Kabupaten Bogor | Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta klub-klub sepak bola dan operator kompetisi I.League bertindak tegas untuk mencegah kekerasan yang melibatkan suporter. Pesan tersebut menempatkan tanggung jawab penyelenggaraan pertandingan sebagai perhatian bersama, bukan hanya urusan satu pihak. Klub dan operator diharapkan mengambil langkah yang jelas agar kekerasan tidak mengganggu jalannya kompetisi maupun membahayakan orang-orang yang hadir di stadion. Sikap tegas diperlukan untuk memastikan bahwa keselamatan penonton menjadi bagian utama dalam setiap penyelenggaraan pertandingan sepak bola.
Keselamatan penonton harus menjadi prioritas, sehingga suporter dapat menyaksikan pertandingan dan pulang dengan selamat. Tujuan itu mencakup seluruh pengalaman penonton, sejak mereka datang untuk mendukung tim hingga meninggalkan lokasi setelah laga berakhir. Karena itu, perhatian terhadap keamanan tidak cukup hanya tertuju pada berlangsungnya pertandingan di lapangan. Suasana yang aman bagi suporter juga perlu menjadi pertimbangan utama klub dan operator ketika menjalankan kompetisi. Dengan menjadikan keselamatan sebagai dasar, penyelenggara dapat menunjukkan bahwa kesempatan mendukung tim tidak boleh disertai risiko kekerasan.
Permintaan Erick Thohir muncul di tengah rangkaian insiden belakangan ini yang menjadi perhatian serius. Peristiwa-peristiwa tersebut menegaskan pentingnya upaya pencegahan dan penanganan yang tegas dari pihak-pihak terkait, tanpa mengabaikan hak penonton untuk menikmati pertandingan dengan aman. Klub serta I.League memiliki peran dalam memastikan kegiatan kompetisi berlangsung dengan memperhatikan keselamatan suporter. Tuntutan ini sekaligus mengingatkan bahwa kekerasan yang melibatkan suporter tidak dapat dipandang sebagai hal biasa dalam sepak bola Indonesia. Penyelenggaraan pertandingan perlu diarahkan agar penonton dapat hadir, menyaksikan laga, lalu kembali dengan selamat.
Rangkaian kejadian yang menjadi perhatian berlangsung pada Oktober 2026 dan melibatkan rombongan tim maupun suporter sepak bola. Insiden pertama terjadi pada 11 Oktober, ketika bus pemain Persib Bandung U-18 diserang di rest area KM 360 Batang. Peristiwa itu menimpa rombongan tim muda Persib saat berada di area istirahat tersebut. Informasi yang tersedia menyebut lokasi dan tanggal kejadian, tetapi tidak merinci identitas pelaku ataupun keadaan yang mendahului serangan. Karena itu, kronologi perlu disampaikan sebatas hal-hal yang telah disebutkan tanpa menambahkan dugaan mengenai penyebab atau pihak yang bertanggung jawab.
Sehari setelahnya, pada 12 Oktober 2026, bus rombongan suporter Persija Jakarta yang melintas dari Cikampek dilempari benda keras di Tol Palikanci KM 200, Cirebon. Kejadian tersebut kembali melibatkan kendaraan rombongan sepak bola di tengah perjalanan. Keterangan yang ada mengidentifikasi arah perjalanan, jenis rombongan, serta titik tol tempat insiden berlangsung. Namun, tidak disebutkan apakah ada korban, kerusakan tertentu, atau informasi mengenai pelaku. Insiden pada tanggal ini dicatat sebagai kejadian tersendiri setelah serangan terhadap bus Persib U-18 sehari sebelumnya; urutan waktu tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan adanya hubungan kedua peristiwa.
Insiden terbaru dalam rangkaian yang disebutkan terjadi pada 25 Oktober 2026. Seorang suporter Persib Bandung meninggal setelah dibacok seusai menonton pertandingan melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. Peristiwa ini berbeda dari dua kejadian sebelumnya karena menyangkut seorang suporter dan terjadi setelah pertandingan, bukan serangan terhadap bus dalam perjalanan. Informasi tersebut tidak menjelaskan identitas pelaku maupun rincian lain tentang peristiwa pembacokan. Ketiga kejadian memperlihatkan bentuk kekerasan yang dilaporkan dalam konteks sepak bola selama bulan yang sama, tetapi kronologi yang tersedia tidak menyatakan bahwa insiden-insiden itu saling berkaitan. Penyebutan masing-masing lokasi, waktu, serta pihak yang terdampak membantu membedakan kejadian secara faktual, tanpa mencampuradukkan informasi yang belum dikonfirmasi.
Erick Thohir meminta operator kompetisi dan klub tidak berhenti pada imbauan ketika menghadapi pelanggaran yang berpotensi memicu kekerasan suporter. Menurutnya, perangkat aturan yang telah tersedia perlu dijalankan secara konsisten agar setiap tindakan memiliki konsekuensi yang jelas. PSSI, kata Erick, meminta liga dan klub bertindak tegas terhadap pelanggaran. Ia juga menekankan bahwa aturan yang berlaku tidak perlu diputar-putar atau ditafsirkan secara berbelit-belit sebelum diterapkan.
Penegakan aturan menjadi tanggung jawab bersama dalam penyelenggaraan pertandingan. Operator liga memiliki peran dalam memastikan regulasi kompetisi dijalankan, sementara klub perlu mengelola dukungan dan perilaku suporter dengan serius. Sikap tegas bukan berarti mengabaikan proses yang berlaku, melainkan menggunakan ketentuan yang sudah ada secara jelas dan konsisten. Dengan begitu, klub dan operator dapat memberi kepastian mengenai tindakan terhadap pelanggaran, sekaligus menunjukkan bahwa keselamatan di stadion dan lingkungan pertandingan merupakan prioritas.
Erick juga menyinggung pembatasan suporter tim tamu untuk pertandingan tertentu sebagai salah satu langkah antisipasi. Kebijakan tersebut telah diterapkan oleh beberapa klub dan liga ketika dinilai ada potensi keributan. Namun, pembatasan itu bukan satu-satunya jawaban untuk mencegah kekerasan. Langkah tersebut perlu ditempatkan bersama penerapan aturan, koordinasi penyelenggara, dan tanggung jawab klub dalam menjaga situasi. Pendekatan yang menyeluruh memungkinkan risiko ditangani sebelum berkembang, tanpa menganggap bahwa satu kebijakan dapat menyelesaikan seluruh persoalan. Pesan Erick menegaskan perlunya tindakan nyata dan tidak berputar-putar dalam menjalankan ketentuan yang telah disepakati. Konsistensi penerapan juga penting agar respons terhadap pelanggaran tidak bergantung pada nama klub atau besarnya pertandingan. Ketika operator liga dan klub sama-sama bertindak sesuai aturan, langkah pencegahan dapat lebih terarah dan akuntabilitas setiap pihak menjadi lebih jelas.Erick Thohir menegaskan bahwa kekerasan yang melibatkan suporter tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar bagian dari rivalitas sepak bola. Tindakan yang membahayakan orang lain dapat mengancam keselamatan banyak orang, baik suporter maupun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, klub dan operator liga perlu ikut membangun kesadaran bersama agar setiap orang memahami bahwa keselamatan harus menjadi prioritas. Sepak bola semestinya menghadirkan pertandingan yang dapat dinikmati dengan aman, bukan situasi yang membuat penonton khawatir akan menjadi korban. Erick juga mengingatkan pentingnya memastikan suporter dapat meninggalkan lokasi pertandingan dan pulang dengan selamat.
Dalam menyikapi insiden, Erick membedakan persoalan yang terjadi di dalam lapangan dan tindakan di luar lapangan. Situasi pertandingan memiliki konteks tersendiri dan perlu ditangani melalui mekanisme yang sesuai, sementara tindak kriminal di luar stadion tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Perbedaan ini penting agar respons terhadap kekerasan tidak mencampuradukkan dinamika permainan dengan kejahatan yang mengancam keamanan publik. Klub, operator liga, dan pihak terkait perlu memiliki pemahaman yang sama tentang batas tersebut. Dengan demikian, upaya pencegahan dan penindakan dapat diarahkan secara tepat, sekaligus menghindari anggapan bahwa kekerasan merupakan hal lumrah dalam lingkungan sepak bola.
Untuk menangani kejahatan di luar pertandingan, Erick menyampaikan apresiasi terhadap langkah kepolisian yang mengusut sejumlah insiden terkait sepak bola. Ia juga telah mengadakan pertemuan tertutup dengan Kapolri Suyudi Ario Seto untuk membahas komitmen penindakan terhadap pelaku kejahatan di luar pertandingan. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari dorongan agar kasus-kasus yang membahayakan suporter dan masyarakat ditangani secara serius. Penegakan hukum perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab klub dan operator liga dalam mencegah kekerasan serta meningkatkan kesadaran. Pesan utamanya adalah semua pihak harus bekerja bersama, tanpa menganggap ancaman keselamatan sebagai risiko yang tak terhindarkan. Suporter berhak mendukung tim, menyaksikan pertandingan, dan kembali ke rumah dengan aman.
Baca juga: Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku






