Puluhan Siswa SD di Konawe Selatan Dirawat Usai Menyantap Menu MBG

Puluhan Siswa SD di Konawe Selatan Dirawat Usai Menyantap Menu MBG

Kabupaten Konawe Selatan | Lebih dari 70 murid SD Negeri 4 Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dibawa ke fasilitas kesehatan setelah mengalami sejumlah keluhan yang diduga berkaitan dengan makanan. Para siswa tersebut mulai merasakan sakit perut, diare, dan pusing seusai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu pagi, 14 Oktober 2026. Keluhan muncul setelah para murid mengonsumsi makanan yang menjadi bagian dari program MBG. Kondisi sejumlah siswa kemudian mengundang perhatian pihak sekolah karena mereka mengeluhkan rasa tidak nyaman pada perut, buang air besar berulang, serta pusing. Sebagian siswa juga memerlukan penanganan lebih lanjut agar kondisi mereka dapat dipantau oleh tenaga kesehatan.

Para murid selanjutnya dibawa ke Puskesmas Motaha, Kecamatan Angata, untuk menjalani pemeriksaan dan memperoleh perawatan. Petugas kesehatan menangani siswa yang datang dengan keluhan berbeda-beda, sementara pihak terkait melakukan pendataan terhadap jumlah murid yang terdampak. Penyebab pasti munculnya gejala tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pemeriksaan, termasuk penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi para siswa. Penanganan di puskesmas dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan kondisi para murid tetap terpantau dan mencegah kemungkinan memburuknya gejala.

Para siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat penanganan di Puskesmas Motaha, Kabupaten Konawe Selatan. Petugas kesehatan memeriksa puluhan murid yang datang dengan kondisi dan tingkat keluhan berbeda-beda. Pemeriksaan dilakukan untuk memantau keadaan setiap anak, memberikan obat sesuai kebutuhan, serta menentukan apakah mereka memerlukan observasi lanjutan atau dapat kembali ke rumah.

Dari seluruh siswa yang diperiksa, sebanyak 28 anak harus menjalani perawatan intensif. Mereka ditempatkan dalam pemantauan tenaga medis dan dipasangi infus untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama masa perawatan. Tindakan tersebut diberikan berdasarkan kondisi masing-masing pasien, terutama kepada anak yang memerlukan pengawasan lebih dekat setelah mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan.

Sementara itu, siswa lain yang kondisinya dinilai lebih stabil diperbolehkan pulang setelah menerima obat dan arahan dari petugas kesehatan. Pihak keluarga tetap diminta memperhatikan kondisi anak di rumah, termasuk apabila muncul keluhan lanjutan yang memerlukan pemeriksaan kembali. Hingga Rabu siang, 28 siswa masih berada di Puskesmas Motaha untuk menjalani perawatan dan pemantauan. Meski demikian, kondisi kesehatan mereka dilaporkan mulai membaik. Penanganan medis terus dilakukan sambil menunggu informasi lebih lanjut mengenai kejadian tersebut. Dugaan keracunan makanan masih menjadi perhatian dalam pemeriksaan, tetapi penyebab pasti keluhan para siswa belum dapat disimpulkan berdasarkan keterangan yang tersedia.

Menurut keterangan guru SD Negeri 4 Angata, Juniar, para murid menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Makanan tersebut dikonsumsi sekitar pukul 10.00. Pada saat menyantap menu itu, para siswa mengikuti kegiatan di sekolah seperti biasa. Keterangan mengenai waktu konsumsi tersebut menjadi bagian dari kronologi keluhan yang kemudian dirasakan oleh sejumlah murid.

Keluhan tidak langsung muncul setelah makanan disantap. Juniar menyebutkan, para murid mulai merasakan kondisi yang tidak nyaman pada malam hari, setelah salat Magrib. Dengan demikian, keluhan muncul beberapa jam setelah menu MBG dikonsumsi pada pagi menjelang siang. Rentang waktu tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman dan laporan yang diterima guru dari para siswa.

Gejala yang disebutkan para murid meliputi sakit perut, buang air, dan pusing. Keluhan itu menjadi perhatian karena dirasakan setelah mereka mengikuti makan bersama menu MBG di sekolah pada hari yang sama. Informasi tersebut masih berupa keterangan mengenai waktu munculnya keluhan dan gejala yang dirasakan oleh siswa, sebagaimana disampaikan oleh Juniar.

Kronologi yang disampaikan menunjukkan bahwa konsumsi menu berlangsung sekitar pukul 10.00 pada Selasa, 13 Oktober 2026, sedangkan keluhan mulai dirasakan pada malam hari setelah salat Magrib. Para murid kemudian dilaporkan mengalami sakit perut, buang air, serta pusing. Keterangan guru tersebut menggambarkan urutan kejadian berdasarkan laporan siswa, tanpa menyimpulkan diagnosis atau penyebab tertentu.

Juniar menjelaskan bahwa para siswa sekolah dasar tersebut masih mengikuti kegiatan belajar seperti biasa sebelum menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa pagi. Makanan itu dikonsumsi oleh para murid dalam rangka pelaksanaan program di sekolah. Pada saat tersebut, belum disampaikan adanya keluhan kesehatan yang muncul secara langsung setelah mereka menerima dan menyantap menu tersebut.

Menurut keterangan Juniar, keluhan mulai dirasakan oleh sejumlah siswa pada Selasa malam. Para murid mengalami sakit perut, buang air, dan pusing. Gejala tersebut kemudian membuat sebagian siswa harus mendapatkan perawatan. Keterangan itu menjadi penjelasan awal mengenai urutan waktu konsumsi menu MBG dan munculnya kondisi kesehatan yang dialami para siswa.

Juniar menyampaikan bahwa kondisi para murid tersebut kepada pihak terkait pada Rabu, 14 Oktober 2026. Pernyataan itu memuat kronologi awal yang diketahui dari pengalaman dan keluhan siswa setelah menyantap menu MBG pada pagi hari sebelumnya. Informasi yang disampaikan berfokus pada gejala yang dirasakan para murid, yaitu sakit perut, buang air, serta pusing yang muncul pada malam harinya.

Dengan demikian, keterangan Juniar menggambarkan bahwa keluhan kesehatan tidak disebutkan muncul saat para siswa pertama kali menyantap makanan, melainkan dilaporkan pada malam hari setelah konsumsi. Para siswa kemudian dirawat karena mengalami gejala tersebut. Keterangan pada Rabu, 14 Oktober 2026, menjadi informasi awal mengenai kronologi dan kondisi para murid setelah menyantap menu MBG, tanpa memuat hasil pemeriksaan atau penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab keluhan yang dialami.

Baca juga: Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | Tiga Ton NaCl Disemai dari Udara, Lanud Sjamsudin Noor Dukung OMC Tekan Karhutla Kalimantan Selatan | Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pasien yang dirawat di RSI Siti Hajar mengaku mengalami mual dan pusing