Bandung | Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, mengecam penyerangan terhadap rombongan bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di Batang. Sikap tersebut disampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menyoroti tindakan kekerasan yang menimpa para pemain muda ketika mereka sedang menjalankan kegiatan sepak bola dan berupaya mengembangkan kemampuan di lapangan.
Rizky Ridho, pemain berusia 24 tahun yang juga merupakan bek timnas Indonesia, menegaskan bahwa kekerasan tidak seharusnya memiliki tempat dalam sepak bola. Menurut pesan yang disampaikannya, pertandingan dan rivalitas semestinya berlangsung dengan menjunjung sportivitas, bukan melalui tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain. Apalagi, insiden tersebut menimpa rombongan pemain muda yang sedang mengejar cita-cita melalui olahraga.
Melalui unggahannya, Ridho menyampaikan keprihatinan sekaligus mengingatkan seluruh pihak agar tidak membiarkan kekerasan menjadi bagian dari sepak bola. Ia menyerukan, “Stop kekerasan dalam sepak bola,” sebagai pesan utama untuk para pendukung, pelaku olahraga, dan masyarakat secara luas. Seruan itu menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi pemain, terutama atlet usia muda yang masih berada dalam tahap pembinaan.
Kecaman tersebut turut menunjukkan bahwa persoalan keamanan dalam perjalanan maupun kegiatan pertandingan perlu mendapat perhatian serius. Bus yang membawa rombongan tim seharusnya menjadi ruang yang aman, bukan sasaran penyerangan. Karena itu, pesan Rizky Ridho tidak hanya berkaitan dengan persaingan Persija dan Persib, tetapi juga menyentuh nilai dasar sepak bola: menghormati lawan, menjaga keselamatan, dan menolak segala bentuk kekerasan.
Sikap tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap klub tidak boleh diwujudkan dengan tindakan yang merugikan pemain atau rombongan tim lain. Sepak bola seharusnya memberi ruang bagi generasi muda untuk tumbuh, berprestasi, dan mengejar impian tanpa rasa takut.
Penyerangan terhadap rombongan EPA Persib U-18 berlangsung pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, di wilayah Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Peristiwa itu terjadi ketika rombongan tersebut berhenti di Rest Area KM 360. Lokasi tersebut menjadi titik singgah dalam perjalanan mereka sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Pada saat kejadian, rombongan Persib U-18 sedang dalam perjalanan pulang setelah menjalani laga tandang melawan EPA Garuda United. Pertandingan itu berlangsung di Stadion UNS, Surakarta. Dengan demikian, perjalanan menuju Bandung dilakukan setelah rombongan menyelesaikan agenda pertandingan di Surakarta.
Rest Area KM 360 menjadi lokasi yang disebut dalam laporan mengenai insiden tersebut. Rombongan berada di area itu pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, ketika peristiwa penyerangan terjadi. Informasi tersebut menempatkan kejadian dalam rangkaian perjalanan pulang tim, bukan ketika rombongan sedang menjalani pertandingan di lapangan.
Kronologi singkat ini menggambarkan konteks waktu, tempat, dan perjalanan rombongan yang terlibat. Persib U-18 diketahui bergerak dari Surakarta menuju Bandung seusai laga tandang melawan EPA Garuda United, lalu berhenti di Rest Area KM 360, Batang. Pada titik singgah itulah penyerangan terhadap rombongan dilaporkan berlangsung. Uraian mengenai kejadian ini dibatasi pada informasi waktu, lokasi, serta konteks perjalanan yang telah disampaikan, tanpa merinci bentuk serangan, jumlah pelaku, maupun urutan kejadian lain yang belum dijelaskan.
Insiden yang menimpa rombongan EPA Persib U-18 di Batang dilaporkan menimbulkan kerusakan pada kendaraan serta kerugian bagi tim. Kaca bus yang membawa pemain dan ofisial pecah setelah rombongan mengalami serangan dalam perjalanan. Kerusakan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan perjalanan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan seluruh anggota rombongan. Tim kemudian perlu memastikan kondisi kendaraan dan mengatur kembali perjalanan agar para pemain dapat berada dalam situasi yang lebih aman.
Selain kerusakan pada bus, sejumlah koper milik pemain dan ofisial dilaporkan hilang. Koper-koper itu diduga berisi perlengkapan pribadi, pakaian, serta kebutuhan tim selama perjalanan. Kehilangan tersebut menambah dampak material yang harus ditangani oleh rombongan, termasuk pendataan barang dan kemungkinan pelaporan kepada pihak berwenang. Seorang ofisial tim juga dilaporkan mengalami luka lecet pada bagian pipi dan kepala. Meski cedera yang disebutkan tergolong ringan, peristiwa itu menunjukkan adanya risiko fisik yang dihadapi rombongan saat kejadian berlangsung.
Dugaan sementara mengenai pihak yang terlibat masih perlu ditelusuri melalui pemeriksaan dan keterangan saksi. Sejumlah pihak mengaitkan peristiwa itu dengan oknum suporter karena lokasi serta waktunya disebut bertepatan dengan arus balik pendukung setelah laga tandang Persija Jakarta melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Namun, kesamaan waktu dan lokasi tersebut belum dapat dijadikan bukti final mengenai identitas pelaku maupun kelompok yang bertanggung jawab. Penyelidikan resmi tetap diperlukan untuk menjelaskan rangkaian kejadian, memastikan penyebab kerusakan, serta mengungkap keberadaan barang-barang yang dilaporkan hilang.
Manajemen Persib Bandung mengecam seluruh bentuk kekerasan yang terjadi dalam rangkaian insiden terhadap rombongan EPA Persib U-18 di Batang. Sikap tersebut disampaikan sebagai bentuk keprihatinan sekaligus penegasan bahwa tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan, apa pun latar belakang persoalan yang mendahuluinya. Keselamatan pemain, ofisial, keluarga, dan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan sepak bola harus menjadi perhatian bersama.
Persib juga mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan tidak mengambil langkah yang dapat memperbesar ketegangan. Masyarakat, pendukung, serta kelompok suporter diminta tidak menyebarkan provokasi, informasi yang belum terverifikasi, atau ajakan yang berpotensi memicu konflik lanjutan. Aksi balasan juga perlu dihindari karena dapat menimbulkan korban baru dan mengganggu proses penanganan perkara. Setiap keberatan sebaiknya disampaikan melalui jalur resmi kepada pihak yang berwenang.
Di sisi lain, kepolisian dan otoritas terkait masih melakukan verifikasi serta penyelidikan untuk memastikan kronologi lengkap peristiwa tersebut. Pemeriksaan terhadap keterangan para pihak, dokumentasi, dan informasi lain yang relevan diperlukan agar fakta yang diperoleh dapat diuji secara menyeluruh. Proses ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai rangkaian kejadian, termasuk lokasi, waktu, serta kondisi yang menyertainya.
Sejumlah informasi mengenai pihak yang diduga terlibat maupun kemungkinan motif belum dapat dipastikan karena penyelidikan masih berlangsung. Oleh sebab itu, pemberitaan dan pernyataan publik perlu disampaikan secara berimbang dengan menggunakan keterangan yang telah terkonfirmasi. Penetapan pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya menjadi kewenangan aparat berdasarkan bukti dan prosedur hukum yang berlaku. Persib berharap proses tersebut berjalan transparan, sekaligus meminta seluruh pihak menghormati penanganan yang sedang dilakukan tanpa memperkeruh situasi.

