Rupiah Dibuka di Rp18.174 per Dolar AS, Tekanan Domestik Jadi Sorotan

Rupiah Dibuka di Rp18.174 per Dolar AS, Tekanan Domestik Jadi Sorotan

Jakarta | Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Rupiah berada di level Rp18.174 per dolar AS, turun 18 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan Selasa, 27 Oktober, yang tercatat sebesar Rp18.156 per dolar AS. Perubahan pada awal sesi tersebut menunjukkan bahwa nilai rupiah bergerak lebih rendah dibandingkan posisi terakhir pada hari sebelumnya. Dengan demikian, pembukaan perdagangan Rabu menjadi kelanjutan dari tekanan yang telah terlihat dalam pergerakan kurs sehari sebelumnya.

Pada Selasa, rupiah ditutup melemah 21 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya, yakni Rp18.135 per dolar AS. Urutan data tersebut memperlihatkan posisi rupiah bergerak dari Rp18.135 pada penutupan sebelumnya, menjadi Rp18.156 pada penutupan Selasa, lalu mencapai Rp18.174 saat perdagangan Rabu dibuka. Setiap perubahan itu mencerminkan kenaikan jumlah rupiah yang diperlukan untuk membeli satu dolar AS, sehingga menunjukkan pelemahan mata uang domestik terhadap mata uang tersebut. Angka pembukaan Rabu sekaligus menempatkan rupiah 39 poin di bawah level penutupan pada awal rangkaian perbandingan itu.

Perbandingan persentase memberi gambaran mengenai besaran perubahan pada masing-masing sesi. Pelemahan 0,12 persen pada Selasa diikuti penurunan 0,10 persen pada pembukaan Rabu, berdasarkan posisi penutupan hari sebelumnya sebagai acuan. Meski persentase penurunan pada Rabu lebih kecil, arah pergerakannya tetap sama, yaitu rupiah melemah terhadap dolar AS. Data pembukaan ini menggambarkan kondisi pada awal perdagangan dan dapat menjadi titik pantau untuk melihat perkembangan kurs sepanjang sesi. Karena itu, level Rp18.174 per dolar AS perlu dibaca bersama perubahan poin, persentase, dan angka penutupan sebelumnya, bukan secara terpisah. Rangkaian tersebut menegaskan bahwa pelemahan berlangsung dalam dua tahap perdagangan berturut-turut, dengan posisi rupiah pada awal Rabu berada lebih rendah daripada penutupan Selasa.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut tekanan terhadap rupiah lain datang dari kondisi pasar saham dan obligasi domestik. Dengan demikian, pergerakan rupiah tidak hanya dibahas melalui posisinya terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga bersama perkembangan di dua pasar keuangan dalam negeri tersebut. Rully menyoroti koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kondisi imbal hasil obligasi pemerintah sebagai bagian dari gambaran tekanan yang sedang dihadapi rupiah. Kedua indikator itu menunjukkan situasi pasar domestik yang menjadi sorotan dalam penilaian analis tersebut.

Di pasar saham, IHSG mengalami koreksi hingga menembus kisaran 5.300. Level itu menjadi penanda penting dalam uraian mengenai tekanan dari pasar domestik. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pelemahan indeks berlangsung sampai melewati kisaran tersebut, bukan sekadar bergerak di sekitarnya. Rully menempatkan koreksi IHSG sebagai salah satu unsur yang berkaitan dengan tekanan terhadap rupiah. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai besaran koreksi dalam angka persentase atau periode pergerakannya pada keterangan yang disampaikan, sehingga fokusnya berada pada penembusan level indeks itu.

Pada pasar obligasi, Rully juga menyebut terjadinya inversi kurva imbal hasil. Dalam kondisi yang ia uraikan, imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor acuan 10 tahun tercatat lebih rendah daripada imbal hasil obligasi dengan tenor 8 hingga 9 tahun. Perbandingan tersebut menjadi inti dari keterangan mengenai kurva yang terbalik: angka imbal hasil pada tenor 10 tahun berada di bawah angka pada tenor yang lebih pendek, yakni 8–9 tahun. Kondisi obligasi ini, bersama koreksi IHSG, termasuk dalam faktor domestik yang disebut sebagai sumber tekanan bagi rupiah. Uraian itu tidak merinci penyebab tersendiri bagi inversi kurva, maupun menjelaskan dampak lanjutan dari selisih imbal hasil tersebut. Karena itu, kedua perkembangan tersebut dapat dipahami sebatas sebagai sorotan Rully terhadap pasar saham dan obligasi domestik saat tekanan rupiah dibahas.

Selain tekanan dari faktor domestik lainnya, meningkatnya konversi simpanan masyarakat dari rupiah ke valuta asing turut menjadi perhatian dalam pergerakan nilai tukar. Rully Nova menjelaskan bahwa kenaikan simpanan valas mencapai 20 persen. Perubahan tersebut menunjukkan semakin besarnya minat sebagian masyarakat untuk menyimpan dana dalam mata uang asing, terutama dolar AS. Ketika pemilik simpanan mengalihkan dana dari rupiah, permintaan terhadap valuta asing di dalam negeri dapat bertambah. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang berpotensi menambah tekanan pada rupiah, khususnya jika berlangsung bersamaan dengan kekhawatiran terhadap prospek nilai tukar.

Menurut Rully, kenaikan simpanan valas itu mengindikasikan preferensi masyarakat yang meningkat untuk memegang dolar AS. Pilihan tersebut berkaitan dengan langkah antisipasi apabila pelemahan rupiah berlanjut. Dengan memiliki simpanan dalam dolar, masyarakat dapat mengurangi paparan terhadap perubahan nilai rupiah atas dana yang mereka simpan. Namun, kecenderungan tersebut juga mencerminkan adanya perhatian terhadap risiko pergerakan kurs. Perubahan perilaku menyimpan dana ini, karena itu, dapat dibaca sebagai sinyal bahwa sebagian masyarakat memilih bersikap lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian nilai tukar, bukan semata-mata sebagai keputusan investasi jangka panjang.

Rully juga mengingatkan risiko yang dapat muncul apabila kebutuhan untuk memegang dolar terus meningkat, yaitu potensi kelangkaan likuiditas dolar AS di pasar domestik. Jika permintaan valuta asing bertambah sementara ketersediaannya terbatas, pelaku pasar dapat menghadapi kesulitan memperoleh dolar dalam jumlah yang dibutuhkan. Kondisi likuiditas yang lebih ketat berpotensi memperbesar tekanan di pasar valuta asing dan membuat pergerakan kurs lebih rentan terhadap perubahan permintaan. Karena itu, kenaikan simpanan valas bukan hanya menggambarkan pilihan individu dalam mengelola dana, tetapi juga berkaitan dengan kondisi ketersediaan dolar secara lebih luas. Penjelasan Rully menempatkan perkembangan tersebut sebagai salah satu faktor domestik yang perlu dicermati dalam melihat tekanan terhadap rupiah, tanpa mengabaikan bahwa nilai tukar juga dipengaruhi berbagai faktor lain.

Di tengah tekanan domestik terhadap rupiah, sejumlah perkembangan eksternal dinilai berpotensi menahan pelemahannya. Pergerakan harga minyak dunia, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, dan perkiraan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dapat memengaruhi sentimen pasar serta arus modal. Namun, pengaruh faktor-faktor tersebut tidak berlangsung secara terpisah. Pelaku pasar juga mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam negeri, kebutuhan valuta asing, dan perkembangan geopolitik sebelum mengambil keputusan. Karena itu, perubahan pada indikator global dapat menjadi penopang, tetapi belum cukup untuk memastikan nilai tukar akan berbalik menguat.

Harga minyak mencatat penurunan pada perdagangan yang dilaporkan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun US$1,51, atau 1,46 persen, menjadi US$101,76 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Desember turun 91 sen, atau 0,78 persen, menjadi US$115,81 per barel di London ICE Futures Exchange. Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan biaya impor energi bagi negara pengimpor, termasuk Indonesia. Dalam konteks tersebut, penurunan harga berpotensi membantu meredakan kebutuhan pembayaran dalam dolar AS, meski besarnya dampak terhadap rupiah bergantung pada kondisi perdagangan dan permintaan domestik.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS turun 1,8 basis poin menjadi 4,97 persen. Penurunan imbal hasil dapat mengurangi daya tarik relatif aset berbasis dolar dan memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, meskipun respons investor dapat berubah mengikuti data ekonomi terbaru. Selain itu, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve berpotensi membatasi penguatan dolar AS.

Baca juga: Praktik Judi Sabung Ayam di Weru Kandat, Ketegasan Aparat Jadi Sorotan