Bandung | Mantan pelatih tim nasional futsal putri, Arif Kurniawan, menyoroti talenta-talenta terbaik yang tampil dalam ajang Okezone National Championship 2026 regional Bandung. Turnamen futsal tingkat sekolah menengah atas (SMA) tersebut menjadi ruang bagi para pemain muda untuk menunjukkan kemampuan, kedisiplinan, serta pemahaman taktik di hadapan pelatih dan pengamat berpengalaman.
Okezone National Championship 2026 regional Bandung berlangsung di GOR ITB Jatinangor, Bandung, pada Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2026. Kompetisi ini mempertemukan sejumlah tim SMA dalam pertandingan yang berlangsung kompetitif. Selain mengejar kemenangan bagi sekolah masing-masing, para peserta juga memiliki kesempatan untuk memperlihatkan potensi individu dan menarik perhatian dalam proses pemantauan bakat.
Rangkaian pertandingan dimulai dengan fase grup pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Pada tahap ini, setiap tim berusaha mengamankan posisi terbaik untuk melanjutkan kiprah ke babak berikutnya. Persaingan kemudian berlanjut pada putaran final yang digelar pada Minggu, 11 Oktober 2026. Format tersebut memberikan kesempatan kepada pemain untuk tampil dalam lebih dari satu pertandingan, sehingga performa mereka dapat dinilai secara lebih menyeluruh.
Dalam memilih pemain terbaik, Arif melakukan penilaian berdasarkan posisi masing-masing. Aspek yang diperhatikan tidak hanya mencakup kemampuan mencetak gol, tetapi juga teknik dasar, pengambilan keputusan, pergerakan tanpa bola, kontribusi dalam bertahan, komunikasi, dan konsistensi selama pertandingan. Pendekatan berdasarkan posisi membantu menghasilkan penilaian yang lebih objektif terhadap peran setiap pemain di lapangan.
Pengalaman Arif menjadi salah satu pertimbangan penting dalam proses tersebut. Selain pernah menangani tim nasional futsal putri, ia juga pernah melatih Kancil BBK Pontianak yang berkompetisi di Liga Futsal Pro. Latar belakang itu membuat pengamatannya terhadap pemain muda tidak hanya berfokus pada aksi individu, tetapi juga pada kesiapan mereka memahami sistem permainan dan beradaptasi dengan kebutuhan tim.
Arif Kurniawan menilai M Faisal sebagai salah satu talenta yang menonjol ketika menjalankan peran sebagai penjaga gawang. Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada kemampuannya menjaga area pertahanan, tetapi juga pada ketenangan dan ketepatan dalam merespons situasi permainan. Faisal dianggap mampu menjalankan tugas utamanya dengan baik, terutama saat berupaya menghalau tembakan lawan. Kemampuannya membaca arah bola dan mengambil keputusan secara cepat menjadi bagian penting dari kontribusinya di bawah mistar.
Selain memiliki peran dalam menghentikan serangan, M Faisal juga dinilai mampu membantu tim membangun permainan dari lini belakang. Ia dapat mendistribusikan bola menggunakan tangan maupun kaki, sehingga opsi serangan tidak berhenti setelah penyelamatan dilakukan. Distribusi tersebut memberi kesempatan bagi rekan-rekannya untuk mengembangkan serangan dengan lebih terarah. Bagi Arif, penjaga gawang modern perlu memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar mengamankan gawang, dan Faisal menunjukkan kualitas yang mendukung kebutuhan tersebut.
Sementara itu, Arif melihat M Fathra sebagai pemain yang cocok mengisi peran anchor. Posisi ini menuntut keseimbangan membantu serangan dan menjaga kestabilan pertahanan, serta Fathra dinilai memiliki visi bermain yang baik untuk menjalankan kedua tanggung jawab tersebut. Ia mampu membaca perkembangan permainan dan memberikan dukungan pada saat tim menyerang, sekaligus tetap memperhatikan kebutuhan bertahan ketika penguasaan bola berpindah. Penilaian itu menunjukkan bahwa Fathra memiliki pemahaman taktik yang mendukung perannya di tengah permainan.
Arif juga memandang Fathra memiliki kualitas kepemimpinan yang dapat memberi pengaruh positif bagi rekan-rekannya. Kemampuan menjadi pemimpin tidak hanya berkaitan dengan instruksi di lapangan, tetapi juga dengan keberanian mengambil keputusan dan menjaga koordinasi tim. Dengan visi bermain serta karakter tersebut, Fathra dipandang mampu menjadi penghubung antarlini sekaligus figur yang membantu tim tetap terorganisasi dalam berbagai situasi.
Ala Rakha Jabbar, pemain nomor 2 dari SMA Jatinangor, menjadi salah satu talenta yang mendapat perhatian Arif Kurniawan dalam pemantauan pemain futsal terbaik di regional Bandung. Rakha dinilai memiliki karakter permainan yang menonjol karena berposisi sebagai pemain kidal. Keunggulan tersebut membuatnya mampu menghadirkan variasi serangan sekaligus menyulitkan lawan ketika berusaha membaca arah pergerakannya.
Menurut penilaian Arif, kekuatan Rakha tidak hanya terletak pada penggunaan kaki kirinya, tetapi juga pada penguasaan bola yang baik. Ia mampu menjaga kontrol ketika berada dalam tekanan dan tetap berusaha membawa bola melewati lawan. Dalam situasi satu lawan satu, Rakha memperlihatkan keberanian untuk mengambil keputusan serta daya juang yang kuat. Sikap tersebut membuatnya tidak mudah menghindar dari duel dan terus mencari peluang untuk menciptakan keunggulan bagi tim.
Arif juga menyoroti kemampuan Rakha dalam melakukan shooting. Tembakannya dinilai memiliki akurasi yang baik, sehingga dapat menjadi ancaman ketika ia memperoleh ruang di sekitar area pertahanan lawan. Kombinasi kontrol bola, keberanian dalam duel, dan penyelesaian akhir itu menjadikan Rakha sebagai pemain yang memiliki potensi untuk terus berkembang.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Arif Kurniawan, yang juga pernah menjadi pelatih futsal Permata Indah Manokwari. Pengalamannya dalam melatih membuat pengamatan terhadap pemain tidak hanya berfokus pada penampilan sesaat, tetapi juga pada kualitas teknik, karakter, dan kemampuan mengambil keputusan. Bagi Arif, Rakha menunjukkan sejumlah modal penting sebagai pemain muda, terutama melalui permainan kaki kiri, keberanian menghadapi situasi satu lawan satu, serta usaha konsisten untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang dimilikinya.
Nama Diana Rian dari SMAN 1 Cicalengka menutup rangkaian profil talenta futsal terbaik yang menjadi perhatian Arif Kurniawan di regional Bandung. Pemain bernomor punggung 10 ini dinilai memiliki kualitas yang seimbang ketika menjalankan tugas menyerang maupun bertahan. Keseimbangan tersebut membuat Diana tidak hanya berguna saat tim membangun serangan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi ketika permainan menuntut disiplin, ketahanan, dan tanggung jawab dalam menjaga area pertahanan.
Dalam fase menyerang, Diana menonjol melalui kemampuan melepaskan shooting yang keras dan akurat. Tembakannya dapat menjadi ancaman serius bagi lawan karena memiliki kekuatan sekaligus ketepatan sasaran. Keunggulan ini memperlihatkan bahwa Diana mampu memanfaatkan peluang dan menyelesaikan rangkaian serangan dengan efektif. Namun, penilaiannya tidak semata-mata didasarkan pada jumlah atau potensi gol. Kemampuan untuk menjalankan peran secara menyeluruh menjadi alasan penting mengapa namanya masuk dalam perhatian Arif.
Arif menegaskan bahwa pemilihan pemain didasarkan pada fungsi dan kemampuan masing-masing di lapangan. Dengan demikian, setiap nama dinilai berdasarkan kontribusi yang dapat diberikan kepada tim, baik dalam situasi menyerang, bertahan, maupun ketika pertandingan membutuhkan perubahan peran. Diana menjadi contoh pemain yang memiliki fleksibilitas tersebut. Ia mampu menghadirkan ancaman lewat shooting, sekaligus tetap menjalankan tugas bertahan dengan baik. Profil ini melengkapi pembahasan mengenai pemain-pemain yang dipandang memiliki kualitas menonjol. Bahan sumber menyebutkan lima pemain terbaik, tetapi hanya memuat nama dan uraian empat pemain, yaitu M Faisal, M Fathra, Rakha Jabbar, dan Diana Rian. Karena itu, pembahasan ini tidak menambahkan nama atau detail lain di luar informasi yang tersedia.
Baca juga: Jelajah Hukum Atas Berakhirnya HGU Nomor 21 Tahun 1995, PTPN 1 Regional 7 Belum Membayar Tanah Warga | Cyber Competition 2026 Jadi Wadah Cetak Talenta Muda di Ranah Digital

