Jakarta | Kembalinya Liga Putri Indonesia, yang juga dikenal sebagai Indonesia Women’s League, menjadi perkembangan yang disambut positif oleh Shafira Ika. Kompetisi tersebut kembali bergulir setelah sempat mengalami hiatus selama tujuh tahun. Bagi Ika, hadirnya liga memberi ruang bagi persaingan antarklub sepak bola putri untuk kembali berlangsung secara teratur. Ia menyampaikan sambutan baik terhadap kompetisi itu sekaligus melihatnya sebagai tantangan yang menarik untuk dihadapi bersama timnya.
Shafira Ika, yang berusia 23 tahun, mengemban peran sebagai kapten Dewa United Women dan kapten tim nasional putri Indonesia. Pengalaman memimpin kedua tim itu menjadi bagian dari posisinya dalam menyikapi persaingan di liga. Ia menilai kekuatan klub-klub peserta relatif sebanding. Penilaian tersebut membuat kompetisi terasa lebih menantang, sebab setiap tim dinilai memiliki peluang untuk bersaing, tanpa adanya jarak kekuatan yang terlalu mencolok di para peserta.
Pandangan Ika disampaikan di Stadion Madya, Jakarta, pada Minggu (18/10). Dalam konteks kembalinya liga setelah tujuh tahun, penilaiannya menegaskan bahwa ia menyambut kesempatan untuk kembali berkompetisi dengan antusias. Kekuatan peserta yang dinilai merata menjadi alasan utama ia merasa tertantang. Dengan persaingan seperti itu, setiap klub perlu menghadapi lawan-lawan yang dinilai memiliki kemampuan sebanding. Bagi kapten Dewa United Women tersebut, kondisi ini membuat kompetisi memiliki daya tarik tersendiri dan memberi tantangan yang nyata bagi tim-tim yang berpartisipasi.
Kembalinya Indonesia Women’s League sekaligus menandai hadirnya kembali ajang liga putri setelah masa jeda yang panjang. Sambutan positif dari Ika menunjukkan arti penting kompetisi tersebut bagi para pemain yang siap menjalani persaingan antarklub. Ia melihat kekuatan peserta yang relatif merata sebagai faktor yang membuat liga semakin menantang. Sebagai kapten klub dan tim nasional pada usia 23 tahun, Ika menyambut bergulirnya kembali kompetisi dengan semangat menghadapi persaingan yang ia nilai terbuka bagi seluruh peserta.
Shafira Ika menilai kekuatan klub peserta Liga Putri Indonesia relatif berimbang karena pemain tim nasional putri tersebar di berbagai tim. Tidak ada satu klub yang menguasai sebagian besar pemain berpengalaman tersebut. Sebaran ini membuat persaingan lebih terbuka, sebab setiap peserta memiliki modal pemain yang dapat membantu meningkatkan kualitas permainan. Bagi Ika, pemerataan tersebut menjadi hal positif untuk kompetisi dan memberi peluang bagi klub-klub untuk bersaing secara lebih setara.
Komposisi pemain timnas di sejumlah klub juga membuat persaingan tidak hanya bertumpu pada satu atau dua tim unggulan. Setiap kesebelasan dapat mengandalkan kualitas pemain yang dimiliki, sementara lawan-lawan mereka juga mempunyai kekuatan tersendiri. Situasi ini berpotensi menjaga kompetisi tetap menarik sepanjang musim. Hasil pertandingan pun dapat ditentukan oleh kesiapan tim, kerja sama antarpemain, serta kemampuan pelatih menyusun strategi, bukan semata-mata oleh nama besar klub atau konsentrasi pemain timnas di satu tempat.
Ika tetap melihat bahwa persiapan peserta menjelang liga sempat terganggu oleh agenda timnas. Waktu persiapan yang terpotong tentu menjadi tantangan bagi klub untuk mematangkan taktik dan membangun kekompakan skuad. Meski demikian, ia menilai kondisi itu tidak mengubah gambaran umum bahwa kekuatan para peserta cukup merata. Dengan distribusi pemain timnas yang tersebar, klub-klub tetap memiliki kemampuan yang relatif seimbang untuk menjalani kompetisi, walaupun masing-masing mungkin menghadapi tingkat kesiapan yang berbeda.
Penilaian serupa disampaikan pelatih FC Bekasi City, Rudy Eka Priyambada. Ia menyebut sejumlah pemainnya berada di timnas, sementara pemain yang pernah dilatihnya juga memperkuat Persija dan Dewa United. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pemain dengan pengalaman bersama tim nasional tidak terkumpul di satu klub saja. Rudy menilai sebaran pemain timnas di peserta sudah cukup baik, sehingga kualitas dan kekuatan kompetisi dapat tersebar lebih luas. Pandangan Ika dan Rudy sama-sama menekankan bahwa pemerataan itu mendukung persaingan yang lebih seimbang di Liga Putri Indonesia.
Liga Putri Indonesia 2026/2027 diikuti enam klub, yakni Persija Jakarta, Persikad Depok, FC Bekasi City, Persita Tangerang, Dewa United, dan Garudayaksa. Keenam peserta tersebut menjadi bagian dari kompetisi sepak bola putri nasional pada musim ini. Daftar klub itu mencakup tim-tim yang akan menjalani persaingan sepanjang liga, dengan masing-masing membawa nama dan identitas klubnya ke ajang tersebut. Keikutsertaan enam tim memberi gambaran susunan peserta yang akan bertanding dalam kompetisi, termasuk Dewa United Women dan Persikad Depok yang berhadapan pada laga pembuka.
Salah satu ketentuan yang berlaku bagi peserta adalah setiap klub wajib diperkuat minimal satu pemain berlabel timnas Indonesia. Aturan tersebut berlaku untuk seluruh klub, sehingga masing-masing peserta perlu memiliki setidaknya seorang pemain dengan status tersebut dalam skuadnya. Ketentuan ini menjadi bagian dari regulasi kompetisi musim 2026/2027. Informasi mengenai aturan itu melengkapi daftar peserta dan menjadi unsur penting dalam susunan tim yang berlaga. Enam klub yang berkompetisi adalah Persija Jakarta, Persikad Depok, FC Bekasi City, Persita Tangerang, Dewa United, dan Garudayaksa.
Pada pertandingan pembuka, Dewa United Women meraih kemenangan dengan skor 1-0 atas Persikad Depok. Laga tersebut berlangsung di Stadion Madya, Jakarta, pada Minggu (18/10). Hasil itu tercatat sebagai kemenangan Dewa United Women dalam pertandingan pertama mereka melawan Persikad Depok di Liga Putri Indonesia 2026/2027. Skor 1-0 menjadi hasil akhir laga yang dimainkan di ibu kota tersebut. Pertandingan itu mempertemukan dua dari enam klub peserta musim ini, sementara empat klub lain dalam daftar peserta adalah Persija Jakarta, FC Bekasi City, Persita Tangerang, dan Garudayaksa. Keterangan mengenai laga pembuka mencakup tim yang bertanding, skor, lokasi, dan hari penyelenggaraan.
Sebagai pelatih Dewa United Women, Dicky Firasat berencana mengevaluasi penampilan tim untuk melihat perkembangan pemain sepanjang kompetisi. Penilaian itu tidak hanya berfokus pada hasil pertandingan, tetapi juga pada cara para pemain menjalankan instruksi, menjaga kerja sama, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan permainan. Menurut Dicky, kemampuan beradaptasi menjadi hal penting karena setiap pertandingan menghadirkan situasi dan tantangan yang berbeda. Evaluasi dapat membantu tim memahami aspek yang sudah berjalan baik sekaligus menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki. Dari sana, pelatih dan pemain dapat menyusun langkah latihan yang lebih sesuai, baik untuk memperkuat organisasi permainan maupun meningkatkan kesiapan menghadapi pertandingan berikutnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah proses adaptasi pemain terhadap kondisi di Indonesia, termasuk cuaca. Suhu udara yang panas dapat memengaruhi kenyamanan dan daya tahan pemain saat berlatih maupun bertanding. Dicky menyebut sejumlah pemain asing sempat mengeluhkan panasnya udara, sehingga penyesuaian terhadap iklim menjadi bagian dari tantangan mereka. Situasi tersebut perlu dipahami sebagai proses yang membutuhkan waktu, bukan sekadar persoalan teknis di lapangan. Pengaturan intensitas latihan, pemulihan, dan komunikasi dengan pemain dapat membantu mereka menghadapi kondisi tersebut secara bertahap. Bagi Dewa United Women, memahami respons setiap pemain terhadap lingkungan baru juga penting agar persiapan tim tetap terarah dan kebutuhan individu tidak terabaikan.
Dicky berharap kompetisi resmi seperti Liga Putri Indonesia dapat menjadi wadah yang konsisten bagi potensi sepak bola wanita untuk tumbuh. Kesempatan bermain dalam liga memungkinkan para pemain memperoleh pengalaman, menghadapi persaingan, serta mengasah kemampuan melalui pertandingan yang terstruktur. Ia juga berharap perkembangan kompetisi dapat membuka ruang bagi lebih banyak talenta untuk menunjukkan kualitasnya.





