Pevita Pearce Terhanyut Emosi Saat Membaca Naskah Film Gasigogi

Pevita Pearce Terhanyut Emosi Saat Membaca Naskah Film Gasigogi

Jakarta | Pevita Pearce mengaku menangis saat membaca naskah film Gasigogi di dalam pesawat. Pengalaman itu menjadi momen yang tidak biasa baginya, sebab cerita dalam naskah tersebut segera membawanya masuk ke dalam emosi tokoh dan situasi yang dibangun. Dalam film arahan Lee Hwan-kyung itu, Pevita memerankan Tania, karakter yang kisahnya menjadi bagian dari cerita yang menyentuh dirinya. Ia menyebut bacaan tersebut terasa hidup sejak awal, bahkan ketika ia masih berada dalam perjalanan udara. Reaksi itu muncul secara spontan, bukan sesuatu yang sebelumnya ia rencanakan atau coba bangun dengan sengaja. Naskah tersebut membuatnya terhubung dengan cerita secara langsung.

Pengalaman membaca naskah Gasigogi terasa berbeda dari kebiasaan Pevita selama ini. Biasanya, ketika membaca sebuah naskah, ia masih memperhatikan bagian-bagian tertentu dan menilai apakah ada yang terasa kurang atau perlu dikembangkan. Proses itu membuatnya mengambil jarak sejenak dari alur untuk mempertimbangkan unsur cerita. Namun, kali ini ia merasa tidak sempat berada dalam sikap evaluatif tersebut. Perhatiannya sepenuhnya tertarik pada perjalanan cerita, sehingga reaksi emosional datang lebih dahulu daripada penilaian kritis. Ia juga dapat membayangkan detail-detail yang tertulis dengan jelas, seolah adegan dan suasana yang digambarkan hadir di hadapannya. Keterlibatan itu membuat pengalaman membaca naskah terasa lebih mendalam baginya.

Pevita menyampaikan pengalaman tersebut saat ditemui di kantor Falcon Pictures, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026). Ia menceritakan bahwa dirinya larut dalam cerita ketika membaca naskah di pesawat, hingga tak kuasa menahan tangis. Kemampuan membayangkan detail yang tertulis turut memperkuat kedekatannya dengan kisah Tania dan dunia film tersebut. Baginya, respons itu berbeda dari pola membaca yang biasa ia lakukan, yang umumnya disertai perhatian pada kekurangan atau bagian yang masih bisa diperbaiki. Kali ini, cerita lebih dahulu menguasai perhatiannya. Pengalaman tersebut memberi gambaran tentang kesan awal Pevita terhadap materi film Gasigogi, sekaligus menunjukkan betapa kuatnya dampak naskah itu bagi dirinya sebelum proses produksi berlangsung.

Pevita Pearce menghabiskan sekitar satu setengah jam untuk membaca naskah film Gasigogi. Waktu yang cukup panjang itu tidak terasa sekadar sebagai kegiatan membaca halaman demi halaman. Baginya, cerita dalam naskah tersebut perlahan menjadi ruang yang dapat dimasuki, dengan rangkaian peristiwa dan hubungan antarkarakter yang terus hadir dalam bayangannya. Ia mengikuti perjalanan Jiwa, karakter yang diperankan Vino G. Bastian, sekaligus membayangkan Juna, anak Jiwa, dalam kisah yang sedang dibacanya.

Selama membaca, Pevita larut membayangkan bagaimana perjalanan Jiwa berlangsung dan bagaimana sosok Juna menjadi bagian dari cerita tersebut. Ia tidak hanya memahami alur secara rasional, tetapi juga terbawa oleh emosi yang muncul dari situasi para tokoh. Pengalaman itu berkembang begitu alami hingga perhatian Pevita sepenuhnya tertuju pada dunia di dalam naskah. Ia merasa seolah-olah menghilang ke dalam cerita, sementara waktu terus berjalan tanpa banyak ia sadari.

Kesadaran itu datang ketika air matanya ternyata telah menetes. Pevita baru menyadari bahwa dirinya menangis saat membaca, dan momen tersebut terjadi di tempat umum, bukan dalam suasana pribadi yang memberinya ruang untuk bereaksi dengan leluasa. Ada banyak orang di sekitarnya, sehingga ia berusaha menahan air mata dan mengendalikan emosinya. Keadaan itu membuat pengalamannya terasa semakin nyata: ia sedang tersentuh oleh kisah, tetapi juga sadar akan lingkungan di sekelilingnya.

Pengakuan Pevita menggambarkan betapa kuat keterlibatannya saat pertama kali menyelami naskah Gasigogi. Dalam waktu sekitar 1,5 jam, ia membangun bayangan tentang Jiwa dan Juna, lalu terbawa mengikuti perjalanan mereka hingga emosinya muncul tanpa disadari. Perasaan seolah menghilang ke dalam cerita menjadi inti dari pengalamannya membaca. Bukan hanya durasi membaca yang ia ingat, melainkan juga bagaimana dunia cerita mengambil alih perhatiannya dan membuat respons emosional hadir spontan, bahkan ketika ia berada di tengah banyak orang.

Pengalaman membaca naskah film Gasigogi masih membekas bagi Pevita Pearce setelah para pemain menyelesaikan sesi big reading. Meski kegiatan membaca bersama itu telah usai, emosi yang muncul selama mengikuti naskah belum langsung mereda. Pevita menggambarkan naskah tersebut sebagai bacaan dengan perasaan yang bergerak naik turun, sehingga proses mengikutinya terasa intens. Dampaknya tidak berhenti ketika sesi selesai: ia mengatakan dadanya masih terasa berat setelah membaca naskah itu bersama para pemain lain.

Pevita juga menjelaskan bahwa dirinya belum sanggup membaca naskah tersebut sekaligus dari awal hingga akhir. Ia memilih membacanya sedikit demi sedikit, mengikuti kemampuan dirinya menghadapi perubahan emosi yang dirasakan di sepanjang bacaan. Cara itu membuat proses membaca berlangsung bertahap, bukan sekali duduk. Pernyataannya menunjukkan bahwa big reading menjadi pengalaman yang cukup menyita perasaan baginya, bahkan setelah kegiatan itu berakhir. Namun, ia tidak merinci isi cerita ataupun menjelaskan emosi tersebut melalui keadaan karakter tertentu.

Di tengah pengalaman yang terasa berat itu, Pevita tetap menyampaikan rasa senangnya karena dapat terlibat dalam proyek film Gasigogi. Perasaan tersebut berjalan beriringan dengan kesan mendalam yang ia rasakan saat membaca naskah. Ia menikmati kesempatan menjadi bagian dari proyek ini, sekaligus mengakui bahwa naskahnya memerlukan waktu dan ruang untuk dihadapi. Keterlibatan para pemain dalam big reading pun memberinya kesempatan membaca materi bersama sebelum proses film berlanjut. Meski sesi itu telah rampung, respons emosional Pevita memperlihatkan bahwa kesan dari bacaan tersebut masih tertinggal. Ia baru dapat menempuhnya secara bertahap, dan rasa berat di dada masih terasa sesudahnya. Pada saat yang sama, kebahagiaannya bergabung dalam proyek tetap hadir. Dengan demikian, pengalaman Pevita mencakup dua sisi: keterharuan yang belum sepenuhnya berlalu setelah big reading dan rasa senang atas keterlibatannya dalam film. Keterangan tersebut berfokus pada pengalamannya sendiri saat membaca naskah, tanpa menambahkan penafsiran mengenai alur atau tokoh dalam film.

Perbedaan bahasa menjadi salah satu tantangan selama proses penggarapan film Gasigogi. Lee Hwan-kyung, sang sutradara, berkomunikasi menggunakan bahasa Korea, sementara para pemain menyampaikan dialog dan gagasan dalam bahasa Indonesia. Situasi tersebut membuat penerjemah berperan penting untuk menjembatani komunikasi di lokasi. Namun, menurut Pevita Pearce, kehadiran tim penerjemah tidak mengurangi kedalaman interaksi dengan sutradara. Lee dinilainya mampu menjelaskan maksud adegan dengan sangat terperinci, sehingga pemain dapat memahami bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi juga alasan emosional di balik pilihan akting tersebut. Proses menyampaikan arahan pun berlangsung dengan teliti dan memberi ruang bagi pemain untuk menangkap nuansa cerita.

Pevita memuji kemampuan Lee dalam menguraikan gagasan, konteks, serta detail adegan kepada para pemain. Meski terdapat perbedaan bahasa, ia merasa arahan itu dapat dipahami secara mendalam melalui penjelasan yang disampaikan dengan bantuan penerjemah. Setiap bagian naskah dibahas agar para pemain mengetahui tujuan adegan dan hubungan emosional antartokoh. Pendekatan tersebut membuat proses reading bukan sekadar latihan membaca dialog atau mengenali urutan cerita. Para pemain diajak menelaah situasi, motivasi, dan perubahan perasaan yang terjadi. Dengan demikian, komunikasi sutradara dan pemain tetap terjaga, sementara perhatian mereka tertuju pada pemahaman menyeluruh terhadap materi film.

Vino G. Bastian juga menggambarkan reading sebagai proses yang intens dan membutuhkan waktu panjang. Dalam sehari, pembahasan dapat berfokus hanya pada satu atau dua adegan, bahkan berlangsung selama berjam-jam.