Jakarta | PSSI resmi mengakhiri kerja sama dengan Satoru Mochizuki sebagai pelatih kepala tim nasional putri Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan pada Kamis, 5 November 2026, melalui unggahan di akun Instagram resmi Timnas Indonesia. Dengan keputusan ini, masa tugas pelatih asal Jepang itu bersama Garuda Pertiwi telah berakhir setelah mendampingi tim dalam sejumlah agenda dan kompetisi.
Dalam pesan perpisahannya, PSSI menyampaikan apresiasi atas dedikasi, kerja keras, dan kontribusi Mochizuki selama menangani tim. Federasi juga mengakui pencapaian yang berhasil diraih bersama skuad putri Indonesia. Unggahan itu memuat ucapan terima kasih atas kerja keras Mochizuki serta sejarah yang telah ia tinggalkan bersama Garuda Pertiwi. Pesan tersebut menandai penutupan hubungan kerja sekaligus penghormatan terhadap kiprahnya.
Selama berada di Indonesia, Mochizuki menjadi bagian dari perjalanan tim nasional putri yang berupaya meningkatkan prestasi dan daya saing. Ia bekerja bersama para pemain dan staf dalam membangun persiapan tim, menghadapi turnamen, serta mengejar hasil terbaik di tingkat regional. PSSI menyebut dua gelar AFF sebagai bagian penting dari pencapaian selama periode kerja sama tersebut, yang turut menjadi catatan dalam perkembangan sepak bola putri nasional.
Pengumuman itu tidak merinci secara lengkap alasan berakhirnya kerja sama maupun rencana pengganti Mochizuki. Namun, pernyataan resmi PSSI menegaskan penghargaan atas upaya dan hasil yang telah dicapai, tanpa menghapus arti kontribusi sang pelatih bagi tim. Perpisahan ini menjadi penanda berakhirnya satu babak bagi Garuda Pertiwi, sementara federasi selanjutnya akan menentukan arah kepelatihan dan persiapan tim untuk agenda mendatang.
Bagi para pemain dan pendukung, pesan PSSI memberi ruang untuk mengenang periode kerja sama tersebut sebagai bagian dari perjalanan tim. Dua gelar AFF menjadi pencapaian yang dapat dirujuk, sedangkan kerja keras di baliknya mencakup proses latihan, persiapan, dan kompetisi. PSSI memilih menyampaikan penghargaan secara terbuka melalui kanal resmi, sehingga informasi berakhirnya hubungan kerja sekaligus ucapan terima kasih dapat diterima oleh publik. Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah federasi dalam menjaga kesinambungan program tim nasional putri dan meneruskan upaya peningkatan prestasi.
PSSI mendatangkan Satoru Mochizuki pada Februari 2024 dengan mandat khusus untuk melatih tim nasional sepak bola putri Indonesia. Penunjukan tersebut menjadi awal dari masa kepelatihannya bersama Garuda Pertiwi, sekaligus memberi kesempatan bagi tim untuk membangun persiapan yang lebih terarah menghadapi kompetisi regional. Dalam tahun pertamanya menangani skuad, Mochizuki langsung mencatatkan pencapaian penting melalui keberhasilan Indonesia menjuarai AFF Women’s Cup 2024.
Gelar pada 2024 menjadi hasil nyata dari kiprah awalnya. Kemenangan itu menempatkan Indonesia sebagai juara di ajang sepak bola putri Asia Tenggara dan menjadi salah satu tonggak utama selama Mochizuki memimpin tim nasional. Keberhasilan tersebut juga menunjukkan bahwa skuad Garuda Pertiwi mampu bersaing untuk meraih prestasi regional. Bagi perjalanan kepelatihannya, gelar tersebut menjadi pencapaian pertama yang menandai masa kerjanya bersama tim putri nasional.
Setelah kembali ditunjuk untuk memimpin tim pada 2026, Mochizuki kembali mengantarkan Indonesia meraih gelar AFF Women’s Cup. Hasil itu menambah capaian yang telah diraih pada periode pertamanya dan menjadikan namanya terkait dengan dua keberhasilan Indonesia di kompetisi tersebut. Dengan kemenangan pada edisi 2024 dan 2026, tim nasional putri Indonesia meraih dua gelar regional selama masa kepelatihannya.
Dua kemenangan itu menjadi catatan utama dari kiprah Mochizuki bersama Garuda Pertiwi. Gelar pertama diraih pada tahun awal penugasannya, sementara gelar berikutnya datang setelah ia kembali dipercaya memimpin skuad. Kedua pencapaian tersebut memperlihatkan hasil yang terukur dari keterlibatannya dalam sepak bola putri Indonesia di tingkat regional. Dalam konteks berakhirnya kerja sama PSSI dengannya, prestasi di AFF Women’s Cup menjadi bagian penting dari rekam jejak kepelatihannya: dua kali membawa Indonesia menjadi juara dalam rentang masa tugasnya, masing-masing pada 2024 dan 2026.
Peran Satoru Mochizuki di lingkungan PSSI mengalami perubahan dalam rentang waktu yang relatif singkat. Saat pertama kali menangani tim nasional putri Indonesia, ia bertugas sebagai pelatih kepala dan memimpin tim dalam berbagai agenda pertandingan. Di bawah arahannya, timnas putri meraih dua gelar AFF, sebuah pencapaian yang menjadi bagian penting dari catatan kerja sama Mochizuki dengan federasi. Namun, posisi dan tanggung jawabnya kemudian berubah mengikuti keputusan PSSI.
Pada 2025, Mochizuki tidak lagi menjabat sebagai pelatih kepala timnas putri. PSSI mengalihkan tugasnya menjadi ketua tim pengembangan sepak bola putri. Dalam peran tersebut, tanggung jawabnya tidak lagi berfokus pada memimpin tim nasional dari sisi teknis di lapangan, melainkan berada dalam lingkup pengembangan sepak bola putri. Perubahan jabatan ini menandai pergeseran fungsi Mochizuki di federasi, dari menangani timnas secara langsung menuju tugas yang berkaitan dengan pengembangan.
Kronologi itu berlanjut memasuki 2026. Pada tahun tersebut, PSSI kembali menunjuk Mochizuki untuk memimpin timnas putri di pinggir lapangan. Dengan penunjukan itu, ia kembali menjalankan tugas sebagai pelatih yang bertanggung jawab atas tim dalam pertandingan dan persiapan kompetisi. Kembalinya Mochizuki ke posisi tersebut terjadi setelah sebelumnya ia menjalani tugas sebagai ketua tim pengembangan sepak bola putri. Informasi yang tersedia mencatat perubahan jabatan dan penunjukan tersebut, tanpa menjelaskan alasan di balik keputusan federasi.
Urutan tanggung jawab ini memperlihatkan beberapa tahap dalam hubungan kerja Mochizuki dengan PSSI: memimpin timnas sebagai pelatih kepala, berpindah ke posisi pengembangan pada 2025, lalu kembali dipercaya menangani tim pada 2026. Karena itu, kabar mengenai berakhirnya kerja sama perlu dibaca bersama kronologi perannya, termasuk dua gelar AFF yang diraih selama ia menangani tim. Catatan tersebut menggambarkan perjalanan jabatan yang berubah dari waktu ke waktu, tanpa perlu menarik kesimpulan mengenai pertimbangan internal federasi yang tidak disampaikan secara terbuka.
Setelah mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan Satoru Mochizuki, PSSI menyampaikan penghormatan atas kiprah pelatih asal Jepang tersebut melalui sebuah video perpisahan. Unggahan itu menjadi ruang bagi federasi untuk menyampaikan apresiasi secara terbuka atas waktu, tenaga, dan perhatian yang telah ia curahkan selama menangani sepak bola putri Indonesia. Pesan perpisahan tersebut menempatkan kontribusi Mochizuki sebagai bagian penting dari perjalanan tim, sekaligus mengakui peran yang ia jalankan dalam mendampingi para pemain dan membangun perkembangan sepak bola putri.
Dalam video tersebut, PSSI mengenang warisan yang ditinggalkan Mochizuki selama masa tugasnya. Apresiasi itu tidak hanya merujuk pada hasil pertandingan, tetapi juga pada keterlibatannya dalam proses pembinaan dan upaya mendorong tim putri tampil lebih kompetitif. Perjalanan bersama pelatih tersebut mencakup pencapaian dua gelar AFF, sebuah catatan yang memberi arti tersendiri bagi perjalanan tim nasional. Keberhasilan itu menjadi salah satu bagian dari kontribusi yang dikenang federasi ketika menandai berakhirnya kebersamaan mereka.
Penghormatan PSSI juga menggambarkan pengakuan terhadap kerja kolektif yang terbangun selama periode tersebut. Mochizuki hadir dalam fase ketika tim putri menjalani berbagai tantangan dan berusaha meningkatkan kualitas permainan. Melalui pesan perpisahan itu, federasi menyampaikan terima kasih atas dedikasi serta sumbangsihnya bagi para pemain dan lingkungan sepak bola putri nasional. Dua gelar AFF yang diraih bersama menjadi capaian nyata yang melekat pada masa kepemimpinannya, sekaligus bagian dari catatan perkembangan tim. Ucapan apresiasi itu menandai penutup hubungan profesional dengan nada hormat, tanpa mengurangi arti kontribusi yang telah diberikan.
Baca juga: Bali dan Timor Leste Bahas Penguatan Kerja Sama Ekonomi melalui Forum Bisnis
11 kunjungan