Kota Semarang | Ayudiah Rivana Tridiandinata, atlet pencak silat Kota Semarang yang berlaga dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026, meninggal dunia setelah menjalani operasi pada jari tengah. Kabar tersebut menjadi perhatian karena tindakan medis itu dilakukan ketika ia masih tercatat sebagai atlet yang mengikuti ajang olahraga tingkat provinsi. Pihak RS Primaya Semarang merespons kejadian tersebut pada Rabu (28/10), termasuk dengan memaparkan kronologi terkait penanganan Ayudiah.
Peristiwa ini mengundang pertanyaan mengenai rangkaian kejadian sebelum dan sesudah operasi. Namun, informasi yang tersedia dalam keterangan awal belum cukup untuk memastikan penyebab meninggalnya atlet tersebut. Karena itu, kabar bahwa Ayudiah meninggal setelah operasi perlu dibedakan dari kesimpulan bahwa operasi atau kondisi tertentu secara langsung menyebabkan kematiannya. Penetapan sebab kematian memerlukan keterangan dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam menyampaikan kronologi, rumah sakit menjadi salah satu pihak yang dapat menjelaskan urutan penanganan medis berdasarkan catatan pelayanan. Keterangan tersebut penting untuk memahami waktu tindakan, kondisi pasien, serta perkembangan yang terjadi setelah operasi, sepanjang informasi itu disampaikan secara resmi. Sampai penyebabnya dipastikan, publik sebaiknya mengacu pada pernyataan pihak terkait dan tidak menyebarkan dugaan sebagai fakta.
Meninggalnya Ayudiah juga menjadi kabar duka bagi dunia pencak silat Semarang dan kontingen Jawa Tengah yang mengikuti Porprov XVII. Ia berlaga mewakili Kota Semarang dalam kompetisi tersebut, sementara kabar wafatnya muncul setelah ia menjalani operasi jari tengah. Rincian kronologi dari RS Primaya Semarang diharapkan memberi kejelasan tentang penanganan yang dilakukan, tanpa mendahului hasil pemeriksaan mengenai penyebab kematian. Informasi yang telah dikonfirmasi perlu menjadi dasar pemberitaan lanjutan, sedangkan hal-hal yang belum terjawab sebaiknya tetap dinyatakan sebagai belum diketahui.Ayudiah mengalami cedera ketika bertanding dalam ajang pencak silat pada Senin (26/10). Setelah insiden tersebut, ia dibawa ke rumah sakit melalui instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Berdasarkan keterangan Direktur RS Primaya Semarang, dr Aditya Nugraha, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya patah tulang pada jari tengah. Cedera itu menjadi kondisi utama yang ditangani tim medis setelah Ayudiah tiba di rumah sakit. Jalur IGD digunakan sebagai pintu awal pelayanan, sehingga kondisi atlet dapat diperiksa terlebih dahulu sebelum dokter menentukan penanganan berikutnya. Informasi mengenai cedera dan tindakan medis disampaikan pihak rumah sakit dalam penjelasan mengenai kronologi perawatan Ayudiah.
Ayudiah diketahui turun pada kategori tanding kelas A putri, dengan rentang berat badan 45–50 kilogram. Dalam pertandingan tersebut, ia mengalami cedera yang kemudian memerlukan penanganan lebih lanjut. Keterangan mengenai kategori dan kelas pertandingan membantu menjelaskan konteks kegiatan yang diikuti Ayudiah sebelum dibawa ke rumah sakit. Meski demikian, informasi yang disampaikan rumah sakit mengenai kondisi medisnya berfokus pada patah tulang jari tengah serta tindakan operasi yang dilakukan. Tidak ada rincian tambahan dalam keterangan tersebut mengenai bagaimana cedera terjadi secara teknis di arena atau perkembangan pertandingan setelah insiden. Karena itu, kronologi yang dapat disampaikan berdasarkan penjelasan rumah sakit dimulai dari cedera saat bertanding, dilanjutkan dengan pemeriksaan melalui IGD, dan kemudian operasi.
Menurut Aditya, operasi terhadap Ayudiah dilakukan pada Selasa (27/10), sehari setelah ia mengalami cedera. Aditya juga menjelaskan bahwa tindakan tersebut bukan operasi besar. Penjelasan ini menggambarkan jenis penanganan yang dilakukan oleh tim medis, tetapi tidak dengan sendirinya menerangkan seluruh kondisi pasien ataupun hasil pemulihannya. Pihak rumah sakit menyebut operasi dilakukan setelah Ayudiah mendapatkan penanganan awal, menyusul temuan patah tulang pada jari tengah. Dengan demikian, urutan perawatan yang dipaparkan mencakup kedatangan melalui IGD pada hari cedera dan pelaksanaan operasi pada hari berikutnya. Keterangan mengenai skala operasi disampaikan langsung oleh direktur rumah sakit sebagai bagian dari penjelasan tentang tindakan medis yang dijalani atlet tersebut.
Aditya menyampaikan bahwa operasi terhadap Ayudiah selesai sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah tindakan itu rampung, pasien disebut kembali ke ruang perawatan dan berada dalam pemantauan tim medis. Keterangan tersebut menjelaskan urutan penanganan setelah operasi, termasuk perawatan yang diberikan kepada Ayudiah. Informasi mengenai waktu selesainya operasi menjadi bagian dari kronologi yang disampaikan pihak rumah sakit terkait kondisi atlet pencak silat asal Jawa Tengah tersebut.
Menurut Aditya, setelah operasi selesai, tim medis memberikan perawatan serta obat kepada pasien. Ia juga menyebut petugas masih mendatangi ruangan Ayudiah sekitar pukul 23.00 WIB. Keterangan tentang kunjungan petugas ini menunjukkan bahwa pemantauan tetap dilakukan setelah pasien kembali ke ruang perawatan. Namun, informasi yang disampaikan dalam kronologi tersebut tidak merinci jenis obat, tindakan lanjutan yang diberikan, ataupun hasil pemeriksaan pada setiap kunjungan. Karena itu, urutan waktu dan pernyataan mengenai pemantauan menjadi hal yang dapat dipastikan dari penjelasan Aditya.
Aditya menjelaskan bahwa setelah operasi, Ayudiah dilaporkan sadar penuh. Ia kemudian kembali menjalani perawatan di ruang rawat. Dalam pemeriksaan sekitar pukul 03.00 WIB, pasien disebut masih bernapas saat berada dalam posisi tidur. Keterangan ini menggambarkan kondisi yang terlihat pada waktu pemeriksaan tersebut, sebagaimana disampaikan pihak rumah sakit. Informasi itu tidak dengan sendirinya menjelaskan perubahan kondisi setelah pemeriksaan, sehingga kronologi perlu dibaca sesuai batas waktu dan isi pernyataan yang tersedia.
Rangkaian keterangan mengenai waktu operasi, pemberian perawatan dan obat, kunjungan petugas pada malam hari, serta pemeriksaan dini hari menjadi penjelasan rumah sakit tentang kondisi Ayudiah setelah tindakan. Aditya menyatakan operasi selesai sekitar pukul 20.00 WIB, sementara petugas disebut masih mendatangi ruangan pasien sekitar pukul 23.00 WIB. Pada pemeriksaan sekitar pukul 03.00 WIB, Ayudiah dilaporkan masih bernapas dalam keadaan tidur. Penyampaian kronologi ini memberikan gambaran tentang pemantauan yang dilakukan pada beberapa waktu setelah operasi, tanpa mengubah rincian yang disampaikan rumah sakit mengenai keadaan pasien pada saat-saat tersebut.
Sekitar pukul 05.30 WIB, Ayudiah diketahui sudah tidak bernapas. Saat itu, anggota keluarga berada di dalam ruangan yang sama, tetapi mereka juga sedang tertidur. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam penelusuran kejadian setelah atlet pencak silat asal Jawa Tengah itu menjalani operasi. Rumah sakit menyampaikan bahwa kondisi Ayudiah ditemukan pada pagi hari, sementara keluarga yang mendampinginya belum menyadari perubahan tersebut karena tertidur.
Aditya mengatakan pihak rumah sakit belum dapat memastikan penyebab kematian Ayudiah. Penetapan penyebab memerlukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut terhadap berbagai keadaan yang mungkin berpengaruh. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan, baik faktor yang dapat diperkirakan maupun faktor yang tidak dapat diduga sebelumnya. Karena itu, rumah sakit belum menyampaikan satu penyebab tertentu sebagai kesimpulan atas kejadian tersebut.
Rumah sakit masih menyusun kronologi secara menyeluruh, termasuk merangkai informasi mengenai kondisi Ayudiah sebelum operasi, pelaksanaan tindakan, serta perawatan setelah operasi. Aditya menyatakan bahwa pemeriksaan menjelang operasi, tindakan operasi, dan perawatan pascatindakan telah dilakukan sesuai prosedur medis. Keterangan itu disampaikan sebagai penjelasan mengenai tahapan pelayanan yang diterima pasien, sementara penelusuran atas kejadian dan faktor yang mungkin terkait masih berlangsung.
Aditya juga menjelaskan bahwa sebelum kejadian, Ayudiah masih menunjukkan respons yang baik. Ia disebut tetap kooperatif, dalam keadaan sadar, dan menggunakan ponsel. Informasi mengenai kondisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kronologi yang sedang disusun rumah sakit.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Taruna Akmil Raih Medali Perak dan Emas pada Akmil Open Tournament Pencak Silat Piala Panglima TNI 2026 | TNI Kerahkan Sejumlah Alutsista Dukung Operasi SAR KM Virgo Transport 8






