Ikhwan, bukan hasil pengukuran untuk semua usaha peternakan di wilayah tersebut.
Atas dasar perbandingan itu, Ikhwan memperkirakan kerugian yang dialami mendekati Rp4.000 per kilogram. Besaran tersebut sejalan dengan selisih biaya produksi sekitar Rp24.000 dan harga jual sekitar Rp20.000, meskipun ia menyampaikannya sebagai perkiraan. Keterangan itu tidak berarti setiap peternak pasti menghadapi kerugian dalam jumlah yang sama. Biaya, harga transaksi, dan kondisi usaha dapat berbeda, tetapi angka yang disampaikan memberi gambaran tentang tekanan yang menjadi perhatian narasumber. Jika harga jual bertahan di bawah biaya produksi, pendapatan penjualan belum cukup untuk memulihkan ongkos yang dikeluarkan. Karena itu, pernyataan Ikhwan menyoroti beratnya kondisi yang ia gambarkan, dengan tetap membatasi angka dan durasi tersebut pada keterangannya.
Menurut Ikhwan, tekanan yang dihadapi peternak telur tidak dapat dijelaskan hanya oleh harga jual yang rendah dibandingkan biaya produksi. Persoalan lain datang dari kondisi pasokan di pasar. Ketika telur yang tersedia berlebih, peternak menghadapi situasi yang semakin sulit untuk menjual hasil produksi dengan kondisi usaha yang memadai. Dengan demikian, persoalan pasar dan beban biaya berjalan bersamaan, sehingga ruang bagi peternak untuk menjaga keberlangsungan usaha menjadi lebih sempit.
Ikhwan juga menyoroti tingginya biaya bahan baku pakan sebagai beban penting dalam kegiatan beternak. Pakan merupakan kebutuhan produksi, sehingga biaya bahan bakunya berpengaruh pada pengeluaran peternak. Saat pengeluaran tersebut tetap membebani usaha, sementara harga telur dan keadaan pasokan tidak memberi ruang yang cukup, peternak harus menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus. Situasi ini terutama menyulitkan peternak kecil, yang semakin sukar bersaing ketika berhadapan dengan pelaku usaha yang memiliki dukungan fasilitas lebih lengkap.
Perbedaan fasilitas menjadi salah satu hal yang dikemukakan Ikhwan untuk menggambarkan kesenjangan tersebut. Pelaku besar, menurutnya, memiliki fasilitas produksi pakan sendiri, serta dapat menyediakan anak ayam dan obat-obatan secara mandiri. Peternak kecil tidak memiliki kelengkapan yang sama, sehingga posisi mereka dalam menjalankan usaha berbeda. Perbandingan ini bukan semata soal ukuran usaha, melainkan juga akses terhadap kebutuhan produksi. Ketika biaya pakan tinggi dan pasokan telur berlebih, keterbatasan fasilitas dapat membuat peternak kecil lebih sulit merespons tekanan usaha. Mereka harus terus mengelola biaya serta penjualan di tengah kondisi pasar yang berat, sementara pelaku besar memiliki fasilitas pendukung yang disebutkan narasumber. Ikhwan menempatkan faktor-faktor tersebut sebagai bagian dari tekanan yang dialami peternak, bukan hanya persoalan harga telur. Kondisi ini turut menjelaskan mengapa persaingan terasa semakin berat bagi peternak kecil, tanpa mengabaikan tantangan biaya dan pasokan yang dihadapi seluruh pelaku usaha.Ikhwan berharap pemerintah memberi perhatian pada tata kelola industri peternakan, terutama di tengah tekanan yang dihadapi peternak telur. Menurutnya, pembenahan diperlukan agar pelaku usaha memiliki ruang untuk menjalankan kegiatan secara berkelanjutan. Harapan tersebut mencakup sejumlah persoalan yang saling berkaitan dalam rantai usaha, mulai dari pengaturan perusahaan besar hingga ketersediaan bahan baku dan penyerapan telur.
Salah satu hal yang ia soroti ialah pengaturan terhadap perusahaan-perusahaan besar di sektor peternakan. Ikhwan berharap keberadaan dan aktivitas perusahaan besar dapat ditata dengan memperhatikan kondisi peternak, sehingga persaingan dalam industri tidak semakin memberatkan pelaku usaha yang lebih kecil. Ia menyampaikan hal itu sebagai harapan kepada pemerintah, bukan sebagai kebijakan yang telah ditetapkan. Pengaturan yang dinilai lebih baik diharapkan bisa mendukung iklim usaha yang lebih seimbang.
Selain itu, Ikhwan menyoroti ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan. Bahan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan peternakan, sehingga kepastian pasokan perlu mendapat perhatian. Ia berharap pemerintah dapat membenahi tata kelola ketersediaan jagung agar kebutuhan peternak lebih terjaga. Harapan ini juga berkaitan dengan keberlangsungan usaha, sebab peternak memerlukan bahan baku yang dapat diakses untuk menjalankan kegiatan produksi.
Persoalan lain yang ia angkat adalah bagian hilir telur dan keseimbangan pasokan dengan permintaan. Menurut Ikhwan, pembenahan tidak cukup hanya melihat proses produksi, tetapi juga perlu memperhatikan bagaimana telur terserap di pasar.
Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Empat Anggota OPM Serahkan Senjata dan Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi | Panglima TNI Tinjau Bakti Sosial dan Open Tournament Off Road di Ciwidey Jawa Barat






